• Akhi

KEBAHAGIAAN DALAM AGAMA-AGAMA


Kebahagiaan dalam Agama Budha


D. T. Campbell, psikolog yang melakukan penelitian tentang hubungan psikologi dengan agama, menyimpulkan bahwa agama memberikan sumbangan yang sangat besar dalam membantu mengatasi penderitaan manusia. Prinsip-prinsip dan nilai-nilai semua tradisi keagamaan merupakan "resep hidup yang telah dikem bangkan, diuji, dan ditapis melalui ratusan generasi sejarah sosial umat manusia.


Kehidupan macam apa yang dimasak dengan resep agama? Kehidupan yang bahagia. Semua ajaran agama dimaksudkan untuk membawa manusia kepada kehidupan yang bahagia; termasuk, menghilangkan penderitaan umat manusia. Empat Kebenaran Mulia dalam Agama Budha berpusat pada apa yang menyebabkan manusia menderita dan bagaimana cara menghilangkannya. Budha mengajarkan bahwa segala yang terjadi di dunia ini bersifat sementara. Ketika kita berusaha meraih apa pun, kita selalu menemukan kekecewaan. Kita tidak bisa mencapai keinginan kita. Inilah Kebenaran Mulia yang pertama. Dalam khotbahnya yang pertama, setelah pencerahan, Sang Budha menjelaskan Kebenaran Mulia yang kedua:


Sekarang inilah, wahai para pendeta, kebenaran mulia berkenaan dengan asal usul "penderitaan. Sesungguhnya, penderitaan adalah kehausan atau keinginan, yang menyebabkan pembaharuan eksistensi, disertai dengan kesenangan sensual, mencari kepuasan di sana sini. Penderitaan adalah. keinginan untuk memuaskan hawa nafsu, atau hasrat akan masa depan, atau keinginan untuk sukses pada masa kini.


Penderitaan terjadi karena ada keinginan, hasrat, nafsu yang harus dipuaskan. Untuk mengakhiri penderitaan, orang harus mengakhiri keinginan. Menghentikan keinginan membuka jalan menuju nirvana. Untuk menjelas kan Kebenaran Mulia yang Ketiga, Sang Budha bersabda:


Dan inilah, wahai para pendeta, kebenaran mulia tentang penghancuran penderitaan. Sesungguhnya, inilah penghancuran, yang di sini tidak tersisa lagi nafsu dan dahaga yang sesungguhnya. Di sini dikesampingkan, dihilangkan, dibebaskan dari kecapaian untuk memuaskan dahaga.


Pada Budhisme Theravada, kebebasan ini dicapai dengan kebenaran mulia yang keempat - jalan asketisme moderat dan meditasi. Pada Budhisme Mahayana dan Vajrayana, kebebasan dicapai melalui iman dan latihan-latihan ruhaniah. Dengan keduanya orang dapat menggapai wujud yang tercerahkan, yang kembali dari nirvana, untuk membantu manusia membebaskan dirinya dari keinginan atau hasrat.



Kebahagiaan dalam Agama Yahudi


Judaisme, atau agama Yahudi, mengajarkan bahwa kita tidak perlu menghilangkan keinginan. Kebahagiaan dicapai dengan mematuhi hukum Tuhan (Mitzvot). Taurat menjelaskan "Patuhilah Mitzvotku dan lakukanlah semuanya. Dengan begitu, kamu mengabdikan dirimu kepada Tuhanmu... Jalan-jalannya adalah jalan kebahagiaan dan semua jalannya adalah kedamaian.


Karena mematuhi hukum Tuhan adalah satu-satunya jalan kebahagiaan, setiap umat Yahudi harus memahamil hukum Taurat dan mewariskan pengetahuan ini kepada generasi-generasi selanjutnya. Setelah Musa menyampaikan sepuluh firman Tuhan, ia berpesan kepada orang-orang Israel yang berkumpul di hadapannya:


"Inilah perintah, yakni 1 Ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah Tuhan, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, 2 Supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan, Allahmu dan berpegang pada segala ketetapan dan perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu, dan supaya lanjut umurmu. 3 Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan. setia, supaya baik keadaanmu [Saya lebih senang. menerjemahkannya supaya hidup kamu bahagia. Dalam berbagai edisi bahasa Inggris "baik keadaan" ini diterjemahkan dengan be well atau go well, yang sebenarnya lebih tepat diterjemahkan "bahagia". Dalam bahasa Inggris modern ke-bahagiaan disebut well-being. Dalam The Latin Vulgate, kalimat bene sit tibi juga lebih pas diartikan supaya hidup kamu bahagia - penulis). dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan Tuhan, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu. 4 Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esal 5 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. 6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan. 7 Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membica rakannya apabila engkau duduk di rumahmu,

apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.


[Dalam The Complete Jewish Bible, Ulangan 6:1-4 terbaca:

1 "Now this is the mitzvah, the laws and rulings which ADONAI your God ordered me to teach you for you to obey in the land you are crossing over to possess, 2 so that you will fear ADONAI your God and observe all his regulations and mitzvot that I am giving you you, your child and your grandchild as long as you live, and so that you will have long life. 3 Therefore listen, Isra'el, and take care to obey, so that things will go well with you, and so that you will increase greatly, as ADONAI, the God of your ancestors, promised you by giving you a land flowing with milk and honey. 4 "Sh'ma, Yisra'ell ADONAI Eloheinu, ADONAI echad [Hear, Isra'el! ADONAI our God, ADONAI is one]: 5 and you are to love ADONAI your God with all your heart, all your being and all your resources. 6 These words, which I am ordering you today, are to be on your heart; 7 and you are to teach them carefully to your children. You are to talk about them when you sit at home, when you are traveling on the road, when you lie down and when you get up] 8 haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, 9 dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu. 10 Maka apabila Tuhan, Allahmu telah membawa engkau masuk ke negeri yang dijanjikannya dengan sumpah pada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepadamu - kota-kota yang besar dan baik, yang tidak kaudirikan; 11 rumah-rumah, penuh berisi berbagai-bagai barang baik, yang tidak kauisi; sumur-sumur yang tidak kaugali; kebunkebun anggur dan kebun-kebun Zaitun yang tidak kautanami dan apabila engkau sudah makan dan menjadi kenyang: 12 maka berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan Tuhan, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan. 13 engkau harus takut akan Tuhan. Allahmu. Kepada dia haruslah engkaut beribadah dan demi nama-Nya haruslah engkau bersumpah. 14 Janganlah kamu mengikuti Allah lain, dari antara Allah bangsa-bangsa sekelilingmu, 15 sebab Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu di tengah-tengahmu, supaya jangan bangkit murka Tuhan Allahmu, terhadap engkau, sehingga la memusnahkan engkau dari muka bumi. (Ulangan 6:1-15)


Kebahagiaan dalam Agama Kristen


Jika agama Yahudi mensyaratkan kepatuhan pada Mitzvah, hukum Tuhan, untuk memperoleh kebahagiaan, agama Kristen menekankan pentingnya berbuat baik dan bahayanya berbuat buruk (Kata orang Yahudi, itu kan inti ajaran Mitzvah juga!). Dengan mengklik http://bible. crosswalk.com/OnlineStudyBible, dan menggunakan The New American Standard Bible, saya menemukan 4 rujukan tentang happiness dan 14 tentang happy. Di bawah ini, saya kutipkan beberapa ayat dalam Alkitab tentang bahagia dan kebahagiaan. Di luar kutipan dari The New American Standard Bible, saya mengutip Khotbah di Bukit dari Alkitab, yang diterbitkan Lembaga Indonesia.


1. Amsal 14:21 "Siapa menghina sesamanya berbuat dosa, tetapi berbahagialah orang yang menaruh belas kasihan kepada orang yang menderita."


2. Mazmur 128: 1-2

"Berbahagialah setiap yang takut akan Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu."


3. Pengkhotbah 7:14

"Pada hari mujur, berbahagialah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya."


4. Ratapan 3:17

"Engkau menceraikan nyawaku dari kese- jahteraan, aku lupa akan kebahagiaan."


Ayat-ayat yang dikutip di atas semua berasal dari Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian baru edisi bahasa Inggris tidak saya temukan kata happiness ini. Tetapi dalam bahasa Indonesia, saya menemukan berulang-ulang kata "berbahagialah disebut dalam Khotbah Yesus di bukit. Semua terjemahan Inggris menggunakan kata blessed, yang berarti diberkati.


Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karenal mereka akan beroleh kemurahan.

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.


Kebahagiaan dalam Agama Islam


Dalam Al-Quran, di antara kata yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan, adalah aflaha. Pada empat ayat Al-Quran-20:64, 23: 1, 87: 14, 91:9- kata itu selalu didahului kata penegas qad – sehingga berbunyi qad aflaha, sungguh telah berbahagia. Kata ini adalah derivasi dari akar kata faláh.


Kamus-kamus bahasa Arab klasik merinci makna falah sebagai berikut: kemakmuran, keberhasilan, atau pencapaian apa yang kita inginkan atau kita cari; sesuatu yang dengannya kita berada dalam keadaan bahagia atau baik; terus menerus dalam keadaan baik; menikmati ketentraman, kenyamanan, atau kehidupan yang penuh berkah; keabadian, kelestarian, terus menerus, keberlanjutan.


Bagi saya rincian makna falâh tersebut adalah komponen-komponen kebahagiaan. Kebahagiaan bukan hanya ketentraman dan kenyamanan saja. Kenyamanan atau kesenangan satu saat saja tidak melahirkan kebahagiaan. Mencapai keinginan saja tidak dengan sendirinya memberikan kebahagiaan. Kesenangan dalam mencapai keinginan biasanya bersifat sementara. Satu syarat penting harus ditambahkan; yakni, kelestarian atau menetapnya (permanence) perasaan itu dalam diri kita. Kita akan membicarakan makna kebahagiaan itu pada penjelasan selanjutnya. Untuk kali ini cukuplah kita katakan bahwa kata Arab yang paling tepat menggambarkan kebahagiaan adalah faláh.


Ingatkah Anda bahwa setiap hari, paling tidak sepuluh kali, muazin di seluruh dunia Islam, meneriakkan hayya alal faláh, marilah meraih kebahagiaan. Pada mazhab Ahlul Bait, setelah hayya alal falah, mereka mengucapkan hayya ala khayril amal, marilah berbuat baik. Sekali lagi, seperti akan kita jelaskan terinci nanti, orang yang bahagia cenderung berbuat baik. Anda diajak dulu berbahagia; setelah itu, Anda diajak untuk mempertahankan kebahagiaan itu dengan berbuat baik. Jadi, suara muazin itu saja cukup jadi bukti bahwa agama Islam memanggil umatnya setiap saat untuk meraih kebahagiaan.


Derivasi selanjutnya dari aflaha adalah yuflihu, yuflih âni, yuflihûna, tuflihu, tuflihani, yuflihna (semua kata ini tidak terdapat dalam Al-Quran), dan tuflihûna (disebut sebelas kali dalam Al-Quran dan selalu didahului dengan kata laallakum tuflihûn, agar supaya kamu. berbahagia). Dengan melihat ayat-ayat yang berujung dengan laallakum tuflihûn (2: 189 3: 130, 3:200, 5:35, 5:90,5: 100, 7:69, 8:45, 22:77, 24:31, 62: 101 kita diberi pelajaran bahwa semua perintah Tuhan dimaksud kan agar kita hidup bahagia. Untuk menghemat tempat, pada sebagian ayat berikut ini, kita tidak memuatnya dengan lengkap:


  • Bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu herhahagia (2:189)

  • Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu makan riba yang berlipat-lipat dan bertakwalah kamu kepada Allalı, supaya kamu berbahagia (3:130)

  • Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah, saling menyabarkan, dan perkuat persatuanmu supaya kamu berbahagia (3:200)

  • Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu berbahagia (5:35)

  • Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya numan keras, perjudian, undian, dan taruhan kotoran dari pekerjaan setan, maka jauhilah, supaya kamu berbahagia (5:90)

  • Katakanlah, tidak sama keburukan dan kebaikan, walaupun banyaknya keburukan memesona. kamu. Bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berbahagia (5: 100)

  • Kenanglah anugerah-anugerah Allah supaya. kamu berbahagia (7:69)

  • Wahai orang-orang beriman, jika kamu berjumpa dengan sekelompok musuhmu, teguhkan hatimu dan berzikirlah kamu kepada Allah yang banyak, supaya kamu berbahagia (8:45)

  • Wahai orang-orang beriman, rukuklah dan sujudlah, beribadahlah kepada Tuhanmu serta berbuatlah kebaikan supaya kamu berbahagia (22:73)

  • (setelah menjelaskan hukum berjilbab), bertaubatlah kamu kepada Allah seluruhnya, wahai orang-orang beriman, supaya kamu berbahagia (24:31)

  • Apabila selesai salat, menyebarlah di muka bumi. Cari anugerah Allah dan ingatlah Allah yang banyak supaya kamu berbahagia (62: 10)

Ayat-ayat di atas tidak saja menunjukkan bahwa tujuan akhir dari semua perintah Tuhan adalah supaya kamu berbahagia, tetapi juga rincian perbuatan yang bisa membawa kita kepada kebahagiaan.


Bersambung ke pembahasan selanjutnya Hadis-hadis kebahagiaan


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

29 views0 comments

Recent Posts

See All