top of page
  • Akhi

Memperoleh Syafaat


Anugerah bagi para pencinta Nabi saw adalah syafaatnya yang agung. Syafaat adalah bantuan Nabi saw dengan izin Allah untuk meringankan dan bahkan menghapuskan hukuman bagi para pendosa. Pada zaman Rasulullah saw, ada seorang lelaki bernama Abdullah. Tetapi karena ia sering bercanda, ia dapat julukan Himar (Si Keledai). Ia sering membuat Rasulullah saw tertawa. Beliau pernah menghukumnya dengan mencambuk karena ia minum minuman keras. Pada suatu hari, ia dipanggil kembali dan dicambuk lagi. Seorang sahabat berkata: Ya Allah, laknatlah dia! Betapa sering dia dipanggil karena perbuatannya. Nabi saw bersabda: Janganlah kamu melaknat dia, demi Allah, kamu tidak tahu bahwa ia mencintai Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah saw melarang sahabatnya melaknat peminum khamar itu, karena ia melihat dalam hatinya kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena kealpaannya, karena ketidakmampuan untuk mengendalikan hawa nafsunya, ia sering tergelincir.


Ketaatannya sedikit, maksiatnya banyak, tetapi ia mencintai Allah dan Rasul-Nya. Ia sering bercanda untuk menggembirakan hati Nabi saw. Nabi saw, manusia yang selalu membalas kecintaan para pengikutnya, telah mempersiapkan pertolongannya bagi para pendosa. Setiap Nabi diperkenankan untuk menyampaikan permohonan yang segera dipenuhi, dan Nabi saw meminta agar ia diberikan perkenan untuk memberikan syafaat kepada umatnya yang banyak berbuat dosa. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya syafaatku diperuntukkan buat umatku yang berbuat dosa besar."


Pada zaman Bani Israil ada seseorang yang bermaksiat kepada Allah selama dua ratus tahun. Kemudian ia mati, dan kaumnya menyeret jenazahnya pada kakinya dan melemparkannya ke tempat pembuangan sampah. Lalu Allah memberikan wahyu kepada Musa as: Keluarkan orang itu dan salatkan ia. Nabi Musa as berkata: Tuhanku, Bani Israil sudah bersaksi bahwa ia bermaksiat kepadamu selama duaratus tahun. Lalu Allah menjawabnya dengan wahyu: Memang demikian keadaan dia; hanya saja setiap kali ia membuka Taurat, dan melihat nama Muhammad, ia menciumnya, meletakkannya pada kedua matanya dan bersalawat baginya. Aku berterima kasih kepadanya dan Aku ampuni dosa-dosanya.


Karena orang itu mencintai Rasulullah saw, Allah mencintainya. Karena Dia mencintainya, Dia mengampuni dosa-dosanya. Berdasarkan prinsip inilah terjadi syafaat. Abu Dzar bercerita bahwa Nabi saw bangun malam dan melakukan salat. Ia membaca terus-menerus satu ayat; yakni "Jika Engkau mengazab mereka, mereka adalah hambahamba-Mu. Jika Engkau ampuni mereka, Engkau sungguh Mahaperkasa dan Mahabijaksana" (QS. Al-Maidah: 118). Ia rukuk dan sujud dengan ayat itu. Abu Dzar bertanya: Ya Rasul Allah, tidak henti-hentinya engkau membaca ayat itu sampai subuh. Engkau rukuk dan sujud dengan ayat itu. Nabi saw saw bersabda: Sesungguhnya aku bermohon kepada Tuhanku agar diperkenankan untuk memberikan syafaat buat umatku. Dia memberikan perkenan-Nya. Syafaatku insya Allah akan mencapai siapa saja yang tidak mempersekutukan Tuhan."


Ketika kita salat malam, rukuk dan sujud di depan Tuhan, kita menyampaikan doa-doa kita sendiri. Ketika Nabi saw salat malam, ia menyampaikan permohonan untuk umatnya, untuk kita semua. Inilah kasih sayang Rasulullah saw kepada kita. Seperti Himar, kita banyak berbuat dosa. Kita tidak dapat mengandalkan amal-amal kita. Kita telah berusaha untuk mentaati Tuhan, tetapi hawa nafsu selalu membawa kita kepada kemaksiatan. Kita telah berjalan di jalan lurus, tetapi setan berulangkali menggelincirkan kita. Seperti lelaki pendosa pada zaman Bani Israil, kita telah mengisi seluruh hidup kita dengan kemaksiatan. Tetapi kita ingin menyiram benih kecintaan kita kepada Nabi saw dengan salawat dan salam kita kepadanya. Akhirnya, seperti perempuan tua dari Madura, kita ingin setiap tempat dan waktu bersaksi bahwa kita gumamkan kerinduan kita kepada Nabi saw dalam senandung salawat kita.



Insan mulia, pandanglah hamba

Engkau sajalah sumber kurnia

Gali hatiku, pandanglah dia

Balikkan dia sesuka dikau

Jika di hati tiada dikau

Jauhkan daku, jauhkan daku


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

137 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page