top of page
  • Akhi

Jalan Cepat Menuju Tuhan : Hadits Tentang Perkhidmatan


Dalam hadis qudsi, Allah berfirman,“ Semua makhluk adalah keluargaKu. Dan di antara makhlukmakhluk itu yang paling Aku cintai adalah mereka yang paling santun dan sayang terhadap hamba-hamba-Ku yang lain, serta senang memenuhi keperluan mereka.” Dalam hadis ini disebutkan bahwa manusia yang paling Allah cintai adalah manusia yang paling banyak berkhidmat kepada sesama manusia.


Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda,“Semua makhluk adalah anggota keluarga Allah. Dan makhluk yang paling dicintai Allah adalah mereka yang paling berguna bagi seluruh anggota keluarga-Nya dan sering memasukkan rasa bahagia kepada mereka.”


Hadis lain menyebutkan Nabi SAW mengatakan jika seseorang tersenyum ketika berjumpa dengan saudaranya yang lain, Allah akan menghitung senyumnya itu sebagai kebaikan. Kalau seseorang menyingkirkan rasa sedih dari hati saudaranya yang lain, tindakan itu juga Allah hitung sebagai kebaikan. Dan tidaklah Allah disembah dengan cara yang lebih dicintai-Nya seperti memasukkan rasa bahagia kepada hati orang lain.


Rasulullah SAW bersabda, “Memenuhi keperluan seorang mukmin lebih Allah cintai daripada melakukan dua puluh kali haji dan pada setiap hajinya menginfakkan ratusan ribu dirham atau dinar.”


Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menyebutkan, “Jika seorang Muslim berjalan memenuhi keperluan sesama Muslim, itu lebih baik baginya daripada melakukan tujuh puluh kali thawaf di Baitullah.”


Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkata,“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba. Di antara hamba-hamba itu, ada sebagian manusia yang Allah ciptakan untuk melayani keperluan manusia yang lain. Kepadanya manusia berlindung untuk memenuhi keperluannya. Mereka itulah yang akan memperoleh kedamaian pada hari kiamat nanti.”


Nabi juga bersabda, “Ada orang-orang yang Allah berikan harta kepada mereka supaya mereka membagikan harta tersebut kepada hamba-hamba Allah yang lain. Dan kalau mereka tidak membagikannya, Allah akan ambil harta itu dan dipindahkan kepada orang lain yang bisa membagikan hartanya kepada sesama manusia.”


Hadis-hadis itu mengingatkan saya kepada teman saya, seorang ustad di Bandung. Orangnya sederhana dan pekerjaannya berjualan tembakau di pinggir jalan. Ia mengajarkan kepada saya sebuah doa yang sederhana, tetapi bagi saya luar biasa.


Doa itu berbunyi: “Ya Allah, buatlah aku lelah dalam membagi-bagikan harta-Mu, bukan lelah karena mencari harta-Mu.”


Nabi Muhammad SAW menyebut setiap perkhidmatan kita kepada orang lain sebagai sedekah. Nabi juga menyebutkan apabila seseorang tersenyum melihat wajah saudaranya untuk membahagiakan hatinya, ia telah bersedekah. Menyingkirkan duri di tengah jalan dan memenuhi keperluan orang yang kesusahan dihitung sebagai sedekah. Demikian pula dengan mengambil air yang diperuntukkan bagi orang lain. Segala bentuk perkhidmatan kita kepada sesama manusia dihitung Tuhan sebagai sedekah. Inilah cara yang lebih bisa mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.


Sebuah cerita sufi mengisahkan kejadian pada zaman Nabi Musa a.s. Waktu itu, Bani Israil mengundang Tuhan makan malam. Undangan itu disampaikan Nabi Musa kepada Tuhan, dan Tuhan menyanggupinya. Bani Israil pun mempersiapkan pesta dan memasak hidangan untuk menjamu Tuhan. Seorang miskin dari jauh mencium bau makanan dan ia datang menghampiri sumber bau itu. Dalam ke adaan lapar, ia meminta sedikit makanan kepada para juru masak. Juru masak menolaknya karena mereka sibuk mempersiapkan makanan untuk Tuhan. Tibalah waktu makan malam. Namun, setelah lama mereka menunggu, ternyata Tuhan tidak juga datang. Esoknya, dengan perasaan kesal, Nabi Musa a.s. mengadu kepada Tuhan, mempertanyakan mengapa Tuhan tidak datang. Tuhan menjawab, "Aku akan datang sekiranya engkau berikan makanan pada orang miskin itu. Dengan memberikan makanan kepadanya, se benarnya engkau sudah memberikan makanan kepada-Ku."


Cerita tersebut sebenarnya sesuai dengan sebuah hadis qudsi berikut ini: Pada hari kiamat nanti, Allah akan berkata kepada hamba-hambanya, “Hai hamba-hamba-Ku, dahulu Aku lapar, engkau tidak memberi makan pada-Ku. Dahulu Aku sakit, engkau tidak menjenguk-Ku. Dahulu Aku telanjang, engkau tidak memberi pakaian pada-Ku.” Kemudian hamba-hamba-Nya bertanya “Tuhan, bagaimana mungkin aku melakukan itu semua, sedangkan Engkau Tuhan semesta alam?” Allah menjawab,”Dahulu ada hamba-Ku yang sakit, sekiranya kau jenguk dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang lapar, sekiranya kau beri makanan pada dia, engkau akan temukan Aku di situ. Dahulu ada hamba-Ku yang telanjang, sekiranya kau berikan pakaian kepadanya, engkau akan temukan Aku di situ.”


Ibnu Arabi menjadikan hal ini sebagai pembahasan yang lengkap sebanyak satu jilid dalam kitabnya, “Al-Futuhat Al-Makkiyyah”. Dalam pembahasan tentang penampakan Tuhan di bumi, ia menyebutkan bahwa kita bisa menemukan Tuhan melalui perkhidmatan kepada sesama hamba-Nya. Kita adalah hamba-hamba Allah dan kita adalah anggota keluarga Allah. [ ]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

111 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page