top of page
  • @miftahrakhmat

(9) Khotbah itu Seni Ilahiah



Sejak kecil, Allah yarham ayahanda, KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat telah dikenal sebagai ajengan cilik. Beliau berguru di antaranya pada Ajengan Shiddiq di Mariuk, Cicalengka dan Ajengan Mama Anom di Desa Sangiang, Rancaekek. Ayahanda beliau juga adalah seorang orator ulung. KH. Rakhmat Syuja’i adalah pemuka desa, kyai dan pejuang kemerdekaan. Demikian pula kakeknya, KH. Syuja’i, ulama asal Pasir Gelap, Kabupaten Bandung. Silsilahnya bersambung pada para ulama dari Magelang dan Sumedang. Allah yarham Bapak, demikian saya biasa menyebut beliau, berguru pada para kyai itu. Tahun 2014 dalam satu wawancara, Allah yarham Ajengan Mama Anom mengisahkan bagaimana Bapak memberikan khotbah beliau yang pertama pada usia tujuh tahun.


Saya tidak tahu apakah kemampuan berkhotbah itu diwariskan turun temurun, atau karena ilmu yang Bapak pelajari khusus. Ketika kuliah, Bapak mengambil jurusan publisistik, Fakultas Ilmu Komunikasi sekarang ini. Buku teks yang ditulis Bapak menjadi rujukan para mahasiswa ilmu komunikasi. Psikologi Komunikasi, Retorika Modern dan Metode Penelitian Kualitatif untuk menyebut sebagian di antaranya. Kalau kepiawaian berkhotbah Bapak itu karena ilmu, Bapak sudah berkhotbah jauh sebelum kuliah. Kalau karena keturunan, bagaimana kuliah Bapak mempengaruhi cara khotbah Bapak itu.


Saya kira pada diri Bapak bertemu satu hal dalam tasawuf yang disebut dengan isti’dad atau qabiliyyah dengan lingkungan di sekitarnya. Potensi dan kemampuan yang menemukan penyempurnaannya. Anugerah Allah Swt itu istimewa, pada setiap kita. Allah yarham Bapak dianugerahi bakat untuk memukau pendengar dengan kata. Tapi pada saat yang sama, potensi itu menemukan pemenuhannya pada disiplin ilmu yang Bapak pilih, pada kesempatan hidup yang Bapak raih. Boleh jadi Bapak mendengar (dan terpengaruh) oleh Bung Karno, Buya Hamka, M. Natsir dan para ulama di zamannya. Bapak juga banyak mengisahkan pertemuan dan sangat dekat dengan para kyai seperti KH. Totoh Abdul Fatah Ghozali, KH. Endang Saefuddin Anshari, dan tokoh-tokoh Jawa Barat. Bapak bersilaturahmi baik dengan para guru dari Nahdlatul ‘Ulama, Muhammadiyyah dan Persatuan Islam. Bapak aktif sejak pemuda di organisasi-organisasi besar itu. Bagi para guru itu, kita antarkan doa kita.


Album keluarga di rumah kami memperlihatkan foto Bapak sedang berkhutbah di beberapa masjid. Sejak muda, kecintaannya pada mimbar, pada mengajar, tak pernah lekang hingga akhir hayat beliau yang penuh berkah. Di pinggiran rel kereta api, Bapak membentuk pengajian anak muda. Memberikan pada mereka mimpi tentang cita-cita. Bapak mengajar Bahasa Inggris dan Agama. Di majelis itu pula ia bertemu belahan jiwa. Para santri itu diajarinya berdrama, mementaskan penggalan sejarah dalam sebuah persembahan. Jiwa seni juga terlihat. Ternyata, berkhotbah itu memang sebuah seni. Seni bicara, seni kata. Seni cinta, seni jiwa. Yang menarik bagi saya, para santri itu Bapak ajak untuk ‘terbang’ keluar dari batas-batas rel kereta. Banyak di antara mereka sukses dan juga berkelana keliling dunia.


Di antara bait-bait yang Bapak ajarkan pada mereka, dan Bapak ajarkan juga pada kami adalah puisi ini (sebetulnya, Bapak buatkan juga melodinya. Adik saya yang lebih pandai menyanyikannya).


Islam is my religion

For which I live and die

Islam is my devotion

Where there’s no but and why



Under guidance of the Quran

The words of God

Under guidance of the Prophet

Alaihis salam (and his houshold)


We’ll go on our right way

Towards to bliss


Bapak bahkan menerjemahkannya. Masih dengan nada dan ketukan yang sama.


Islam agamaku

Hidup dan matiku

Islamlah baktiku

Pangkal perjuangan


Dalam bimbingan Al-Qur’an

Firman Tuhan

Dalam bimbingan Muhammad

‘Alaihis salam


Mengapa saya berangkat dari ‘seni’ ini? Karena setiap kata yang Bapak sampaikan dalam khotbah punya ciri khas, ada gaya tersendiri. Khotbah bagi Bapak bukan sekadar penyampaian. Khotbah adalah persembahan. Bapak bak menari di atas pilihan kata, meliuk-liuk membawa pendengarnya menjelajah semesta makna. Bagi Bapak, khotbah adalah narasi, adalah puisi.. adalah lirik, adalah melodi.


Saudara akan menemukannya pada buku ini. Keindahan itu terasa. Ada kefasihan bahasa ditopang dengan rujukan yang sangat kaya. Diksinya lugas, isinya bernas. Nasihatnya tidak menggurui. Petuahnya meresap ke dalam hati. Tidak banyak penceramah yang menuliskan naskah khotbahnya. Bapak beruntung dikaruniai kepiawaian lisan dan tulisan. Kadang, tidak terlihat bedanya. Buku ini mengabadikan sebagian dari khotbah bapak itu. Ada khotbah Jumat, sebagian disampaikan ketika Bapak kuliah di Amerika. Pernah diterbitkan dalam Khotbah-khotbah di Amerika. Lalu ada khotbah Jumat di tanah air. Saya kira masih banyak khotbah Bapak yang belum terkumpulkan. Justru ketika sudah semakin sering berkhotbah, kemampuan itu mengalir tanpa lagi dituliskan. Kami menyimpan lebih dari seribu rekamannya. Insya Allah pada waktunya akan kami terbitkan juga. Jadwal khotbah Jumat Bapak termasuk padat pada zamannya: mulai dari keliling masjid warga, masjid di BUMN, hingga di luar kota. Saya ingat mengantar Bapak pada sebuah khotbah Jumat di Purwakarta.


Dan ada khotbah-khotbah hari raya dan pernikahan. Dua ini, benar-benar Bapak persiapkan dengan sangat baik. Khotbah hari rayanya, jaminan mengiris hati. Bapak menulis dengan sepenuh perasaan. Kadang Bapak terisak ketika menyampaikannya. Setiap tahun, para ustadz menunggu naskah khotbahnya. Setiap hari raya itu, naskah yang sama dapat diperdengarkan di seantero negeri, menyampaikan pesan dan seruan yang sama.


Untuk khotbah nikah, saya speechless. Bagi saya, dua khotbah yang ada di buku ini adalah best of the best. Masterpiece, legendaris. Yang pertama ditulis untuk sahabat, yang kedua dari seorang ayah untuk anaknya. Bagi siapapun yang punya anak putri, siapkan hati (dan sapu tangan) ketika membacanya. Sungguh bekal teramat berharganya.


Sistematika di buku ini dimulai dari khotbah Jumat. Baik yang di Amerika, maupun di tanah air. Saya dapat merasakan suara dan semangat muda Bapak di setiap khotbahnya. Dalam pengantar, Bapak tuliskan bahwa awalnya khotbah itu ditulis dalam bahasa Inggris. Terima kasih pada Habib Haidar dan Mizan yang telah menerjemahkannya. Saya seperti tidak melihat itu hasil terjemahan. Saya berharap dapat menemukan naskah aslinya. Seiring dengan perjalanan, semangat muda itu pun menyempurna. Kita diajak Bapak pada kumpulan khotbah hari raya untuk melihat ke dalam diri, untuk belajar pasrah, untuk menerima segala ketentuan Ilahi. Ada ajakan untuk ikhtiar segenap daya, dan tersungkur sepenuh rela. Dalam perjalanan khotbah, kita melihat perubahan Bapak: dari semangat mengubah sesama pada mengawalinya dari diri kita.


Perubahan itu juga terlihat pada sistematika. Ada yang disertai doa iftitah, ada yang tidak. Ada pemenggalan khotbah pertama-kedua ada pula yang tidak. Sebagian karena Bapak secara otomatis akan menyampaikannya di atas mimbar. Jika saudara pengkhotbah, Saudara bisa menyertakan doa iftitah dan doa yang biasa saudara baca. Bapak memberikan contoh yang beda di antaranya.


Atas nama keluarga, perkenankan saya menghaturkan terima kasih kami pada kawan-kawan di Jalan Rahmat. Terima kasih pada Ustadz Syams, Pak Bambang, A Dedi dan Kang Iwan. Terima kasih pada para guru besar sahabat Allah yarham yang memberikan kesaksian. Terima kasih pada setiap mereka yang pernah berada di bawah mimbar khotbah. Terima kasih pada setiap guru, pada para pengurus masjid, pada semua yang sampai kepada mereka pesan ceramah Bapak. Mohon berkenan untuk senantiasa melantunkan doa kerinduan: Al-Fatihatu ma’as shalawat.


Terima kasih khusus untuk saksi sejarah: Ibu Rema dan kawan-kawan di Penerbit Simbiosa. Bukan hanya khotbah pernikahan beliau legendaris, tapi karena khotbah itu banyak dikutip, menyebar dan tidak disebutkan ‘asbabun nuzul’nya. Kini, dunia tahu darimana mitsaqan ghalizha itu berasal. Terima kasih Bu, karena telah pula menerbitkan buku ini pada peringatan 100 hari wafatnya kedua orangtua kami tercinta.


Sungguh saya akan selalu merindukan bersimpuh di bawah mimbar itu. Memuaskan pandang pada sang penceramah di atasnya. Mendengarkan artikulasi khas nada-nada indah yang disampaikannya. Menyimpan pada relung dalam-dalam hikmah yang dituturkannya. Selamanya kami akan merindu. Selamanya kami akan menanti.

Dan bukankah penantian itu, seni ilahiah juga?


Penantian, bersama perkhidmatan adalah seni ilahiah. Sebagaimana juga khotbah, Allah yarham Ayahanda telah dengan sangat indah mencontohkannya.


See you when we see you, Daddy. Sampaikan salam rindu pada Ibunda dan para tercinta di sampingmu. Senimu abadi.


@miftahrakhmat

jalanrahmat.id


source: Kata Pengantar Buku Khotbah-Khotbah Kang Jalal, Simbiosa 2021

pemesanan : MCentral via WA : 0812-1914-9258

175 views1 comment

Recent Posts

See All
bottom of page