• Akhi

MENCARI KENIKMATAN SHALAT

Updated: Oct 21


Ada kawan saya yang mendatangi beberapa guru, belajar beberapa aliran tarekat, dengan maksud ingin merasakan kenikmatan shalat. Dia pernah hadir dalam sebuah pengajian. Dari gurunya, dia diberi bermacam-macam bacaan yang harus diucapkan sebelum shalat; agar shalatnya memperoleh kekhusyukan dan kenikmatan.


Pernah dia shalat bersama kawannya yang lain. Semua orang menangis terisak-isak. Dia sendiri tidak bisa menangis. Dia memandang kenikmatan shalat itu berasal dari tangisan. Makin keras menangis di waktu shalat, makin banyak air mata keluar, makin terasa shalat itu nikmat baginya.


Kawan saya ini, seorang purnawirawan, sukar sekali menangis kalau shalat. Tetapi dia bercerita kepada saya bahwa dia mudah menangis, kalau dia melihat dalam televisi atau pesawat radio-seorang anak manusia yang menderita karena dianiaya atau disakiti hatinya. Disitu dia memperoleh kenikmatan dalam menangis. Tangisan yang sama tidak bisa dia keluarkan ketika dia shalat.


Kawan saya itu bertanya bagaimana caranya menangis dengan keras dalam shalat. Dia ingin merasakan kenikmatan shalatnya. Pada saat itu saya katakan kepadanya, Bapak lebih baik menangis ketika melihat penderitaan orang lain ketimbang menangis pada waktu shalat. Menangis yang pertama lebih bermanfaat ketimbang menangis yang kedua. Menangis di waktu shalat mungkin hanya menguntungkan diri Anda saja. Boleh jadi, tidak ada bekasnya sesudah itu."


Dia menukas, "Betul. Saya pernah menyaksikan seseorang dalam rombongan jamaah haji. Ketika dia shalat di Masjidil Haram, dia menangis keras. Tetapi begitu keluar dari Masjidil Haram, dia tertawa terbahak-bahak. Tidak tampak bekas tangisan itu sesudahnya."


Buat saya, kenikmatan shalat tidak diukur dengan kemampuan menangis. Memang tidak ada jeleknya menangis ketika shalat. Nabi sendiri mengajarkan kepada kita untuk menangis. Beliau bersabda: "Kalau kamu tidak bisa menangis, maka usahakan supaya kamu dapat menangis."


Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di tengah malam, pemah Rasulullah Saw. bangun. Dia menemuinya dan mengatakan: "Hai Aisyah, izinkanlah saya beribadah kepada Tuhanku." Aisyah berkata, "Ya Rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada Tuhanmu." Lalu Rasulullah mengambil gharibah (wadah air) satu-satunya perkakas rumah tangga di rumahnya untuk berwudhu dan melakukan shalat.


Siti Aisyah bercerita, segera saja setelah Rasulullah Saw. mengangkat tangannya takbiratul ihram, ketika dia memasuki surah yang dibacanya, Rasulullah menangis terisak-isak. Begitu pula ketika sujud. Janggutnya basah dengan air matanya. Usai shalat, ketika Bilal memberitahukan bahwa sesaat lagi akan masuk waktu subuh, Rasulullah masih terisakisak menangis. Bilal bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?" Waktu itu Rasulullah menjawab, "Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?"


Kemudian Rasulullah bersabda: "Pada malam ini turun satu ayat Al-Quran. Celakalah orang yang membaca ayat Al-Quran ini, tapi tidak merenungkan maknanya. Kemudian Rasulullah Saw. membacakan ayat: Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS 3: 190)


Rasulullah Saw. shalat dalam keadaan menangis. Para awliya', orangorang yang saleh, juga menangis pada waktu shalat. Kita juga dianjurkan, kalau bisa, shalat dalam keadaan menangis.


Karena orang melihat contoh dari Rasulullah Saw., sahabat, dan para kekasih Allah, maka mereka menduga bahwa kenikmatan shalat hanya terletak pada tangisan. Kalau dia tidak bisa menangis pada waktu shalat, maka orang membuat cara bagaimana menciptakan suasana agar bisa menangis ketika berdoa. Sehingga ada yang kita sebut "rekayasa spiritual" (spiritual engineering).


Dahulu, dan mungkin belakangan ini, ada anak-anak muda yang dididik dalam training-training: apakah itu pesantren kilat, atau studi Islam intensif, atau apa saja namanya. Pada hari terakhir acara, biasanya pada tengah malam, diadakanlah apa yang disebut renungan suci. Renungan suci ini dinilai berhasil apabila semua peserta menangis. Lebih berhasil lagi kalau mereka menangis histeris dan sesudah itu dirawat di rumah sakit jiwa.


Mereka berkata bahwa dengan tangisan itu orang merasakan kenikmatan shalat. Sekali lagi, itu tidak salah. Kalau bisa, menangislah ketika shalat. Sadari segala dosa-dosa dan perbuatan yang tercela. Mohonkan ampunan di waktu shalat.


Akan tetapi, biasanya dari pengalaman banyak orang dan juga seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw., shalat dengan menangis itu umumnya hanya bisa dilakukan kalau kita sedang melakukan shalat malam. Saya belum membaca keterangan hadis Rasulullah Saw. bahwa beliau menangis pada waktu shalat fardhu. Kita hanya mendengar riwayat tangisan Rasulullah itu ketika beliau melakukan shalat sunnah, terutama sekali shalat malam.


Nabi mengajarkan kepada kita bagaimana cara melakukan shalat malam. Di bawah ini saya akan menyampaikan apa yang diajarkan oleh Rasulullah. Dengan mengikuti petunjuk Nabi, saya menjamin bahwa saudara akan terisak-isak menangis ketika melakukannya.


Pertama, ketika shalat malam, shalatlah dua rakaat-dua rakaat, karena Rasulullah Saw, paling sering melakukan shalat malam dua rakaat-dua rakaat (matsna-matsna). Sesudah empat kali dua rakaat (berarti delapan rakaat). Anda lakukanlah shalat dua rakaat lagi yang disebut dengan shalat syafa'. Pada rakaat pertama, Anda baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Kafirun; dan pada rakaat yang kedua, Anda baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Ikhlash. Kemudian lakukanlah shalat witir satu rakaat. Bacalah Surah Al-Fatihah, Surah Al-Falaq, dan Surah Al-Nas. Kemudian bacalah istighfar sebanyak tujuh puluh kali (astaghfirullaha rabbi wa atubu ilayh). Aku memohon ampun kepada Allah Tuhanku dan kembali kepada-Nya.



Memohon ampunan di waktu dini hari, pada saat shalat malam, ditegaskan di dalam Al-Quran sebagai salah satu tanda orang-orang yang bertakwa.


Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun kepada Allah. (QS 51:18)


Setelah istighfar, sebelum ruku', bacalah doa: Hadza magamul 'aidzi bika minannar (Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka) sebanyak tujuh kali.


Sesudah itu, mohonkanlah ampunan bagi kaum Mukminin dan Mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang, Ucapkanlah Rabbighfir li... wa..., dan seterusnya. Kemudian kita berdoa apa saja. Lalu kita ruku', i'tidal, sujud, tasyahud, dan seterusnya.


Insya Allah, Anda akan merasakan kenikmatan menangis pada waktu dini hari. Menangis di hadapan Allah Swt. Ini semua dilakukan pada saat shalat sunnah, tidak pada shalat fardhu.


Mengapa? Pada waktu shalat fardhu, kita dianjurkan untuk memperpendek bacaan shalat, karena boleh jadi ada orang yang hendak melakukan keperluannya di tempat lain. Mungkin juga ada orang yang sangat tua, atau ada di antara pengikut shalat yang sedang sakit. Karena itu Rasulullah hanya memperpanjang shalatnya pada saat beliau melakukan shalat malam. Pada shalat fardhu, Rasulullah tidak melazimkan shalat yang panjang.


Saya kira, menangis yang tulus, tanpa rekayasa, adalah menangis pada waktu kita melakukan shalat sendirian. Kalau kita menangis dalam keadaan ramai-ramai, maka boleh jadi penyebab tangisan itu adalah sugesti kelompok, karena kita mendengar orang lain terisak-isak, kita ikut menangis juga.


Mungkin ada orang yang tulus juga dalam menangis pada shalat bersamaan itu, tetapi saya kira lebih tulus lagi kalau Anda menangis pada waktu sendirian, ketika kita berduaan dengan Allah Swt. Tangisan yang keluar spontan adalah tangisan yang ikhlas. Dan mata yang menangis karena Allah Swt. adalah mata yang tidak akan disentuh api neraka.


Tetapi, sekali lagi, apakah betul kenikmatan shalat itu hanya terletak pada waktu menangis saja? Dalam sebuah hadis qudsi pernah diungkapkan tanda-tanda orang yang shalatnya diterima oleh Allah Swt. Artinya, kalau seseorang menemukan tanda-tanda seperti yang diungkapkan oleh hadis tersebut dalam shalatnya, maka insya Allah dia akan menemukan kenikmatan shalat dalam bentuk yang lain. Dia akan merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari shalatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis saja, tetapi juga kenikmatan yang lain.


Kalau selama ini shalat kita belum mendatangkan kenikmatan, maka besar kemungkinan shalat kita belum diterima oleh Allah Swt. Rasulullah Saw. yang mulia bersabda: "Pada hari kiamat nanti ada orang yang membawa shalatnya kepada Allah Swt. Kemudian dia mempersembahkan shalatnya kepada Allah Swt. Lalu shalatnya dilipat-lipat seperti dilipatnya pakaian yang kumal kemudian dibantingkan ke wajahnya. Allah tidak menerima shalatnya."


Banyak sekali orang yang shalat dan shalatnya akan dibantingkan ke wajahnya, ditolak oleh Allah Swt. Bahkan ada yang celaka dengan shalatnya. Allah Swt. berfirman:


Celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang melalaikan shalatnya. (QS 107: 4-5).


Bersambung pada pembahasan Tanda-Tanda Shalat yang Diterima Allah Swt. https://www.jalanrahmat.id/post/tanda-tanda-shalat-yang-diterima-allah-swt





KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

97 views0 comments