• Akhi

Hak dan Kewajiban Terhadap Rasulullah saw (3)


ADA bagian yang terakhir ini sebetulnya dibahas mengenai nasihat-nasihat sufi dan tidak lagi berkenaan dengan Rasulullah saw Kita harus melihat setiap puisi sufi dari perspektif batiniah kita. Kedatangan Rasulullah saw ke dunia ini untuk mengeluar-kan kita dari kegelapan menuju cahaya. Kita hanya dapat sentuhan Rasulullah saw, apabila kita mengeluarkan kotoran-kotoran duniawi, kotoran-kotoran ragawi. ​

Dalam syair yang lain, Matsnawi menyebutkan: “Supaya dedaunan tubuh kita yang rimbun itu, kita campakkan, seperti apel tidak akan berbuah, sebelum dedaunannya itu berguguran di musim gugur.” Di Indonesia ada seorang penemu, yang tidak dikenal namanya, menanam apel. Karena di Indonesia tidak ada musim gugur, dia memangkas daun-daun apel itu. Ternyata apel itu kemudian berbuah. Jadi rupanya, kalau di negeri-negeri barat, apel itu menunggu musim gugur, di Indonesia dengan sengaja daun itu digugurkan di musim apa saja. Seorang sufi yang ingin merintis jalan menuju Tuhan adalah seperti penanam apel di negeri kita. Dia tidak boleh menunggu musim gugur. Pangkaslah dedaunan hawa nafsumu itu dari tubuhmu supaya nanti taman Tuhan tumbuh dalam hatimu. Dari cerita raksasa Gusy tersebut ada satu hal yang sangat menyentuh, yaitu jangan malu datang menemui Rasulullah saw, walupun kita membawa seluruh dosa di punggung-pungung kita, walaupun kita penuh kotoran. Do’a yang dibaca orang ketika memasuki kota Madinah, berbunyi sangat bagus: “Ya Rasulullah, kami datang dari negeri yang jauh dengan memikul dosa di punggung kami. Salam bagimu Ya Rasulullah.” Orang-orang berziarah ke makam Rasulullah saw itu seperti orang kafir, yang sebetulnya sudah malu, karena dia meninggalkan kotoran di rumah Nabi yang mulia, tapi dia datang juga ke situ. Orang kafir itu menangis luar biasa karena menyaksikan tangan yang mulia membersihkan kotoran-nya. Kita bisa membayangkan diri kita berada di alam malakut, lalu kita datang ziarah ke makam Rasulullah saw, sambil membawa dosa-dosa di punggung kita. Padahal kita ini bukan saja membawa kotoran, kita juga sudah mengotori rumah Rasulullah saw yang mulia. Islam ini rumah kita. Karena akhlak kita yang buruk, kita sudah mencemari rumah Al-Islam. Seperti kata Iqbal dalam do’a menjelang kematiannya. Ketika Iqbal sakit keras ia berdo’a, yang diceritakan Abu A’la Al-Maududi dalam Lawami’ Iqbal. Iqbal berdo’a begini: “Ya Tuhanku jika Engkau bangkitkan nanti aku di hari kiamat, janganlah damping-kan aku dengan Al-Musthafa. Aku malu mengaku sebagai umatnya, semen­tara hidup-ku bergelimang dosa”. Iqbal malu, juga malu terhadap Rasulullah di hari kiamat nanti, malu karena sepanjang hidup kita ini mengotori rumah Rasulullah saw dengan akhlak kita yang buruk, dengan kejahatan yang kita lakukan, dengan maksiat, dengan fitnah, dengan kata-kata yang keluar dari mulut kita, kita kotori rumah Rasulullah saw. Tapi bayangkanlah ketika anda kembali menemui Rasulullah saw, ber­ziarah kepadanya, di alam sana tangan-tangan Rasulullah yang mulia membersihkan kotoran-kotoran itu. Al-Quran mengatakan: “Sudah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat hatinya melihat penderitaan kalian, yang sangat ingin kalian ini memperoleh kebahagiaan, yang sangat pengasih dan penyayang kepada kaum mukminin” (Al-Tawbah 128). Tidak henti-hentinya Rasulullah saw memohon ampun kepada Allah Swt. untuk kita, sebagaimana kata Jalaluddin Rumi: “Tidak henti-hentinya tangan yang mulia itu membersihkan kotoran, yang kita lakukan di rumahnya yang mulia, karena kasih sayang Rasulullah saw kepada umatnya”. Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengucapkan terima kasih atas do’a Rasulullah kepada kita.

Yang pertama ialah mencintainya, beru­saha menanamkan kecintaan kita kepada Nabi yang Mulia itu, ketika kita mendengar hadits Nabi: “La yu’minu ahadukum hattâ akûna ahabba ilayhi minafsihi wawaladihi wannâsi ajma’in”. Yang artinya “Tidak beriman kamu sebelum aku lebih kamu cintai daripada diri­mu, daripada anak-anakmu, dan daripada seluruh umat manusia ini”. Beberapa waktu yang lalu, di sebuah pengajian di Jakarta salah seorang ustadz berkata, “Ketika saya mendengar hadits itu, saya merasa tidak enak, kenapa Rasulullah egois betul, sampai dia ingin dicintai lebih daripada diri kita, daripada seluruh umat manusia.” Tapi kemudian saya ingat mencintai Nabi itu berarti menaati Nabi. Ketaatan kita kepada Nabi harus lebih daripada ketaatan kepada diri kita, anak kita, kepada seluruh umat manusia. Lalu saya berkata: “Saya teringat, dahulu saya punya orang yang sangat sederhana, tidak bisa bahasa Arab, tidak bisa baca kitab-kitab, tidak mesan­tren. Mungkin SD pun tidak tamat, dia tidak pernah membaca kisah Nabi saw, dan boleh jadi dia tidak mendengar hadits itu. Tetapi dia mencintai Rasulullah saw tanpa menafsirkan hadits itu, dengan penafsiran-penafsiran yang lain, tidak menafsirkan kecintaan dengan ketaatan. Dia ungkapkan kecintaannya itu dengan prila­kunya sendiri. Setiap bulan Maulid saya selalu mengenang orang ini. Kalau saya ditanya oleh wartawan, siapa saja orang yang mempengaruhi hidup saya di dunia ini, mungkin mereka akan terkejut bahwa yang di antara yang mem-pengaruhi saya di dunia ini orang kecil yang saya sebut itu, namanya Mas Darwan. Begitu hormatnya saya kepada beliau, karena beliau merubah hidup saya hingga saya meng-angkatnya ke panggung nasional dengan menulisnya di majalah Tempo. Saya ingin mengulanginya sedikit. Mas Darwan tinggal di sebelah rel kereta api. Ia orang taat beribadah. Bunyi terompah kayunya membangunkan saya menjelang subuh. Dia selalu shalat ber-jama’ah di mesjid. Setelah pensiun dari PINDAD dia mengisi waktunya dengan berkhidmat kepada tetang­ganya, khususnya kepada guru ngajinya, yaitu saya. Dia sering memper­baiki genting saya yang bocor. Dia jarang bicara sehingga saya mengi­ra dia tidak punya dosa dari kata-kata yang dia ucapkan. Kemudian dia mengisi waktu luangnya dengan berkebun. Dia membikin petak-petak ubi di antara rel kereta api. Telinganya kurang begitu baik sehingga saya kira dia tidak punya dosa-dosa dari telinga-nya. Begitu tidak baiknya pendengaran sehingga ketika dia keasyikan bekerja di situ dia tidak mendengar suara kereta api datang. Diapun tersenggol kereta api dan terluka parah sehingga dibawa ke ICU. Saya datang dan melihat Mas Darwan dipenuhi kabel-kabel infus. Sebagian masuk melalui hidungnya dan sebagian lagi masuk melalui mulutnya. Ketika kami datang bersama istrinya, dia memberi isyarat agar kabel-kabel infus dicabut dari dirinya. Rupanya ia ingin mem-bisikkan sesuatu kepada istrinya. Sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir Mas Darwan membisikkan sesuatu kepada istrinya. Setelah itu saya tahu yang dibisikan-nya itu hanya dua kalimat saja, yaitu “Bulan ini bulan Maulid, jangan lupa melakukan selametan buat kanjeng Nabi saw”. Itulah ucapannya yang terakhir. Ketika Mas Darwan masih hidup, saya ini termasuk orang yang membid’ahkan peringatan maulid Nabi. Banyak orang menentang saya dengan mengatakan bahwa peringatan maulid Nabi bukan bid’ah. Saya tidak bergeming. Saya berubah hanya dengan ucapan Mas Darwan yang dibisikkan pada istrinya. Sekarang kalau saya ditanya apa dalil peringatan Maulid Nabi itu, saya punya banyak. Tetapi sebetulnya saya mengemuka-kan dalil-dalil itu setelah saya takluk dulu terhadap pent­ingnya peringatan Maulid Nabi. Bukan karena dalil itu sebenarnya saya selenggarakan peringa­tan Maulid Nabi tetapi karena bisikan Mas Darwan kepada istrinya itu. Karena kecintaannya kepada Rasulullah, maka dia penuhi hak Rasulullah saw dengan mencintainya, dia tidak teringat kepada istrinya tapi yang dia ingat adalah selametan buat kanjeng Nabi. Saya kira kecintaan orang-orang yang sederhana itu lebih tulus daripada kecintaan para intelektual. Karena kecintaan para intelektual itu langsung ngomong “rasanya Rasulullah itu egois kok mau kecintaan itu untuk dirinya.” Tapi lama-lama saya pikir orang sesederhana mereka mencurahkan kecintaanya kepada Rasulullah saw dengan kecintaan yang tulus seperti itu. Ada cerita di kalan­gan sufi bahwa orang-orang bodoh yang mengisi surga, mungkin dengan kata lain sebenarnya orang-orang pintar banyak mengisi neraka. Orang-orang bodoh itu karena kesederhanaannya, mereka lebih tulus. Tapi sebenarnya itu mempunyai makna yang sangat dalam di kalangan orang-orang sufi. Bukan berarti kita semua harus menjadi bodoh. Tapi kalau kita ingin mencintai dengan tulus, bersihkan arogansi yang ada dalam diri kita; Kepongahan-keponga­han karena intelek-tualitas kita, sebab cinta tidak mengunakan bahasa intelektualitas. Cinta itu meng-gunakan bahasa hati. Hin­darkan berbagai penafsiran tentang hadits mengenai kecintaan kepada Rasulullah saw. Hak berikutnya dari Nabi ialah mem-bacakan shalawat dan salam kepadanya. Saya ingin menuliskan beberapa hadits tapi ijinkan saya kembali kepada Mas Darwan. Dia sangat suka sekali kepada shalawat-shalawat Nabi. Sebagai orang Jawa tradisional dia tahu betul; Setiap babakan hidup, momen-momen penting dalam hidupnya selalu ditandai dengan shalawat. Ketika anaknya baru lahir selu­ruh keluarga menyambut dengan shalawat. Marhaba kita menyebutnya, artinya selamat datang. Walaupun diucapkannya itu selamat datang untuk Rasulullah. Marhaban Jaddal Husaini, selamat datang untuk kakek Hasan dan Husen. Nanti kalau anak dikhitan dibacakan juga shala­wat kepada Nabi saw, Juga dalam menikah, mengantar pengantin laki-laki, juga kalau mati, dibacakan tahlil dan tahlil itu dimulai dengan shalawat juga. Jadi setiap kehidupan kita, pada momen-momen yang penting, ditandai dengan shalawat. Saya tuliskan beberapa hadits itu: Aku bertanya kepada Aba Abdillah as tentang firman Allah Swt.: “Innallâha wa malâ’ikatahu ...” (Al-Ahzab 56). Lalu Aba Abdillah as berka­ta: “Shalawat dari Allah Swt kepada Nabi adalah rahmat-Nya, dari malaikat, adalah pensuciannya, dan dari manusia adalah do’anya”. Adapun firman Allah Swt. “wasallimu taslimâ”, yakni ucapkanlah salam kepadanya. Kemudian kami berkata kepadanya bagaimana kami mengucapkan shalawat kepada Nabi dan keluarganya, lalu Aba Abdilah as berkata, katakanlah: “Shalawatillahi wa shalawatu malaika­tihi waanbiyaihi warasulihi wajami’ khalqihi ala muhammadin wa ali muhammad wasalamu ‘alaihi wa’alaihim warahmatullahi wabarakatu”. Lalu kami berkata “apa balasan orang yang membacakan shalawat kepada Nabi”. “Dikeluarkan dari dosa-dosanya, demi Allah sama seperti keadaan ketika ibunya melahirkan dia”. Dari Imam Ja’far As-Shadiq as “Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya sepuluh kali, Allah akan mengirimkan rahmat dan para malaikat akan mengucapkan do’a kepadanya seratus kali. Barangsiapa membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarga­nya seratus kali, Allah Swt. akan mengirimkan kesejah-teraan kepa­danya, para malaikat akan mendo’akannya seribu kali. Bukankah kamu mendengar perintah Allah Swt.: “Ialah Allah yang mengirimkan rahmat-Nya kepada kamu dan para malaikat-Nya untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya, dan dia sangat penyayang kepada kaum mukminin” (Al-Ahzab 43). Masih dari Imam Ja’far As-Shadiq as: “Semua do’a yang diba­cakan orang untuk menyeru Allah Swt. tertutup dari langit, sampai dia membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. “Nanti pada hari kiamat, tidak ada yang lebih berat dalam timban­gan selain shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. Dari Imam Ali Al-Ridha as: ”Barang siapa yang tidak mampu menghapuskan seluruh dosanya, perbanyaklah bacaan shalawat kepada Muhammad dan keluarga-nya, karena itu akan menghapuskan dosa”. “Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi pada hari kiamat nanti, adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya”. Jadi itu kewajiban kita, membaca shalawat. Pertama, shalawat itu adalah ungkapan kecintaan kita kepada Rasulullah. Kedua, kalau orang banyak membaca shalawat, Insya Allah kecintaan kita kepada Rasullullah akan bertambah. Karena kita orang intelektual, kita akan bertanya mengapa? Buat orang-orang bodoh, seeing is believ­ing. Shalawat itu membawa kecintaan pada Rasulullah. Mereka tidak mikir-mikir lagi, kerinduannya bangkit di dalam shalawat-shalawat itu. Memang terasa pada diri mereka. Tetapi orang intelektual tidak, believing is seeing. Percaya dulu baru bisa melihat. Apa betul shalawat itu bisa menambah kecintaan kita pada Rasul? Di dalam teori komunikasi ada teori yang disebut mere exposure theo­ry. Teori semata-mata exposure saja, teori terpaan semata saja. Kepada mahasiswa diperlihatkan beberapa transparansi foto. Ada beberapa foto yang sering tampak di situ, dan ada beberapa foto yang jarang tampak. Jadi ada yang sepuluh kali ada yang delapan kali dan ada yang lima kali. Setelah itu kepada para mahasiswa diberikan seluruh foto yang tadi diperlihatkan di layar. Ada hal yang menarik. Mereka disuruh memilih mana foto yang paling mereka sukai. Mereka ternyata menyukai foto yang paling sering muncul. Tidak karena apa-apa itu hanya karena sering muncul saja, mere exposure. Sehingga kalau orang itu sering muncul di hadapan kita, lama-kelama-an kita akan suka juga. Sama dengan teori witing tresno jalaran soko kulino. Jadi dengan sering membaca shalawat kita sering menghadirkan namanya di dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, akan tumbuh dengan sendirinya kecintaan kepada orang-orang yang sering kita sebut. Itu juga termasuk teknik-teknik iklan, propaganda. Supaya orang suka sesuatu, maka laku­kanlah iklan itu berkali-kali, diulang berkali-kali. Sampai Hitler berkata: “Kebohongan pun akan dipercaya jadi keimanan, kalau kita mengulangnya terus-menerus. Wahrheit, kebenaran itu adalah kebohongan dikalikan seribu”. Jadi, bohong x seribu = kebenaran. Dan teori Hitler itu dipakai pemerintah sampai sekarang. Jadi kalau kebohongan saja bisa menjadi kebenaran, apa lagi kata-kata suci seperti shalawat yang sering kita bacakan. insya Allah akan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah saw. Lewat kecin­taan itulah insya Allah kita akan meniru perilaku orang yang kita cintai. Yang ketiga, kecintaan kita kepada keluarga Rasulullah adalah ungkapan cinta kepada Rasulullah juga. Akan saya tuliskan hadits ahlul sunnah yang dikeluarkan oleh Al-Zamakhsary dalam Al-Kasyâf. Rasulullah saw bersabda, “Ketahuilah barang siapa yang mati dengan kecintaan kepada keluarga Muhammad saw dia mati syahid. Ketahuilah barang siapa yang mati dengan kecintaan kepada keluarga Muhammad saw dia mati dengan ampunan-Nya. Keta­huilah bahwa barang siapa yang mati dengan kecintaan kepada keluarga Muhammad saw dia mati sebagai orang mukmin yang sempurna imannya. Ketahuilah barang siapa yang mati dengan membawa kecin­taan kepada keluarga Muhammad saw, dia mati dalam keadaan Malai­kat Maut akan menggembirakannya dengan surga, kemudian Munkar dan Nakir akan menghiburnya. Ketahuilah barang siapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, dia akan diiring­kan masuk ke surga seperti diiringkan-nya pengantin ke rumah suaminya. Ketahui-lah barang siapa yang mati dengan membawa kecin­taan kepada keluarga Muhammad saw, Allah akan bukakan dua pintu surga di kuburnya. Ketahuilah barang siapa yang mati dengan memba­wa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw, Allah jadikan kuburan­nya tempat berkunjung Malaikat Rahmah. Ketahuilah barang siapa yang mati dengan membawa kecintaan kepada keluarga Muhammad saw ia akan mati sebagai sunnah wal jama’ah. Siapa yang mati dalam kebencian kepada keluarga Muhammad saw, dia akan datang pada hari kiamat ditulis pada kedua mata­nya, inilah orang yang putus asa dari rahmat Allah Swt. Kemudian di antara ungkapan kecintaan kepada Rasulullah saw juga ialah mencintai yang dicintai Rasulullah saw. Salah satu kelompok manusia yang sangat dicintai Rasulullah saw, sampai Nabi menye­butnya, para pewarisnya, adalah ulama, jadi mencintai Rasulullah juga harus diungkapkan dengan kecintaan kepada ulama. Saya ingin membacakan satu hadits lagi: “Memandang seorang alim dengan penuh kecintaan dihitung sebagai ibadah. Jadilah engkau seorang yang alim, atau seorang yang belajar. Cintailah ulama. Janganlah kamu termasuk orang yang keempat, nanti kamu binasa, karena kebencian kamu kepada ulama”. (Tamat)

Dr KH Jalaluddin Rakhmat adalah Ketua Dewan Syura IJABI (Artikel ini pernah dimuat dalam Buletin Al-Tanwir, Nomor 113 Edisi 15 April 1998)

4 views0 comments

Recent Posts

See All