• Akhi

Kenangan Indah bagi Orang Sepeninggal Kita


Rasulullah mengajarkan bahwa Islam adalah salah satu agama di antara agama-agama yang mengikuti Ibra him. Rasulullah mengajarkan kita doa yang harus kita baca pada pagi hari: Aku memasuki waktu pagi di atas fitrah Islam, di atas kalimat ikhlas, dan tradisi yang dibawa oleh Ibrahim.


Di dalam Al-Quran, ayat tentang uswah hasanah (teladan yang baik) dinisbahkan kepada dua orang: Rasulullah dan Nabi Ibrahim. Kita harus mengikuti tradisi Ibrahim dan agama-agama lain yang mengikuti tradisi Ibrahim, yaitu Yahudi dan Nasrani. Tiga agama besar dunia ini disatukan oleh tradisi Ibrahim.


Al-Quran mengabadikan doa yang pernah dipanjatkan Ibrahim, Tuhanku! Anugerahkanlah kearifan dan masukkanlah aku dalam golongan orang-orang saleh. Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik bagi orang-orang sepeninggalku. Jadikanlah aku pewaris surga yang penuh kenikmatan (al-Syu'arâ: 83-85).


ISLAM mengisyaratkan agar keberadaan setiap kita menjadi kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita. Rasulullah mengingatkan, sepeninggal kita, apa pun yang kita miliki akan hilang dan yang akan tersisa adalah lisân shidq (buah tutur yang baik). Dan, itu tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tapi bagi seluruh umat manusia, apa pun agamanya. Sebab itu, dalam sabdanya, redaksi yang digunakan Rasulullah adalah “idzâ mâta ibn âdam ...” atau “idzâ mâta ibn al-insân ...” atau “Jika manusia meninggal ...", dan bukan “idzâ mâta al-muslimûn” atau “Jika umat Islam meninggal ...


Rasulullah bersabda, “Jika manusia meninggal dunia, pahala amalnya akan terputus kecuali dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya” (HR Muslim dari Abu Hurairah). Tiga hal itulah yang menjadi kenangan indah bagi generasi sepeninggal kita. Allah berfirman, Tanda kebesaran Allah bagi mereka adalah kami angkut mereka ke bahtera yang penuh muatan (Yâsîn: 36).


Bahtera tersebut bernama bumi. Kita menaiki bahtera bumi yang berlayar dan berputar mengelilingi matahari. Setiap bertemu dengan titik awal kita memulai putaran, di situlah kita merayakan ulang tahun.


Al-Quran mengisyaratkan kita untuk memperingati kelahiran kita dan mengajarkan bagaimana memperingatinya. Untuk apa?


Satu tahun kita berlayar mengitari matahari. Demikian juga seterusnya, sampai kemudian kita berhenti menaiki bahtera, meninggal, ditelan perut bumi, jejak-jejak kita hilang di pusaran masa. Sementara bahtera akan terus berlayar.


Al-Quran tidak menginginkan kita seperti orang-orang yang ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak-jejak kebaikan. Dan tiga hal yang disebutkan Rasulullah di atas adalah jejak-jejak yang seharusnya kita tinggalkan. Sebab, selama jejak itu lestari, lestari pula kebaikan yang kita dapatkan meski telah meninggal dunia. Orang-orung akan tetap menyebut nama kita dengan segenap kerinduan.


BANYAK contoh-contoh yang bisa kita berikan terkait dengan tiga hal di atas, antara lain, adalah ilmu yang diajarkan. Imam al-Ghazali meninggal pada taun 1111 M atau sekitar sembilan ratus tahun silam. Namun, sampai saat ini warisan. karya-kanyanya terus dipelajari. Satu karyanya yang paling masyhur, Ihya 'Ulum al-Din, telah dibaca orang-orang di penjuru dunia. Orang-orang mereguk ilmu dari warisan kebaikan Imam al-Ghazali.


Kita pun barangkali bisa berbuat seperti itu, dengan membuat kata-kata nasihat, kumpulan-kumpulan puisi, dan sebaginya yang bisa kita wariskan kepada anak-cucu kita.


Contoh lain, kita mewakafkan kebun untuk kepentingan orang banyak. Di Al-Azhar Mesir ada sebuah kebun jeruk yang diwakafkan pemiliknya ratusan tahun silam. Teruk-jeruk tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa Al-Azhar secara geratis. Selama masih dimanfaatkan dengan baik, orang yang mewakafkan kebun jeruk itu akan terus mendapat aliran kebaikan.


Contoh lain adalah seperti diumpamakan Rasulullah. Seseorang menggali mata air dan airnya dialirkan ke masyarakat. Jauh dari mata air, di jalur aliran air tersebut, seorang tua dengan tangannya membuat aliran lagi untuk kebun-kebun. Orang tua itu kemudian meninggal. Namun, aliran yang dibuatnya terus dimanfaatkan para pemilik kebun. Meski dengan hal sederhana, orang tua itu telah mewariskan kebaikan.


Begitu juga dengan orang yang mewakafkan masjid untuk umat atau rumah singgah bagi orang-orang yang tak memiliki tempat tinggal. Itulah warisan kebaikan yang pahalanya akan terus mengalir tidak putus-putus kepada orang mewariskannya.


Jadi bisa disimpulkan, arti doa Nabi Ibrahim yang diabadikan Al-Quran, Jadikanlah aku sebagai buah tutur yang baik bagi orang-orang sepeninggalku. Jadikanlah aku pewaris surga yang penuh kenikmatan, adalah apa pun yang bisa bermanfaat bagi masyarakat. Membangun sekolah, rumah sakit, menulis buku, mengajarkan ilmu pengetahuan, dan sebagainya.


Dan, doa tersebut diakhiri dengan permintaan yang indah, yaitu surga yang penuh kenikmatan. Menyiratkan bahwa jika kita mewariskan kebaikan untuk orang banyak maka Allah akan mewariskan surga sebagai balasan. []


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

57 views0 comments

Recent Posts

See All