• Akhi

Mitos 2: Usia Merusak Otak


Belum lama ini, kebanyakan ilmuwan percaya bahwa ribuan, bahkan jutaan neuron, mati setiap hari. Makin tua usia kita, makin cepat neuron mati. Sehingga pada usia tua, sekitar 40 persen neuron kita hancur. Karena neuron hancur, maka menurun jugalah kapasitas otak untuk menerima, menyimpan, mengolah, dan mengeluarkan informasi. Dalam bahasa orang awam, kita menjadi lebih pelupa dan lebih bodoh bersamaan dengan pertambahan usia.


Anda berkata, memang begitu kenyataannya. Tidak begitu amat sih, kata para peneliti. Walaupun sebagian sel pada bagian tertentu otak menghilang dalam perjalanan usia, kehilangan itu tidak terlalu fatal. Bahkan, kehilangan neuron pada bagian otak kita yang paling penting—korteks, tempat memori dan berpikir—sangat sedikit pada otak yang tidak dirusak penyakit, kata Dr. Albert dari Universitas Harvard.


Lagi pula, berkurangnya neuron tidak berarti berkurangnya fungsi intelektual otak. Masih ingat uraian di atas? Yang menentukan kecerdasan bukanlah jumlah sel-sel otak, tetapi kekuatan koneksi dan arus informasi di antara mereka. “Yang penting ketika usia bertambah bukanlah ukuran otak atau berapa banyak sisa neuron yang masih hidup, tetapi bagaimana jaringan ‘kabel’ otak dan bagaimana Anda memelihara atau meremajakan ‘pengkabelan’ (wiring) otak Anda,” kata Jean Carper dalam Your Miracle Brain.


Ingatlah satu kalimat dari penelitian tikus tua di atas: “Tetapi, otak tikus tua mengembangkan koneksi-koneksi baru lebih lambat dari otak tikus muda.” Dr. Stanley Rapoport, di The National Institute on Aging, menemukan bahwa otak orang yang lebih tua memberikan reaksi lebih lambat, menyimpan, mengingat, dan mengolah informasi lebih lama. Tetapi kecermatan daya ingat dan kefasihan berbicara tidak berkurang karena usia.


Kalau diberi waktu yang cukup, otak tua yang sehat dapat mengingat lebih baik daripada otak muda yang sehat. Di samping itu, sebagai kompensasi dari kelambatan kerja otak, otak tua dianugerahi keuntungan lebih daripada otak muda. Para peneliti menyebutnya kecerdasan terkristal (“crystalized intelligence”)—inilah kumpulan pengetahuan terspesialisasi selama bertahun-tahun yang berasal dari pengalaman hidup dan memerlukan bank memori yang besar, kemampuan verbal dan penilaian yang lebih canggih. Ini berbeda dengan kecerdasan otak muda yang disebut kecerdasan “cair” (fluid). Kecerdasan ini membuat orang muda lebih cepat belajar, tetapi dengan kualitas belajar yang lebih rendah. Walhasil, anak muda lebih unggul dalam kecerdasan cair tetapi ketinggalan dalam kecerdasan terkristal dibandingkan orang tua.


Ada penjelasan lain mengapa otak tua lebih lambat mengolah informasi. Dalam penelitian tentang otak tua, peneliti masih belum memisahkan antara variabel usia dengan penyakit. Apakah kerusakan otak itu karena penyakit atau karena usia. Menurut Dr. Peter Davies, direktur penelitian otak penderita Alzheimer di Albert Einstein College of Medicine di New York, otak yang sehat, tidak terganggu penyakit, tetap berfungsi dengan sangat baik sampai usia tua. Turunnya kemampuan mental pada orang tua disebabkan oleh penyakit—seperti diabetes, arteri karotid yang menebal, tekanan darah sistolik yang tinggi, dan stadium awal Alzheimer—bukan oleh usia. Tujuh puluh persen dari 5.888 orang lebih dari usia 60 tahun tidak mengalami penurunan ingatan dan kemampuan berpikir lainnya selama periode tujuh tahun penelitian. Fungsi kognitif—kemampuan berpikir—menurun hanya pada orang-orang tua yang menderita atherosclerosis atau diabetes dan atau punya gen demensia dan Alzheimer. Walhasil, kalau Anda sehat walafiat, kapasitas otak Anda tidak menurun karena ketuaan.


Masih ada satu penjelasan lagi. Setiap sel punya ribuan pabrik energi,yang disebut mitochondria. Untuk menghasilkan energi, mitokondria membakar oksigen. Seperti setiap pabrik, pembakaran oksigen itu menghasilkan limbah atau buangan yang mencemari lingkungan. Limbah itu disebut radikal bebas oksigen. Selama hidup, ketika kita bernapas atau makan, kita menyemprotkan ke dalam lingkungan radikal bebas itu. Radikal bebas yang dibuang berubah menjadi peluru yang menggempur tembok mitokondria dan racun yang menembus ke dalam sel, bahkan sampai ke DNA, dan membran sel.


Dalam perjalanan usia, kerusakan akibat radikal bebas itu bertumpuk, sehingga produksi energi menurun. Ketika radikal bebas menyerang sel saraf, dendrit mengerut dan sinapsis menghilang. Akibatnya, berkuranglah kemampuan komunikasi sel. Pada otak yang rentan, pukulan radikal bebas dapat menghancurkan neuron dan berujung pada penyakit pikun, Alzheimer, Parkinson, dan penyakit otak lainnya yang menurunkan potensi intelektual. Pada sebagian otak lagi, serangan itu dapat ditolak dan bahkan dikalahkan. Kemampuan menolak radikal bebas itu bergantung pada kekuatan pertahanan kita—kumpulan zat yang bernama antioksidan.


Radikal bebas adalah penjahat yang selalu menyerang sel-sel tubuh, merusak DNA genetis, menyobekkan membrannya, mengauskan sel, dan pada akhirnya mempercepat ketuaan. Karena otak paling banyak menggunakan oksigen dan organ tubuh yang paling berlemak, otak paling banyak menghasilkan radikal bebas, yang disebut sebagai oksidasi. Radikal bebas juga masuk ke dalam tubuh Anda melalui makanan, terutama yang berlemak, atau dari asap rokok, pencemaran udara, dan zat-zat beracun yang berasal dari udara atau air.


Akan tetapi, Tuhan yang Mahakasih menganugerahkan kepada tubuh satu pasukan—yang bekerja sama dengan sangat baik di antara anggotaanggotanya. Pasukan itu namanya antioksidan. Seperti pasukan khusus polisi, mereka mencari, menyelisik radikal bebas sampai ke sudut-sudut “bumi” dan menghancurkannya. Pada hakikatnya, mereka mendorong radikal bebas untuk menghancurkan dirinya. Mereka melucuti senjata radikal bebas dengan cara yang sangat halus. Mereka menyusup masuk ke dalam pasukan radikal bebas dengan menyumbangkan elektron. Radikal bebas menjadi relatif lemah dan tidak berbahaya. Tetapi antioksidan juga menjadi limbung dan perlahan-lahan mengalami dekomposisi. Pada saat itu, bala bantuan datang dan menyegarkan kembali tenaga antioksidan yang sudah lemah.


Menurut Dr. Packer, ketika vitamin E gugur dalam melucuti senjata radikal bebas, vitamin C atau koenzim Q10 akan menyumbangkan elektron kepadanya dan menghidupkan kembali vitamin E sebagai antioksidan. Tetapi tidak semua antioksidan mempunyai kemampuan memberikan pernapasan. Ia menyebutkan lima antioksidan superstar. Mereka adalah vitamin E, vitamin C, glutathion, koenzim Q10, dan asam lipoik.


Yang menakjubkan dari kerja pasukan antioksidan ialah kemampuan mereka bukan hanya untuk melucuti radikal bebas, tetapi juga memperbaiki sel-sel yang rusak. Mereka bukan hanya pasukan polisi, tetapi juga pasukan zeni.


Marilah kita bayangkan kerja kerasnya antioksidan. DNA setiap sel mendapat kira-kira 10 ribu serangan setiap hari. Itu satu sel saja. Jika kita mengalikannya dengan triliunan sel, serangan yang menghancurkan itu akan tampak sangat luas. Tetapi, dengan kerja keras tim antioksidan, 99 persen kerusakan karena radikal bebas dapat diperbaiki. Sisanya, yang satu persen, berkumpul selama bertahun-tahun. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Bukit kerusakan itu, dalam perjalanan usia, dapat melumpuhkan dan menghancurkan sel. Seperti kita sebutkan di muka, sasaran kerusakan yang paling berat terjadi pada otak kita.


Kita akhiri dengan berita buruk dan berita baik. Buruknya, antioksidan tidak dapat menghilangkan sama sekali kerusakan akibat radikal bebas. Tambahan pula, kemampuan tubuh untuk menghasilkan antioksidan makin lemah, kerusakan karena 1 persen yang tidak dapat diperbaiki makin parah, bersamaan dengan pertambahan usia. Baiknya, kita dapat mempertahankan otak kita dengan menambah bala bantuan antioksidan melalui makanan.


Kemampuan total makanan untuk membuat antioksidan disebut ORAC, oxigen absorbency capacity. Para ilmuwan telah menentukan kadar ORAC per 100 gram makanan. Kadar buah prem dan kismis masing-masing 5.770 dan 2.830. Sedangkan apel dan mentimun masing-masing 218 dan 54.


Walhasil, kalau kemampuan intelektual kita berkurang, penyebabnya bukan pertambahan usia, tetapi karena bertumpuknya dampak kerusakan akibat radikal bebas. Kita akan dapat mempertahankan kejernihan pikiran kita, sekaligus awet muda, jika kita rajin makan makanan yang mempunyai kadar antioksidan yang besar. Atau, paling mudah, biasakan makan vitamin-vitamin antioksidan. Hubungi apotek terdekat atau dokter termurah!


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam)dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

14 views0 comments

Recent Posts

See All