top of page
  • Akhi

Mensyukuri Musibah (1)

Updated: Sep 14, 2022


Salah satu nabi yang yang sering diceritakan Rasulallah dalam sabda-sabdanya adalah Nabi Daud. Rasulallah pernah mengatakan bahwa orang paling baik adalah yang seperti Nabi Daud. Meski seorang raja. Nabi Daud memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil jerih payahnya sendiri. Kita tahu. Nabi Daud dianugerahi kemampuan untuk mengubah besi menjadi barang-barang berguna dengan tangannya sendiri, kemudian menjualnya di pasar. Seperti itulah ia menghidupi kesehariannya.

Suatu ketika, ia menyuruh pembantunya menjual barang-barang tersebut ke pasar. Beberapa waktu kemudian. Nabi Daud terkejut saat pembantunya itu pulang tanpa membawa untung. Dagangannya utuh, tidak ada yang laku. Selidik punya selidik, ternyata hampir semua orang pergi ke kuburan. Pasar sepi, aktivitas sosial terhenti. Semua itu terjadi karena sebelumnya Nabi Daud menangkap dan memenjarakan para iblis (ini juga menjadi salah satu karunia Nabi Daud). Akhirnya, Nabi Daud membebaskan kembali para iblis.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita itu? Ternyata kehadiran iblis, makhluk yang terkutuk itu, juga berperan dalam kehidupan kita. Tanpa kehadiran iblis, aktivitas duniawi terhenti.

Barangkali kita pernah bertanya-tanya, kenapa perlu diciptakan keburukan dan penderitaan? Itu bisa jadi menjadi pertanyaan siapa pun yang menderita, bukan hanya kaum filosof saja. Dan tentu saja akan ada jawaban beragam.

Seseorang mungkin akan menjawab, penderitaan diciptakan Tuhan untuk mengetahui kadar ketakwaan hamba. Namun, jika sekadar ingin tahu, bukankah Tuhan mengetahui segalanya.

Atau mungkin untuk meningkatkan kualitas ketakwaan hamba. Dengan ujian penderitaan itu, diharapkan ketakwaan hamba tersebut dapat meningkat. Tapi, kenapa ada orang yang pada mulanya tampak baik-baik saja, namun begitu diuji dengan penderitaan, ia justru kehilangan nilai-nilai moralitas.

Mungkin juga ada orang yang mengatakan, penderitaan dan keburukan di dunia sesungguhnya adalah investasi akhirat. Orang yang diuji dengan itu akan mendapat pahala berlipat di akhirat kelak. Maka, terimalah semua .itu dengan sabar dan lapang dada, sebab Allah selalu bersama orang-orang yang sabar.

Jadi, agama selalu dihubungkan dengan penderitaan.

Bagi para filosof, jawaban-jawaban di atas sangat tidak mengenakkan. Bagaimana itu semua menjadi jawaban, sementara Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang?!


Kenapa pula untuk sekadar memberi pahala harus menimpakan penderitaan dulu?!

Dulu, kakek saya termasuk orang kaya di kampung. Setiap kali panen, ia selalu berbagi dengan orang-orang miskin, caranya, mereka dibariskan di halaman rumah, satu per satu maju mengambil bagian, tapi sebelumnya, tangan mereka dipukul hingga bekas pukulannya baru hilang setelah satu minggu. Dan, kakek saya punya kenikmatan tersendiri melakukan hal demikian.

Nah, tentu saja, kita tak akan mengatakan bahwa yang dilakukan kakek saya itu perbuatan baik.

Lalu, apakah Tuhan seperti itu?

Ada kisah tentang Nabi Daud yang menurut saya cukup populer, meski sejauh yang saya tahu, kisah tersebut tak disebutkan dalam kitab hadis mana pun.

Tuhan mewahyukan kepada Nabi Daud bahwa ada orang perempuan yang kelak menjadi pendampingnya di surga. Disebutkan, perempuan itu bernama Khuludah binti Aud. Nabi Daud pun mencari, dan akhirnya ketemu, kemudian menceritakan maksud kedatangannya.

"Mungkin kau salah. Itu memang namaku, tapi barangkali bukan aku yang kaumaksud. Bahkan, aku tidak tahu kenapa aku bisa masuk surga, jika yang kaukatakan itu benar," kata perempuan itu.

"Tidak. Tidak salah lagi. Kau perempuan itu,” kata Nabi Daud berusaha meyakinkan. “Coba, ceritakan kehidupan sehari-harimu.”


Perempuan itu lalu menceritakan bahwa setiap kali mendapat musibah apa pun, ia selalu bersabar. Tak hanya itu, bahkan ia bersyukur dengan musibah itu.

"Itulah amalan yang akan mengantarkanmu menuju surga,” kata Nabi Daud menanggapi.

Jadi, perempuan itu memperoleh kedudukan tinggi karena selalu bersyukur bahkan terhadap musibah.

Bersabar terhadap musibah, meski pun berat, itu hal biasa dan tak istimewa, sebagaimana bersyukur terhadap karunia. Yang istimewa adalah jika bersyukur terhadap musibah.

Bagaimana caranya bersyukur saat ditimpa musibah? Yaitu dengan melihat sisi-sisi positif dan kebaikan dalam musibah itu, seperti dalam doa Imam Ali Zainal Abidin saat ia sakit, "Ya Allah, aku tidak tahu, apakah aku harus bersyukur atau bersabar dalam kondisi sakitku ini. Sebab, berkat sakit ini, aku terhindar dari berbagai kenistaan, aku lebih punya banyak waktu untuk berzikir dan berkumpul bersama keluarga.”


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

50 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page