top of page
  • Akhi

Hasad dan Tingkatannya


Secara singkat, hasad dapat diartikan sebagai kebencian terhadap adanya nikmat pada diri orang lain dan keinginan agar nikmat itu hilang dari orang tersebut. Nikmat pada diri orang lain itu bisa berupa kekayaan, kecantikan, kehormatan, dan kasih sayang orang lain kepadanya.


Jika kita ingin memperoleh nikmat yang didapat orang lain; tetapi tanpa disertai dengan harapan agar nikmat tersebut lepas dari tangan orang itu, kita tidak jatuh ke dalam hasad. Hal seperti itu dinamakan ghibthah. Nabi Muhammad Saw. bahkan menganjurkan hal ini. Beliau bersabda, "Ada dua kedengkian yang disunnahkan kepada kaum Muslim. Pertama, jika kalian melihat ada seorang Muslim yang mengisi waktunya dengan membaca Al-Quran. Lalu kalian ingin seperti dia. Kedua, jika kalian melihat ada seorang kaya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Lalu kalian ingin seperti dia." Inilah yang disebut dengan ghibthah.


Kita ingin memperoleh nikmat seperti orang kaya yang menafkahkan hartanya itu, tanpa menginginkan agar harta itu hilang dari tangannya. Kita bisa menilai apakah hati kita mengidap hasad atau tidak dengan membaca pernyataan-pernyataan berikut. Jika kita setuju dengan salah satu saja dari pernyataan ini, kita sudah jatuh ke dalam hasad. Pernyataan-pernyataan itu ialah:

  • Saya benci melihat orang yang kaya, pintar, cantik, atau lebih disayangi orang daripada saya.

  • Saya ingin mengalahkan dia dalam kekayaan, kecantikan, dan kepintaran.

  • Saya tidak senang ia bertambah kaya, bertambah cantik, dan bertambah pintar.

  • Saya senang mendengarkan pergunjingan orang lain terhadap orang itu.

  • Saya berusaha menjatuhkan orang itu dengan berbagai cara.

  • Saya benci kehadiran atau keikutsertaan dia dalam acara yang saya ikuti.

  • Saya senang jika orang itu kehilangan kekayaan, kepintaran, kecantikan, dan kasih sayang orang kepadanya.

Pernyataan-pernyataan tersebut adalah tes sederhana untuk mengetahui adanya hasad dalam hati kita. Jika ada salah satu saja dari hal-hal tersebut yang sesuai dengan diri kita, itu berarti kita sudah mengidap "virus" hasad. Meski pun demikian, tes itu belum dapat menunjukkan tingkat hasad atau tingkat kedengkian yang ada pada kita.


Tingkat-Tingkat Hasad


Untuk mengetahui seberapa parah tingkat penyakit hasad yang merasuk dalam diri, kita dapat mengikuti tes berikutnya. Tingkat hasad pertama adalah jika kita berusaha menyaingi orang lain untuk memperoleh nikmat yang ia miliki. Kehidupan kita menjadi ditentukan oleh nikmat yang orang lain terima. Misalnya, tetangga kita membeli televisi baru. Kita lalu berusaha untuk memperoleh televisi seperti yang ia beli, atau bahkan yang lebih mahal. Tetangga kita membangun pagar rumah baru. Kita lalu ingin juga membangun pagar baru. Kalau bisa, pagar yang jauh lebih tinggi. Padahal, kita tak membutuhkan televisi atau pagar baru. Sebenarnya kita tak membenci orang itu; kita hanya ingin menyaingi orang itu. Perilaku kita menjadi dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Inilah hasad pada level yang paling rendah.


Tingkat kedua adalah jika kita membenci orang lain yang memperoleh nikmat yang tak bisa kita miliki. Misalnya, kita bukan orang kaya dan kita membenci orang kaya.


Tingkat ketiga ialah jika kita tak hanya membenci orang yang memperoleh nikmat, tetapi kita juga berusaha agar orang itu kehilangan nikmat yang dimilikinya. Kita berusaha untuk membuat orang lain yang kaya agar jatuh miskin dan kehilangan hartanya. Kita gagalkan usahanya.


Tingkat yang keempat ialah ketika kita berusaha agar hanya diri kita yang mendapatkan nikmat. Kita tidak mau ada orang lain yang memperoleh nikmat. Kita ingin menjadi orang yang tidak tertandingi. Jika kita orang pintar, kita menginginkan agar semua orang bodoh. Jika kita orang kaya, kita senang jika semua orang miskin. Kita merasa hanya kita yang berhak untuk mendapatkan semua nikmat itu.


Hasad dalam tingkat kelima ialah jika kita tidak mempersoalkan apakah kita memperoleh nikmat atau tidak, yang penting semua nikmat itu hilang pada diri orang yang kita dengki. Contoh dari hasad dalam tingkat tertinggi diceritakan oleh Ayatullah Muthahhari. Pada zaman dahulu, seorang majikan membeli budak belian dari pasar. Sesampainya di rumah, budak itu amat dimanjakan tuannya. la diberi makanan yang banyak dan pakaian yang indah. la tak diberi pekerjaan apa pun. Tentu saja, budak itu keheranan akan perlakuan tuannya yang berlebihan.


Malam harinya, tuan itu memanggil budaknya. "Kamu tahu mengapa aku memanjakanmu?" Budak itu menggeleng. Sang Tuan melanjutkan ucapannya, "Itu karena aku menyimpan tugas yang sangat penting untukmu. Aku akan berikan hadiah sekantung uang emas jika kau melaksanakan tugas itu. Tengah malam ini, pergilah bersamaku ke atap rumah tetanggaku. Di tempat itu potonglah leherku. Setelah itu, larilah kau dengan membawa hadiah uang dariku."


Budak itu ketakutan dan tidak mengerti, "Mengapa Tuan menginginkan aku berbuat seperti itu?" Si Tuan menjawab, "Tetanggaku memiliki usaha yang amat maju. Keluarganya juga sangat bahagia. Anak-anaknya berhasil dalam hidup mereka. Aku tak tahan setiap hari melihat kesuksesan tetanggaku itu. Jika aku ditemukan tewas di atas atap rumahnya, polisi tentu akan mencurigai si pemilik rumah dan mereka akan segera menjebloskannya ke penjara. Membayangkan ia masuk penjara sudah menjadi kebahagiaan yang besar untukku."


Inilah kedengkian yang sudah mencapai puncaknya. la tak peduli lagi akan dirinya selama tujuannya tercapai, yaitu mencelakakan orang yang ia dengki.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

42 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page