• Akhi

Kelezatan iman


Anugerah yang diberikan kepada para pencinta Rasulullah saw adalah kelezatan iman. Iman itu bertingkat-tingkat. Tingkat iman yang paling rendah disebut tashdiq. membenarkan atau sekadar percaya. Tingkat iman yang paling tinggi adalah syuhud, menyaksikan atau merasakan. Kita berada pada tingkat yang pertama, jika kita hanya percaya bahwa ada Allah, Tuhan yang menciptakan alam; tetapi kita tidak merasakan kehadiran-Nya di dalam kehidupan kita. Kita berada pada tingkat iman yang tertinggi, jika kita bukan saja percaya bahwa Muhammad saw adalah Nabi yang penuh kasih dan sangat penyayang pada kaum mukmin, tetapi juga kita merasakan manisnya kasih sayangnya, besarnya perhatiannya, dan lezatnya kehadirannya. Orang-orang saleh yang sangat mencintai Nabi saw tidak jarang menghirup wewangian indah yang disebarkannya.


Al-Suyuthi mengisahkan "pertemuan" seorang saleh dengan Nabi yang sangat dirindukannya:


Suatu malam aku bersalawat atas Nabi dan jatuh tertidur. Aku sedang berada dalam satu ruangan dan, aduh, Nabi mendatangiku melalui pintunya, dan seluruh ruangan itu menjadi bercahaya karenanya. Lalu dia bergerak ke arahku dan berkata: 'berikanlah kepadaku mulut yang telah melantunkan salawat bagiku begitu sering agar aku bisa menciumnya."


Dan kerendahan hatiku tidak akan membiarkannya mencium mulutku; maka aku memalingkan wajahku dan dia mencium pipiku. Lalu aku bangun dengan gemetar dari tidurku, dan istriku yang ada di sampingku terbangun, dan aduh, rumahku menjadi berbau harum akibat keharuman badan Nabi, dan bau harum dari ciumannya tetap menempel di pipiku sampai sekitar delapan hari. Istriku mengenali bau itu setiap hari.


Banyak orang berziarah ke pusara Rasulullah saw di Madinah. Setengahnya datang ke situ tanpa cinta. Mereka tahu dan percaya bahwa di balik pintu besi itu dibaringkan jasad Nabi yang suci. Mereka mencoba menengok ke dalam makam seperti anak kecil yang dirangsang oleh rasa ingin tahu. Mereka lewati makam dengan ringan dan tanpa beban. Boleh jadi ada di antara mereka yang tertawa karena (atau menertawakan) tingkah laku orang-orang yang dipandangnya aneh. Pikirannya masih ingat pada papan peringatan yang dilihatnya sebelum masuk ke masjid (Dilarang memohonkan apa pun kepada orang yang sudah mati). Dan Muhammad saw sudah mati.


Setengahnya lagi datang ke makam Rasulullah saw dengan cinta. Mereka berhenti dahulu di pintu masjid. Dengan penuh kerendahan hati, mereka memohon perkenan Nabi saw untuk menerimanya sebagai tamu. Mereka merasa malu, datang dari tempat jauh dengan memikul dosa di punggung mereka. Mereka mengaku umatnya, tetapi setiap hari mempermalukan Rasulullah saw yang suci dengan kekotoran akhlaknya. Hatinya perlahan-lahan menjadi rapuh dan lembut. Ketika mereka mengucapkan "Assalamu 'alaika ya Rasul Allah", mereka terisakisak menangis.


Lalu, masuklah mereka ke masjid dengan langkah yang berat. Mereka bukan hanya tahu tetapi merasakan bahwa di balik pintu besi itu ada Rasulullah saw yang menatap mereka dengan penuh sayang. Mereka tidak berani mengangkat kepalanya. Jantungnya berdegup keras. Sebentar lagi mereka akan berjumpa dengan sang Kekasih. Sebentar lagi mereka akan melepaskan kerinduannya pada manusia suci yang telah membimbingnya ke jalan Tuhan. Tetapi kerinduan itu bercampur dengan rasa malu (Harus ke mana aku sembunyikan mukaku yang sudah kotor ini?). Mereka ingin merebahkan kepalanya di dinding pusara Rasul. Mereka ingin melepaskan kerinduannya dengan menciumi dinding-dinding besi itu sepuas-puasnya. Seperti Majnun yang berkata, “Aku ciumi dinding rumah Layla, bukan karena dinding itu, tetapi karena dia yang berada di balik dinding itu."


Kelompok yang kedua ini adalah orang yang keimanannya kepada Rasulullah saw sudah mencapai tingkat syuhud. la bukan hanya percaya tetapi merasakan. Bukan hanya yakin tetapi juga menyaksikan. Pada kelompok ini, iman dirasakan kelezatannya. Rasulullah saw bersabda, "Ada tiga hal yang bila ada semuanya pada diri seseorang, ia akan merasakan manisnya iman: pertama, Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari apa pun selain keduanya; kedua, ia mencintai orang semata-mata karena Allah; dan ketiga, ia benci untuk kembali kepada kekafiran setelah Allah menyelamatkannya seperti ia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka." Dalam riwayat dari Abbas bin Abdul Muthallib, Nabi saw bersabda, "Yang merasakan manisnya iman adalah orang yang suka (rido) menerima Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad saw sebagai Rasul."


Baiat para sahabat dahulu adalah kalimat yang baru saya sebut: Aku rido Allah menjadi Tuhanku. Aku rido Islam menjadi agamaku. Aku rido Muhammad menjadi rasul dan Nabi." Perkataan "rido" sudah menggantikan kata "percaya". Di antara yang berbaiat seperti itu adalah Bilal. Segera setelah Rasulullah saw meninggal dunia, Bilal tidak mau lagi menyampaikan azan. Beberapa hari angkasa Madinah tidak mendengar suara Bilal. Atas desakan Fatimah as, putri Nabi saw, Bilal mengumandangkan azan Subuh. Seluruh Madinah terguncang. Bilal mulai dengan Allahu Akbar, lalu kalimah syahadat yang pertama. Begitu ia ingin menyebutkan kalimat syahadat kedua, suaranya tersekat dalam tenggorokan. Ia berhenti pada "Muhammad" dan setelah itu tangisannya meledak, diikuti oleh tangisan Fatimah dan seluruh penduduk Madinah.


Ketika Bilal mendekati ajalnya, isterinya menangis keras: Wa huznah! Duhai sedihnya! Bilal menyambutnya, "Wa tharabah! Ghadan alqá al-ahibbah. Muhammadan wa Hizbah." Duhai bahagianya. Besok aku akan berjumpa dengan orang-orang tercinta. Muhammad dan golongannya!


'Aisyah meriwayatkan bahwa seorang perempuan dari jauh minta izin agar 'Aisyah membukakan makam Nabi saw: Bukakan bagiku kubur Rasulullah saw. Ketika 'Aisyah membukanya, perempuan itu menjerit dan meninggal waktu itu juga.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).



109 views0 comments