• Akhi

KIAT-KIAT MENGEMBANGKAN SQ ANAK


Jadilah Gembala Spiritual

Orangtua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. la sudah "mengakses" sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. "Spiritual intelligence is the faculty of our non-material dimension-the human soul," kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai "orang yang berjalan dengan membawa cahaya" (QS Al-An'âm [6]: 122). Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun tetap menunjukkan bahagia di tengah tofan dan badai yang melandanya. "Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them," masih kata Khavari. Bayangkanlah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang ber-SQ tinggi. Dan, orang-orang itu boleh jadi orangtua kita atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.


Rumuskanlah Misi Hidup

Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Kepada saya datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta bantuan saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. la tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka misi yang luhur. Berikut ini adalah cuplikan percakapan kami:

Anak (A) : Saya ingin belajar, Pak.

Saya (B) : Untuk apa kamu belajar?

A : Saya ingin mendapat pekerjaan.

B : Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan. Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar kamu.

A : Saya ingin belajar, Pak.

B : Untuk apa kamu belajar?

A : Saya ingin mendapat pengetahuan.

B : Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggalah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang dari sekolah.

A : Tetapi saya ingin masuk sekolah.

B : Untuk apa kamu masuk sekolah?

A : Saya bingung, Pak.


Saya sebenarnya ingin mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia. Dengan menggunakan teknik "setelah itu apa?" dalam anekdot Danah Zohar', kita dapat membantu anak untuk menemukan misinya. Jika sudah sekolah, kamu mau apa, setelah itu apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak. Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.


Baca Kitab Suci

Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar Islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dr. Muhammad Iqbal. Walaupun dibesarkan dalam tradisi intelektual Barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi, dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai shalat subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, "Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!" Setelah itu, kata Iqbal, "Aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku."


Ceritakan Kisah-Kisah Agung

Anak-anak, bahkan orang dewasa sangat terpengaruh cerita. "Manusia," kata Gerbner, "adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya." Para nabi mengajari umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi, seperti Al-'Attar, Rumi, dan Sa'di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang, Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup for the Soul-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber.


Saya senang berdiskusi dengan anak-anak saya. Bukan hanya mengambil dari kisah-kisah Islam, saya juga me nuturkan kisah dari Alkitab, Cina, India, mitologi Yunani, dan dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, mulai dari kisah pewayangan di Jawa hingga dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya membaca cerita-cerita Hans Christian Andersen, fabel-fabel Jean de la Fontaine, hingga serial komik Crayon Sinchan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya bagikan pelajaran itu kepada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh istri saya, maupun oleh istri-istri orang lain (misalnya, yang saya ajar di sekolah saya).


Diskusikan Berbagai Persoalan dengan Perspektif Ruhaniah

Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (The Divine Grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas:


"Katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merekah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu."


Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.


Libatkan anak dalam kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk tune in dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekuatan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekadar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!


Bacakan Puisi-Puisi atau Lagu-Lagu yang Spiritual Inspirasional

Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Kita bisa berkata, "Masakan ini pahit", kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata, "Keputusan ini pahit", kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (ini yang kita sebut sebagai SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyajikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata, "At the touch of love, everyone becomes a poet" (Saat jatuh cinta, semua orang menjadi pujangga). Kita dapat berkata, "At the touch of poetry, everyone becomes a lover" (Saat membaca puisi, semua orang menjadi pencinta).


Bawa Anak untuk Menikmati Keindahan Alam

Teknologi modern dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya.


Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya, dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.


Bawa Anak ke Tempat-Tempat Orang yang Menderita

Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, "Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau?" Tuhan berfirman, "Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya."

Di sekolah kami ada program yang kami sebut sebagai Spiritual Camping. Kami bawa anak-anak ke daerah pedesaan, alamnya yang relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari, mereka mengisi waktunya dengan beribadah dan tafakur. Siang hari mereka melakukan action research untuk mencari dan meneliti kehidupan orang yang paling miskin di sekitar itu. Mereka menangis. Secara serentak, mereka menyisihkan uang mereka untuk memberikan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk melakukan kegiatan sosial juga.


Ikut-sertakan Anak dalam Kegiatan-Kegiatan Sosial

Saya teringat cerita nyata dari Jack Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang "catatan kejahatannya lebih panjang daripada tangannya". Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan-kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan dan membagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini.


Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik-rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab. You know, that is the miraculous power of doing good.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

69 views0 comments

Recent Posts

See All