• Akhi

Mengatasi Depresi


Kebahagiaan ditandai dengan ketiadaan rasa takut dan sedih hati, yang dalam bahasa Al-Quran disebut dengan khauf dan huzn. Di dalam Al-Quran disebutkan, Ingatlah, tidak ada rasa takut dan sedih hati bagi para kekasih Allah (Yûnus: 62).


Ketakutan bisa terjadi karena peristiwa masa lalu atau yang disebut dengan trauma atau karena peristiwa masa depan- yang sebetulnya belum pasti terjadi- yang disebut anxiety. Orang yang mengidap trauma ataupun anxiety sama-sama tidak bisa menikmati masa kini. Baik trauma atau anxiety, keduanya merupakan gangguan kejiwaan.


Anxiety hanya terjadi pada manusia. Sebab, dalam otak manusia ada yang disebut dengan lobus fontal: bagian depan otak manusia yang berfungsi memikirkan dan merencanakan masa depan. Sebab itu pulalah manusia beragama. Dalam Al-Quran disebutkan, Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah. Dan, hendaknya setiap orang mau mengevaluasi apa yang telah lalu, untuk kebaikan hari esok (al-Hasyr: 18). Titah itu hanya diperuntukkan bagi manusia, sebab hanya mereka yang dianugerahi mampu mengingat masa lalu untuk kemudian memikirkan masa depan.


Pada saat bersamaan, kemampuan itu juga dapat membuat manusia memiliki kekhawatiran dan ketakutan. Berbeda dengan binatang yang baginya semua adalah present tense dan tidak ada future tense. Lihat saja sapi-sapi di tempat penjagalan. Di depannya ada sesama sapi yang menggelepar-gelepar disembelih, sapi-sapi yang lain tetap santai mengunyah rumput, tak takut dan gelisah bahwa pada gilirannya ia pun akan disembelih.


Sebab itu, sekarang ini, ada tokoh-tokoh yang mengajarkan bahwa nikmatilah hidup yang sedang dihadapi, hiduplah pada masa kini, jangan memikirkan masa lalu dan masa depan. Sebab, masa lalu telah lewat dan masa depan belum tiba. Konon, ajaran semacam itu telah ada sejak zaman Yunani. Barangkali ajaran seperti itu adalah untuk menghindari ketakutan-ketakutan yang dapat mengganggu jiwa. Tapi, yang seperti itu tentu saja tidak mungkin akan terjadi. Kemampuan memikirkan masa lalu dan masa depan sudah merupakan fitrah manusia.


Nah, dengan apa seseorang membangun masa lalu dan masa depannya, sehingga membuat ia bahagia atau berduka? Dengan cerita. Manusia adalah makhluk yang setiap hari menyusun cerita untuk peristiwa yang sudah, sedang, dan yang akan terjadi pada dirinya. Dengan sudut pandang seperti apa sebuah cerita tentang masa lalu atau masa depan tersusun, akan memengaruhi apakah pada masa kini seseorang akan bahagia atau menderita. Misal, saya membangun cerita saya sendiri tentang pertemuan pengajian yang akan datang. Karena hari ini saya datang terlambat sehingga para jamaah agak kecewa, lalu saya berasumsi bahwa para jamaah akan berpikir, pada pertemuan selanjutnya pasti saya akan datang terlambat seperti kali ini. Lalu, mereka tidak percaya lagi dan melabeli jika saya adalah penceramah yang selalu terlambat menghadiri undangan. Saya pun gelisah dan merasa tidak terhormat dengan label seperti itu. Saya menderita khauf, kecemasan yang muncul dari pikiran-pikiran dan cerita-cerita saya sendiri.


Dan, kecemasan-kecemasan tak hanya muncul dari cerita-cerita yang kita bangun sendiri, tapi juga bisa hadir dari cerita-cerita orang lain tentang kita. Rasulullah pernah mendapat nasihat dari Allah agar jangan terlalu berduka dengan omongan-omongan orang. Dalam Al-Quran disebutkan, Jangan sampai ucapan mereka membuatmu sedih (Yâsîn: 76).


Pada saat itu, banyak cerita tentang Rasulullah yang disebarkan oleh para pembencinya. Ada yang menyebut Rasulullah gila, tukang sihir, pembohong, dan fitnah-fitnah lainnya. Allah menasihati Rasulullah agar semua itu jangan terlalu dipikirkan. Omongan-omongan mereka harus dilihat dari sudut lain agar tidak menjadi beban pikiran dan membuat sedih. Ini sebenarnya menjadi terapi: salah satu mengatasi depresi adalah dengan meninjau kembali jalan pikiran tentang peristiwa lalu memperbaiki cerita tentangnya.


Ada beberapa tips untuk menghindari anxiety, antara lain, pikirkanlah penderitaan-penderitaan yang lebih besar, baik yang pernah kita atau orang lain alami. Sebab, anxiety merupakan ketakutan yang bermula dari cara berpikir. Maka, mesti ditandingi dengan mengalihkan cara berpikir itu. Ada sebuah kisah fiktif jenaka ...


Suatu ketika pada zaman penjajahan, tentara Belanda merazia terhadap para pedagang buah. Mereka yang tertangkap akan dihukum sesuai dengan buah yang dijualnya, yaitu buah itu akan dimasukkan ke anus si penjual. Singkat cerita, ada tiga pedagang salak yang tertangkap. Mereka pun dihukum. Penjual pertama menjerit kesakitan. Demikian pula yang kedua. Giliran penjual ketiga. Belum juga dihukum, ia sudah tertawa terbahak-bahak. Apa pasal? Ternyata dia melihat penjual duren yang juga tertangkap dan membayangkan hukuman yang bakal diterima.


Tips lain menghindari anxiety adalah melakukan perbuatan baik yang membahagiakan batin, seperti berbagai kebahagiaan dengan orang lain. Sebab, selalu ada kebahagiaan dalam diri jika kita membahagiakan orang lain. Hal-hal seperti itu dapat mengikis kecemasan dan kegelisahan dalam diri. Dan, sejalan dengan semua itu, tentunya pengobatan secara medis juga jangan dilupakan.



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

22 views0 comments

Recent Posts

See All