• Akhi

Mengendalikan Marah


MARAH muncul dari dalam diri sebab kita merasa dunia ini berjalan tidak seperti yang kita kehendaki. Kita mengharapkan alam sekitar mau menuruti kemauan kita. Kita ingin agar tidak ada yang menyalip mobil kita, kita menghendaki tidak terjadi kemacetan saat berangkat atau pulang kantor, kita ingin suami atau istri kita seperti ini, jangan seperti itu. Dan, ketika semua itu tidak terjadi, kita pun marah. Padahal seharusnya tidak demikian. Kita tidak bisa mengharapkan keadaan sekitar kita menjadi seperti yang kita inginkan, alam di sekitar kita ada dalam kendali kita. Tapi, yang bisa kita kendalikan adalah diri kita masing-masing. Sebab itulah Al-Quran menyatakan, Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mau memulai sendiri perubahan itu (al-Ra'd: 11). Jika setiap diri mau berubah, niscaya akan terjadi perubahan kolektif.


BERIKUT ini saya sebutkan beberapa langkah mengendalikan amarah.

  1. Mengidentifikasi penyebab marah. Terkadang, penyebab nya adalah hal-hal yang sama.

  2. Menandai tanda-tanda munculnya kemarahan, agar tahu, kemarahan diri kita sudah benar-benar hilang atau sesungguhnya hanya terpendam sementara yang setiap saat bisa kembali meledak.

  3. Berwudu, seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah. Sebab, marah berasal dari setan dan setan tercipta dari api. Dan, api akan redup jika disiram air. Maka, marah akan berhenti jika orang yang bersangkutan berwudu. Kemudian shalat, memohon pertolongan Allah agar kemarahan itu segera dipadamkan.

  4. Mengubah persepsi terhadap pemicu kemarahan. Se bab, terkadang, sesuatu yang membuat kita marah belum tentu juga bisa membuat orang lain marah. Lalu, tak ada salahnya kemudian kita melihat pemicu itu dengan seperti sudut pandang orang lain itu, sehingga kemarahan tidak akan muncul.


Nah, di bawah ini gaya gaya marah yang teridentifikasi, Pertama, acting out atau meledakkan kemarahan, seperti membuka jendela kemudian memaki-memaki sepuasnya atau meninju sepuasnya orang yang dituju. Marah semacam ini tidak membahayakan yang bersangkutan dari segi kejiwaan, tapi tentu saja membahayakan orang lain.


Berdasarkan penelitian di Amerika, keadaan alam yang panas ternyata juga dapat meningkatkan kemarahan. Pada musim panas, kemarahan lebih bisa meledak daripada saat musim dingin. Saya pernah tinggal di Iran. Orang-orang Iran itu terkenal halus. Tapi, kalau musim panas tiba, saya hampir selalu melihat sopir yang bertengkar di pinggir jalan. Maka, Rasulullah ini luar biasa. Keadaan Arab yang panas tak membuatnya menjadi pemarah. Ia justru menjadi orang yang santun dan pemaaf. Jadi, puncak kelebihan seseorang itu terjadi jika ia telah menerobos kendala-kendala alam dan warisan-warisan genetik untuk kemudian hidup secara autentik.


Kedua, dumping, yaitu melampiaskan kemarahan kepada orang yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan sebab musabab kemarahan itu. Seperti seorang guru, misalnya, yang marah kepada istrinya, lalu, ia melampiaskan kemarahan itu kepada anak-anak didiknya di sekolah.


Ketiga, burying, yaitu memendam kemarahan dalam lubuk hati. Tak bisa hilang, namun, juga tak dilampiaskan. Selalu menampilkan sikap biasa padahal hatinya terus bergejolak. Yang seperti ini sebenarnya tidak baik juga. Saya pernah membaca sebuah buku tentang orang-orang dewasa yang mengalami gangguan jiwa sebab selalu memendam perasaannya, baik rasa benci maupun rasa suka, sejak masa kanakkanak. Perasaan-perasaan itu tak pernah diekspresikan. Jadi, jika anak-anak kita sedang marah, biarkan saja itu terjadi, termasuk jika sedang suka terhadap sesuatu. Biarkan mereka mengekspresikan isi hatinya. Yang perlu orang tua lakukan hanya mengarahkan. Dan, mengarahkan tidak sama dengan melarang.



Sekolah saya, SMA Muthahhari, pernah kedatangan rombongan dari Jakarta. Saya terima mereka dengan sambutan terbaik. Tapi, pada sesi pertanyaan seusai saya menyampaikan ceramah, mereka justru mengkritik sekolah saya. Terus terang, saya agak kesal dan marah. Tapi saya tidak bisa melakukan dengan gaya-gaya tersebut di atas. Saya tidak bisa melakukan acting out, dumping, burying. Lalu, kemarahan itu saya ungkapkan dengan menulis surat kepada kepala Dinas Pendidikan di Tanjung Priok. Barulah kemudian saya merasa tenang kembali.


Seorang veteran Perang Vietnam mengalami gangguan jiwa, trauma sedemikian rupa terhadap peperangan itu, sering mimpi buruk, dan sebagainya. Veteran itu lalu menemui kawannya yang bukan seorang psikiater, melainkan seorang penulis. Kepada kawannya itu, si veteran menceritakan keadaan dirinya. Ia ingin hidup normal tanpa trauma.


Kawan penulis tersebut lalu meminta veteran itu menulis semua yang ia tahu, yang ia alami, yang ia rasakan, dan yang menjadi beban jiwa dan pikiran, tentang perang Vietnam itu. Pelan tapi pasti, si veteran itu kembali menemukan stabilitas jiwanya dan tak lagi trauma. Jadi, orang yang sedang marah dan menyimpan banyak hal dalam benaknya, sebaiknya selalu mendapat pendampingan dari orang yang tenang dan mampu menenangkan. Jangan sampai ia dikumpulkan dengan orang yang emosinya tidak stabil atau orang yang mudah tersulut emosi.


Salah satu usaha agar jiwa kita selalu sehat dari berbagai penyakit adalah dengan bersedia berkorban. Orang yang berkorban adalah orang yang jiwanya tak terbelenggu oleh apa yang dimilikinya. Berbeda dengan orang kikir yang selalu merasa harus menjaga hartanya, lahir dan batin. Bagi orang kikir, harta akan menjadi tuan, sementara pemiliknya menjadi hamba yang harus menjaga dan melayani harta itu. []




KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

24 views0 comments

Recent Posts

See All