• Akhi

Mari Jelajah Sejarah (2)

Sekarang kita berada di Madinah Al-Munawwarah. Adzan Maghrib sudah dikumandangkan. Matahari sudah tenggelam dan gemintang bermunculan di langit Madinah yang jernih. Dari penduduk Madinah kita mendengar berita yang mencemaskan. Nabi yang tercinta menderita sakit. Berkali-kali ia pingsan. Di dalam rumahnya yang sempit dan sederhana, para pelayat berdesakan.

Sejak khutbah di Arafah dan beberapa khutbah terakhir di Madinah, ia memberi isyarat bahwa sebentar lagi ia akan meninggalkan kita semua. Beliau berkata: “Aku tidak tahu, apakah aku bisa berjumpa lagi dengan kalian setelah ini. Hampir datang waktunya aku dipanggil dan berangkat menuju kekasihku. Aku titipkan kepada kalian sepeninggalku, Kitab Allah dan keluargaku”, sabda Nabi saw di hadapan para pengunjungnya. Nabi memegang tangan Ali, “Inilah Ali bersama Al-Qur’an dan Al-Qur’an bersama Ali. Keduanya tidak akan berpisah sampai keduanya menemuiku di telaga akhirat nanti”.

Tapi lihatlah siapakah gerangan sosok tubuh yang menyobekkan kegelapan malam Madinah menuju kuburan Baqi’. Di belakangnya ada satu sosok lain meng-ikutinya. Terdengar suara lirih: “Ya Aba waihaba. Aku diperintahkan untuk memohon-kan ampunan bagi penghuni kubur Baqi’, karena itu aku memanggil engkau untuk menyertaiku”. Itu suara yang sudah kita kenal, itu suara Nabi saw. Masih dalam keadaan demam, ia berangkat ke pekuburan kaum Mukminin. Di sela-sela pusara, diremang-remang kegelapan yang mencekam, kita mendengar Rasulullah saw mengucapkan salam: ”Assalâmu ‘alaikum Yâ ahlal maqâbir. Bakal datang fitnah yang bergulung-gulung seperti gulungan malam yang gelap saling susul- menyusul. Yang kemudian lebih jelek dari yang pertama. Beruntunglah kalian yang sudah meninggalkan kami dan tidak mengalami runtunan fitnah itu.” Kita mendengar Nabi saw membaca istighfar, mendo’akan semua penghuni kubur. Fitnah apakah gerangan yang bakal menimpa umat Islam ini? Apakah gerangan ujian berat yang akan menggulung umat Muhammad saw? Pulang dari Baqi’, Nabi saw jatuh sakit lagi. Ia menderita demam dan sakit kepala. Para pelayat bergantian menemui Nabi saw. Tidak seorang pun berbicara keras di hadapannya. Semua mata memandang wajah putih bersih. Nabi menarik nafas perlahan-lahan, seakan-akan mengikuti detak jantung para pelayatnya. Tiba-tiba bibir yang suci itu terbuka: “Ambillah kitab dan tinta supaya kutuliskan untuk kalian, tulisan yang tidak akan sesat sepeninggalku.” Suara itu disusul oleh suara gemuruh. Seorang pelayat ber-teriak: “Biarkan, Nabi saw sedang menggigau. Nabi diserang penyakit panas, cukuplah bagi kita Kitabullah.” Perempuan-perempuan berteriak, “Tidakkah kalian mendengar sabda Rasul Allah?” Kita mendengar suara keras menghardik ibu-ibu kaum mukminin. Kita mendengar suara keras itu menghardik ummahâtul mu’minîn. “Ah kalian sama saja dengan perempuan-perempuan sahabat Yusuf. Jika ia sakit, kalian berduka cita. Jika ia sembuh, kalian bertengger di lehernya.” Dengarkan Nabi saw bersabda: “Biarkan perempuan-perempuan itu, mereka lebih baik dari kamu. Enyahlah kalian dari sini!” Ya Nabiyar Rahmah, inikah fitnah besar itu? Di depan manusia yang tidak berbicara dari hawa nafsunya tetapi selalu berdasarkan wahyu yang diterimanya (QS Al-Najm 3-4), ada orang yang berani menyebut bahwa Nabi meracau karena sakit panas. Di depan orang yang sakit, apalagi yang sakit itu manusia mulia junjungan alam, orang-orang bersuara keras. Ya Rasulullah inikah fitnah besar itu? Lihatlah, Ibnu Abbas menyebut peristiwa itu sebagai tragedi hari Kamis. Setiap kali mengenang hari itu, ia menangis. Kita juga ingin menangis, kita tidak tahu apa gerangan yang ingin diwasiatkan Nabi saw. Kita tidak ingin tersesat sepeninggal beliau. Kita ingin memeluk agama Islam yang sebenarnya. Kita ingin mendengar dan membaca wasiat Nabi saw yang terakhir. Hampir saja Rasulullah memberikan anugerah besar yang akan menjadi pedoman kita sesudah sepeninggalnya. Mengapa orang-orang itu mengabai-kan permintaan Nabi yang mulia? Padahal penjahat yang akan dihukum mati pun dipenuhi permintaannya yang terakhir. Mengapa tidak kita penuhi permintaan seorang manusia yang suci dan agung? Maafkan kami Ya Rasulullah, kami umat yang tidak tahu berterima kasih. Kami ini umat yang tidak beradab di hadapan Nabi-Nya. Ampuni kami Ya Abal Qasim, Ya Nabiyar Rahmah. Siapa pula yang kita lihat datang ke rumah Nabi saw dengan membawa kedua putranya. Langkahnya gontai, tubuhnya lunglai, dan wajahnya sayu. Ia menjatuhkan dirinya ke tubuh Nabi saw. Air matanya membasahi dada Rasul yang mulia seraya berkata: “Wa kurbah wakurbi li kurbik yâ abah. Duhai deritaku, deritaku karena deritamu ya Abah.” Dialah Fathimah yang jiwanya tidak dapat dipisahkan dari jiwa Nabi saw. Dialah Ummu Abîha yang pernah menemui Rasul Allah di tengah para sahabatnya. Dia berdiri menyambutnya. Dia menciumi tangan Fathimah seraya berkata: “Fathimah belahan jiwaku. Siapa yang menyakiti Fathimah, ia menyakitiku. Siapa yang membuat Fathimah marah, ia juga membuat aku marah.” Inilah putri Rasul, Al-Batul. Bila Nabi saw merindukan semerbak harum surga, ia mencium leher Fathimah. Pernah satu saat Fathimah datang menemui ayahnya membawa potongan roti seraya berkata, “Ini potongan roti, hatiku tidak tenang sebelum kuberikan roti ini padamu.” Nabi saw menjawab, “Inilah makanan pertama yang masuk ke mulut ayahmu sejak tiga hari yang lalu.” Nabi saw memandang dengan penuh rasa sayang dan iba kepada putrinya yang tercinta. Nabi melihat putrinya sudah seperti seonggok daging tanpa kehidupan. Dalam linangan air mata yang deras mengalir membasahi janggutnya, ia menghibur putrinya sambil berkata: “La kurba ‘ala abi ba’da al-yaum.” Tidak akan ada derita lagi bagi ayahmu setelah hari ini. Mendengar ucapan itu Fathimah menjerit. Ia tahu sebentar lagi ayah tercintanya akan meninggalkannya. Nabi saw berkata: “Wahai anakku Fathimah, janganlah Engkau menangis bila aku mati. Ucapkanlah, Inna lillâhi wa innâ ilaihi râjiûn. Fathimah memegang tangan kedua putranya Hasan dan Husayn lalu berkata, “Ini kedua putramu Ya Aba, berikan warisan kepadanya.” Masih dalam linangan air matanya, kita mendengar Rasul saw bersabda, “Hasan akan mewarisi wibawa dan kekuasaanku. Husayn akan mewarisi keberanianku dan kederma-wananku.” Ketika melihat Husayn, Nabi saw segera memeluknya erat-erat. Dalam derita penyakit yang makin berat, Nabi saw menahan jeritan pilu seraya berkata: “Biarkan aku berhadapan dengan Yazid. Semoga Allah tidak memberkati Yazid. Ya Allah aku serahkan Yazid pada-Mu.” Belum selesai Nabi saw bicara, ia tidak sadarkan diri lagi. Nabi saw pingsan lama sekali. Ketika siuman, ia merebut lagi tubuh Husayn dan memeluknya. Air matanya membasahi wajah Husayn. “Biarkan aku dan pembunuhmu berhadapan di hadapan Allah Azza Wajalla.” Ketika Hasan dan Husayn merapatkan tubuh mereka yang kecil pada tubuh Rasul yang agung, mereka tidak henti-hentinya menangis. Dalam kedalaman hati anak yang bening, mereka merasakan sebentar lagi kakek yang sangat penyayang itu akan meninggalkan mereka. Amîrul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ingin memisahkan mereka supaya tidak meng-ganggu Nabi saw yang sedang sakit. Tapi, dengarlah bibir yang mulia itu bergerak lagi, “Biarkan mereka bersenang-senang denganku dan aku bersenang-senang dengan mereka, karena keduanya nanti akan ditimpa bencana sepeninggalku.” Kepada para pelayatnya, Nabi saw bersabda: “Aku sudah tinggalkan bagi kalian Kitab Allah dan keluargaku. Siapa yang melalaikan Kitab Allah, ia sudah melalaikan sunnahku. Dan barangsiapa yang melalaikan sunnahku sama seperti melalaikan keluarga-ku, karena keduanya tidak akan pernah berpisah sampai keduanya datang menemui-ku di Telaga Hari Kiamat nanti.” Kepada pintu kota ilmunya, kepada Bâbul Madînatul ‘Ilmi, kepada Imam Ali yang ditunjuk sebagai pembawa wasiat sesudah-nya, Nabi saw bersabda: “Hai Ali, letakkanlah kepalaku di pangkuanmu. Sudah datang perintah Allah. Kalau napasku sudah berakhir, usap wajahku dan usapkanlah ke wajahmu. Kemudian hadapkan aku ke arah kiblat. Jadilah engkau orang yang pertama menshalatkanku. Jangan tinggalkan aku sampai engkau menguburkanku. Minta tolonglah kepada Allah.” Dalam pangkuan Ali bin Abi Thalib, roh suci itu meninggalkan tubuh yang mulia naik ke langit tinggi, menemui kekasih sejati, Allah swt. Fathimah menjerit pilu, “Ya Aba, Ya Rasulullah, Ya Nabiyar Rahmah. Sekarang wahyu tidak akan datang lagi, Jibril tidak akan turun lagi. Ya Allah, ambillah rohku untuk menyusul rohnya. Tolonglah aku untuk selalu memandang wajahnya. Ya Allah jangan haramkan kepada kami syafaatnya pada hari kiamat.” Fathimah menjerit. Seluruh penduduk Madinah menangis. Langit Yatsrib menggemakan seluruh tangis itu ke seluruh penjuru dunia. Ya Rasulullah, fitnah apalagi yang lebih besar dari kepergianmu? Musibah apa lagi yang lebih berat dari kehilanganmu? Lihatlah, putrimu setiap hari menjenguk pusara sucimu. Ia menyauk tanah kuburmu dan mengusapkannya kewajahnya seraya merintih, “Telah menimpa daku musibah, yang dapat mengubah siang menjadi gelita.” (bersambung)

8 views0 comments