• Akhi

Khotbah Terakhir Rasulullah Saw



Kemarin, jutaan saudara kita dari seluruh dunia berkumpul di padang Arafah. Inilah puncak dari seluruh perjalanan haji. “Al-Hajju ‘Arafah” sabda Nabi saw. Haji itu Arafah. Jutaan manusia dari berbagai bangsa, min kulli fajjin ‘amîq, dari seluruh pelosok dunia, berbaiat suci di hadapan hadirat Ilahi. 1419 tahun yang lalu, jumlah manusia yang berkumpul di situ hanya sekitar 140 ribu orang saja. Tapi di antara mereka ada seorang manusia yang merupakan penghulu dari seluruh umat manusia, bahkan penghulu dari seluruh ciptaan Tuhan. Manusia paling mulia itu menambatkan ontanya, Al-Qashwa, di bukit Namirah.


Ketika matahari sudah tergelincir, di tengah hari, dalam panas terik yang membakar, manusia suci itu menuruni lembah Arafah. Al-Qashwa menjulurkan lehernya dan mendongakkan kepalanya; menunjukkan kebahagiaannya karena di punggungnya ada manusia besar yang diciptakan hanya untuk menyebarkan kasih sayang di seluruh alam semesta. Ratusan ribu manusia menyaksikan dengan seksama langkah-langkah kaki onta yang bergerak dengan anggun, menyibakkan kerumunan manusia yang menyemut. Di pusat lembah itu, ia berdiri seperti sebuah gemintang di tengah-tengah galaksi. Ratusan ribu manusia tidak henti-hentinya memandang wajah Nabi saw yang penuh kasih. “Ayyuhan Nâs,” terdengar Rasulullah saw berkata, dengan suara yang lembut tapi terdengar jelas. Beberapa orang sahabat di tempat-tempat yang berbeda mengulang kembali sabdanya, bersahut-sahutan, menggemakan suara lembut itu ke seluruh Arafah. “Isma’û qawlî. Fa innî lâ adrî la’allî alqâkum ba’da ‘âmî hâdzâ bi hâdzâl mawqif abadan.” (Dengarkan baik-baik pembicaraanku. Karena sungguh aku tidak tahu apakah aku bisa berjumpa lagi dengan kalian setelah tahun ini di tempat ini untuk selama-lamanya). Kemudian ia berhenti sejenak, menarik nafas panjang, dengan butir-butir airmata yang menggenangi pelupuk matanya. Ia memandangi para pengikutnya, sekali lagi dengan tatapan penuh kasih.

Ayyuhan Nâs, ayyu yawmin hâdzâ? Tahukah kalian hari apakah ini? Yawmun harâm. Hari yang suci (Gemuruh suara ratusan ribu manusia) Ayyu baladin hâdzâ? Negeri apakah ini? Baladun harâm! Negeri yang suci. Ayyu syahrin hadzâ! Bulan apakah ini? Syahrun harâm. Bulan yang suci.

Fa inna dimâ-akum wa amwâlakum wa a’râdhakum ‘alaikum harâm kahurmati yawmikum hâdzâ fi baladikum hâdzâ fi syahrikum hâdzâ. Ketahuilah, sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian sama sucinya dengan sucinya hari ini, negeri ini dan bulan ini. Tidak boleh darah manusia ditumpahkan; tidak boleh hartanya dihancurkan; tidak boleh kehormatannya dijatuhkan. Fa a’âdahâ mirâran. Rasulullah saw mengulang berkali-kali sabdanya. Kemudian ia memandang lagi para sahabatnya. Tahukah kamu apa yang disebut Muslim? Al-Muslimu man saliman Nâsu min lisânihi wa yadih. Seorang Islam ialah orang yang seluruh manusia tidak pernah diganggu dengan lidah dan tangannya. Tahukah kamu apa yang disebut mukmin? Al-Mu’minu man aminan Nâsu fi amwâlihim wa anfusihim. Seorang mukmin ialah orang yang mendatangkan rasa aman pada orang lain dalam hartanya dan dalam (kehormatan dan kehidupan) dirinya. Kemudian manusia yang paling santun ini mengangkat kepalanya. Allahumma hal balaghtu! Ya Allah, apakah aku sudah menyampaikan risalahMu? Ia menghadapkan lagi wajahnya kepada ratusan ribu para pendengarnya: Hal balaghtu! Apakah aku sudah menyampaikan risalah Tuhanku! Balaghta ya Rasululallah! Engkau sudah menyampaikannya, Wahai Utusan Tuhan! Fal yuballighisy syâhidul ghâib. Hendaknya yang hadir sekarang ini menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Dengarkan apa kalimat terakhir dari wasiatnya yang terakhir: Lâ tarji’û ba’dî kuffâran yadhribu ba’dhukum riqâba ba’dhin. Janganlah kamu kembali kafir, yakni kamu saling memerangi di antara kamu! Menurut Rasulullah saw, kita disebut kafir kalau kita memerangi sesama kita, kalau kita saling memukul kuduk-kuduk kita. Dahulu, Rasulullah saw mendefinsikan orang yang tidak beriman sebagai orang yang tidak mendatangkan kedamaian kepada sesama manusia; atau orang yang tidak peduli dengan penderitaan sesamanya, yang tidur kenyang sementara tetangganya kelaparan di sampingnya; atau orang yang suka memaki, melaknat, berkata kasar, dan menusuk hati. Rasulullah saw mendefinisikan kekafiran dan ketidakberimanan sebagai akhlak yang buruk. Bagi kita sekarang suara Sang Nabi saw terdengar asing dan aneh. Mungkin terlalu jauh jarak yang memisahkan kita dengan dia. Mungkin rentangan zaman yang panjang telah membuat suaranya terdengar sayup-sayup saja. Sekarang kita mendefinisikan kafir sebagai orang yang tidak seagama dengan kita, bahkan tidak sepaham dengan kita, bahkan tidak satu golongan dengan kita. Sehingga kalau orang itu kita anggap kafir, kita halalkan darahnya, kehormatannya, dan hartanya. Suara Nabi saw adalah suara kasih sayang. Suara kita sekarang adalah suara kebencian! Menurut Nabi saw, seorang Muslim tidak akan pernah menggunakan lidah dan tangannya untuk menyakiti siapa pun. Ia menamakan pengikutnya Muslim, yang artinya selain orang yang pasrah kepada Allah swt, juga orang yang mendatangkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan kepada orang-orang di sekitarnya. “Inginkah kamu menjadi orang-orang yang saling mencintai? Ufsyus salâm baynakum. Sebarkan kebahagiaan di antara kalian. Seorang Muslim, dalam makna nabawi, dalam definisi profetik, adalah orang yang misi hidupnya adalah menebarkan kebahagiaan! Bagi kita sekarang suara Sang Nabi saw terdengar asing dan aneh. Mungkin terlau jauh jarak yang memisahkan kita dengan dia. Mungkin rentangan zaman yang panjang telah membuat suaranya terdengar sayup-sayup saja. Sekarang kita mendefinisikan Muslim sebagai orang yang satu agama dengan kita, bahkan yang sepaham dengan kita, bahkan yang satu golongan dengan kita. Sehingga keramahan kita, pertolongan kita, penghormatan kita, perhatian kita hanya kita berikan kepada orang-orang yang segolongan dengan kita. Muslim yang dahulu berarti orang yang menyebarkan kebahagiaan kepada semua orang sekarang berarti orang yang menyebarkan kebahagiaan di antara orang yang segolongan dengan dia. Agama Rasulullah saw adalah agama yang inklusif. Agama kita adalah agama yang ekslusif. Islamnya Rasulullah saw adalah Islam yang “rahmatan lil ‘alamin”, kasih sayang untuk seluruh umat manusia. Islam kita adalah Islam yang “rahmatan lil muslimin” saja, bahkan “rahmatan lith-thai-ifiyyin”(kasih sayang untuk kelompok kita saja).

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id



Catatan Tulisan ini adalah khutbah Idul Adha Ustadz Jalaluddin Rakhmat tahun 1429H atau tahun 2008 [majulah-ijabi.org]

14 views0 comments

Recent Posts

See All