• Akhi

Macam-Macam Kesenangan


Michael Kubovy membagi dua macam kesenangan: kesenangan tubuh (pleasures of the body) dan kesenangan jiwa (pleasures of the mind). Tampaknya hanya pada kesenangan tubuh manusia dan binatang sama. Saya menyebutkan kata “tampaknya’; sebab pada primata seperti gorila dan orang utan, kita melihat sejenis kesenangan jiwa. Ketika monyet-monyet saling menggaruk punggung, mereka bukan hanya merasakan senang karena gesekan tubuh, tetapi juga persahabatan.


Kesenangan tubuh, ditempat lain disebut sebagai kesenangan indrawi (sensory pleasures), terdiri dari dua macam lagi: kesenangan karena kontak dengan alat perasa kita (Kulit dan lubang-lubang yang terdapat di dalamnya) dan kesenangan berjarak. Lezatnya makan, minum, dan seks berkaitan dengan kesenangan indrawi yang berupa sentuhan. Kita punya alat indra yang dapat mencapai kesenangan tanpa sentuhan. Kita menyebutnya indra jarak (distance senses) —mata dan telinga. Kita dapat menikmati kesenangan karena kita melihat sesuatu atau seseorang yang indah, atau mendengar sesuatu alau seseorang yang rancak.


Di samping kesenangan indrawi, ada yang menyebutkan dua jenis kesenangan lainnya - kesenangan estetik dan kesenangan pencapaian. Kita merasakan kesenangan estetik ketika menikmati sesuatu yang abstrak, tetapi ada hubungannya dengan masukan pada indra. Kesenangan pencapaian kita alami apabila kita memperoleh sesuatu setelah berusaha keras untuk meraihnya. Saya memasukkan keduanya dalam kelompok kesenangan jiwa.


Kita dapat menikmati keindahan pegunungan ketika mata menyaksikan hijaunya pepohonan, kulit merasakan sejuknya hembusan angin, telinga mendengarkan nyanyian margasatwa dan gemercik air. Inilah kesenangan estetik.


Kita dapat juga merasa senang ketika kita lulus ujian, berhasil naik gunung, untung dalam berdagang, atau berjaya dalam mengatasi persoalan. Inilah kesenangan pencapaian.


Tetapi saya dapat menyebut banyak kesenangan lainnya yang belun masuk kategori di atas. Pengusaha minyak dari Texas di muka merasa senang ketika mengurus anjing-anjing yang kotor dan kudisan. Mohammad Ali — sang petinju- merasa senang ketika ia memangku anak kecil yang dekil di daerah kurniih Jakarta, Kartini merasa senang ketika berhasil —berkat biaya yang dikeluarkannya membuat ustazah yang buta melek kembali. Dan saya senang mendengarkan panggilan Mehdi yang mesra: Bapaaak! Saya mau menyebutnya kesenangan emfatik.


Saya merasa senang karena melihat Ka‘bah untuk pertama kalinya. Jemaah saya merasa senang ketika menyampaikan kepedihannya ke hadapan Tuhan yang Mahakasih, Para peziarah merasa senang ketika membasahi kuburan orang suci dengan airmatanya. Dan lebih dari seribu tahun yang lalu, di dekat sebuah oase di padang pasir, seorang pembaca Al-Quran dilempar lembing dari belakang. la melihat ujung lembing itu menembus dadanya dan muncul di depan. la menyauk darah yang terbersit dan berkata: “Fuztu wa rabbil Ka’bah. Alangkah senangnya aku, demi Dia yang memelihara Ka'bah” Saya menyebut kesenangan ini sebagai kesenangan ruhaniah.


Boleh jadi ada beberapa kesenangan jiwa lainnya yang belum sempat saya sebutkan; seperti kesenangan intelektual. Apa pun jenisnya, tidak semua kesenangan itu membawa kita kepada-kebahagiaan. Saya kira kesenangan yang paling sedikit sumbangannya pada kebahagiaan dan bahkan sering merusak kebahagiaan adalah kesenangan indrawi. Mengapa? Pertama, kesenangan indrawi tidak pernah terpuaskan seperti yang digambarkan oleh teori hedonic treadmill. Kedua, terus menerus mengejar kesenangan indrawi akan menimbulkan kebosanan. Ketiga, kesenangan indrawi dapat memantulkan kembali kesedihan.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

49 views0 comments

Recent Posts

See All