• Akhi

Jalaluddin Rakhmat dan Islam Mazhab Cinta


Islam Cinta atau Mazhab Cinta merupakan tagline dan slogan yang sering dipakai oleh Haidar Bagir, tokoh Islam dan pendiri penerbit Mizan, dalam twitter dan dakwah keislamannya belakangan ini. “Islam Mazhab Cinta” juga telah menjadi judul dari buku karya Mukti Ali, Islam Mazhab Cinta: Cara Sufi Memandang Dunia (2015) dan buku Gugun el-Guyanie, Islam Mazhab Cinta: Dari Dogma Menuju Paradigma (2008). Islam jenis ini pula yang merupakan model keislaman yang selalu dipromosikan oleh Jalaluddin Rakhmat atau Kang Jalal, aktivis dan pemikir Muslim yang meninggal dunia di Bandung, Senin (15/2).


Makna dari Islam Cinta atau Mazhab Cinta adalah sebuah corak keislaman yang bersahabat dengan semua umat manusia, yang mencari titik temu bukan hanya dengan berbagai kelompok dalam Islam yang kadang berseberangan, tapi juga antar agama. Islam Cinta adalah Islam yang menekankan pada dimensi-dimensi ruhaniah, spiritualitas, dan kasih-sayang (rahman dan rahim).


Dari mana ajaran ini digali? Dari mutiara-mutiara ajaran tasawuf atau spiritualitas Islam, seperti dari Ibn ‘Arabi, Suhrawardi, Rabi'a al-'Adawiyya, Mansur al-Hallaj, Mulla Sadra, dan al-Ghazali. Jika fikih (hukum Islam) lebih banyak berbicara tentang perbedaan (khilafiyah), ketidaksepakatan, dan pertentangan, maka tasawuf lebih menekankan pada hubb (cinta), ‘isyq (rindu), ittihad (persatuan), hulul (penyatuan), dan sejenisnya.


Kang Jalal berdakwah tentang Islam Mazhab Cinta ini sejak tahun 1980-an, baik melalui buku-buku keislaman yang ditulisnya, maupun melalui aktivitas dakwah di masjid dan forum-forum lain. Diantara buku yang ditulisnya adalah Islam Aktual (1994), Islam Alternatif (1995), Kuliah-kuliah Tasawuf (2000), Dahulukan Akhlak di atas Fiqh (2003), Islam dan Pluralisme: Akhlak Qur’an Menyikapi Perbedaan (2006), dan Meraih Cinta Ilahi (2008).


Latar belakang dari penekanan pada tasawuf dan cinta ini tentu saja berangkat dari perselisihan antar umat Islam dan kebencian sebagian dari mereka terhadap perbedaan. Ini terutama terkait perbedaan antar mazhab dan golongan, seperti antara Sunni dan Syiah atau Sunni dan Ahmadiyah. Bahkan, dulu perselisihan itu sangat tajam, terutama di akar rumput, termasuk antara ormas Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah dalam hal-hal ritual yang sebetulnya tak terlalu prinsipil (furu’iyah).


Kang Jalal, yang berangkat dari tradisi NU dan kemudian pernah menjadi aktivis Muhammadiyah, melihat adanya berbagai kesalah-pahaman dari sebagian umat Islam terhadap Syiah. Padahal mereka ini adalah saudara seagama yang dalam sejarah bisa hidup berdampingan selama ratusan tahun, seperti yang terjadi di Mesir dan Irak. Namun perbedaan kedua kelompok ini kadang dibesar-besarkan untuk kepentingan politik tertentu. Dalam karya dan dakwahnya, Kang Jalal mencoba mengoreksi kesalahpahaman tentang Syiah dan menjembatani kedua kelompok itu melalui jalur tasawuf, Islam Mazhab Cinta. Ia diantaranya mendirikan Pusat Kajian Tasawuf Tazkiya Sejati bersama keluarga wakil Presiden Sudharmono.


Apa yang dilakukan Kang Jalal dengan Islam Cinta-nya itu menjadi semakin relevan saat ini ketika kaum takfiri (kelompok yang mudah mengkafirkan orang lain) dan kelompok mutathorrifin (radikal) yang dengan entengnya menuduh orang lain sebagai radikal merajalela di masyarakat, termasuk di kampus-kampus ternama. Berkembangnya kelompok-kelompok keras seperti itu membuat dialog menjadi mampet dan alternatif-alternatif pemikiran baru menjadi tersumbat. Ketika seseorang yang memiliki pemikiran berbeda lantas dituduh sesat atau kafir, maka akan terjadi kemandegan ijtihad dan terhambatnya pemikiran kritis.


Seperti yang dilakukan Kang Jalal, upaya menjembatani perbedaan antara Sunni dan Syiah serta mengikis kelompok takfiri ini juga telah menjadi keputusan Muktamar Muhammadiyah di Makassar 2015 lalu. Dalam rekomendasi terkait isu-isu keumatan nomor 2 “Membangun Dialog Sunni-Syiah” disebutkan bahwa “Akar konflik Sunni-Syiah sangat kompleks antara lain karena masalah kesenjangan ekonomi, imbas konflik politik di Irak, Syiria, dan Yaman, serta persaingan pengaruh politik-keagamaan antara Iran dengan Arab Saudi di negara-negara Muslim, termasuk di Indonesia. Pertentangan semakin tajam ketika ditarik ke ranah teologis dan sejarah pertumpahan darah di antara pengikut Sunni-Syiah di masa silam” (Tanfidz Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke-47, h. 113).


Untuk mengatasi perbedaan antara Sunni dan Syiah ini lantas Muhammadiyah menekankan peran dialog. Dialog ini penting demi “meningkatkan saling memahami persamaan dan perbedaan, komitmen untuk persamaan dan menghormati perbedaan, serta membangun kesadaran historis bahwa selain konflik, kaum Sunni dan Syiah memiliki sejarah kohabitasi dan kerjasama yang konstruktif dalam membangun peradaban Islam” (h. 113-114). Selain mempromosikan Islam Cinta dan Syiah di Indonesia, Kang Jalal juga berperan “meng-Indonesia-kan” atau “me-Nusantara-kan” Syiah itu sendiri. Karena penekanannya pada tasawuf dan persatuan, maka Kang Jalal berusaha menghindari konflik dengan umat Islam lain. Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) yang didirikan tahun 2000 sebagai wadah bagi komunitas Syiah Indonesia atau komunitas pecinta ahlulbait (keluarga Nabi Muhammad), misalnya, sengaja tak memiliki masjid khusus Syiah dan mereka melakukan sholat berjamaah dengan umat Islam lain. Mereka juga diminta tak beribadah dengan cara yang berbeda dari yang dilakukan masyarakat pada umumnya. Sikap ini kadang dilihat oleh mereka yang membenci sebagai taqiyyah (kepura-puraan). Namun bagi Kang Jalal, seperti dalam laporan BBC (20 Agustus 2013), taqiyyah seperti ini adalah penting untuk menghindari konflik dan mencoba beradaptasi dengan masyarakat. Sama seperti kelompok Islam lain, ataupun juga agama lain, memang ada kelompok keras dan eksklusif dalam Syiah. Mereka yang suka serudak-seruduk ini, dalam bahasa Kang Jalal, adalah kelompok greenhorn, belum berpengalaman atau masih hijau. Jika tanduknya sudah grey (abu-abu), mereka akan bisa menahan diri. Kelompok greenhorn ini yang kadang mencipta citra buruk bagi Syiah secara umum atau menimbulkan Syiah-fobia. Meminjam bahasa Olivier Roy, kelompok-kelompok radikal itu telah melakukan apa yang disebutnya islamisation de la radicalisation. Dalam konteks tulisan ini, mereka melakukan Syiah-isasi radikalisme atau menjadikan ajarah Syiah sebagai dalih dari radikalisme. Fenomena seperti ini adalah pekerjaan kita bersama, bukan hanya Kang Jalal. Kang Jalal telah melaksanakan perannya dan tugasnya sudah purna. Kita yang perlu melanjutkan. Selamat kembali ke haribaan Allah, Kang Jalal! Engkau pasti sangat berbahagia sekarang ini karena telah berjumpa dengan Kanjeng Nabi Muhammad dan keluarganya yang sangat engkau cintai. Adalah tugas kami untuk melanjutkan misimu dalam mendakwahkan “Islam Cinta”, “Islam Alternatif”, Islam yang menghargai perbedaan dan mengasihi umat manusia.

Prof Dr Ahmad Najib Burhani MA

Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah dan Profesor Riset di LIPI *) Dimuat di Kompas, Jum’at (19/2/2021), h.6

2 views0 comments

Recent Posts

See All