top of page
  • Writer's pictureAkhi

Memilih Teman Perjalanan di Alam Barzakh


Di dalam ilmu tarekat dikenal istilah murid; yang artinya orang yang ingin menempuh jalan menuju Allah Swt. Kata murid sendiri berarti yang menginginkan sesuatu. Sedangkan orang yang membimbingnya disebut syaikh. Murid adalah orang yang ingin menempuh jalan menuju Allah Swt., yang dibimbing oleh seorang guru. Bahkan di dalam tasawuf diterangkan adab hubungan antara murid dan syaikh ini. Bukan hanya ikatan ilmu, tetapi juga ikatan batin. Syaikh tersebut bukan hanya kawannya untuk berjalan menuju Allah Swt., tetapi ia juga berfungsi sebagai pembimbing dan penunjuk jalannya.


Seperti Anda ketahui, di dalam hidup ini, Islam menawarkan dua pilihan. Yaitu, jalan menuju Allah Swt., dan jalan menuju setan. Kita disuruh memilih, jalan mana yang kita kehendaki. Al-Quran sendiri menegur kita "Fa ayna tadzhabun?" (Hendak pergi ke mana kalian ini?) (QS 81:26).


Pertanyaan ini merupakan peringatan buat semua orang. Tetapi Nabi Ibrahim menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut:


...Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (QS 37:99)


Dalam ayat lain dikatakan:

Dan Kami telah menunjukkan kepada manusia dua jalan (QS 90: 10). Yaitu jalan menuju Allah dan jalan menuju selain Allah.


Orang yang disebut murid adalah orang yang memilih berangkat menuju Allah, dan meninggalkan apa saja yang selain Allah. Karena jalan yang terbaik menurut Islam adalah jalan yang meninggalkan dunia ini, meninggalkan diri dan hawa nafsu untuk menuju Allah Swt.


Bahkan sering kali kita temukan di dalam Al-Quran, ungkapan yang menganjurkan agar kita berjalan mengikuti orang-orang yang berjalan menuju Tuhan.


...Dan ikutilah orang yang sedang kembali menuju Aku, kemudian tujuan kembalinya itu adalah kepada-Ku, lain Aku beri tahukan nanti apa-apa yang kamu lakukan. (QS 31:15)


Dunia utama yang harus dia tinggalkan adalah dirinya sendiri.


Para ahli tafsir mengartikan ayat, Barang siapa yang keluar dari rumahnya... (QS 4: 100), dalam dua makna: makna batin dan makna lahir. Makna lahir dari ayat ini, berkenaan dengan para sahabat Nabi Saw. yang meninggalkan rumahnya di Makkah menuju Madinah.


Dalam riwayat yang lain, disebutkan bahwa ayat itu berkenaan dengan orang tua yang sakit, yang ikut hijrah kemudian mati di perjalanan. Pada waktu itu, ketika sahabat yang lain sudah hijrah, dia masih tinggal di Makkah. Kemudian turun ayat yang menegur orang yang tinggal di Makkah dan tidak mau hijrah. Dan kalau mereka mati, malaikat akan mengecam mereka yang tidak mau berhijrah. Al-Quran Al-Karim mengatakan:


Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?" Mereka men- jawab: "Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Makkah)." Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. Kecuali mereka yang tertindas baik laki- laki atau wanita, ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah). (QS 4: 97-98)


Orang yang sakit dan tua ini mengatakan, "Saya ini tidak termasuk orang yang dikecualikan dalam ayat ini karena saya mempunyai bekal dan saya punya orang yang tahu jalan, hanya saja saya sakit. Oleh karena itu, angkutlah saya, bawa saja berhijrah." Kemudian oleh keluarganya, ia dibawa ke Madinah. Sampai kemudian di suatu tempat yang bernama Tawin, orang itu meninggal dunia. Kemudian turunlah ayat:


Dan barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan mak- sud berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dimaksud), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah.... (QS 4: 100)


Itulah makna lahir dari ayat ini. Sedangkan makna batin- nya, menurut Imam Khomeini dalam buku-karyanya, Al-Adab Al-Ma'nawiyyah li Al-Shalah, adalah "Siapa yang keluar dari rumahnya". Yang dimaksud dengan rumah di sini ialah dirinya sendiri. Yang disebut dengan murid ialah orang yang mening- galkan dirinya itu menuju Allah Swt. Artinya, ketika ia mulai menuju Allah, ia berusaha mendahulukan kehendak Allah, dan ia telah meninggalkan kehendak dirinya sendiri.


Dia tinggalkan kehendak dirinya dan menuju kehendak Allah Swt. Keadaan seperti ini tidak terjadi sekaligus, karena kehendak diri itu banyak. Peristiwa seperti ini terjadi sedikit demi sedikit. Mula-mula kehendak diri yang dimatikan, dan diganti dengan kehendak Allah. Sampai suatu saat nanti, seluruh kehendak Allah telah menggantikan kehendak diri.


Perjalanan meninggalkan diri menuju kehendak Allah itu oleh sebagian orang disebut thariqat (tarekat), yang artinya jalan; atau suluk yang berarti perjalanan. Dan orang yang berjalan disebut salik. Seperti yang pernah disebutkan dalam hadis Nabi, "Barang siapa yang meniti (salaka) jalan menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah."


Ada sebuah nasihat yang dapat kita ambil dari seorang ulama, dan sufi besar pendiri sebuah tarekat, bernama Syaikh Najmuddin Al-Kubra. la mempunyai banyak murid yang kelak menjadi para wali. Beliau memberikan beberapa bentuk jalan kehidupan, ketika dia sendiri sedang meniti jalan menuju Allah Swt. Beliau mengatakan, "Ada dua macam perjalanan manusia. Pertama, perjalanan itu ialah perjalanan yang terpaksa, yang disebut dengan safar qahri. Dan yang kedua, ialah perjalanan yang merupakan pilihan kita, atau yang disebut dengan safar ikhtiyari." Artinya, ada perjalanan kita semua yang menuju Allah tetapi dalam keadaan terpaksa; dan ada pula perjalanan kita yang menuju Allah dalam keadaan suka-rela.


Al-Quran Al-Karim mengatakan, "Sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah, dan semua akan kembali kepada-Nya" dan "Kepada Akulah kamu semua akan kembali". Dan itulah perjalanan yang tidak sukarela.


Masih menurut beliau, perjalanan yang tidak sukarela itu sendiri memiliki beberapa stasiun. Pertama, ketika kita berada pada sulbi ayah kita. Kedua, ketika kita berada pada rahim ibu. Ketiga, ketika kita dilahirkan ke dunia ini. Dan yang keempat, alam kubur, yang menurut agama, alam itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga, atau bisa juga menjadi sumur-sumur neraka, bergantung kepada amal perbuatan kita di dunia ini. Pada alam barzakh ini kita belum masuk surga atau neraka tetapi kita sudah berada dalam bayang-bayang keduanya. Sedangkan tahap kelima ialah saat kebangkitan yang menurut Syaikh Najmuddin Al-Kubra, usianya sama dengan (lebih kurang) 5.000 tahun usia dunia ini. Itulah hari kebangkitan, ketika semua manusia dibangkitkan dari tidurnya yang panjang.


Menurut orang-orang sufi, kita semua tidak ingat lagi alam yang sebelum ini ̶ alam rahim, misalnya. Kita tidak ingat lagi suasana di alam rahim itu. Semua yang berada di alam rahim memengaruhi tingkah laku kita sekarang ini. Pengalaman jasmani dan ruhani yang kita peroleh di alam rahim memengaruhi tingkah laku kita sekarang ini; tetapi kita seakan-akan tidak mengalami dunia itu. Kita seakan-akan lahir ke dunia ini, kemudian kita menemukan alam dengan kesadaran yang baru.


Begitu pula, ketika kita berada di alam barzakh, kita mulai sadar bahwa di alam inilah sebetulnya kehidupan yang sebenarnya itu. Kehidupan dunia ini bagaikan sebuah mimpi saja. Suasana seperti ini baru kita sadari di alam barzakh itu. Allah Swt. berfirman,


…maka Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. (QS 50:22)


Kita merasakan alam barzakh itu sebagai permulaan kehidupan. Apa yang kita lakukan sekarang ini memengaruhi suasana senang dan susah di alam barzakh nanti.


Ketika kita nanti dibangkitkan, kita merasa bahwa alam barzakh itu seperti mimpi yang panjang. Semua orang merasakan bahwa memang itulah kehidupan yang sebenarnya. Al-Quran Al-Karim melukiskan peristiwa itu dalam Surah Yasin sebagai berikut:


Mereka berkata, "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?" Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah rasul-rasul-Nya. (QS 36:52)


Itulah alam kebangkitan yang panjangnya kira-kira sama dengan hitungan 5.000 tahun dunia ini. Hanya Allah yang Mahatahu, karena perhitungan panjang-pendeknya waktu itu sangat relatif, apalagi ketika menghadapi alam yang lain. Kita sangat susah menghitung berapa lama waktu itu.


Sayidina Ali k.w. pernah meriwayatkan bahwa begitu seseorang meninggal dunia, jenazahnya terbujur, diadakanlah "upacara perpisahan" di alam ruh. Pertama-tama ruh mayit dihadapkan kepada seluruh kekayaannya yang dia miliki. Kemudian terjadi dialog antara keduanya. Mayit itu mengatakan kepada seluruh kekayaannya, "Dahulu aku bekerja keras untuk mengumpulkan kamu itu sehingga aku lupa untuk mengabdi kepada Allah Swt., sampai aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, apa yang akan kamu berikan sebagai bekal dalam perjalananku ini." Lalu harta kekayaan itu berkata, "Ambillah dariku itu kain kafanmu." Jadi, tinggal kain kafanlah harta yang dibawa untuk bekal perjalanan selanjutnya.


Sesudah itu si mayit dihadapkan kepada seluruh keluarganya ̶ anak-anaknya, suami atau istrinya ̶ kemudian si mayit berkata, "Dahulu aku mencintai kamu, menjaga dan merawat kamu. Begitu susah payah aku mengurus dirimu, sampai aku lupa mengurus diriku sendiri. Sekarang apa yang mau kalian bekalkan kepadaku pada perjalananku selanjutnya?" Kemudian keluarganya mengatakan, "Aku antarkan kamu sampai ke kuburan."


Setelah perpisahan itu, si mayit akan dijemput oleh makhluk jelmaan amalnya. Kalau orang yang meninggal ini adalah orang yang sering berbuat baik, beramal saleh, maka dia akan dijemput oleh makhluk yang berwajah ceria, yang memandangnya, yang menimbulkan kenikmatan, dan memancarkan aroma semerbak. Makhluk jelmaan itu kemudian mengajak si mayit pergi. Kemudian mayit itu berkata: "Siapakah Anda ini sebenarnya? Saya tidak kenal dengan Anda." Makhluk itu kemudian menjawab: "Akulah amal saleh kamu dan aku akan mengantarkan kamu sampai hari perhitungan (hisab) nanti."


Seperti yang pernah saya katakan, bahwa amal-amal kita nanti akan berwujud. Misalnya, sedekah yang sekarang ini tidak kita lihat wujudnya. Kita hanya mengenalnya sekarang ini sebagai sesuatu yang abstrak. Pekerjaan orang tersebut bisa kita lihat tapi wujudnya tidak dapat kita lihat. Yang menarik adalah bahwa amal saleh yang kita kerjakan akan selalu setia menemani kita sampai alam barzakh.


Tetapi amal jelek juga akan berwujud. Dia akan berwujud wajah yang menakutkan, dengan bau yang menyengat seperti bangkai, dan ia akan terus menemani sampai hari hisab nanti. Kemudian ketika amal buruk itu ditanya, "Siapakah Anda ini sebenarnya?" Maka dia menjawab, "Saya adalah amal kamu yang jelek. Dan aku akan menemani kamu sejak alam barzakh sampai kebangkitan nanti."


Bayangkanlah perjalanan panjang yang ditemani makhluk yang mengerikan dan baunya bahkan melebihi bau bangkai. Padahal kalau kita lihat hadis-hadis Nabi, sedihnya seorang mayit ketika hendak meninggalkan keluarganya melebihi kesedihan seseorang yang harus meninggalkan keluarganya secara tiba-tiba, misalnya pergi ke luar negeri, atau mau pergi menunaikan ibadah haji ke Makkah.


Sang mayit pun akan berpisah dengan seluruh keluarganya bahkan dengan seluruh dunia ini yang pernah dihuninya setelah sekian lama. Setelah berpisah, dia akan hidup sendiri, dilanda kesepian yang luar biasa. Karena itu, beruntunglah kalau dalam kesepian itu ia ditemani oleh teman-teman yang baik.


Itulah perjalanan yang mau tidak mau mesti kita jalani. Sesudah perjalanan itu kita memasuki tempat tinggal yang abadi. Tempat itu bisa merupakan kesenangan yang abadi, yaitu surga; tetapi tempat abadi itu juga bisa berwujud neraka yang amat mengerikan.


Selain perjalanan yang terpaksa (safar qahri), ada pula safar ikhtiyari, yaitu perjalanan yang merupakan pilihan kita. Kita bisa memilih berjalan atau tidak memilih berjalan. Perjalanan ikhtiyari ini sendiri terbagi menjadi dua. Pertama, perjalanan ruhani, atau perjalanan jiwa kita menuju Allah Swt. Dan itulah yang disebut dengan As-Suluk ila Malikil Muluk (perjalanan menuju Raja segala raja). Dalam perjalanan ini kita akan melewati beberapa tahapan sama seperti kita akan melewati beberapa tahapan pada perjalanan qahri tadi.


Kedua, ialah perjalanan fisik. Yaitu pindahnya Anda dari satu kota ke kota lain. Islam sangat menganggap penting perjalanan fisik ini. Dan bahkan mungkin hanya dalam Islam terdapat banyak anjuran mengenai pentingnya melakukan perjalanan. Seperti yang terdapat dalam QS 6: 11; 16: 36; 27: 69; 29: 20; 30: 42; semuanya mengatakan, "... Adakanlah perjalanan di muka bumi....'


Oleh karena itu, salah satu keutamaan haji adalah karena di dalam ibadah haji itu ada unsur safar yang dilambangkan dengan meninggalkan dunianya menuju Rumah Allah, yaitu Baitullah. Tetapi haji itu juga mengandung safar ruhani. Jadi, ibadah haji memiliki dua safar sekaligus.


Dalam shalat, kita hanya mempunyai satu safar, yaitu safar ruhani, tidak safar jasmani. Ketika Anda berjalan untuk menuntut ilmu, Anda dianggap melakukan dua safar. JR



***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

78 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page