• Akhi

Neurotheology: Pengalaman Religius Berbasis Otak (3)



Apakah Tuhan Menciptakan Otak? Mathew Alper mengakhiri pencariannya pada terminal Tuhan Diciptakan di dalam Otak. Dan Newberg-lah yang menggerakan lokomotif neuorologi untuk sampai ke terminal kedua Otak Diciptakan oleh Tuhan.


Newberg dan teman-temannya tidak lagi mempelajari pengalaman religius pada pasien yang mengalami gangguan otak, yakni penderita epilepsi, atau orang-orang yang “tidak normal”. Mereka telah meneliti orang-orang yang secara luas dikenal sebagai orang-orang saleh – para penganut ajaran Budha dan biarawati Fransiscan. Mereka didukung teknologi terbaru untuk penelitian otak. Mereka telah mempelajari bagaimana konsep yang berbeda tentang Tuhan bisa mempengaruhi pikiran manusia. Mereka mempunyai hasil pindaian otak dan menggambarkan perubahan neurologis pada biarawati Fransiscan saat mereka larut dalam kehadiran Tuhan, serta pada rahib Budha saat mereka berkontemplasi tentang alam semesta. Mereka telah menyaksikan apa yang terjadi di dalam otak ketika Pantekosta mengundang ruhul kudus untuk berbicara kepada mereka melalui ucapan. Selanjutnya, mereka akan melakukan studi yang lebih luas untuk mempelajari tradisi sufi dan penganut-penganut mistik lainnya pada agama dan keyakinan yang lain. Tidak mungkin untuk meringkas dan menyederhanakan hasil studi mereka di dalam artikel pendek ini. Untuk menghindari simplifikasi dan mungkin juga ketakakuratan yang berlebihan, saya hanya akan menuliskan dua hasil penting yang keduanya akan merubah pandangan kita tentang pengalaman religius berbasis otak. Pertama, mereka menolak model “patologi” dari pengalaman religius. Pengalaman spiritual yang murni tidak disebabkan oleh kerusakan pada otak, tidak juga disebabkan ketenangan jiwa karena pengaruh obat-obatan. Kami tidak percaya bahwa pengalaman mistis yang sejati bisa dijelaskan sebagai hasil dari halusinasi epilepsis, atau sebagai akibat halusinasi spontan karena pengaruh obat-obatan, rasa sakit, kelelahan pisik, tekanan emosional, ataupun gangguan pada indra. Secara sederhana, halusinasi, apapun sumbernya, tidak akan bisa memberikan pengalaman kepada pikiran sebagaimana yang bisa diyakini pada pengalaman spiritualitas mistis.[12] Kedua, pengalaman religius yang sejati memperkuat jaringan syaraf yang berhubungan dengan kesadaran, empati, dan kesadaran sosial. Pengalaman ini juga memberikan kemampuan kepada kita untuk lebih penyayang, lebih toleran terhadap sesama, dan lebih menerima kekurangan dan keterbatasan. Konsekuensinya, orang-orang beriman yang merasakan pengalaman religius akan hidup lebih bahagia, lebih damai, dan lebih sehat secara pisik. Juga menarik untuk dicatat, bahwa dalam konteks neurologis, sebagaimana yang ditulis di sampul depan buku How God Changes Your Brain:

  • Bukan hanya dengan melakukan ibadah dan praktik spiritual yang bisa mengurangi stress dan kecemasan, tetapi 12 menit melakukan meditasi per hari juga akan memperlambat proses penuaan.

  • Merenungi Tuhan yang Maha Penyayang, dan bukan Tuhan yang Maha Penyiksa, akan mengurangi kecemasan, depresi dan stress. Pada saat yang sama, hal itu akan meningkatkan perasaan aman, kasih sayang, dan cinta kasih.

  • Fundamentalisme, dalam pengertian yang sebenarnya, adalah sikap yang tidak berbahaya dan bisa jadi memberikan manfaat personal. Tetapi rasa marah dan prasangka yang lahir dari keyakinan yang ekstrim bisa merusak otak Anda secara permanen

  • Ibadah dan meditasi yang intens secara permanen akan merubah banyak struktur dan fungsi di dalam otak – juga akan merubah nilai-nilai dan cara Anda dalam memahami realitas.

Kita telah melampaui tempat dimana neurologi tak berTuhan berasal. Sekarang kita telah sampai pada maqam dimana kita menemukan bahwa Tuhan-lah yang menciptakan otak, bukan otak yang menciptakan Tuhan. Saya berpikir, inilah mungkin maqam yang dimaksudkan oleh Allah ketika Dia berfirman, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS 13:28). *** (tamat)

Note Artikel ini diterjemahkan oleh Mustamin al-Mandary dari tulisan Jalaluddin Rakhmat dengan judul “Neurotheology: Brain-based Religious Experience”. [1] ‘Allamah Sayyid M.H. Tabatabai, Shi’ah. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Sayyid Husayn Nasr. Qum: Ansariyan Publication., 2005, h. 131. [2] Anda bisa mengakses teks pidatonya di link berikut http://www.ted.com/talks/jill_bolte_taylor_s_powerful_stroke_of_insight.html, diakses tanggal 15 januari 2011. Dia menulis best sellernya My Stroke of Insight: A Brain Scientist's Personal Journey. Viking, 2008 [3] Andrew Newberg dan M.R. Waldman, How God Changes Your Brain. New York: Ballantine Books, 2009, h. 59 [4] Michael R Trimble, The Soul in the Brain. Baltimore: the John Hopkins University Press, 2007, h. 134 [5] Patrick McNamara. The Neuroscience of Religious Experience. Cambridge: Cambridge University Press, 2009, h. 81 [6] Michael Persinger. Neuropsychological Bases of God Beliefs. New York: Praeger, 1987. [7] Sebagai tambahan pada tulisan The Transmitter to God: The Limbic System, the Soul, and Spirituality. California: University Press, 2002, Rhawn Joseph juga mengedit Neurotheology: Brain, Science, Spirituality, Religious Experience. California: University Press, 2003. [8] Kevin S. Seybold. Explorations in Neuroscience, Psychology, and Religion. Hampshire: Ashgate, 2007, h. 82 [9] Mathew Alper. The “God” Part of the Brain: A Scientific Interpretation of Human Spirituality and God. Naperville, Ill: Sourcebooks, 2008, h. 60 [10] Andrew Newberg. Principles of Neurotheology. Burlington: Ashgate, 2010, h. 3 [11] Ibid, 1 [12] Andrew Newberg et al. Why God Won’t Go Away: Brain Science and the Biology of Belief. New York: Ballantine Books, 2001, h. 174.


1 view0 comments

Recent Posts

See All