• Akhi

Kang Jalal, Cendekiawan Muslim Berilmu Seluas Samudera


Dua hari lalu, tepat 40 hari wafatnya Cendekiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat.

Tokoh yang akrab disapa Kang Jalal itu menghembuskan nafas terakhir di ICU Rumah Sakit Santosa Internasional, Bandung, Senin (15/2


Terkait hal itu, Cendekiawan Nahdlatul Ulama(NU) Zuhairi Misrawi (Gus Mis) mengenang Kang Jalal sebagai sosok cendekiawan Muslim istimewa yang dimiliki negeri ini.


"Keluasan ilmunya laksana samudera. Ia menguasai filsafat, tafsir, hadis, tasauf, sejarah, bahasa, komunikasi, sosiologi, psikologi, dan politik. Ia sosok ulama ensiklopedis yang mendunia," ungkap Gus Mis.


Kader PDI Perjuangan itu mengaku, dirinya termasuk orang yang beruntung menjadi murid spiritual dan intelektual Kang Jalal. Gus Mis menjadi pembaca buku-buku karya kang Jalal, yang mengantarkan Ketua Baitul Muslimin Indonesia itu menyelami khazanah Rasulullah SAW dan keluarganya.


"Saya sebagai kader Nahdlatul Ulama diijazahkan oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari untuk membaca doa: 'li khamsatun uthfi biha harral waba al-hathimah, al-Musthafa wal Murtadha wa ibnahuma wa Fathimah'. Maknanya: Aku mempunyai lima sosok agung yang akan memadamkan api pandemi yang sangat panas nan mematikan, yaitu Nabi Muhammad SAW, Imam Ali bin Abi Thalib, Imam Hasan dan Imam Husein, serta Sayyidah Fathimah al-Zahra," ujar Gus Mis.


Bacaan dan doa ini, lanjut Gus Mis, di saat pandemi Covid dijadikan sebagai doa untuk menguatkan imunitas kita dari berbagai wabah, termasuk Covid-19. Semua kader dan warga NU melantukan doa ini setiap saat.


Pandemi, sambung Gus Mis, membukakan hati kita agar senantiasa mengikuti jalan Rasulullah SAW dan keluarganya. Karena di dalamnya terdapat kebenaran, kebajikan, dan kemaslahatan.

"Nah, saya termasuk kader NU yang sejak lama dapat menyelami sumudera Rasulullah SAW dan keluarganya melalui karya-karya emas Kang Jalal," ungkapnya.


Selain itu, Gus Mis juga merasa beruntung dapat mengarungi 'samudera' ajaran Rasulullah SAW dan keluarganya melalui karya Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari, yaitu al-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin.


Dari Gus Dur, Gus Mis menimba ilmu untuk menikmati embun-embun kemanusiaan. Dan dari para ulama NU, khususnya KH. Achmad Shiddiq, Gus Mis menimba perihal pentingnya persaudaraan.


"Selebihnya, saya mengenal khazanah Rasulullah SAW dan keluarganya selama kuliah di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir," ujar Gus Mis.

"Itulah sekadar silsilah ilmu kenapa saya mempunyai kedekatan khusus dengan almarhum Kang Jalal. Almarhum adalah samudera ilmu yang telah membasahi bumi pertiwi dengan kearifan," tambahnya.


Gus Mis pun mengenang perjumpaan terakhir nya dengan Kang Jalal di kediaman almarhum di Bandung, Jawa Barat. Dia rela menempuh perjalanan dari Jakarta menuju kediamannya di Bandung, karena rindu mendengarkan nasehat dan gagasan-gagasan progresif Kang Jalal.


" Dan seperti biasanya, yang khas dari akhlak almarhum Mahaguru Kang Jalal adalah senyum dan canda-tawa yang kerap menyertai perbincangan seserius apapun. Akhlak semacam ini ada pada para kampiun cendekiawan Muslim, seperti almarhum Nurcholish Madjid dan Gus Dur," ujar Gus Mis.


"Mari kita kirimkan doa dan tahlil untuk orang tua, guru-guru kita, khususnya almarhum Mahaguru Kang Jalal pada malam 40 hari wafatnya almarhum dan isteri tercinta. Dan kita murid-muridnya harus terus melanjutkan pikiran-pikirannya untuk membumikan persaudaraan sesama Muslim, persaudaraan sesama warga bangsa, dan persaudaraan sesama manusia," pungkasnya

1 view0 comments

Recent Posts

See All