• Akhi

Hak dan Kewajiban Terhadap Rasulullah saw (2)


Minggu yang lalu kita berbicara tentang hak-hak Rasulullah Saw. kepada kita atau dengan perkataan lain, kewajib-an kita terhadap beliau, kalau kita menerima beliau sebagai junjungan kita. Saya ingin melanjutkannya dengan membacakan kisah, yang diceritakan Jalaluddin Rumi dalam Matsnawi, kitab yang kelima. Sebelumnya, saya ingin memperkenalkan siapa Jalaluddin Rumi dan apa Matsnawi ini. Jalaluddin Rumi adalah seorang penyair sufi yang terkenal. Dia lebih dikenal sebagai Maulana, sehingga dahulu ketika saya di Iran, banyak orang Iran memanggil saya Maulana, karena nama saya mengingatkan kepada Jalaluddin Rumi. Sama-sama berinisial JR. Dia mendirikan sebuah tarekat yang jejak-jejaknya sampai sekarang masih bisa kita ikuti.


Orang yang disebut Dar­wisy, mengikuti tarekat Jalaluddin Rumi dan biasanya mereka melakukan riyadhah-riyadhah mereka dengan membacakan puisi-puisi dan menari-nari berkeliling. Setiap setahun sekali, para pengikut Jalaluddin Rumi ini berkumpul di Konya, Turki. Mereka bisa me­nari-nari selama berjam-jam, berkeliling-keliling seperti gerakan seluruh alam semesta, atau seperti gerakan orang yang thawaf. Itu dilakukan berjam-jam tanpa rasa lelah. Salah seorang di antara ahli koreografi Indonesia, Roy Julius Tobing pernah terpesona dengan keindahan mistik dari tarian kelompok Rumi ini. Ketika ia menonton itu, seperti sebuah sinar ruhaniah masuk ke dalam hatinya. Ketika ia pulang ke Indonesia, ia menjadi seorang muslim yang shaleh dan dia sampai sekarang sedang berusa­ha untuk mempersembahkan karya besarnya dalam koreografi untuk Allah Swt., terinspirasi oleh para penari dari tarekat Rumi. Jalaluddin Rumi juga menulis banyak puisi di dalam bahasa Parsi, walaupun dianggap orang Turki oleh orang Turki, orang Iran oleh orang Iran, orang Kurdi oleh orang Kurdi. Orang-orang besar itu biasanya ketika hidup, diusir oleh semua bangsa. Setelah dia mati, semua bangsa ingin mengakuinya. Misalnya Jamaluddin Al-Afghani. Dia diusir dari tanah kelahirannya. Dia tidak disukai oleh beberapa orang penguasa di zamannya. Dia pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Setelah ia meninggal dunia di Turki, orang Afghan menganggap dia sebagai orang Afghan. Orang Iran menganggap dia sebagai orang Iran, sehingga sesudah namanya disebut Jamaluddin Astarabadi. Orang Turki juga menyebutnya orang Turki, karena kuburannya sampai sekarang ada di Turki. Seperti itulah Jalaluddin Rumi. Salah satu keistimewaannya ini, dia menceritakan tentang perjalanan ruhaniah seorang sufi dengan puisi-puisinya. Yang paling terkenal di antara kumpulan puisinya adalah Matsnawi. Terdiri dari enam jilid. Rumi ini pernah terke­san dengan tulisan Fariduddin Al-Ahâr, yaitu Manthiq Al-Thayr, yang menceritakan perjalanan ruhani dengan cerita serombongan burung. Kemudian Rumi menulis puisi-puisinya di dalam bentuk cerita. Kata Nicholson, yang menghabiskan waktu­nya untuk berspesialisasi dalam karya-karya Rumi, dalam kumpulan Matsnawi ini (disebut Matsnawi karena satu baitnya itu ada dua baris) terkumpul nasihat ruhaniah, humor, ironi, sarkasme, dan metafora-metafora yang sangat tinggi. Ada seorang sufi perempuan dari Barat yang kebingungan ketika dia membaca Matsnawi pertama kalinya. Dia merasa tulisannya itu tidak sistematis. Dia tidak berhasil menangkap isi buku Matsnawi. Tapi setelah dia berulang-ulang membacanya, kemudian ia sudah mengikuti riyadhah-riyadhah Tashawuf, dia mulai memahaminya. Sekarang Matsnawi menjadi satu perbenda-haraan sumber hikmah yang luar biasa. Matsnawi ini belum diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, kecuali kutipan-kutipannya saja. Yang saya pegang saat ini pun terjemahannya dalam Bahasa Inggris, dan saya jamin kalau TOEFL anda tidak mencapai 600, anda akan sulit memahami kata-kata Inggris yang dipergunakan untuk menerjemahkan karya Matsnawi ini. Saya juga heran kenapa dia harus mencari kata-kata sulit. Mungkin dia ingin memelihara aroma klasik dari Matsnawi pada teksnya yang asli dalam bahasa Persia. Terjemahannya hampir literal, dan ketika dia tidak bisa menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dengan bagus, Nicholson menerjemahkannya ke dalam Bahasa Latin. Jadi, kalau nanti saya baca terjemahan ini kemudian sampai kepada Bahasa Latin, Bahasa Latinnya ini tidak saya terjemahkan. Perta­ma, karena saya tidak mengerti. Kedua, karena tampaknya Nicholson juga mau menyembunyikan ketidakmengertiannya di dalam bahasa klasik. Itulah Matsnawi. Sekarang ini, ada jurnal Tashawuf internasional. Namanya Sufi Journal, yang dalam setiap terbitannya selalu mengutip kisah-kisah yang diceritakan Rumi dalam Matsnawi-nya, tapi diceri­takan dalam bahasa yang sederhana. Saya tidak akan mener-jemahkan­nya dalam bahasa yang sederhana. Saya percaya kepada anda untuk memahami cerita ini. Mudah-mudahan bisa, saya baca: “Orang-orang kafir menjadi tamu Rasulullah. Mereka datang ke Mesjid ba’da Maghrib sambil berkata, “Kami datang ke sini sebagai tamu, mengharapkan keramah-tamahan yang punya rumah. Duhai Baginda yang menjadi penghibur semua penduduk dunia ini, kami ini orang yang kelaparan, datang dari tempat yang jauh. Sebarkan sebagian berkahmu dan sinarilah kami.” Lalu Nabi Saw. berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Para sahabatku, bagilah tamu-tamu ini di antara kalian, karena kalian dipenuhi aku dan dipenuhi dengan tabiatku, sebagaimana seluruh tentara dipenuhi dengan diri raja. Sehingga mereka mau menarik senjata atas nama raja melawan musuh-musuhnya. Karena kemarahan rajalah kamu menarik pedang, kalau bukan karena kemarahan raja, mengapa kamu mau melawan saudara kamu sendiri?. Dari bayangan kemarahan raja, kamu serang saudaramu yang tak bersalah dengan pedangmu. Raja adalah satu jiwa dan seluruh armada dipenuhi dengan dirinya. Ruh seperti air dan tubuh kita ini seperti hamparan dasar sungai. Jika air dari ruh raja itu manis, maka seluruh hamparan sungai dipenuhi dengan air yang manis, karena hanya hukum rajalah yang berlaku kepada para peng­ikutnya, seperti itulah kekuasaan .... Setiap sahabat kemudian memilih seorang tamunya, di antara tamu-tamu itu ada seorang kafir yang tubuhnya sangat besar sehingga tak seorang sahabat pun mengambil-nya. Jadi tingga­lah ia di Mesjid, seperti ampas tinggal di cangkir kopi. Ketika ia ditinggalkan oleh semua orang, Al-Musthafa mengambilnya. Di antara ternak milik Al-Musthafa, ada tujuh kambing yang selalu memberikan air susu dan kambing-kambing itu disediakan di dekat rumah untuk diambil air susunya sebagai persiapan menghadapi waktu makan. Raksasa besar putra Gusy dari Turki itu memakan habis roti dan makanan yang lain, dan susu dari tujuh ekor kamb­ing itu. Seluruh penghuni rumah marah, karena mereka meng-inginkan susu kambing itu. Ia membuat perut-nya yang rakus seperti sebuah drum (tong). Ia memakan habis makanan untuk 18 orang. Pada waktu tidur ia pergi masuk ke kamarnya dan duduk di situ, kemudian pembantu dengan marah menutup pintunya. Pembantu itu mengikatkan kunci pintu dari luar karena ia marah kepadanya. Menjelang subuh orang kafir ini didesak oleh kebutuhan alamiahnya dan perutnya sakit. Ia meninggalkan tempat tidurnya menuju pintu, meletakan tangannya di atas gerendel pintu dan menemukan pintu itu terkunci. Orang yang cerdik ini menggu­nakan berbagai alat untuk membuka pintu, tetapi kunci pintu itu tetap tak terbuka. Dorongan alamiahnya makin mendesak dan kamar itu sangat sempit. Ia berada di dalam penderitaan yang tidak ada obatnya dan kebingungan. Ia membuat gerakan-gerakan kecil dan merangkak untuk bisa tertidur. Dalam ngantuk-nya ia bermimpi bahwa ia berada di sebuah tempat yang terasing, karena tempat asing itu ada dalam pikirannya, mulailah ia masuk ke dalam tidurnya. Tanpa terasa kemudian orang kafir itu mengeluarkan kotoran di rumah. Ketika terbangun ia menangis, “Celakalah daku”. Ia menangis seperti tangisan orang-orang kafir di dalam kuburan. Ia menunggu sampai malam berakhir dan suara pintu terbuka sampai kepada telinganya, supaya ia bisa lari seperti melesatnya anak panah yang lepas dari busurnya. Supaya orang tidak melihat kehina-an yang sedang dideritanya. (Cerita ini panjang, tapi saya akan memendekkannya). Pintu terbuka, kemudian ia bisa melepaskan dirinya dari kesedihan dan deritanya. Pada waktu subuh, Al-Musthafa datang dan membuka pintu. Menjelang fajar ia berikan jalan keluar kepada orang yang sudah kehilangan jalan. Musthafa membuka pintu, dalam keadaan tersembunyi, supaya orang menderita itu bisa keluar tanpa rasa malu, bisa berjalan dengan penuh keberanian dan tidak melihat punggung atau wajah sang pembuka pintu. Mungkin Al-Musthafa ber­sembunyi di balik sesuatu atau Jubah Tuhan menyembunyi-kan, menu­runkan tirainya dari orang-orang kafir. Shibghatullah, celupan Allah, kadang-kadang tertutup dan tirai yang misterius menghalangi para pemandangnya, sehingga ia tidak melihat musuh di sampingnya. Kekuatan Tuhan lebih dari itu. Al-Musthafa melihat apa yang terjadi pada orang kafir di malam hari itu, tetapi perintah Tuhan menahannya untuk tidak segera membuka pintu, sebelum derita itu dialami oleh orang kafir. Sebelum ia jatuh kepada kesusahan dan rasa malu, kalau bukan karena perintah Tuhan, Al Musthafa sudah lama membuka pintu itu. Tetapi di balik kebijakan Tuhan dan perintah langit itulah, Al-Musthafa melakukan tindakannya, yang seakan-akan menunjukkan bahwa Al-Musthafa memusuhinya. Banyak sekali tindakan permusuhan itu sebe­tulnya persahabatan dan banyak sekali tindakan yang kelihatannya menghancurkan padahal menghidupkan. Seorang sahabat yang suka men-campuri urusan orang, datang ke hadapan Nabi membawa kain yang sudah kotor, karena kotoran orang kafir itu, ia berkata: “Lihat, tamu anda sudah melakukan sesuatu yang buruk.” Tapi Nabi tersenyum dengan senyuman rahmatan lil ‘alamîn, beliau berkata: “Ambillah ember air ke sini, biarkan aku sendiri yang akan member­sihkannya dengan tanganku”. Setiap sahabat meloncat dan berteriak: “Demi Tuhan, bukankah seluruh jiwa dan tubuh kami menjadi tebusan bagi engkau, biarlah kami yang akan membersihkan kotoran ini. Serahkan ini pada kami. Membersihkan kotoran ini adalah kerja tangan bukan kerja hati. Wahai La Amruk (panggilan Allah Swt kepada Nabi dalam QS 15:72, yang artinya demi kehidupanmu). Wahai zat yang Tuhan bersumpah dengan kehidupannya yang telah menjadikannya khalifah dan meletakannya di atas singgasana, kami ini hidup untuk berbakti kepada anda. Kalau anda sendiri melaku­kan kebaktian itu, lalu apa jadinya kami ini semua”. Nabi berkata: “Saya tahu, ini peristiwa yang luar biasa dan saya punya alasan untuk mencucinya dengan tangan saya sendiri”. Mereka menunggu seraya berkata: “Ini kata-kata Nabi, mesti ada misteri dan hikmah di baliknya”. Nabi Saw. sibuk membersihkan kotoran itu, dengan semata-mata memenuhi perintah Tuhan, bukan karena mengiku­ti secara taklid dan bukan mengharapkan pamrih, karena hatinya berkata: “Cucilah kotoran itu, karena di baliknya ada hikmah yang tersembunyi”. Orang kafir yang malang itu mem-punyai azimat sebagai kenang-kenangan. Ketika melihat bahwa azimatnya hilang, ia tertahan sebentar, berusaha untuk melarikan diri. Ia berkata: “Kamar tempat saya tinggal tadi malam mestilah menyimpan azimat saya”. Walaupun ia malu, kerakusannya akan azimat itu menghilangkan rasa malunya dan malu adalah sebuah Naga Perkasa yang bisa menyeret setiap orang. Karena mencari azimat itu, berlarilah ia ke rumah Al-Musthafa dan tiba-tiba ia melihat Tangan Tuhan dengan penuh ceria membersih-kan kotoran itu dengan tangannya yang mulia, tidak jauh dari mata orang kafir yang jahat itu. Keinginan untuk mempe­roleh azimat hilang dari pikirannya, dan sebuah kegelisahan muncul dalam hatinya. Ia merobek-robek bajunya, ia memukul wajahnya dan dengan kedua tangannya. Ia membenturkan kepalanya ke dinding dan pintu. Dalam keadaan seperti itu darah mengalir dari hidung dan kepalanya. Sang Pangeran Muhammad jatuh iba kepadanya. Ia berteriak pilu. Orang-orang berkumpul di sekitarnya, orang kafir itu menangis: “Hai Manusia dengarlah.” Ia pukul kepalanya sambil berkata: “Ah ... kepala yang tidak memiliki pemahaman.” Ia pukul dadanya seraya berkata: ”Ah ... dada yang tidak pernah mendapat cahaya.” Ia menghempaskan dirinya, ia berteriak: “Duhai Pangeran, yang memiliki seluruh bumi ini, bagian yang hina ini tak sanggup menahan rasa malu di hadapan-mu. Engkau yang karenamu diciptakan seluruh alam semesta ini, yang seluruh alam semes­ta pasrah di hadapannya. Aku ini hanya bagian kecil, seorang yang hina dina dan tidak mendapat petunjuk. Engkaulah sang keseluruhan, sekarang dengan penuh kerendahan hati, bergetar di hada­pan Tuhan. Sedangkan aku cuma noktah kecil, setiap hari menentang dan melawan Tuhan“. Setiap saat ia menengadahkan wajah-nya ke langit, seraya berkata: “Saya tidak memilki wajah lagi untuk melihat kepada-Mu, wahai qiblah dunia ini.” Ketika ia bergetar gemetar, tak terpermanai di hadapan Al-Musthafa, Al-Musthafa menepukan tangannya, menenangkan dia, membujuknya, membuka mata­nya dan memberikan kepadanya pengetahuan. *** Setelah itu Matsnawi bercerita bahwa kisah itu merupakan sebuah metafora. Pertama, bahwa Nabi Saw. datang untuk membersihkan kita dari kotoran-kotoran kita dengan tangannya yang mulia. Kedua, setelah kita mengeluarkan seluruh kotoran kita dan menyer­ahkan sepenuhnya kepada Rasulullah Saw. untuk membersihkannya, kita akan memperoleh kehidupan yang baru. Ketiga, bahwa setiap kehidupan rohaniah yang baru, harus disertai penderitaan dan tangisan. Sekarang saya akan melanjutkan puisi Jalaluddin Rumi ini: “Kalau awan tidak menangis, mana mungkin taman-taman akan terseny­um. Kalau bayi tidak menangis mana mungkin air susu akan mengalir. Bayi yang berusia satu tahun tahu hal ini, nalurinya berkata: “Aku akan menangis supaya ibu yang penyayang segera datang”. Supaya sang perawat segera datang. Tidakkah kamu tahu bahwa Sang Perawat dari Segala Perawat tidak akan memberikan susu kepadamu sebelum tangisan kamu. Bukankah Tuhan berkata: ”Biarkan mereka menangis banyak“. Dengarkan karunia sang Khaliq akan mencurahkan kepadamu air susunya. Tangisan awan dan sentuhan cahaya matahari adalah tonggak dunia ini, gabung-kanlah keduanya bersama di dalam dirimu. Jika tidak ada panas matahari dan air mata awan, bagaimana mungkin hakikat dan tabiat menjadi besar dan kuat. Bagaimana mungkin empat musim akan terjadi, kalau tidak ada sinar matahari dan tangisan awan. Karena panasnya cahaya matahari dan tangisan awan di dunia membuat dunia ini segar dan manis. Biarkan matahari akalmu menyala dan biarkan matamu berlinang dengan air mata seperti awan. Kamu perlu mata yang bisa menangis, seperti tangisan anak kecil. Jangan makan roti duniawi ini, karena roti itu akan membawa air ruhanimu. Jika tubuh akan menghasilkan dedaunan pada ranting-rantingnya, maka jiwa haruslah mencampakkan dedaunan itu dan mendatangkan musim gugurnya. Ketika tubuh subur dengan dedaunan, jiwa harus kehilang-an dedaunan itu sama sekali. Bersegeralah jangan ragu-ragu, pinjami Tuhan, berikan dedaunan. Campakkan dedaunan tubuhmu itu supaya engkau bisa memperoleh taman yang tumbuh dalam hatimu. Berikan pinjaman itu, hancurkan seluruh makanan tubuhmu, supaya wajah ini bisa melihat, apa yang tidak bisa dilihat mata. Ketika tubuh mengeluarkan seluruh isinya yang kotor, Tuhan akan memenuhi­nya dengan Kesturi dan Mutiara yang gemerlap. Ia orang kafir itu, mengeluarkan kotorannya supaya memperoleh kesucian dari tangan Rasulullah Saw. yang mulia.[] (Redaksi Al-Tanwir mengucapkan terima kasih kepada Yani Euis Maryani yang telah mentranskrip dari ceramah KH Jalaluddin Rakhmat di Mesjid Al-Munawwarah Bandung, tahun 1997. Artikel ini pernah dimuat dalam Buletin Al-Tanwir, Nomor 112 Edisi 15 Maret 1998).


1 view0 comments

Recent Posts

See All