• Akhi

Kebahagiaan Menurut Aristoteles




Aristoteles, filusuf besar, "inteleknya Akademi Plato", menyebutkan syarat-syarat yang diperlukan untuk memperoleh kebahagiaan yang berlangsung lama: good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good friends, good money, and goodness.


"Tidak ada orang yang berwajah buruk hidup bahagia, katanya. Aristoteles pernah mengutip ucapan Simonid kepada isterinya, ketika ditanya mana yang lebih baik menjadi orang bijak (seperti filusuf) atau orang kaya. "Orang kaya, karena kita melihat orang bijak menghabiskan waktunya di depan pintu orang kaya!"


Kita mengutip ucapan Aristoteles dari Ethics, buku pertama dalam sejarah dunia yang menjelaskan definisi kebahagiaan dan kiat-kiat untuk mencapai kebahagiaan. Bersama para filusuf lainnya, Aristoteles ingin menjawab pertanyaan: Apa yang membuat hidup manusia itu baik, apa yang membuat hidup itu layak kita jalani, apa yang harus kita lakukan supaya kita bukan hanya hidup, tetapi hidup yang baik?


Hidup yang baik, kata Aristoteles, adalah hidup yang bahagia. Jadi baik adalah bahagia. Tetapi ada banyak baik di dunia ini –turunan baik, kesehatan baik, rupa baik, kekayaan baik. Apa hubungannya "baik-baik" yang lainnya itu dengan bahagia? Menurut Aristoteles, hidup yang bahagia adalah hidup yang sempurna karena memiliki semua hal yang baik seperti kesehatan, kekayaan, persahabatan, pengetahuan, kebajikan (atau kemuliaan). Hal-hal yang baik itu adalah komponen kebahagiaan. Semuanya kita cari untuk mencapai kebahagiaan.


Dengan menggunakan metode Socrates, saya ingin bertanya kepada Anda: Mengapa Anda ingin sehat? Anda mungkin menjawab: Aku ingin bekerja dengan baik. Mengapa Anda ingin bekerja dengan baik? Karena aku ingin memperoleh penghasilan yang baik. Mengapa Anda ingin punya penghasilan yang baik? Karena aku ingin punya rumah baik dan keluarga baik? Mengapa Anda ingin punya rumah baik dan keluarga baik? Karena aku ingin bahagia? Mengapa Anda ingin bahagia? Karena...karena...aku ingin bahagia.


Ini berarti bahwa kebahagian adalah keinginan kita terakhir. Kebaikan lainnya kita kejar demi meraih kebahagiaan. Kebahagiaan kita raih tidak untuk tujuan lainnya. Kebaikari adalah summum bonum. Kebaikan tertinggi. Mari kita simak Aristoteles:


Kebahagiaan diinginkan untuknya sendiri tidak untuk yang lainnya. Tetapi kehormatan, kesenangan, pemikiran, dan setiap kebaikan, kita pilih untuk meraih kebahagiaan, dengan mengambil keputusan bahwa melalui kebaikan-kebaikan itulah kita akan bahagia. Pada sisi yang lain, orang memilih kebahagiaan tidak untuk kebaikan lainnya. Jadi kebahagiaan adalah sesuatu yang final dan mencukupi sendiri.


Menurut Aristoteles, kebahagiaan harus kita raih seumur hidup. Kebahagiaan adalah kehidupan yang baik. Apakah seorang bahagia atau tidak dalam hidupnya hanya bisa kita nilai setelah meninggal dunia. Ia menggambarkannya dengan kisah percakapan antara Solon, orang yang paling bijak di zaman itu, dengan Croesus, penguasa yang kaya.


Solon berangkat melakukan perjalanan. Di tengah perjalanan, ia sempat melawat Croesus di Sardis. Croesus menerima Solon sebagai tamunya, menempatkannya di istana raja dan menyuruh para pelayan membawanya untuk memperlihatkan seluruh kekayaan, kemegahan dan kemewahannya. Dan ketika Solon sudah menyaksikan semua, Croesus berkata, "Orang asing dari Athena, aku telah mendengar banyak tentang kearifanmu dan tentang perjalananmu ke banyak negeri. Karena itu, aku ingin bertanya kepadamu siapakah di antara orang yang pernah kamu lihat, yang kamu anggap paling bahagia?" Ia bertanya demikian, karena ia berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang paling bahagia. Tetapi Solon menjawabnya tanpa berbasa-basi, "Tellus dari Athena, Baginda."


Terkejut karena apa yang dia dengar, Croesus bertanya dengan keras, "Mengapa kamu menganggap Tellus manusia yang paling bahagia?" Untuk itu Solon menjawab, "Pertama, karena negerinya makmur pada zamannya. la sendiri punya anak-anak laki-laki yang tampan dan baik. Ia hidup dan sempat menyaksikan cucu-cucunya lahir dan tumbuh besar. Selanjutnya karena, setelah ia menjalani hidupnya dengan apa yang dilihat oleh rakyat kami sebagai kesenangan, ia menemui ajalnya dalam keadaan mulia. Dalam satu pertempuran antara orang Athena dan tetangganya di dekat Eleusis, ia meninggal secara terhormat di medan perang. Orang Athena memberikan kepadanya penguburan dengan penghormatan yang setinggi-tingginya."


Solon mengecam Croesus dengan mengambil contoh Tellus. Ketika ia mengakhiri pembicaraannya, Croesus bertanya dengan marah, "Apakah kebahagiaanku begitu kecil, sehingga kamu bahkan tidak meletakkannya pada tingkat yang sama dengan orang-orang biasa?"


"Croesus," jawab yang lain, "...aku lihat memang Anda luar biasa kaya dan penguasa dari banyak bangsa. Tetapi berkenaan dengan pertanyaanmu, saya tidak punya jawaban kecuali setelah saya mendengar Anda menutup hidup Anda dalam keadaan bahagia. Sejelasnya saja, dia yang memiliki perbendaharaan kekayaan yang luas tidak lebih dekat kepada kebahagiaan dari dia yang hidupnya pas-pasan. Karena banyak sekali orang yang kaya raya tidak hidup beruntung dan banyak orang yang kekayaannya biasa-biasa saja memperoleh keuntungan yang istimewa. Memang benar, orang kaya lebih mampu memuaskan keinginannya, dan lebih bertahan. menghadapi cobaan yang mendadak Orang yang sederhana kurang mampu menghadapi musibah ini, tetapi keberuntungannya yang baik selalu menyelamatkan. Karena itu, ia menikmati keberkahan berikut ini: hidup sehat, jauh dari penyakit, bebas dari kemalangan, bahagia bersama anak-anaknya, dan sedap dipandang. Di samping ini, ia mengakhiri hidupnya dengan baik, ia benar-benar orang yang dengan tepat bisa disebut bahagia. Sebelum ia mati, sebutlah ia orang beruntung, bukan orang bahagia."


Kalau bahagia hanya bisa disifatkan kepada orang yang sudah mati, bagaimana kita bisa bahagia selama kita hidup? Atau dalam bahasa Aristoteles, apa yang harus kita lakukan untuk mencapai kebahagiaan? Atau dalam kisah di atas, bagaimana kita men jadi orang beruntung? (Sebetulnya perbedaan antara "beruntung" dan "bahagia" hanya dibuat untuk memuaskan konsistensi logis para filusuf saja)


Upaya meraih kebahagiaan adalah proses terus-menerus untuk mengumpulkan semua kebaikan: kekayaan, kehormatan, kepandaian, kecantikan, persahabatan dan sebagainya yang sangat diperlukan untuk menyempurnakan fitrah kemanusiaan dan memperkaya kehidupan. Untuk itu "resep pertama" meraih kebahagiaan adalah menggunakan akal, satu-satunya kemampuan yang membedakan manusia dengan binatang. Petunjuk akal yang pertama, seperti dipahatkan pada kuil Apollo di Delphi, adalah mede agan-jangan berlebihan. Kita harus meletakkan diri kita pada posisi tengah-tengah-golden mean.


Kebaikan terletak di antara dua ekstrem. Di antara pengecut dan nekad ada keberanian. Di antara kebakhilan dan keborosan ada kedermawanan. Diantara rasa rendah diri dan kesombongan ada kerendahan hati. Di antara kerahasiaan dan keterbukaan ada kejujuran. Di antara pertengkaran dan rayuan ada persahabatan.


Kedua, akal dipergunakan untuk memilih. Setiap hari kita melakukan pilihan. Kita memilih yang benar apabila kita memilih yang lebih baik di atas yang kurang baik. Dalam melakukan pilihan itu, kita bukan saja melihat data yang ada tetapi kemungkinan di masa depan. Seringkali yang kurang baik kita korbankan demi sesuatu yang lebih baik di masa depan. Pilihan-pilhan itu dilakukan dengan menggunakan akal. Ketika kita menerima hadiah jutaan rupiah, kita harus memilih penggunaan uang itu antara berpesta pora atau melakukan investasi. Orang bijak, dengan menggunakan akalnya, akan menangguhkan kesenangan yang cepat demi kebahagiaan di masa depan. "Kebahagiaan," kata Stephen Covey, "dapat didefinisikan paling tidak, sebagai hasil keinginan dan kemampuan mengorbankan apa yang kita inginkan sekarang untuk apa yang kita inginkan pada akhirnya"


Aristoteles mengecam orang yang mengambil pilihan pada kesenangan jasmaniah yang mengorbankan kebahagiaan. Kesenangan jasmaniah sebentar tetapi penderitaan yang diakibatkannya bisa berkepanjangan. Kebahagiaan harus berupa kesenangan, tetapi kesenangan jiwa. Kebahagiaan datang hanya kalau kesenangan jiwa ini dinikmati dalam mencari kebenaran. Tetapi kesenangan jiwa terlalu abstrak, kata kaum hedonis. Tidak ada jeleknya menikmati kesenangan jasmaniah, asal kita mengendalikannya dengan akal.


Bersambung pada pembahasan selanjutnya Pandangan Kebahagiaan Hedonisme


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

30 views0 comments