top of page
  • Akhi

MATI SYAHID (II)

Updated: Aug 1, 2022




Banyak orang kecewa dan sedih dengan kejadian di Universitas Trisakti. Tapi hendaknya kita ingat juga, bahwa di antara para prajurit di sekitar kita itu, terdapat banyak Al-Hurr, yang insya Allah akan memilih hati nuraninya. Mereka tahu bahwa yang diperjuangkan oleh Husein-Husein baru adalah perjuangan untuk kepentingan rakyat. Mereka tidak berjuang untuk sebuah konsep. Karena untuk apa mereka merumuskan konsep yang memerlukan satu Pelita lagi dan reformasi hanya bisa dilaksanakan tahun 2003?


Permintaan para mahasiswa adalah permintaan sederhana yang dirumuskan dengan kata yang singkat saja, yaitu menegakkan kebenaran dan keadilan. Lalu, kalau ada orang yang bertanya, “Bukankan menegakkan keadilan dan kebenaran itu terlalu abstrak?” Coba rumuskan lebih terperinci. Jika kita rinci, banyak orang akan tersinggung. Untuk menghindari itu, kita berbicara pada dataran yang sangat abstrak. Keadilan bukanlah masalah filosofis untuk dipikirkan, keadilan adalah sesuatu yang bisa dirasakan oleh hati nurani setiap orang. Kita tidak memerlukan definisi keadilan. Kita memerlukan kepekaan hati nurani.


Tanyakan kepada para petani yang dirampas tanahnya untuk dijadikan lapangan golf, “Apa definisi keadilan?” Tidak seorang pun yag dapat mengatakannya. Tapi mereka dapat merasakannya. Keadilan bukanlah something to think about, keadilan ialah something to feel about. Keadilan bukanlah a matter contemplation, melainkan a matter of emotion, feeling, and conscience.


Jadi, saya hanya memohon kepada kita semua untuk menelan pil sabar. Para prajurit-prajurit itu juga sama dengan kita, orang-orang kecil yang harus berhadapan dengan anak-anak kita sendiri. Bahkan harus berhadapan dengan hati nurani mereka sendiri. Anda harus membayangkan betapa hancurnya hati mereka sebetulnya. Ketika mereka berhadapan dengan Anda. Sekiranya Anda mampu melihat lebih tajam, Anda akan lihat gelegak air mata mereka yang sebetulnya tidak rida melakukan penindasan terhadap Anda. Mereka tahu bahwa Anda juga berjuang untuk kepentingan mereka. Sekali lagi, saya mohon kita semua bersabar dan marilah kita berdoa supaya di antara mereka, muncul Al-Hurr-Al-Hurr baru, sang kemerdekaan yang memilih untuk memihak hati nuraninya.


Mereka adalah saudara-saudara kita, air mata kita adalah air mata mereka juga. Kita juga berduka cita bukan hanya untuk mahasiswa Trisakti, tapi juga buat aparat yang meninggal karena dipukuli massa. Kalau orang meninggal dunia dalam upaya menegakkan keadilan, menegakkan hati nuraninya, di dalam Islam di sebut Syahid. Di dalam bahasa Arab Syahida berarti menyaksikan.


Dalam Al-Qur’an kaum Muslimin disebut sebagai Syuhadâ ‘Alan Nâs, yang harus menjadi saksi-saksi kebenaran di tengah-tengah manusia. Seorang yang mati syahid adalah seorang yang menjadi bukti dari kecintaan kepada kebenaran. Dengan kata lain kebenaran itu hanya dapat disaksikan melalui darah yang dicurahkan.


Berikut ini beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi tentang syahid. Dalam Islam, orang yang syahid disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa mereka itu tidak mati. Al-Qur’an mengulang hal ini dua kali. Pertama dalam surat Al-Baqarah dan kedua dalam dalam surat Al-Imrân. Allah berfirman: “Jangan kamu kira orang-orang yang dibunuh di jalan Allah itu mati, mereka hidup di sisi Allah dan diberi rezeki” (QS Ali Imrân 169).


Seluruh ulama sepakat bahwa kematian orang yang syahid berbeda dengan kematian kita semua. Kalau kita mati, kita pindah ke alam Barzakh dan menunggu hari kiamat dalam penantian panjang yang mengerikan —atau membahagiakan sesuai dengan amal-amal yang kita lakukan. Orang yang mati syahid tidak mengalami penantian yang panjang seperti itu, mereka berada di alam yang lain dan tetap diberi rezeki. Berdasarkan beberapa hadits, orang yang mati syahid diberikan hak untuk berkunjung menziarahi keluarganya, bahkan bisa berdoa untuk kesejahteraan keluarganya. Pada hari kiamat, orang-orang yang mati syahid diberikan hak oleh Allah untuk memberikan syafa’at kepada tujuh puluh orang dari keluarganya.


Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah 154, Allah swt berfirman: “Janganlah kamu berkata kepada orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati, mereka itu hidup tapi kalian tidak merasakannya.” Kebahagiaan seperti itu diberikan kepada para syuhada, karena para syuhada itu telah menyiramkan darahnya di taman sari umat Islam agar di atasnya mekar bunga-bunga keadilan dan kebenaran. Berikut ini hadits-hadits tentang keutamaan mati syahid;


  1. “Pada setiap kebaikan itu, ada kebaikan yang lebih utama dari itu. Sampai seseorang terbunuh di jalan Allah, tidak ada kebaikan yang lebih baik daripada kematian seperti itu.”

  2. “Tak ada tetesan yang paling dicintai Allah selain dua tetesan. Tetesan darah di jalan Allah dan tetesan air mata yang jatuh dalam kegelapan malam dari seorang hamba yang tidak mengharapkan apa-apa kecuali rida Allah.”

  3. Pada peristiwa perang Uhud banyak sekali di antara para sahabat Rasulullah yang terbunuh, di antaranya ayah dari Jabir. Kemudian Rasulullah berkata menghibur Jabir, “Sesungguhnya Allah tidak pernah bicara kepada seseorang pun kecuali lewat tirai, tetapi Allah berkata kepada bapakmu secara langsung. Allah berkata kepada bapakmu, “Mintalah sekarang kepadaku, Aku akan beri permintaanmu.” Kemudian bapakmu berkata,”Aku mohon kepada-Mu Ya Allah, Engkau kembalikan lagi aku ke dunia supaya aku berjihad dan terbunuh lagi.”

  4. “Tidak seorang pun yang masuk surga ingin kembali lagi ke dunia ini atau memperoleh sesuatu di dunia, kecuali orang yang syahid, karena ia berharap kembali lagi ke dunia ini dan terbunuh lagi puluhan kali, karena kemuliaan Allah yang diberikan kepada mereka.”


Terakhir saya ingin mendefinisikan siapa saja yang syahid dan bagaimana yang mati syahid itu. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, “Siapa yang berperang dan terbunuh untuk mendekatkan kalimat Allah, maka dia termasuk orang yang mati syahid.” Lalu apa yang di maksud dengan kalimâtullâh? Menegakkan kebenaran adalah menegakkan kalimat Allah, dan siapa saja yang menegakkan kebenaran kemudian terbunuh, dia mati syahid. “Jihad yang paling utama adalah kau katakan kebenaran di depan hadapan penguasa yang zalim.” Menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang adil adalah termasuk jihad, tapi risikonya kecil malahan akan disambut “Alhamdulillah, masih ada orang seperti orang seperti kamu.” Ketika Umar bin Khattab menjadi presiden, dia meminta penduduk untuk membenarkan kelakuannya yang salah. Kemudian salah seorang berdiri mencabut pedangnya dan berkata, “Kami akan mendukung engkau kalau engkau membela kebenaran dan kami akan membetulkannya dengan pedang ini, kalau engkau berbuat salah.” Umar tidak menangkap orang itu, bahkan dia memeluknya. Jadi, berbicara kebenaran di depan penguasa yang zalim adalah jihad yang paling utama, dan mati karena mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim itu adalah mati syahid. Karena itu, saya tidak henti-hentinya mengatakan bahwa mahasiswa Trisakti yang gugur itu sebagai orang yang mati syahid.


Di dalam hadits yang lain, Nabi saw bersabda, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela hak-hak keluarganya yang dizalimi, dia termasuk mati syahid.” Hadits yang lain, “Barangsiapa yang terbunuh karena ingin mengambil hartanya yang dirampas oleh orang lain dengan zalim, ia juga mati syahid.” Hadits yang ketiga, “Barangsiapa yang terbunuh karena membela kepentingan tetangganya yang dizalimi, ia termasuk mati syahid.” Nabi juga bersabda, “Siapa yang terbunuh karena membela agama Allah, ia pun mati syahid.” Dengan penuh keyakinan saya katakan bahwa para mahasiswa yang gugur itu termasuk orang yang mati syahid, karena mereka membela kepentingan saudara-saudara mereka, tetangga-tetangga mereka yang sangat menderita.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).


Buletin Al-Tanwir Nomor 117 Edisi 15 Juni 1998

15 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page