top of page
  • Akhi

KECERDASAN MAJEMUK UNTUK SEKOLAH PARA JUARA


At first glance, challenge and novelty may seem like things to avoid, but they are the exact ingredients that make for satisfying experience, and the evidence lies in the one place that matters most-your brain.-

Gregory Berns, Satisfaction


Rasyid sudah mendatangi berbagai sekolah dan gagal. Orangtuanya sangat bahagia bahwa akhimya Rasyid bisa masuk ke kelas tiga di SMA Plus Muthahhari. Beberapa bulan pertama pada semester pertama, penyakit Rasyid "kumat" lagi. Dia sering bolos atau meninggalkan kelas sebelum waktunya. Setelah beberapa kali sekolah menurunkan "espe" (Surat Peringatan), Rasyid memutuskan mogok sekolah. Kami menyelengarakan sidang kasus Rasyid dalam rapat guru Kami menemukan bahwa, untuk kesekian kalinya, sekolah menjadi tempat yang membosankan baginya. Orangtuanya menginginkan anaknya masuk Fakultas Kedokteran. Dia lebih tertarik pada arsitektur. Dia merasa, bunyak pelajaran di kelas tidak ada kaitannya dengan cita-citanya. Sesuai dengan special treatment for special people, sebuah metode pembelajaran yang kami gunakan khusus untuk anak-anak "istimewa," kami melepaskan Rasyid dari kewajiban masuk sekolah seperti anak-anak lainnya. Kami menyebutnya, "Rasyid di-off-kan." Karena sudah berada di kelas tiga, dia hanya diharuskan "berlatilh" dalam pelajaran yang ada dalam ujian nasional. Kami mengatur jadwal khusus baginya, di sekolah dan di rumahnya. Akhirnya, dia lulus ujian SMA. Kini, dia belajar dengan penuh semangat sebagai mahasiswa arsitektur di sebuah universitas di Malaysia. Dia berhasil membuktikan dirinya bukan anak pecundang lagi.


Special treatment kami terapkan juga untuk anak pecundang lainnya. Sebut saja namanya Dani. Berkali-kali dia meninggalkan kelas. Berulang-ulang juga kedua orangtuanya kami panggil. Dia berasal dari Jakarta. Sejak di SMP dia tertarik pada fotografi. Bahkan dia pernah memenangi perlombaan fotografi tingkat nasional. Mengambil gambar lebih menarik perhatiannya ketimbang duduk di kelas. Kami off-kan dia dari pelajaran-pelajaran lainnya selain mata pelajaran yang diujian-nasionalkan. Kami memberikan kesempatan baginya untuk mengembangkan kemampuan fotografinya. Singkat cerita, dia lulus dari SMA dengan nilai pas-pasan. Sebagai fotografer dari agen berita internasional, sekarang dia memperoleh penghusilan yang jauh lebih tinggi daripada gurunya.


Dani dan kawan-kawan sejenis mengingatkan kami-para guru di SMA Plus Muthahhari - bahwa banyak anak yang kami nilai sebagai pecundang sebetulnya dapat menjadi juara dilam "spesialisasinya." Sistem pendidikan kita mengabuikan spesialisasi murid karena memberikan general treatment to special student. Waktu itu, kami tidak tahu seperti apa kami harus menyebut spesialisasi murid itu-bakat, minat, talent? -sampai akhirnya kami berjumpa dengan buku Howard Gardner, Frames of Mind (1993). Gardner menyebutnya kecerdasan, inteligences. Waktu iu, dia menyebutkan tujuh kecerdasan: logis-matematis, linguistik, musikal, spasial, kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal. Di antara semua kecerdasan itu, kata Gardner, yang dihargai dalam kebudayaan Barat (saya kira juga di Indonesia dan negara-negara di bawah pengaruh Barat) hanyalah kecerdasan logis-matematis dan linguistik.


Anak-anak yang kita anggap "istimewa" adalah anak-anak dengan kecerdasan tidak diapresiasi budaya kita. Rasyid dan Dani punya kecerdasan yang visual yang menakjubkan, tetapi sekolah-sekolah kita mengabaikannya. Kami menemukan pembenaran ilmiah pada apa yang kami sebut special treatment. Kami bersama-sama mengkaji konsep Kecerdasan Majemuk (KM) Gardner. Kami mengadakan beberapa kali lokakarya tentang KM. Kami masing-masing melakukan percobaan menerapkan KM dalam mata pelajaran yang kami asuh. Kami merumuskan program pengembangan KM di bawah bimbingan Ibu Rini, guru BK (Bimbingan dan Konseling), dan Ibu Rika, guru biologi.


Di tengah-tengah gairah untuk mengamati KM murid-murid kami, Ibu Rika melaporkan seorang anak "aneh" pada rapat guru. Sebut saja namanya Raja. Raja sangat pasif, pendiam, tanpa emosi, tanpa gairah apa pun. Ketika anak-anak lain sudah menyelesaikan jawabun tes, dia masih menulis soal-soal tes. Dengan alat ukur yang ada pada kami waktu itu, kami berusaha mengidentifikasi kecerdasannya. Dia lemah dalam semua kecerdasan. Mungkinkah Raja autistik? Kami tidak tahu. Para guru sepakat untuk - paling tidak - mengembangkan kecerdasan interpersonalnya. Pada permainan bulutangkis, Pak Cucu men-smash dia sangat keras. Dahinya benjol. Tetapi dia bergeming, Dia tidak menjerit. Dengan tenang dia mengambil bola dan meneruskan permainan. Akhirnya, kami bekerjasama dengan murid-murid yang lain. Kami mengangkat dia menjadi pemimpin kelompok. Kami meminta murid-marid dalam kelompoknya untuk memperhatikan dan mengapresiasi apapun yang dia lakukan.


Pada malam perpisahan, saya menyaksikan Raja menyampaikan sambutan sebagai ketua panitia. Saya mendengarkannya dengan penuh takjub, setelah sebelumnya saya terpesona dengan kemajuan akademisnya. Ketika saya meninggalkan ruangan acara, hampir jam sebelas malam, di depan saya berdiri seorang lelaki tinggi. Tampaknya dia sudah lama menunggu saya di situ. Begitu melilat saya, dia memeluk saya erat-erat. Dia menggumamkan "terimakasih" dalam isakan tangis. Lelaki itu ayah Raja. Dan Raja telah mengajari kami bahwa dengan mengembangkan salah satu kecerdasan - seperti kecerdasan interpersonal - kami dapat memacu perkembangan kecerdasan lainnya. Disamping Raja, ada anak-anak lain anak yang kecerdasan matematikanya melejit setelah kecerdasan musikalnya dikembangkan atau anak yang kecerdasan linguistikanya meningkat setelah kecerdasan kinestetiknya diperhatikan.


Yang pertama saya sebut adalah seorang anak yang dikirim ayahnya dari Makassar karena dalam bidang matematika dia lebih rendah daripada kakaknya. Dia mengajukan syarat untuk kepergiannya ke Bandung harus dibelikan gitar. Di SMA Plus Muthahhari, dia mengembangkan kecerdasan musikalnya. Beberapa lagu telah dia ciptakan. Dia berhasil mencapai posisi "top-student" pada ujian nasional dengan nilai matematika lebih tinggi daripada kakaknya yang tetap tinggal di kota kelahirannya.


Yang terakhir saya sebut semula menjadi "problem sudent" bukan di sekolah kami saja, tetapi juga di sekolah-sekolah sebelumnya. Dia anak kinestetik. Dia hanya bisa belajar dengan bergerak. Dia mudah mempelajari pelajaran-pelajaran yang melibatkan gerakan-gerakan tubuh-olahraga, silat, teater, dan sebagainya. Ketika dia menjadi murid SD, ibunya membekalinya dengan seikat pensil. Dia bisa belajar baik dengan mematah-matahkan pensil. Dengan memerhatikan keistimewaannya, kami mengantarkannya sampai lulus ujian. Dia kini belajar di akademi perhotelan dan pernah memperoleh penghargaan dalam memasak.


Mereka bergabung dengan para juara lainnya di sekolah kami setelah dicampakkan di sekolah-sekolah lainnya. Sebelum kami berkenalan dengn Gardner, kami mencantumkan moto sekolah kami: "Mengembungkan Inteligensi, Kreativitas, dan Akhlak." Setelah mempelajari KM, kami menambahkan "Sekolah Para Juara." Kami yakin, jika "anak pecundang" saja bisa diubah menjadi juara, apalagi anak-anak normal.


Walhasil, Kecerdasan Majemuk mula-mula kami terapkan untuk memperkaya prinsip pedagogis yang kami sebut special tretment for special student, yakni mengubah anak "istimewa" menjadi juara dalam "keistimewaannya. SMA Plus Muthahhari setelah melahirkan banyak juara dalam berbagai pertandingan. Ini bukan karena kami hanya merekrut murid-murid yang cerdas. Tidak ada seleksi NEM untuk masuk sekolah kami. Bagi kami, seleksi adalah perlakuan diskriminatif untuk "membuang" anak-anak dengan kecerdasan yang tidak diapresiasi. Lagi pula, mengajar anak-anak cerdas (dalam kultur Indonesia) sangat gampang. Pada sebuah sekolah unggulan yang kami kenal, murid-murid sudah mengerti bahan-bahun ajaran bahkan sebelum guru mengajarkannya. Sekiranya kami menjadi pengajar di sekolah unggulan. kami tidak menghadapi tantangan besar. Di situ, keberhasilan anak didik kami tidak begitu membahagiakan kami. Namun di sini, di sekolah kami, kami sangat-sangat bahagia bila kami berhasil mengubah pecundang menjadi juara. Bersama dengan tetes-tetes air mata ayah Raja yang jatuh ke leher saya, saya juga menangis. Bahagia!


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

30 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page