• Akhi

KHOTBAH IMAM HUSAIN


Imam Husain melakukan perlawanan kepada penguasa yang zalim, karena komitmennya untuk menaati Tuhan. Di hadapan Tuhannya Imam Husain menyatakan ketulusan niatnya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa tidak ada pada kami ambisi untuk merebut kekuasaan atau untuk mengumpulkan kekayaan. Kami hanya ingin memperlihatkan ajaran agama-Mu (yang sejati), memenangkan kebaikan di negeri-Mu, memberikan rasa aman kepada hamba-hamba-Mu yang teraniaya, dan agar dilaksanakan kewajiban-Mu, sunnah-Mu, dan hukum-hukum-Mu."


Bukan perebutan kekuasaan yang mendorong Imam Husain mengangkat bendera perjuangan. Bukan kerakusan akan kekayaan yang menyebabkan Imam Husain menabuh genderang peperangan. Ia hanya ingin menjalankan perjanjiannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, di Karbala, misi ini ditegaskan Husain dalam khutbahnya yang abadi, khutbah pembela orang yang tertindas:


"Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: Siapa saja di antara kalian yang melihat penguasa yang lalim-yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, yang memutuskan janjinya, menentang sunnah Rasul Allah, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan dosa dan permusuhan- kemudian ia tidak berusaha mengubahnya dengan ucapan atau perbuatan, pastilah Allah akan memasukkan dia pada tempat masuk yang sama (dengan penguasa zalim itu). Kalian sudah tahu bahwa kaum itu sudah mengikatkan diri dengan ketaatan kepada setan dan berpaling dari ketaatan kepada Allah yang Mahakasih. Mereka menimbulkan kerusakan, melecehkan hukum, mendahulukan kekayaan, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya. Padahal akulah yang paling berhak dalam urusan ini."


Kita harus berhenti sejenak merenungkan satu penggalan dari khutbah Imam Husain di Karbala. Sekali lagi ia menegaskan bahwa komitmen kita ialah menaati Tuhan, yang harus kita tunjukkan dengan menghalalkan apa yang dihalakan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya. Di antara perintah Tuhan, yang disampaikan Rasul-Nya, yang mesti kita taati adalah menentang penguasa yang berjanji dengan setan.


Apa tanda-tanda mereka?


Pertama, mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Kita tidak perlu mengulang lagi halal dan haram dalam bentuk pakaian dan makanan. Anak kecil walaupun tidak tercantum label halal pada kemasannya. Kita pun tahu juga sudah terlalu mahir untuk memperbincangkan halal dan apa yang halal haram yang dalam bahasa Imam Khumaini- berkisar di sekitar masjid, jamban, dan tempat tidur. Marilah kita perhatikan satu hal yang haram, tetapi sering kita halalkan tanpa perasaan bersalah sedikit pun (bahkan mungkin dilakukan dengan perasaan ibadat yang khusyuk). Yang satu itu adalah kehormatan seorang muslim! Sayyid Husain Fadhlullah mengutip hadis berikut ini:


Diriwayatkan bahwa Imam Ja'far as berjumpa dengan seseorang pada suatu hari. Bersamanya ada juga kawan-kawannya yang lain. Imam menoleh kepada salah seorang di antara mereka: Apakah kamu perhatikan Ka'bah ini? Betapa mulia dan agungnya Ka'bah di sisi Allah? Orang itu menjawab: Memang benar, itulah Ka'bah. Siapa saja yang sanggup menghancurkan Ka'bah, ia akan tegak walaupun seluruh dunia hancur. Kemudian Imam bersabda: Sesungguhnya kehormatan mukmin di sisi Allah lebih agung dari kehormatan Ka'bah sampai tujuhpuluh kali.


Kata Sayyid Husain Fadhlullah: "Jika seseorang menghancurkan satu batuan dari batu-batu Ka'bah, apa yang akan terjadi di dunia Islam? Jika seseorang ingin mencemari Ka'bah dengan kotoran, apa yang akan terjadi di dunia Islam?" Kita akan menjawabnya, pastilah terjadi kegemparan besar. Orang akan bangkit untuk mempertahankan kemuliaan Ka'bah. Tetapi ketika kehormatan seorang mukmin atau satu kelompok mukmin dihancurkan dengan fitnah yang keji, kebohongan yang kotor (la'natullah 'alal kadzibin), isu yang dibuat-buat, peristiwa yang direkayasa - kita bukan saja tidak menentangnya tapi bahkan menikmatinya. Padahal kehormatan Muslim adalah haram

yang tidak boleh dihalalkan. Menjatuhkan kehormatan seorang Muslim dosanya tujuhpuluh kali lebih besar dari mengotori Ka'bah!


Pemimpin yang suka menjatuhkan kehormatan orang lain, yang senang menabur dusta dan fitnah, yang pintar membuat isu; Jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya diulurkannya lidahnya juga. (QS. Al-A'raf; 176), adalah pemimpin yang wajib kita lawan. Mengapa? Karena ia telah menghalalkan kehormatan Muslim yang jauh lebih mulia dari kehormatan Ka'bah. Jika menjatuhkan kehormatannya saja sudah menjadi dosa besar, apatah lagi menghalalkan hartanya dan darahnya.


Tugas pemimpin adalah melindungi kehormatan, harta, dan darah yang dipimpinnya. Itulah perjanjian yang mengikat pemimpin dengan pengikutnya. Itulah kontrak sosial yang pada gilirannya mengikat pengikut untuk menaati dan mengikuti perintahnya. Jika kontrak ini dilanggar, gugurlah kewajiban menaatinya. Sebagai penggantinya, kita harus menentangnya, melawannya, dan bahkan memeranginya. Imam Husain menyebutkan tanda kedua pemimpin yang harus dilawan; memutuskan janjinya.


Ketika Imam Husain disuruh untuk berbaiat kepada Yazid, ia menegaskan bahwa Yazid tidak layak menerima kepatuhan rakyat. "Yazid seorang fasik, peminum khamar, dan penumpah darah yang diharamkan," kata Imam Husain. Ketika orang-orang menyebut hubungan kekerabatan antara Imam Husain dengan Yazid -Anzil 'ala hukmi ibni 'ammik- Imam berkata, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan kepada kalian tanganku dengan kepasrahan seorang yang rendah; aku tidak akan memberikan pengakuan dengan pengakuan budak." Lâ, wallâh, lâ u'thikum biyadi i'thâ al-dzalil wa lâ uqirru iqrâral 'abîd.


Sebuah deklarasi revolusioner untuk kebebasan manusia! Anda bisa saja dipaksa untuk melakukan apa pun, tetapi hati nurani Anda masih punya kebebasan berkehendak. Dalam situasi apa pun, bahkan di kamp konsentrasi sekali pun, kata Viktor Frankl, Anda masih memiliki kebebasan memilih. Tubuh Anda boleh jadi sudah menyerah, tetapi hati Anda masih bebas memilih antara menyerah dan membangkang. Pembangkangan batin tidak dapat dihilangkan oleh kawat berduri sekali pun.


Imam Husain mengajarkan kepada kita bahwa sebelum kita "menuliskan tanda tangan" kepatuhan pada perjanjian kita dengan pemimpin, kita harus mengetahui dahulu kualitas pemimpin itu. Sayyid Husain Fadhlullah menjelaskan kalimat Imam Husain di atas sebagai berikut:


"Kepada siapa kau berbaiat? Kepada siapa kau berjanji? Kepada siapa Kau menjalin kontrak? Sebelum kau meletakkan tanganmu pada tangan siapa saja, pelajarilah kepribadiannya, pelajarilah perjalanan hidupnya, pelajarilah sikapnya kepadamu, pelajarilah alat-alat penindasan yang dimilikinya terhadapmu. Setelah itu, berhatilah-hatilah untuk meletakkan tanganmu di atas tangan seorang manusia yang mempunyai semua alat untuk menindas karena ikatan perjanjian antaramu dengan dia akan menjadi sebuah perjanjian yang memberikan peluang kepada yang kuat untuk menindas yang lemah.


"Jangan letakkan tanganmu pada tangan seorang manusia yang menginginkan agar tangannya berada di atas tanganmu, untuk memaksamu menerima syarat-syarat yang tidak kau setujui. Jika kejadiannya seperti itu, hendaknya kau segera menarik tanganmu. Persoalannya adalah apakah kehormatan masih ada padamu atau tidak, apakah kau dalam keadaan hina atau tidak.


"Imam Husain mengatakan kalimat di atas karena mereka berkata kepadanya: Tunduklah kepada hukum putra pamanmu. Tunduklah pada hukum Yazid, supaya ia menetapkan kamu seperti yang ia kehendaki. Tunduklah pada hukum Ibnu Ziyad supaya ia menentukan kamu seperti yang ia kehendaki. Kami berjanji padamu bahwa kamu akan memperoleh perlakuan yang adil, karena putra pamanmu tidak pernah memperlakukanmu kecuali dengan kebaikan.


"Pada saat itulah Imam berkata: Tidak, demi Allah, aku tidak akan menyerahkan kepada kalian tanganku dengan kepasrahan seorang yang rendah; aku tidak akan memberikan pengakuan dengan pengakuan budak. Tidak mungkin tanganku bersalaman denganmu atau berjanji padamu. Tidak mungkin aku berjalan bersamamu dalam keadaan apa pun selama keadaan itu menunjukkan penghinaan seorang mukmin atau penghinaan perilaku mukmin. Aku tidak akan memberikan pengakuan dengan pengakuan budak.


"Imam Husain ingin mengajar semua orang dalam sabdanya seakan-akan ia berkata: Jika kamu ingin mengakui sesuatu atau menyatakan satu pernyataan hendaklah pengakuan itu keluar dari kebebasan kehendakmu, dari pusat keyakinanmu. Engkau hanya mengakui sesuatu yang engkau percayai, karena engkau yakin bahwa sesuatu itu adalah kebenaran, sehingga kamu mampu mengucapkan 'ya' pada saat kamu mampu mengucapkan 'tidak'.


"Apabila keadaannya tidak seperti yang engkau yakini, menurut arah yang tidak engkau setujui, atau untuk mengakui hanya karena orang lain berkata kepadamu, 'Berusahalah untuk memberikan pengakuan" sambil memaksa kamu dengan ancaman, penindasan, atau paksaan; pada saat itu yang terjadi padamu adalah pengakuan seorang budak yang tidak memiliki kemampuan untuk berkehendak. Mengapa? Karena orang lainlah yang menghendaki atau tidak menghendakinya.” (FîRihâb Ahl al-Bayt, 338-339).


Secara singkat, Imam Husain berpesan: Taatilah seorang pemimpin atau penguasa selama kamu yakin bahwa ketaatanmu kepadanya didasarkan pada hati nuranimu, pada kebenaran yang kamu yakini. Bila ia memaksamu untuk melakukan sesuatu yang tidak kamu yakini sebagai kebenaran, wajib bagimu melakukan perlawanan. Imam Husain juga menegaskan bahwa kamu juga wajib melawan penguasa siapa saja dia: sejak suami atau atasan kamu sampai kepada orang yang memegang pemerintahan baik eksekutif, legislatif, atau judisial- bila dia menentang sunnah Rasulullah Saw.


Masih dalam khutbahnya yang sama, Imam Husain memperinci karakteristik pemimpin yang menentang sunnah Rasulullah Saw: Mereka menimbulkan kerusakan, melecehkan hukum, mendahulukan kekayaan, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkannya. Tugas seorang pemimpin ialah memperbaiki rakyatnya secara ruhaniah dan jasmaniah.


Konon, menurut Rousseau, pada zaman dahulu manusia terus-menerus berkelahi karena masing-masing memperjuangkan kepentingannya. Akhirnya mereka memilih pemimpin untuk menyelesaikan pertikaian di antara mereka. Dibuatlah perjanjian sosial, le contrat social. Tetapi dalam perjalanan sejarah, seringkali pemimpin malah merusak rakyatnya secara ruhaniah dan jasmaniah.


Mereka menegakkan kebesaran mereka dengan mengurbankan rakyat. Para Fir'aun menegakkan piramid yang megah di atas ribuan mayat budak dan rakyat kecil. Para raja Cina membangun tembok Cina yang agung dengan menjadikan tubuh rakyat yang mati dalam kerja paksa sebagai batu-batanya Monumen-monumen besar dibangun-sejak dahulu sampai sekarang dengan merusak kehidupan rakyat. Kemegahan dan keagungan seorang pemimpin hampir selalu dihias dengan darah dan airmata para pengikutnya.


Jangan jadikan pemimpinmu orang yang dengan atas nama agama mengambil hartamu dan menggunakannya untuk memperluas perusahaannya. Betapa mudahnya kita tertipu oleh orang yang tampak mengajarkan kesalihan, sehingga kita memberikan peluang kepada orang itu untuk merusak harta kita, keluarga kita, dan anak-anak kita. Di Amerika kita mendengar seorang yang mempunyai banyak villa mewah, setelah ia mengajarkan spiritualitas kepada bangsa yang sudah bosan dengan kehidupan materialistis. Hanya karena mencari kepuasan batin dengan mudah mereka menyerahkan dirinya untuk dieksploitasi oleh penjaja spiritualitas. Di Indonesia kita banyak menemukan para tokoh agama Islam -yang hadir baik terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi- melakukan pemerasan kepada umatnya. Kepada Anda, Imam Husain berpesan, tarik tangan Anda dari orang yang merusak kehidupan Anda!


Lebih berbahaya dari itu adalah pemimpin yang merusak agama Anda. Yazid adalah contoh perusak agama parexcellence. Ia melanjutkan khittah bapaknya Muawiyyah. Ia menyewa para sahabat dan ulama untuk menyebarkan hadis-hadis palsu dan penafsiran Al-Quran yang diselewengkan. Nabi Saw berpesan agar umat mengikuti Imam Ali dan para imam Ahlulbait sesudahnya, tetapi Yazid meniru bapaknya untuk memerintahkan para khatib melaknat Imam Ali di mimbar-mimbar. Setiap sunnah Rasulullah Saw yang dijalankan dengan setia oleh para pengikut Ahlulbait sekarang dianggap sebagai bid'ah. Sebagai lawan dari pujian Rasulullah Saw kepada Ahli Badar yang syahid, Yazid membuat syair-syair yang memuji tokoh-tokoh kafir yang mati di Badar. Secara perlahan tapi pasti, agama dirusak melalui tangan-tangan jahil para penguasa Islam.


Muawiyyah dan Yazid serta anak-anaknya yang memerintah dunia Islam selama lebih dari seribu bulan adalah keturunan perempuan pemakan hati (akilatul kabad), yang berusaha memakan hati Hamzah seusai perang Uhud. Kakek mereka yang sezaman dengan Nabi adalah Abu Sufyan, yang sampai akhir hayatnya menyimpan dendam kepada keluarga Nabi. Masih herankah Anda bila mereka mengubah agama yang dibawa Rasulullah Saw? Hasan Al-Bashri -seorang ulama tabi'in- tidak merasa heran, karena ia pernah berkata: "Sekiranya Rasulullah Saw dan para sahabatnya menyaksikan umat Islam sekarang, mereka tidak mengenal lagi dari agama ini selain

Ka'bahnya."


Tidak cukup ruang dalam pengantar ini untuk menguraikan semua cara yang digunakan anak-anak Akilatul Kabad. Saya hanya akan menyebutkan dua saja sebagai contoh. Pertama, untuk membiarkan penguasa berlaku sewenang-wenang, mereka menyebarkan hadis-hadis palsu yang mengajarkan ketaatan kepada para penguasa zalim. Sebagaian dari hadis-hadis itu masih bisa kita baca dalam kitab-kitab hadis yang ada sekarang ini: Nabi Saw bersabda, "Sepeninggalku kalian akan menyaksikan kerakusan dan perkara-perkara yang kalian ingkari." Para sahabat bertanya: "Apa yang engkau perintahkan kepada kami, ya Rasul Allah?" Ia bersabda: "Penuhi hak mereka dan mintalah kepada Allah untuk memenuhi hakmu." (Shahîh Al-Bukhâri 8: 87); "Barangsiapa yang melihat dari penguasa sesuatu yang dibencinya, hendaknya ia bersabar, karena barangsiapa yang meninggalkan jamaah, lalu ia mati, ia mati dengan kematian jahiliah." (Shahih Al-Bukhári 8: 87);


Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah Saw: "Wahai Nabi Allah, jika sekiranya tegak di atas kami para penguasa yang menuntut hak mereka atas kami, tetapi tidak memenuhi hak kami atas mereka, bagaimana pendapatmu?" Nabi Saw berpaling dari dia sampai dia bertanya dua dan tiga kali. Nabi tetap berpaling. As'ats bin Qais menyentakkan tubuh Nabi. Lalu Nabi berkata: "Dengarkan dan taatilah. Bagi mereka apa yang mereka tanggung dan bagi kamu apa yang kamu tanggung." (Shahîh Al-Bukhari 2: 119)


Kedua, secara sistematis mereka berusaha menjauhkan umat Islam dari Ahlulbait Nabi. Karena Ahlulbait diamanatkan Rasulullah Saw untuk diikuti sepeninggalnya, menjauhkan umat dari Ahlulbait pada hakikatnya menjauhkan umat dari Sunnah Nabi Saw yang sejati. Ali adalah pintu kota ilmunya Rasulullah Saw. Membenci Ali berarti meninggalkan pintu ilmu Rasulullah dan mengikuti pintu-pintu palsu yang dinisbahkan kepada Nabi Saw. Untuk itu, mereka menggunakan mimbar-mimbar dan pengajian untuk menyebarkan kebencian kepada Imam Ali dan para imam dari keturunannya. Tentang Ali, misalnya, mereka meriwayatkan hadis bahwa Ali pernah terlibat dalam minum minuman keras sehingga salat dalam keadaan mabuk. Lantaran itu turunlah ayat yang berbunyi: Janganlah kamu mendekati salat padahal kamu dalam keadaan mabuk. (QS. Al-Nisa; 43) Tentang Ali juga turun surat Al-Baqarah, ayat 203-204: Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah isi hatinya. Padahal ia adalah penantang yang paling keras.


"Ketika Abu Hurairah menyertai Muawiyyah datang ke Iraq pada Tahun Jamaah (41 H), ia datang ke masjid Kufah. Ketika ia melihat banyak orang menghadapnya, ia menekukkan lututnya dan memukul kepalanya seraya berkata: "Hai Ahli Iraq, apakah kalian menyangka aku berdusta kepada Rasulullah Saw dan membakar diriku dengan api? Sungguh aku sudah mendengar Rasulullah Saw berkata: Setiap nabi ada tanah haramnya dan tanah haramku di Madinah terletak di antara 'Ir dan Tsaur. Barangsiapa yang berbuat bid'ah di antara keduanya, baginya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia. Aku bersaksi demi Allah bahwa Ali pernah berbuat bid'ah di dalamnya." Ketika Muawiyah mendengar itu ia memberikan kepadanya ganjaran dan memuliakannya serta kemudian mengangkatnya sebagai gubernur di Madinah." (Syarh Nahjul Balaghah dari Ibn Abi Al-Hadid Al-Mu'tazili 1: 359) Ketika mengomentari riwayat ini, Muhammad Abu Rayyah dalam kitab Abu Hurairah menulis, "Ucapan ini menunjukkan bahwa kebohongan Abu Hurairah tentang Nabi Saw sudah terkenal ke mana-mana dan manusia memperbincangkannya di setiap tempat."


Melalui periwayat hadis semacam Abu Hurairah disebarkan hadis-hadis tentang keburukan Ahlulbait sambil disebarkan hadis-hadis tentang kebaikan para penentang Ahlulbait. Melalui pembentukan opini yang berlangsung selama lebih dari delapanpuluh tahun, agama kaum Muslimin dirusak. Mereka menerima agama Islam yang aspal dan menjalankannya dengan ikhlas, sekiranya mereka tidak disadarkan oleh kesyahidan Imam Husain. Imam Husain mencurahkan darahnya untuk tujuan yang ia tegaskan dalam doanya di hadapan Tuhan: Kami hanya ingin memperlihatkan ajaran agama-Mu yang sejati. Memenangkan kebaikan di Mu yang teraniaya, dan agar dilaksanakan kewajiban-Mu. sunnah-Mu, dan hukum-hukum-Mu." Ia syahid untuk komitmennya pada kebenaran!


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

44 views0 comments

Recent Posts

See All