top of page
  • Akhi

KEMULIAAN RASULULLAH DALAM AL-QURAN


Saya akan menyampaikan beberapa ayat Al-Quran yang berkenaan dengan Rasulullah. Dengan mengetahuinya, kita dapat menempatkan kewajiban-kewajiban apa yang harus kita tunaikan terhadap Rasulullah.


Al-Quran Mewajibkan Kita Mencintai Rasulullah


Katakanlah oleh kamu, hai Muhammad, kepada mereka (kaum Muslim) ini. Jika orangtua kamu, anakanak kamu, saudara-saudara kamu, istri-istri kamu, dan harta serta perdagangan yang kamu takutkan kehancurannya, serta tempat-tempat tinggal yang komu senangi lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah menurunkan azab-Nya. Dan Sesungguhnya, Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS Al-Taubah (9): 24)


Ayat ini menunjukkan bahwa jika kecintaan kita terhadap harta, anakanak, orangtua, istri, atau perdagangan melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sebetulnya kita sedang menunggu azab dari Allah Swt. Dengan perkataan lain, kita harus memuliakan dan mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari semuanya itu. Dalam Surah Al-Ma'idah (5): 56 disebutkan:


Sesungguhnya, siapa yang mencintai Allah, Rasul-Nya, dan orangorang yang beriman, maka itulah hizbullah dan sesungguhnya hizbullah itulah yang akan memperoleh kemenangan.


Al-Quran Menegaskan Kemuliaan Akhlak Rasulullah


Al-Quran beberapa kali menunjukkan keagungan dan kebesaran Rasulullah di hadapan Allah Swt. Mungkin Al-Quran sengaja memperlihatkan kebesaran Rasulullah di hadapan kita, karena ada sebagian dari kita yang menganggap bahwa memuliakan Rasulullah itu sebagai kultus dan musyrik. Mereka memusyrikkan setiap ungkapan kecintaan terhadap Rasulullah. Jika mengagungkan Rasulullah itu adalah kultus individu, ternyata Allah Swt. mengajarkan kepada kita untuk melakukannya.


Allah berfirman tentang Rasulullah dalam Surah Al-Qalam (68): 3-4 Sesungguhnya, bagimu Muhammad, pahala yang tiada terbatas dan Sesungguhnya engkau berada di atas akhlak yang agung.


Berkali-kali Allah memuji Rasulullah, menerangkan akhlaknya yang mulia. Kadang-kadang Dia menyebutkannya secara umum, kadang-kadang memerincinya.


Dalam ayat lain, yaitu Surah Al-Taubah (9): 128, disebutkan: Sudah datang kepada kamu seorang rasul dari golonganmu sendiri yang berat hatinya melihat penderitaan kamu. Yang berkeinginan mendatangkan kebaikan untuk kaum Mukmin. Dan yang sangat pengasih dan penyayang kepada kaum Mukmin.


Di sini Allah menyebut sifat Rasulullah dengan ra'afur rahim. Pengasih dan penyayang. Dua kata itu digunakan juga untuk menunjukkan sifat Allah Swt.: karena Allah juga disebut ra'úfur rahim. Jadi, Rasulullah berakhlak dengan akhlak) Allah Swt. Itu semua menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memuliakan Rasulullah. Salah satu kemuliaan yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya adalah memberikan syafaat kepada umatnya. Para mufassirin menyebutkan bahwa ayat yang berbunyi wa losaufa yu'thika rabbuka fatardha (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas (QS Al-Dhuha [93): 5]) itu berkenaan dengan syafaat.


Allah Memerintahkan Kita Bershalawat kepada Rasulullah


Di antara tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa Allah memuliakan Rasulullah ialah ketika Allah berfirman bahwa Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Rasulullah dan para malaikat juga memohonkan agar rahmat dan salam dilimpahkan kepadanya. Setelah itu, Dia kemudian memerintahkan kepada orang yang beriman supaya mengucapkan shalawat dan salam kepadanya. Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al-Ahzab (33): 56).


Allah Bersumpah dengan kehidupan Nabi


Dalam Al-Quran, Allah juga bersumpah dengan kehidupan Nabi, dengan ustanya. Misalnya dalam Surah Al-Hijr (15): 72: Demi usiamu (Muhammad) - Allah bersumpah dengan kehidupan Rasulullah untuk menunjukkan betapa tingginya nilai kehidupan Rasulullah sesungguhnya mereka kebingungan dalam kemabukan (kesesatan).


Dalam ayat itu, Allah memulainya dengan sumpah atas usia Rasulullah. Allah juga menghubungkan ketaatan kepada Rasulullah dengan ketaatan kepada Allah. Siapa saja yang taat kepada Rasul, berarti taat kepada Allah. Salah satu syarat supaya mendapat kecintaan Allah ialah kita harus mengikuti Rasulullah; dengan demikian, Allah akan mencintai kita dan mengampuni dosa-dosa kita. Katakanlah (Muhammad). "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamur. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Ali Imran (3): 31).


Dalam surah yang sama, Ali Imran, ayat 81, disebutkan bahwa ketika Allah membuat perjanjian dengan para nabi-baik yang dikisahkan dalam Al-Quran maupun yang tidak dikisahkannya mereka bersepakat bahwa sekiranya Rasulullah dibangkitkan dan mereka masih hidup sebetulnya masih hidup, tetapi di alam lain-maka mereka harus beriman kepada Rasulullah dan harus membelanya.


Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, "Manakala Aku memberikan kitab dan hikmah kepadamu, lalu datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada pada kamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." Allah berfirman, "Apakah kamu setuju dan menerima perjanjian dengan-Ku atas yang demikian itu?" Mereka menjawab, "Kami setuju." Allah berfirman, "Kalau begitu, bersaksilah kamu (para nabi) dan Aku menjadi saksi bersama kamu." (QS Ali Imran (3): 81)


Karena itulah, Rasulullah sering disebut "Sayyidul Mursalin". junjungan para rasul. Itulah ayat-ayat Al-Quran yang menunjukkan betapa Allah memuliakan Rasulullah. Kata memuliakan itu dalam beberapa ayat lain diungkapkan dengan kata kuangkat sebutan kamu. Angkat artinya menempatkan di tempat yang tinggi: artinya menempatkan Rasulullah ke tempat yang mulia.


Tidak Boleh Mengambil Jalan Lain dari yang Sudah Diputuskan Rasulullah

Surah Al-Ahzab (33): 36:


Tidak boleh lelaki Mukmin maupun perempuan Mukmin kalau Allah dan Rasul-Nya sudah memutuskan urusannya, lalu mereka punya pilihan mereka sendiri. Dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka dia sudah sesar dengan sesat sebesar-besarnya. Ada peristiwa di balik turunnya ayat ini:


Rasulullah punya budak yang sangat setia sejak zaman Khadijah. Namanya Zaid bin Haritsah. Ia mengikuti Nabi dalam suka dan duka la termasuk di antara angkatan perintis Islam. Dalam daftar orang-orang pertama yang masuk Islam, Zaid ada pada nomor tiga setelah Khadijah dan Ali. Ayahnya pernah datang ke Makkah setelah pencarian panjang selama bertahun-tahun. Ia mau membeli kembali anaknya. Nabi mau memberikan Zaid kepada orangtuanya tanpa tebusan apa pun. Tapi, beliau menawari Zaid apakah akan ikut ayahnya atau ikut Rasulullah. Zaid memilih ikut Rasulullah. Ayahnya berkata, "Engkau dahulukan perbudakan di atas kebebasan!" Zaid menjawab, "Aku mendahulukan Utusan Allah di atas keluargaku."


Di Madinah, Nabi menyuruh Zaid untuk berkeluarga dan menawarinya Zainab, seorang perempuan bangsawan dari keluarga Nabi. Zaid menolak mengingat posisinya sebagai budak. Rasulullah mendesaknya. Beliau berangkat sendiri ke rumah Zainab. "Aku ingin menikahkan kamu dengan Zaid bin Haritsah. Sungguh, aku sudah ridha kepadanya," kata beliau. Zainab yang menduga Rasulullah melamarnya untuk diri beliau dengan ketus menjawab, "Tapi, aku tidak ridha, ya Rasul Allah! Aku janda kaumku dan keponakanmu. Aku tidak mau."


Maka turunlah ayat ini: Tidak boleh lelaki Mukmin (yakni, Zaid) maupun perempuan Mukmin (yakni, Zainab) kalau Allah sudah memutuskan perkaranya dalam hal ini nikah), lalu mereka punya pilihan mereka sendiri (yakni, mereka tidak boleh memilih perkara yang bertentangan dengan apa yang telah Allah putuskan) dan barang siapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka dia sudah sesat sebesar-besarnya. Begitu mendengar ayat itu, Zainab berkata, "Aku patuh padamu. Lakukanlah apa yang kau mau." (Tafsir Al-Durr Al-Mantsur 6: 610.)


Rasulullah kemudian menikahkannya kepada Zaid, seraya berkata, "Aku nikahkan Zainab binti Jahsy kepada Zaid bin Haritsah, budakku; aku nikahkan Dhiba'ah binti Zubayr kepada Al-Miqdad supaya kalian tahu bahwa yang paling mulia di antara kalian di hadapan Allah adalah yang paling bagus keislamannya." (Kanz Al-'Ummal, hadis 313.)


Di balik perintah Nabi dalam kasus Zainab, ada revolusi sosial yang mungkin tidak dipahami oleh mereka pada zaman itu; revolusi yang meruntuhkan tembok-tembok feodal. Baik Zainab maupun Zaid, baik umat Islam terdahulu maupun kemudian, tidak punya pilihan lain di luar yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya.


Jadi, tidak ada hak kita untuk mengajukan pendapat sendiri kalau Rasulullah sudah memutuskannya. Tidak boleh kita memilih jalan yang lain kalau Rasulullah sudah menunjukkannya. Jangan merasa bahwa pilihan kita lebih baik daripada tuntunan Rasulullah.


Rasulullah Rahmat bagi Alam Semesta


Dalam Surah Al-Anbiya' (21): 107 disebutkan: Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmar bagi seluruh alam.


Rasulullah mendatangkan rahmat bukan hanya untuk orang tertentu, bukan untuk para sahabat saja, melainkan juga untuk seluruh alam semesta.


Annemarie Schimmel mengutip pendapat mufti besar mazhab Maliki di Aljazair pada abad ke-18. Baginya, hari lahir Nabi atau mawlid-lebih utama daripada Laylat Al-Qadar. Ada tiga alasan. Pertama, Laylat Al-Qadar dianugerahkan khusus untuk Nabi, sedangkan pada mawlid Nabi, Allah Swt. mempersembahkan Rasulullah bagi seluruh alam. Kedua, kehadiran Nabi Muhammad lebih penting bagi manusia daripada turunnya para malaikat. Ketiga, mawlid adalah hari penting bagi seluruh alam, sedangkan pewahyuan Al-Quran yang pertama penting bagi orang Islam saja. []



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

17 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page