• Akhi

“ILMU OTAK”

Updated: May 11


Ya Allah

Sehatkan tubuhku

Cerdaskan otakku

Bersihkan hatiku

Indahkan akhlakku


Seorang murid SMA Plus Muthahhari membaca doa itu di depan, dan murid-murid lainnya mengikutinya. Kami menyebut doa ini sebagai “doa kebangsaan” sekolah kami. Saya sering terharu mendengarkannya. Doa itu sederhana, singkat, dan menyentuh. Apa lagi yang kita inginkan dari anakanak kita, dari anak-anak panah yang dilepaskan ke masa depan kita?


Kita ingin mereka bertubuh sehat, berotak cerdas, berhati bersih, berakhlak indah. Agar tubuhnya sehat, kita berkonsultasi dengan dokter. Agar hatinya bersih dan akhlaknya indah, kita bertanya kepada para ulama atau tokoh agama. Agar otaknya cerdas, kita berbicara dengan para guru. Sayang sekali, bila dokter mengerti betul tentang tubuh manusia, ulama paham sekali urusan hati, guru sama sekali tidak mengerti otak. Selama ini, otak— organ yang berpikir, merasa, dan belajar—tidak pernah dipertimbangkan oleh para pendidik, kecuali ketika mereka menghardik muridnya dengan kata-kata “otak udang” atau “otak miring”.


Sudah berpuluh tahun saya terlibat praktis dalam dunia pendidikan. Saya mengikuti kuliah ilmu mendidik hanya satu tahun saja. Tetapi kegiatan saya dalam “mencerdaskan kehidupan bangsa” berlangsung sejak saya murid sekolah menengah. Saya mengajar anak-anak miskin di sebuah kampung yang kumuh. Kemudian, setelah selesai Pendidikan Guru SLP, saya mengajar di SMP-SMP dan SMA-SMA swasta di Bandung. Begitu lulus dari Fakultas Ilmu Komunikasi, saya langsung ditunjuk untuk mengajar Bahasa Inggris di almamater saya.


Apa modal utama saya dalam mengajar? Mungkin 25 persen berasal dari ilmu pendidikan yang saya peroleh; dan 75 persen hanyalah trial and error. Ketika saya mendirikan SMA Plus Muthahhari, saya tertantang untuk melahirkan sekolah yang lain dari yang lain. Kecenderungan memberontak, yang mungkin saya warisi dari orangtua saya, mendorong saya untuk melakukan beberapa eksperimen pendidikan. Misalnya, saya beranggapan bahwa anak-anak kita memikul beban mata pelajaran terlalu banyak. Karena itu, saya mengurangi pertemuan di kelas untuk pelajaran-pelajaran tertentu. Sebagai penggantinya, saya memberikan kepada mereka modulmodul yang bisa mereka kerjakan tanpa pertemuan kelas. Saya adakan juga test-out bagi anak-anak yang sudah menguasai pelajaran pada periode tertentu, sehingga—jika lulus—mereka bisa melanjutkan pada kurikulum lebih tinggi. Saya mencoba juga untuk tidak merujuk pada kurikulum departemen pendidikan. Yang saya rujuk hanyalah standar kompetensinya saja. Secara kebetulan, departemen pendidikan—melalui para ahli pendidikan—sampai juga pada konsep kurikulum berbasis kompetensi.


Pada saat yang sama, saya tertarik dengan Quantum Learning-nya Bobby DePorter. Secara singkat, Quantum Learning mengajarkan bahwa murid belajar lebih cepat jika belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Saya masukkan “learning is fun” sebagai bagian dari wawasan almamater Muthahhari. Supaya murid menyenangi proses pembelajaran, para guru harus mempraktikkan zikir malaikat pemikul arasy, “Subhaana man azharal jamiil wa sataral qabiih. Mahasuci Dia yang menampakkan yang indahindah dan menyembunyikan yang buruk.” Mereka tidak boleh menjatuhkan harga diri murid kalau mereka belum berhasil dalam belajarnya. Tetapi begitu mereka berhasil, guru harus memberikan apresiasi yang tulus, kalau perlu merayakannya. Berikut ini adalah butir keempat dan kelima dari wawasan almamater Muthahhari;


4. Belajar yang efektif hanya terjadi dalam suasana yang menyenangkan dan dengan kegiatan yang mengaktifkan semua kecerdasan.

5. Setiap orang harus berusaha menghargai kebaikan orang lain dan menutupi keburukannya.


“Belajar yang efektif … dalam suasana yang menyenangkan” membawa saya pada konsep Accelerated Learning. Dari literatur yang saya peroleh, saya menyimpulkan lima prinsip akselerasi dalam akronim METIK: Modalitas belajar, peranan Emosi, penggunaan pengaruh-pengaruh Tak sadar, pengenalan dan pengembangan Inteligensi majemuk, dan pelibatan sekaligus kedua belahan otak Kanan dan kiri. Semuanya itu akhirnya saya temukan berujung pada pemahaman otak. Dan otak ternyata tidak pernah muncul dalam mata kuliah ilmu pendidikan. Para pendidik, seperti saya, hampir tidak memiliki informasi mutakhir dari penelitian-penelitian otak. Otak memang bukan bidang pendidikan. Otak dipelajari di sebuah sudut kecil fakultas kedokteran—neurologi.


Maka mulailah saya melangkahkan kaki untuk menengok sudut yang ternyata sudah melebar sampai “menginvasi” disiplin-disiplin lainnya. Ketika Santiago Ramon y Cajal, “maestro”-nya studi miksroskopik otak, berkata, “As long as the brain is a mystery, the universe, the reflection of the structure of the brain, will also be a mystery,” sudut kecil itu sudah menjadi alam semesta. Misteri otak mencerminkan misteri alam semesta. Misteri alam semesta pasti membawa kita untuk merenungkan misteri Tuhan. Maka neurologi yang dimulai dari neurokimia dan neurobiologi sekarang sudah mulai memasuki neurotheology.


Ketika dua tahun yang lalu saya menulis buku Psikologi Agama, saya dikejutkan dengan penemuan-penemuan menakjubkan. Banyak pengalaman ruhaniah— yang diklaim orang sebagai bukti kedekatan dengan Tuhan— ternyata disebabkan oleh aktivitas otak pada lobus temporal. Pengalaman ruhaniah yang dialami orang suci—secara neurologis—hampir sulit dibedakan dari pengalaman orang gila. Dalam pemburuan saya pada penelitian-penelitian otak, temuan saya yang pertama ialah kenyataan bahwa otak saya sudah “miring”. Maka, supaya saya tidak terlalu miring, saya memfokuskan studi saya hanya pada otak yang belajar. Saya berharap saya mempelajari ilmu yang langsung dapat saya amalkan dalam kegiatan pendidikan saya, paling tidak di sekolah yang saya dirikan.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).


78 views0 comments

Recent Posts

See All