• Akhi

Lebih Kaya Lebih Bahagia?


Henri Nouwen, pendeta Amerika, baru saja pulang dari misi satu tahunnya di tengah-tengah petani Peru yang miskin. Ia bercerita pada kawan-kawan Amerikanya tentang betapa cerianya orang-orang miskin di Peru. Pada waktu pesta, mereka bergembira bukan saja karena bisa berkumpul dengan kawan-kawan dan tetangga, tetapi juga bisa berbagi kue yang sedikit atau berbagi seteguk Cocacola. Ketika ia kembali lagi ke Amerika, ia berjumpa dengan kawan-kawannya yang kaya tetapi bermuka masam, dengan keluarganya, mengalami kesulitan dalam mengembangkan hubungan yang akrab dengan teman-temannya dan merasa bermusuhan dengan orang-orang yang berkuasa... melihat dan merasakan penderitaan yang dalam pada kawan-kawanku yang ambisius dan berhasil, makin lama aku makin terkejut dengan krisis spiritual yang meluas pada apa yang disebut sebagai Dunia Pertama."


David Myers, yang menceritakan kawannya yang pendeta itu, menuliskan kehidupan Amerika dengan judul bukunya yang menarik The American Paradox: Spiritual Hunger in an Age of Plenty, Paradoks Amerika: Kelaparan Spiritual di masa Kemakmuran. Kita juga melihatnya sebagai paradoks. Kita yang miskin selalu membayangkan betapa bahagianya orang Amerika yang kaya. Mereka punya sekolah yang baik, tempat tinggal yang nyaman, perpustakaan besar di setiap kelurahan, makanan yang sehat dan enak, keamanan yang terjamin, udara yang bersih (maaf saya menggunakan gambaran negara yang saya rindukan). Mereka punya mal-mal yang megah, tempat rekreasi yang indah, sarana hiburan yang lengkap, perempuan-perempuan yang cantik, tempat tinggal yang luas, dan peluang bisnis yang besar (maaf, mungkin sesuai dengan gambaran dalam benak sebagian pembaca). Tetapi, di tengah-tengah kemakmuran itu David Myers menemukan penderitaan. Artikel ini, yang melukiskan paradoks kemakmuran ini, mengandung judul yang aneh: Money and Misery. Uang dan penderitaan. Artinya, makin banyak uang makin menderita.


Mr Marrow dalam cerita di atas boleh jadi mewakili sekian banyak orang Amerika yang kaya. Ed Diener, psikolog dari Univeristy of Illinois, meneliti 100 orang Amerika terkaya yang dicatat Forbes. Mereka hanya sedikit lebih bahagia dari rata-rata. Bahkan sebagian besar menemukan uang telah membuatnya menderita. Kita dengan mudah menemukan miliarder dolar yang hidupnya kacaubalau: Howard Hughes, Christina Onassis, J. Paul Getty Warren Buffet melaporkan penelitiannya pada sejumlah orang-orang terkaya lainnya. Hasilnya konsisten dengan hasil Ed Diener la juga menemukan orang-orang kaya yang hidupnya menderita. "If you were a jerk before, you'll be a bigger jerk with a billion dollars. Kalau kamu memang orang payah sebelumnya, kamu akan menjadi orang payah yang lebih besar dengan uang miliaran dola kata Warren Buffett. Athina yang berusia 13 tahun berjuang di pengadilan untuk memperoleh setengah miliar dolar warisan Onassis. la begitu menderita sehingga ia berkata, "Kalau aku bakar uang itu, pasti tidak akan ada masalah. Tambahkan ke situ contoh-contoh yang Anda kenal: Elvis Priesley, Marilyn Monroe, atau siapa saja.


Jadi, uang yang semula kita bayangkan memecahkan masalah hidup sekarang malah menjadi masalah itu. Uang dengan mengikuti ucapan para anggota legislatif yang menjadi orang-orang kaya baru di Indonesia -bukanlah solution of the problem, tetapi menjadi part of the problem. David Myers menceritakan kepada kita kisah di bawah ini untuk menunjukkan bahwa money doesn't buy happiness.


Salah seorang mahasiswaku menggambarkan penderitaannya setelah delapan tahun hidup dengan ibunya dan ayah tirinya yang kaya tetapi suka melecehkannya: "Tidak perlu aku katakan bahwa situasinya tidak menyenangkan. Memang...ia mengendarai BMW dan baru saja membelikan untuknya Mercedes. Mereka memberi aku Mazda 626. la berbelanja di Bloomingdale dan memberikan untuknya jam Gucci. Dalam setahun, ia memberiku kapal pesiar. Setelah itu ia membelikanku selancar angin sendiri. Rumahku punya 2 VCR dan 3 televisi Hitachi. Apakah semuanya itu membuatku bahagia? Sama sekali tidak. Aku ingin menukarkan semua kekayaan keluargaku untuk kehidupan keluarga yang penuh damai dan cinta kasih.”


Seperti Myers, Robert E. Lane, dalam The Loss of Happiness in Market Democracies, menunjukkan penurunan kebahagiaan pada negara-negara kaya dengan naiknya tingkat depresi. Buat Anda yang sering menyebut depresi setiap kali merasakan kesedihan, saya kutipkan penjelasan dalam DSM-III tentang ukuran depresi. Belum tentu setiap Anda sedih, Anda menderita depresi. "Untuk dikualifikasi sebagai penderita depresi...Anda harus memiliki paling tidak empat gejala di bawah ini...yang berlangsung hampir setiap hari selama sekurang-kurangnya dua minggu" Inilah gejala-gejala itu:


  1. Selera makan hilang atau kehilangan berat yang sangat berarti (dalam keadaan tidak diet) atau bertambah selera makan atau berat yang naik.

  2. Insomnia atau hipertensi

  3. Agitasi psikomotor atau gerakan yang lambat

  4. Kehilangan minat atau rasa senang pada kegiatan-kegiatan yang biasa atau berkurang hasrat seksual

  5. Kehilangan tenaga, kelelahan.

  6. Merasa tidak berharga, menyalahkan diri, atau rasa bersalah yang berlebihan

  7. Menggerutu atau menunjukkan hilangnya kemampuan berpikir atau berkonsentrasi seperti lambat berpikir atau sulit mengambil kesimpulan atau berpikir tidak koheren

  8. Selalu muncul pikiran tentang kematian, bunuh diri, ingin segera mati.


Menurut Daniel Goleman, yang terkenal karena memopulerkan Emotional Intelligence, dalam the New York Times, "Pada sebagian negara kaya kemungkinan orang yang lahir setelah 1955 untuk menderita depresi besar bukan hanya kesedihan, tetapi kesepian yang melumpuhkan, kehilangan semangat, kehilangan harga diri, ditambah perasaan tidak berdaya yang luar biasa- pada satu titik kehidupan lebih dari tiga kali lebih besar daripada generasi kakek mereka." Dengan merujuk data yang sama Martin Seligman (masih ingat? tokoh psikologi positif) memberikan komentar: "Kita berada sekarang ini di tengah-tengah wabah depresi, wabah dengan akibat bunuh diri, yang menyebabkan kematian yang sama banyaknya dengan kematian karena AIDS dan lebih menyebar. Depresi yang parah sepuluh kali lebih banyak terjadi sekarang ini daripada 50 tahun yang lalu. Depresi menyerang perempuan dua kali lebih sering dari lelaki, dan sekarang menyerang sepuluh tahun muda daripada generasi sebelumnya.”


Bayangkanlah Anda berada di Amerika. Setiap hari Anda berjumpa dengan orang-orang yang tampak murung, sulit tertawa, dan kepayahan memikul beban yang berat. Mereka tinggal di rumah bagus dengan penghasilan rata-rata 20 juta rupiah setiap bulan. Tetapi mereka merasa hidupnya sengsara; bekerja lebih keras tetapi dengan pendapatan yang makin sulit memenuhi kebutuhan. Karena depresi yang meluas itu, kini diketahui bahwa bangsa-bangsa di negara makmur mempunyai tingkat bunuh diri yang lebih tinggi dari negara miskin.


Saya ingat kawan saya, orang Amerika, yang punya penghasilan kira-kira 20 juta setiap bulan. la harus membayar biaya hidup - termasuk membayar cicilan rumah, asuransi, kendaraan, kesehatan lebih dari jumlah itu. la terpaksa kerja tambahan di malam hari untuk menutup segala keperluannya. Bahkan hari libur pun ia manfaatkan untuk mencari duit. Karena itu, ia pulang ke rumah dalam keadaan lelah. Ia tidak sempat mengikuti kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan ia tidak mampu lagi bercanda dengan anak-anaknya. Waktunya dihabiskan untuk mencari uang, yang makin lama makin sedikit untuk membeli kebahagiaan.


Apa kebahagiaan yang hilang dari kehidupan mereka? Kepuasan dalam perkawinan, kepuasan akan pekerjaan, kepuasan akan uang yang diperoleh, kepuasan akan tempat tinggal.


Selain kepuasan akan perkawinan, pekerjaan, uang dan tempat tinggal, yang terbukti menentukan kebahagiaan orang, Robert Lane menambahkan tiga variabel lagi: saling curiga, anomi, dan pesimisme. Orang dianggap penuh kecurigaan bila ia memandang kebanyakan orang harus dihadapi dengan penuh kehati-hatian karena mereka tidak dapat dipercayai. Anomi adalah keyakinan bahwa orang makin lama makin buruk. Dan pesimisme menunjukkan kepercayaan bahwa orang yang berkuasa tidak memperhatikan kepentingan mereka. Survei membuktikan ternyata bahwa negara-negara kaya - terutama sekali Amerika mengalami kenaikan kecurigaan, anomi, dan pesimisme.


Bersambung ke pembahasan Mengapa Pertambahan Pendapatan Tidak Menambah Kebahagiaan?


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

32 views0 comments

Recent Posts

See All