top of page
  • Akhi

Menghindari Su’ul Khatimah


Pada suatu hari, ada satu rombongan dari Iran berkunjung ke Najaf. Najaf, adalah sebuah kota di Irak tempat dimakamkannya Imam 'Ali k.w. Di situ juga terdapat banyak pesantren. Hampir semua ulama-ulama besar di kalangan Ahlul Bait, pernah singgah dan belajar di Najaf ini. Salah seorang ulama mengajak saya untuk sekali waktu belajar juga di Najaf, sekaligus mengambil berkah dari ulama-ulama besar di sana. Imam Khumaini juga pernah menghabiskan masa mudanya di Najaf.


Karena menjadi pusat ilmu pengetahuan, Najaf kemudian memperoleh gelar Najaf Al-Asyraf, Najaf yang mulia. Kota ilmu kedua setelah Najaf adalah Qum. Najaf ini, seperti kita ketahui pada peperangan akhir-akhir ini, sudah jatuh sebelum Bagdad. Ketika tentara Inggris mau masuk ke Najaf, mau menjarah Masjid Imam 'Ali yang ada di situ, seluruh penduduk Kota Najaf berbaris membentuk tameng-tameng hidup. Ribuan manusia berbaris di jalan raya menghalangi tentara Inggris yang mau masuk ke situ. Tampaknya semua penduduk itu bertekad untuk syahid, demi mempertahankan kesucian Kota Najaf.


Ada satu rombongan dari Iran berkunjung kepada salah seorang ulama di Najaf. Sebelum berpisah, sebelum pulang ke kampung halamannya, mereka meminta doa supaya memperoleh husnul khâtimah (di kalangan mazhab Ahlul Bait, istilah yang lebih populer bukan husnul khâtimah, melainkan husnul 'agibah), "ujung yang paling baik, ujung kehidupan yang paling baik". Jadi, mereka meminta doa agar memperoleh husnul khatimah. Doanya pendek, bunyinya: "Allahummaj'al aqibata amrina khaira ya Allah, jadikanlah ujung dari urusan kami ini kebaikan." Kepada yang hadir waktu itu, katanya, Mirza Al-Kabir, quddisa sirruh, ulama besar itu berkata, "Mereka minta doa kepadaku doa yang paling penting, dan tidak ada doa yang lebih utama dan lebih penting daripada doa yang tadi." Yaitu kita berdoa, mudah-mudahan akhir dari urusan kita kebaikan, karena kalau akhir urusan itu keburukan, kita termasuk orang yang paling rugi. Akhir yang buruk itu disebut sa'ul aqibah, atau lebih populer di tempat kita sebagai su'ul khâtimah.


Al-Quran bahkan mengajari kita doa supaya kita terhindar dari sa'ul khâtimah: "Rabbana la tuzigh qulubana ba'da idz hadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka antal wahab. Ya Allah, janganlah kau gelincirkan hati kami setelah kau berikan petunjuk kepada kami, anugerahkanlah kepada kami kasih sayangmu, sesungguhnya Kau Maha Pemberi Anugerah."


Tergelincirnya hati setelah mendapat petunjuk adalah ciri sa'ul khatimah. Jadi, kalau kita mengalami kehinaan setelah kemuliaan, atau mengalami niqmah setelah ni'mah, mengalami bencana setelah mendapat anugerah, memiliki kemalangan setelah memperolah keberuntungan, kita masuk dalam sú'ul khatimah. Di dalam Al-Quran misalnya Allah memberikan contoh satu negeri yang mengalami sa'ul khâtimah itu, misalnya QS Al-Nahl (16): 112, "Allah berikan perumpamaan satu negeri yang aman tenteram dan damai, rezekinya datang melimpah dari setiap penjuru lalu penduduk itu kafir kepada nikmat Allah, dan Allah timpakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan lantaran apa-apa yang mereka lakukan." Negeri itu memperoleh sû'ul khâtmah, karena semula negeri itu makmur, tapi kemudian negeri itu hancur. Mula-mula negeri itu memperoleh makanan dari segala penjuru, tapi karena mereka kafir kepada nikmat Allah, mereka memperolah bencana demi bencana.


Ciri yang lain dari su'ul khatimah adalah mengalami kekafiran atau kedurhakaan, setelah memperoleh keimanan dan ketakwaan. Orang-orang yang ketika masa mudanya baik-baik, banyak melakukan amal saleh, tetapi di ujung hidupnya setelah kekayaan mengalir kepadanya, dia melakukan kemaksiatan, itu sû'ul khatimah. Kekufuran dan kefasikan, setelah keimanan dan ketakwaan. Karena itu, di dalam Islam, kalau ada orangtua melakukan kemaksiatan, dia akan memperoleh siksaan lebih banyak, memperoleh ancaman lebih banyak daripada anak muda yang melakukan kemaksiatan yang sama. Bahkan Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa ada tiga orang yang tidak akan Allah perhatikan dia pada hari kiamat, dan Allah tidak akan bersihkan dia. Dua di antaranya: orang tua yang berzina dan orang miskin yang takabur. Anak muda yang berzina itu berdosa, tapi orang tua yang berzina itu berdosa lebih besar lagi, karena dia berada di ujung kematiannya. Dia mengalami sú'ul khâtimah atau sû'ul aqibah.


Sebenarnya, selama kita di dunia ini, Allah telah membersihkan diri kita dengan berbagai ujian dan musibah. Kita juga membersihkan diri kita dengan istighfar, dengan bertobat, dengan amal saleh. Nanti, kalau maut menjemput kita, dan masih ada dosa-dosa di dalam diri kita, Allah belum mau menerima kita. Maka di alam kubur kita memperoleh pembersihan berikutnya, yaitu dengan azab kubur, juga dengan doa-doa kaum Muslim yang dikirimkan kepada kita, dengan amal saleh orang-orang Islam terhadap kita. Kalau dengan itu pun belum bersih juga dosa kita, nanti ketika dibangkitkan pada Hari Akhirat, kita akan mengalami kesusahan yang luar biasa, kemelut yang menakutkan pada hari kiamat nanti. Kemelut itu juga menjadi pembersih terhadap dosa-dosa kita. Kalau itu pun belum bersih juga,- kata peribahasa Arab, akhiru dawa al kei-,obat yang terakhir adalah kei. Dulu ada kebiasaan orang mengobati, kalau penyakit tak sembuh-sembuh, obat yang terakhir itu adalah kei. Besi dibakar hingga membara, kemudian ditempelkan ke bagian orang yang sakit itu. Pengobatan itu di- sebut "kei".


Neraka sebenarnya adalah ungkapan kasih sayang Allah, untuk membersihkan kita. Tapi ada juga yang sudah dimasukkan ke neraka masih belum bersih juga, lalu dia berharap untuk memperoleh syafaat Rasulullah Saw., atau para imam yang suci. Kalau itu pun tidak dia peroleh, tinggal satu harapan lagi, yaitu kasih sayang Allah. Allah memerhatikan dia kemudian Allah menyucikan dia. Itu adalah yang terakhir.


Tetapi, kata Rasulullah Saw., ada orang yang sampai terakhir pun Allah tidak memerhatikan dia. Siapa orang yang malang tersebut? Orang-orang yang termasuk so'ul khatimah? Kata Nabi, ada tiga orang:

  1. Kehinaan setelah kita mengalami kemuliaan.

  2. Kekafiran setelah kita beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.

  3. Meninggalkan dunia ini tanpa membawa keimanan atau meninggalkan dunia dalam keadaan berbuat dosa. Inilah yang paling buruk.

Dalam sejarah Islam, ada banyak contoh orang yang mengalami sû'ul khâtimah. Al-Quran menyuruh Rasulullah Saw. memberikan pelajaran pada umatnya tentang bahaya sa'ul khatimah itu. Orang Islam itu harus selalu takut jatuh pada sû'ul khâtimah, dan ketakutan itu baru hilang setelah malaikat maut mencabut nyawanya. Barulah dia tahu apakah dia termasuk sû'ul khâtimah atau husnul khâtimah.


Rasulullah disuruh membacakan kepada seluruh umatnya kisah orang-orang yang mengalami sú'ul khatimah, untuk dijadikan pelajaran bahwa orang yang saleh sekarang ini mungkin orang yang akhlaknya baik, yang ahli ibadah, bisa saja mengakhiri hidupnya sebagai orang yang berbuat kefasikan. Allah berfirman kepada Rasul-Nya, Bacakan oleh kamu (Muhammad) kepada orang-orang Islam itu kisah orang-orang yang telah kami berikan kepada dia ayat-ayat kami kemudian dia melepaskan dirinya dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti setan, maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat (QS Al-A'râf [7]: 175).


Biasanya orang sesat itu mengikuti setan, tapi di sini Al-Quran bercerita setan pun sampai ikut kepadanya. Dia jadi imamnya setan dan dia termasuk orang-orang yang sesat.


Menurut para ahli tafsir, ayat ini bercerita tentang seorang ulama besar yang mempunyai banyak pengikut dan doanya selalu dikabulkan Allah. Para ulama menyebut dia memperoleh asma Allah yang agung, yang kalau dia sebutkan Allah pasti mengabulkan doanya. Dia orang yang sangat saleh. Tetapi kemudian dia tertarik dengan dunia. Dia hidup pada zaman Nabi Musa a.s. Setelah dia menjadi ulama besar, setelah dia memperoleh ayat-ayat Allah, setelah dia mengetahui nama Allah yang agung, kemudian di akhir hayatnya dia tertarik dengan dunia, lalu dia bergabung dengan Fir'aun, kata Al-Quran berikutnya: Sekiranya Kami kehendaki, Kami angkat derajatnya (karena ilmunya, dan kesalehannya itu), dengan ayat-ayat itu, tetapi karena dia ini tertarik kepada urusan dunia, dia tertarik ke bumi, (bukan tertarik ke langit), dan mengikuti hawa nafsunya. Perumpamaannya seperti anjing yang jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga (QS Al-A'râf [7]: 176).


Dia bergabung dengan Fir'aun dan dia diminta berdoa untuk kecelakaan kaum Nabi Musa. Berangkatlah dia ke sebuah tanah lapang untuk membacakan--kalau sekarang mungkin semacam istighasah--doa bersama untuk kecelakaan Nabi Musa. Waktu dia berangkat ke tanah lapang dia mengendarai keledai. Ajaib, keledai itu tidak mau berangkat, dia mogok. Walaupun dia pukuli keledainya, tetap ia tidak mau berjalan. Kemudian Allah membuat keledai itu bicara, "Celaka kamu, kenapa kamu pukuli aku. Apakah kamu ingin aku mendatangi bersama kamu suatu tempat agar kamu mendoakan kejelekan bagi Nabi Allah dan kaum Mukmin." Tidak henti-hentinya keledai itu dipukuli sampai akhirnya keledai itu mati. Kata para ulama, ada dua ekor binatang yang tinggal di surga nanti: anjing ashabul kahfi dan keledainya Bal'am bin Baurah.


Allah memberikan perumpamaan dengan keledai itu, untuk memberikan pelajaran bahwa seorang ulama yang bisa dibeli dengan dunia, yang menjual agamanya karena dunia, derajatnya lebih rendah daripada keledai. Keledai yang ditungganginya bisa masuk surga, tapi ulamanya bisa masuk neraka. Al-Quran memberikan perumpamaan ulama yang mengalami sú'ul khâtimah itu, dengan perumpamaan yang paling keras. Perumpamaan dia, kata Al-Quran seperti perumpamaan anjing: kalau kau serang dia, dia julurkan lidahnya; kalau kau tinggalkan dia, dia tetap menjulurkan lidahnya. Sebagian ulama mengatakan, ulama-ulama yang seperti itu, tidak henti-hentinya menyebarkan fitnah. Kalau kita serang, keluar fitnah dari mulutnya; kalau tidak kita serang, juga tetap saja keluar fitnah dari mulutnya, karena kecintaannya pada dunia.


Pada zaman Rasulullah Saw., ada juga beberapa contoh orang yang mengalami sû'ul khatimah. Salah satu contoh yang terkenal adalah Tsa'labah bin Hatim. Tsa'labah itu orang miskin yang sangat rajin beribadah. Dia sering iktikaf di Masjid Nabi. Suatu saat, ia meminta Nabi untuk mendoakannya agar dia memperoleh kekayaan. Kata Rasulullah Saw., "Rezeki yang sedikit yang bisa kau syukuri lebih baik daripada rezeki yang banyak yang tidak bisa kau syukuri. Bersabar dalam kefakiran lebih baik daripada memperoleh kekayaan lalu kamu tidak bisa mensyukurinya." Tapi dia bersikukuh agar diberi kekayaan. Akhirnya Rasulullah mendoakan. Ringkas cerita, akhirnya dia menjadi kaya raya. Dan begitu dia kaya, dia tinggalkan shalat berjamaah. Dia tidak pernah lagi menghadiri majelis Nabi. Dia sibuk dengan ternaknya di pegunungan. Ketika Nabi menagih zakat, dia menolak untuk membayar zakat, sampai kemudian Nabi mengutuk dia, melaknat dia. Nabi berwasiat agar orang tidak mau menerima harta dari dia. Kelak pada zaman Abu Bakar, dia mau menyerahkan zakat, tapi Abu Bakar tidak mau menerimanya.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

149 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page