top of page
  • Akhi

Meninggalkan Hawa nafsu Menuju Tuhan


Abu Imran Al-Wasithi, salah seorang sufi besar pada abad XII H, bercerita ;

Pada suatu hari, aku berada pada sebuah kapal di lautan. Tanpa diduga kapal itu bocor. Tinggalah aku dan istriku yang sedang hamil. Tiba-tiba ia melahirkan anak. Ia menginginkan air. Aku angkat kepalaku ke langit, memohon kepada Allah agar diberikan air minum untuk istriku. Ketika aku melihat ke langit, ada seorang lelaki yang duduk di atas udara. Pada tangannya ada cawan air kemerah-merahan seperti disepuh emas. Ia berkata, “Ambillah cawan air ini”. Aku keheranan. Bagaimana mungkin ia bisa berada di atas awan. (Dalam bahasa Arab, awan disebut hawa). Ake bertanya kepadanya, “Bagaimana Kau bisa berada di atas hawa.?” Ia menjawab, “Taraktu hawaya fa ajlasani fil hawa; aku sudah meninggalkan hawa nafsuku; karena itu, Tuhan memberiku kedudukan di atas hawa”.


Seperti biasa, kisah kisah sufi tidak bisa dicerna begitu saja. Kita harus merenung agak dalam. Dalam perjalanan seorang sufi, dalam rangka mendekati Allah Swt, tidak ada penghalang yang paling besar yang menutupi jalan menuju Tuhan, selain hawa nafsu.


Hawa nafsu artinya keinginan-keinginan diri. Nafsu diterjemahkan sebagai egoisme; kecenderungan untuk mencapai keinginan-keinginan diri. Keinginan untuk mencapai kenikmatan sensual, kesenangan jasmaniah, keinginan untuk makan dan minum, bersenang senang, keinginan untuk diperhatikan, diistimewakan dan dianggap orang yang paling penting, yang biasanya lazim kita sebut sebagai kepongahan atau arogansi itu, semuanya termasuk hawa nafsu. Tuhan tidak bisa didekati bila hawa nafsu kita masih berdiri sebagai gunung yang tegak. Seorang sufi hanya bisa mendekati Allah Swt dengan menaklukan hawa nafsu atau egoismenya itu.


Ketika Al-Quran Al-Karim bercerita tentang orang-orang yang meninggalkan rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-NYA, para sufi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan rumah itu adalah Hawa Nafsunya.



Paling tidak, ada 3 kekuatan hawa nafsu di dalam diri kita.


Pertama, disebut quwwatun bahimiyyah, kekuatan kebinatangan. Dalam diri kita, terkandung unsur-unsur kebinatangan. Unsur inilah yang mendorong kita untuk mencari kepuasan lahiriah atau kenikmatan sensual.


Kekuatan kedua, disebut oleh para sufi sebagai quwwatun sab’iyyah, kekuatan binatang buas. Jauh dalam diri kita, terdapat kekuatan binatang buas. Kita senang menyerang orang lain. Kita senang memakan hak orang lain. Kita ingin membenci, menyerang, menghancurkan atau megndengki orang lain. Dalam diri kita ada satu kekuatan jahat untuk menyerang orang lain.


Kita juga mempunyai satu kekuatan lain dalam diri yang disebut para sufi sebagai quwwatun syaithaniyyah. Inilah kekuatan yang mendorong kita untuk membenarkan segala kejahatan yang kita lakukan. Kalau kita mengambil hak orang lain, setan membisikan dalam hati kita agar kita tidak usah merasa bersalah karena kita mengambil hak orang lain untuk dipergunakan membantu saudara saudara kita. Kita, misalnya, korupsi 1 milyar rupiah. Kemudian kita redakan perasaan bersalah kita dengan memberikan infak 1 juta rupiah. Setan akan berkata, “Perbuatan korupsi yang kita lakukan tidak lain untuk membantu kepentingan orang lain juga”.


Ketiga kekuatan itu berasal dari hawa nafsu..


Namun, Tuhan juga menyimpan dalam diri kita, sebagai satu bagian penting dari kepribadian kita, satu kekuatan yang berasal dari percikan cahaya Tuhan. Inilah yang dinamakan quwwatun rabbaniyyah, kekuatan Tuhan. Kekuatan ini terletak pada akal sehat kita. Bila keinginan untuk mengejar hawa nafsu itu yang menguasai diri kita, maka, secara ruhaniah, kita adalah sebenarnya binatang. Walaupun, secara jasmaniah, kita menampakan penampilan sebagai manusia.


Apabila kita senang memelihara dendam, perasaan iri hati, kejengkelan dan kemarahan dalam hati, kita adalah serigala-serigala yang buas. Jika yang berkuasa dalam diri kita adalah kepandaian mencari dalih dan alasan untuk membenarkan kekeliruan kekeliruan kita, secara hakikat kita sebetulnya setan berpenampilan seperti manusia. Sebaliknya, bila akal yang menundukkan ketiga-tiganya, kita akan dibimbing akal untuk menempuh perjalanan ruhani menempuh Allah Swt. Tugas akal adalah mengendalikan seluruh hawa nafsu itu. Dengan cara itulah, kita dapat mendekati Allah Swt.


Tulisan ini saya akhiri dengan sebuah cerita dari Jalaluddin Rumi :


Dulu, ada seseorang yang amat kehausan. Ia berada di sebuah puncak benteng yang amat tinggi. Di bawah benteng itu mengalir sungai yang jernih. Ia sangat ingin memperoleh air itu, tetapi benteng itu menghalanginya sampai ke tempat air mengalir. Kemudian, dengan tenga yang tersisa, ia menjatuhkan batu bata dari benteng itu satu persatu. Batu yang jatuh ke dalam sungai menimbulkan suara gemericik air. Entah bagaimana, orang yang kehausan itu mendengar suara gemericik air itu sebagai suara yang amat indah. Lebih indah dari kabar gembira yang disampaikan kepada seorang napi yang akan dibebaskan. Lebih indah dari kabar yang disampaikan kepada orang orang yang menunggu berita sekian lama. Makin indah ia mendengar suara gemericik air itu, makin sering ia menjatuhkan batu bata. Akhirnya, air sungai yang di bawah itu berkata, “Hai manusia, mengapa engkau jatuhkan batu bata itu.?” Orang haus itu menjawab, “Aku menjatuhkan batu bata itu karena dua kepentingan. Pertama, karena aku menikmati suara gemericik air yang ditimpa batu bata. Kedua, karena dengan meruntuhkan batu bata itu, makin lama aku makin dekat dengan pusat air itu”.


Dengan cerita itu, sebetulnya Rumi ingin mengajarkan kepada kita bahwa air mencerminkan kesucian Allah Swt, dan orang hanya bisa merindukan Allah Swt dengan merobohkn batu bata hawa nafsunya satu demi satu. Makin sering dia merobohkan hawa nafsu, makin tampak kepadanya keindahan Allah Swt., makin besar kerinduannya kepada-NYA dan makin dekat dia di sisi-NYA.


Marilah kita berusaha menaklukan hawa nafsu kita dengan meletakkan akal sehat kita di atas ketiga kekuatan yang berasal dari hawa nafsu itu. Hanya dengan itu, kita akan berlayar menuju Allah Swt, menghampiri-NYA dan melepaskan kerinduan kita kepada-NYA.



KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

54 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page