• Akhi

Macam-Macam Doa


Ada beragam tingkatan dalam doa. Yang paling awal, tentu saja, doa orang-orang awam. Doa ini ditandai dengan perintah-perintah, seperti yang kita lihat di muka. Yang diharapkan dari doa itu isinya: (1) agar diberi sesuatu, mengharapkan sesuatu, atau takut pada sesuatu; (2) agar dilindungi. Doa macam ini berbunyi, kurang lebih, "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Mu surga dan berlindung kepada-Mu dari api neraka."


Doa pada tingkat ini mengharapkan ganjaran dan dijauhkan dari siksaan; mengharapkan keberuntungan dan dijauhkan dari bencana; mengharapkan harta yang banyak dan depositonya diselamatkan. Jadi, seluruhnya berada di antara ganjaran dan hukuman.


Beribadah dengan mengharapkan ganjaran atau takut siksa sebetulnya boleh-boleh saja (Al-quran dan hadis juga sering mengiming-imingi kita dengan pahala dan siksa). Misalnya, barang siapa membaca surah Yå sin, dia akan memperoleh penjagaan dan keberuntungan; barang siapa yang berangkat dari rumah dalam keadaan wudhu, kemudian salat dua rakaat di masjid Quba, maka nilai ibadahnya sama dengan orang yang umrah bersama Rasulullah saw. Dan dalam surah Ali Imran ayat 133 Allah menawarkan surga kepada kita:


وسارعوا إلى مغفرة من ربكم وجنة عرضها السموث والأرض أعدت للمتقين


Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang bertakwa.


Namun, semua itu tidak lebih sebagai pemantik. Sebagaimana usia dan mental seseorang yang terus mengalami pendewasaan, sikap keberagamaan kita pun mestinya meningkat. Jika pada tingkat awam semula apa yang kita kerjakan karena tergiur ganjaran, maka di tingkat selanjutnya kita melakukan sesuatu karena sadar dan mengharapkan lebih dari sekadar ganjaran atau hukuman. Bahkan, pada tingkat khawas atau tingkat spiritual paling tinggi, semua bentuk amal yang kita lakukan untuk melayani kepentingan sendiri adalah kemusyrikan. Istilah musyrik di sini tidak mengerikan seperti musyrik yang biasa kita sebutkan. Biasanya kita menggunakan kata musyrik untuk mengeluarkan orang yang berbeda paham dengan kita.


Musyrik berasal dari kata syaraka yang berarti menyekutukan. Ketika kita meletakkan apa pun selain Allah di dalam ibadah-ibadah kita, maka kita telah melakukan perbuatan syirik. Begitu juga ketika mengikutsertakan kepentingan-kepentingan lain dalam ibadah kita, seperti kepentingan untuk mendapatkan pahala atau surga. Dalam buku Imam Khomeini mereka disebut sebagai orang yang belum keluar dari "rumah"nya. Pada bab pertama buku itu dikutip, man yakhruju min baitihi, muhajiran ila Allahi wa rasulihi; barang siapa yang keluar dari rumahnya menuju Allah dan rasul-Nya. (An-Nisa, 100)


"Rumah" yang paling berat kita tinggalkan adalah ego kita. Kepentingan-kepentingan keakuan kita. Dalam ibadah pun egoisme kita tampak dengan sangat jelas, sebagaimana tampak pada penggunaan kata-kata perintah, fiil amar, dalam doa-doa kita.


Ada seorang pengajar Tasawuf di Tel Aviv, Israel. Sara Sviri, namanya. Ia menulis buku berjudul The Taste of Hidden Thing. Buku itu menceritakan bagaimana merasakan hal-hal yang tersembunyi. Dia bercerita bahwa dalam perjalanan kita menuju Allah Swt, pada saat kita sudah masuk pintu untuk masuk ke rumah Dia, kita selalu bertubrukan dengan ego kita di pintu itu. Setelah bekerja keras untuk menggapai pintu itu, kita sampai di situ, namun kita bertubrukan dengan ego kita, dan kita terpental lagi dari sana. Jadi, ego kita itu selalu menyertai kita ke mana pun. Kita sangat sulit untuk meninggalkannya. Jika masih tetap seperti itu, kita tidak bisa berjumpa dengan Allah Swt. Egoisme dalam ibadah muncul ketika kita beribadah untuk memenuhi keinginan-keinginan kita. Tetapi syirik dalam arti ini merupakan salah satu perjalanan yang harus kita lewati. Jadi, kita juga harus melewati pola beribadah untuk memperoleh pahala dan menghindari siksa itu. Namun, seiring perjalanan usia dan kematangan pola pikir seyogianya sikap kita dalam beribadah pun meningkat.


Dalam doa tawaf, ada doa yang berbunyi "Allahumma inni as'aluka ridhâka wal jannah. Aku mohonkan kepadamu rida-Mu dan surga." Hanya saja, kita melupakan bahwa rida Allah mesti didahulukan dari surga. Semestinya surga menjadi tujuan kedua; tujuan utamanya adalah rida Allah. Dan jika yang kita harapkan hanya rida Allah, maka hubungan kita dengan Allah menjadi hubungan cinta. Inilah doa macam kedua, doa yang sudah tidak memikirkan lagi pemberian Tuhan, tidak memikirkan lagi ancaman Tuhan. Karena itu, doa itu berbunyi, "Aku berlindung dengan rida-Mu dari kemurkaan-Mu." Jadi, sekarang bukan masalah surga dan neraka lagi, tetapi masalah rida dan kemurkaan Tuhan.


Yang berada di tingkatan puncak adalah doa, "Aku berlindung kepada-Mu dari diri-Mu." Dalam salah satu doa Imam 'Ali Zaynal 'Âbidin ditutur kan, "Aku melarikan diri dari-Mu menuju-Mu."


Doa jenis ini adalah doa yang lebih berisi pengakuan akan kehinaan dan kekecilan diri kita. Jadi, ia hanya merupakan obrolan kepada Allah yang menceritakan betapa lemahnya diri kita. Kita mengadukan diri kita kepada Allah Swt., seperti contoh doa Nabi Adam a.s., "Ya Allah, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Sekiranya Engkau tidak mengampuni kami, pasti kami menjadi orang yang rugi." Semua itu adalah pengaduan. Kita tentu saja boleh mengadu kepada Allah Swt.; mengadukan kehinaan kita di hadapan-Nya.


Saya sering membayangkan, doa-doa seperti itu agak sulit diaminkan. Tapi, doa yang menggunakan kata perintah atau berisi perintah mudah sekali diaminkan. Sebab, doa yang isinya perintah itu ditujukan hanya untuk diri sendiri, sangat egois. "Tuhanku, ampunilah aku, sayangi aku, tingkatkan derajatku, dan beri aku rezeki." Ujungnya aku semua. Tentu saja, doa seperti itu tidak salah, tetapi itu adalah jenis doa orang awam. Namun kita jangan sombong. Merasa diri sudah tinggi, padahal masih awam. Yang saya maksudkan, kita meningkatkan seluruh daya kita untuk menjalin hubungan dengan Allah sebagai hubungan cinta.


Sementara itu, doa yang berisi pengakuan sangat sulit untuk diaminkan. Misalnya, Imam 'Ali Zaynal 'Âbidin berdoa, "Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri," lalu, "Amin," misalnya, agak sulit. Tampaknya kita hanya mendengarkan saja doa itu, kita ikuti saja dalam hati, tidak usah diaminkan dengan verbal. Mengaminkannya cukup dengan cara mengikuti seluruh hati kita. "Tuhanku, kepada diri-Mu kuadukan diriku, yang memerintahkan kejelekan; yang bergegas melakukan kesalahan; yang tenggelam dalam kemaksiatan kepada-Mu; yang menjadikan aku orang yang celaka; yang terhina...."


Doa yang paling tinggi adalah doa yang merupakan bisikan cinta. Doa itu berisi rayuan seorang pencinta kepada kekasihnya. Dia merayu kekasihnya supaya tetap memelihara cintanya. Munajat Imam 'Ali Zaynal 'Âbidin dipenuhi rayuan-rayuan. Jadi, misalnya, walaupun ada kata perintah, ia berisi rayuan, berisi ungkapan cinta. Seperti perintah Majnun kepada Laylâ, “Aku turut berbahagia atas pernikahanmu. Aku tidak meminta apa pun kecuali engkau mengenang bahwa di satu tempat ada seseorang yang sekiranya tubuhnya dicabik-cabik oleh binatang buas, dia masih tetap menyebut namamu."


Itu perintah juga, tetapi perintah sangat halus, perintah yang sangat beradab. Kita pernah membaca salah satu doa Imam 'Ali Zaynal 'Âbidin yang merupakan ungkapan cinta:


Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku

Pertemuan dengan-Mu kecintaanku

Kepada-Mu kerinduanku

Cinta-Mu tumpuanku

Pada Kekasihku gelora rinduku

Rida-Mu tujuanku

Melihat-Mu keperluanku

Mendampingi-Mu keinginanku

Mendekat kepada-Mu puncak permohonanku


Doa-doa Rabi'ah al-'Adawiyah kepada Tuhan juga berisikan cinta. Doanya terkenal. Satu doa sudah diterjemahkan Taufiq Ismail dan menjadi puisi. Rabi'ah bertutur:


Tuhanku, kalau aku mengabdi kepada-Mu karena takut akan api neraka,

masukkanlah aku ke dalam neraka itu, dan besarkan tubuhku di neraka itu,

sehingga tidak ada tempat lagi di neraka itu buat hamba-hamba-Mu yang lain.

Kalau aku menyembah-Mu karena menginginkan surga-Mu,

berikan surga itu kepada hamba-hamba-Mu yang lain,

bagiku Engkau saja sudah cukup.


Itu terjemahan Taufiq Ismail. Sangat bagus. Sekali lagi, itulah doa yang sampai pada tingkat cinta. Doa itu isinya hanya bisikan cinta. Karenadoa itu menjadi bisikan cinta, orang merasa enak. Kita sedang merayu orang yang kita cintai. Ketika kita mengungkapkan ungkapan cinta kita kepada-Nya, berbicara yang panjang pun enak. Jadi, salah satu ukuran bahwa doa kita sudah berisi bisikan cinta ialah apakah kita tahan berdoa dengan doa yang panjang, yang isinya ungkapan cinta? Bagi saya, saya akan menjawab pertanyaan itu, "Tidak." Saya belum bisa, belum dapat merasakan nikmatnya membaca doa panjang seperti itu.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

15 views0 comments

Recent Posts

See All