• Akhi

Kita Sudah Menjadi Ali Fir’aun


Pagi ini kita berkumpul lagi di halaman kebesaran Allah Rabbil Alamin. Baru saja kita kumandangkan di tempat ini puji dan sanjung kita untuk Dia Yang Mahakasih dan Mahasayang. Kita getar­kan lidah kita dengan Asma-Nya yang Agung. Di bawah naungan langit-Nya yang luas, kita lakukan ruku dan sujud kepada-Nya. Di atas tanah yang dingin kita rebahkan kepala kita.



Ketika matahari terbit pada hari pertama bulan Syawal, kita tinggalkan rumah-rumah kita, berduyun-duyun datang ke tempat ini, dengan satu niat yang sama: Kita ingin bersimpuh di hadapan Tuhan Yang Mahaagung. Kita ingin mengungkapkan rasa syukur kita kepada-Nya. Dia telah membawa kita memasuki bulan suci Ramadhan. Dia telah membantu kita untuk mengisi siang dan malam dengan salat dan zikir. Dia telah membimbing kita untuk meringankan beban dosa yang menghimpit punggung-punggung kita. Dia telah memberikan peluang bagi kita untuk menghimpun bekal buat hari akhirat nanti. Dia telah memperkenankan kita di malam-malam Laylatul Qadar merintih di hadapan-Nya, mengakui dosa-dosa kita seraya mengadu­kan segala duka dan derita kita. Dia telah membukakan kepada kita kesempatan pada bulan yang penuh berkah untuk menyampaikan permo­honan kita. Dan akhirnya, pagi ini Dia mengantarkan kita semua kepada Lebaran lagi. Allahu Akbar. Allahu Akbar. La ilaha illallah. Wallahu Akbar. Wa Lillahil Hamd. Ya Allah. Saksikan di tempat ini hamba-hamba-Mu yang menga­kui limpahan nikmat-Mu, tetapi tidak mampu mensyukuri-Mu. Besar­nya nikmat-Mu mengecilkan rasa syukur kami. Di hadapan limpahan anugerah-Mu, memudar puji dan sanjung kami. Rabbana, demi kebesaran-Mu, keagungan-Mu, dan kemuliaan-Mu. Sekiranya sejak Engkau menciptakan kami, sejak awal kejadian kami, kami menyem­bah-Mu sekekal abadi rububiyah-Mu, dengan setiap lembar rambut kami dan setiap kejap mata kami sepanjang masa, dengan puji dan syukur segenap makhluk-Mu, kami takkan sanggup mensyukuri nikmat-Mu yang paling tersembunyi sekalipun. Sekiranya kami menggali tambang dunia dengan gigi-gigi kami dan menanami buminya dengan lembar-lembar alis mata kami dan menangis takut kepada-Mu dengan air mata dan darah sebanyak samudera langit dan bumi. Semua itu kecil dibandingkan dengan besarnya kewajiban kami kepada-Mu. Karena itu, ya Allah, terimalah syukur kami betapapun kecil­nya dibandingkan dengan anugerah-Mu. Ampunilah kekurang-an-kekurangan kami selama menjalankan perintah-Mu. Bersamaan dengan keluarnya kami dari bulan Ramadhan, keluarkan kami dari segala dosa dan kesalahan kami. Sebagaimana Engkau makmurkan kami dengan karunia-Mu, dan memelihara kami dengan pemberian-Mu, sempurnakan bagi kami limpahan nikmat-Mu. Tolakkan dari kami kejelekan siksa-Mu. Birahmatika, ya arhamar Rahimin. Hadirin dan Hadirat. A’idin dan A’idat. Fa’izin dan Fa’izat. Di antara nikmat Allah yang besar ialah Dia telah menempat­kan kita pada suatu negeri dengan kekayaan yang berlimpah. Begitu indahnya negeri ini sehingga bangsa lain menyebut pulau-pulau di Indonesia sebagai “untaian zamrud di Khatulistiwa”. Kemudian, selama puluhan tahun, dengan izin Allah kita hidup makmur. Begitu makmurnya sehingga bangsa lain melihat negeri kita sebagai salah satu “macan Asia yang sedang bangkit.” Kita dicukupi dalam san­dang, pangan dan papan. Tiba-tiba kemakmuran yang kita bangun dengan susah payah diporakporanda-kan oleh badai, yang sulit berlalu. Tahun ini, Lebaran singgah ketika kita ditimpa musibah. Lebaran mengunjungi kita ketika semua harus memikul beban krisis moneter yang berke­panjangan. Sebelumnya kita sudah dihantam dengan kemarau panjang, kebakaran hutan, kelaparan, dan berbagai kecelakaan. Hari ini, Lebaran menjenguk kita ketika dada kita sesak karena harga-harga yang melambung tinggi. Jutaan saudara kita kehilangan pekerjaan. Lebih banyak lagi yang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan. Yang masih bekerja dibayang-bayangi ketakutan bakal dirumahkan. Ketika sebagian saudara kita tertawa renyah menukarkan dolar mereka, ratusan juta saudara kita yang lain harus mengurut dada karena sulitnya mencari rupiah. Hari ini, Lebaran datang lewat langit Indonesia yang kelabu. Ada apa yang terjadi di negeri ini? Mengapa kenikmatan telah berubah menjadi bencana? Mengapa kekayaan anugerah Tuhan musnah begitu saja, sehingga kita menjadi salah satu bangsa termiskin di dunia. Mari kita dengarkan firman Tuhan: (Siksaan) yang demikian itu terjadi karena sesungguhnya Allah tidak akan meng-ubah nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu bangsa sehingga bangsa itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Keadaan bangsa itu sama dengan keadaan Fir‘aun dan pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mendustakan ayat-ayat Tuhannya. Maka Kami binasakan mereka dengan dosa-dosa mereka dan Kami tenggelamkan Fir‘aun dan para pengikutnya. Semua­nya adalah orang-orang yang zalim (Al-Anfal, 7:53-54). Jangan-jangan musibah yang menimpa kita ini karena seluruh bangsa ini sudah menjadi Ali Fir‘aun, keluarga besar Fir‘aun. Jangan-jangan para pemegang kekuasaan di antara kita sudah menja­di Fir‘aun-Fir‘aun kecil yang menggunakan kekuasaan untuk memeras yang lemah, menindas yang kecil, dan merampas hak orang yang tidak berdaya. Jangan-jangan orang-orang berduit kita sudah menjadi Qarun yang rakus mengumpulkan dunia dengan tidak peduli halal dan haram. Demi duit, kita tidak ragu-ragu untuk menghantam, menyaki­ti bahkan membunuh sesama saudara kita. Kita sudah menjadi bina­tang-binatang buas. Zamrud Khatulistiwa sudah kita ubah menjadi rimba raya yang menakutkan. Jangan-jangan para cerdik pandai kita sudah menjadi Haman, yang memper-sembahkan kecerdasannnya untuk mengabdi kepada kezali­man. Kecerdikan kita perguna-kan untuk meliciki orang banyak. Kepintaran kita, kita manfaatkan untuk “meminteri” orang-orang bodoh. Jangan-jangan para ulama kita sudah menjadi Bal‘am bin Ba‘ura. Kita menjual ayat-ayat Allah untuk memenuhi hawa nafsu kita. Kita mengemas ambisi duniawi dengan ritus-ritus kesalehan. Seharusnya kita melangkahkan kaki kita ke gubuk-gubuk orang miskin dan mengetuk pintu mereka untuk memberikan bantuan kita. Tetapi kini, kita mengayunkan langkah ke istana para penguasa, menundukkan kepala kita di hadapan mereka, seraya menggumamkan ayat-ayat Allah untuk membenarkan kezaliman mereka. Jangan-jangan kita semua sudah tidak peduli lagi dengan perintah-perintah Tuhan. Kita semua sudah menjadi budak-budak dunia. Di mesjid, kita membesarkan Allah. Di luar mesjid kita menyepelekan Dia. Di mesjid, seluruh anggota badan kita dipergunakan untuk beribadah kepada Tuhan. Di luar mesjid kita menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya. Tangan-tangan yang kita angkat dalam doa-doa kita adalah juga tangan-tangan yang bergelimang dosa. Lidah-lidah yang kita getarkan untuk menyebut asma-Nya yang suci adalah juga lidah-lidah yang berlumuran kata-kata kotor. Kepala yang kita rebahkan dalam sujud adalah juga kepala yang kita dongakkan dengan sombong di hadapan hamba-hamba Allah. Hadirin dan Hadirat. A‘idin dan A’idat. Fa’izin dan Fa’izat. Marilah kita ubah musibah yang kita alami sekarang menjadi nikmat lagi, dengan mengubah perilaku kita. Tinggalkan arogansi Fir‘aun, kerakusan Qarun, kelicikan Haman, dan kemunafikan Bal‘am. Marilah kita akui dosa-dosa kita di hadapan Dia yang setiap saat dapat mencabut nyawa kita. Tuhan kami, kami sudah berbuat zalim terhadap diri kami dengan melakukan dosa. Jika tidak Engkau ampuni kami dan tidak menyayangi kami, tentulah kami termasuk orang-orang yang rugi. Tuhan kami, janganlah Engkau menyiksa kami jika kami lupa atau berbuat dosa. Tuhan kami, jangan timpakan kepada kami beban seperti Engkau timpakan kepada umat sebelum kami. Rabbana, jangan timpakan kepada kami siksa yang kami tidak sanggup memikulnya. Maafkan kami, ampuni kami, sayangi kami. Engkau sajalah Pelindung kami. Tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.[] (Artikel ini pernah dimuat dalam Buletin Al-Tanwir, Nomor 109, Edisi 10 Pebruari 1998)

4 views0 comments