• Akhi

OPTIMALISASI PENGEMBANGAN INTELEKTUAL ANAK

Updated: May 11


Kita semua lahir dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Dan kita semua memiliki alat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Pernahkah Anda saksikan bayi yang mengamati boneka barunya? Ia meletakkannya pada mulutnya untuk mengetahui bagaimana rasanya. Ia mengguncangkannya, mengangkatnya, dan perlahan-lahan memutarnya supaya ia tahu bagaimana setiap sisinya menangkap cahaya. Ia menempelkannya pada telinganya, menjatuhkan dan meneliti bagian demi bagian.


Proses eksploratoris ini belakangan disebut "belajar global" global learning. Belajar global adalah cara belajar yang begitu efektif dan alamiah bagi manusia sehingga jiwa anak sampai menyerap fakta, sifat fisik, dan kerumitan bahasa dengan cara yang sangat menyenangkan dan bebas stres. Tambahkan pada proses ini faktor umpan balik positit dan stimulus lingkaran. Maka Anda telah mencipta kan kondisi sempurna untuk belajar yang tak terbatas.


Marilah kita lihat sebagian dari tonggak-tonggak belajar pada kehidupan awal anak yang sehat dan normal. Kemungkinan besar anak ini tak ubahnya dengan Anda. Pada saat merayakan ulang tahun yang pertama, Anda mungkin sudah bisa berjalan sebuah proses yang secara fisik dan neurologis sangat kompleks dan hampir tidak mungkin dijelaskan dalam kata-kata atau diajarkan melalui demonstrasi. Toh, Anda dapat melakukannya walaupun berkali-kali jatuh dan jungkir balik, dan tidak pernah merasa gagal jika Anda jatuh. Mengapa? Saya yakin sebagai orang dewasa, Anda dapat menyebut beberapa peristiwa ketika Anda tidak mau belajar sesuatu yang baru hanya karena gagal sekali dua kali saja. Tetapi mengapa Anda terus-menerus mencoba ketika belajar berjalan?


Jawabannya ialah Anda tidak mengenal konsep kegagalan. Juga yang sangat membantu adalah orangtua Anda. Mereka yakin bahwa jika Anda terus berusaha, Anda pasti bisa. Mereka juga selant memberikan dorongan. Setiap keberhasilan selalu disambut dengan kegembiraan dan ucapan selamat yang mendorong Anda untuk lebih banyak lagi meraih keberhasilan.


Ketika berusia kira-kira dua tahun, Anda mulai berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, sebuah keterampilan yang dipelajari tanpa buku tata bahasa, kelas, atau ujian. Jika seperti kebanyakan orang, sebelum ulang tahun kelima, Anda menguasai 90% kata-kata yang akan Anda gunakan secara teratur sepanjang hidup.


Kemudian suatu hari, mungkin di kelas satu atau dua, Anda duduk di kelas dan guru berkata, "Siapa yang tahu jawabannya?" Anda mengangkat tangan terlonjak dari tempat duduk kegirangan sampai guru menyebut nama Anda. Dengan yakin Anda menyebut jawaban itu. Tiba-tiba Anda mendengar anak-anak lain tertawa dan guru berkata, "Bukan, itu salah! Saya heran mendengar jawabanmu."


Anda merasa malu di depan kawan-kawan dan guru Anda, salah seorang di antara tokoh yang memiliki otoritas dalam kehidupan Anda. Kepercayaan diri Anda goyah. Benih keraguan mulai tertanam dalam psyche Anda.


Bagi kebanyakan orang, inilah permulaan citra diri yang negatif. Sejak saat itu, belajar menjadi beban. Keraguan tumbuh di dalam diri, dan Anda mulai makin sedikit mengambil risiko.


Pada 1982, Jack Canfield, seorang ahli tentang self-esteem (harga diri), melaporkan hasil penelitian di mana seratus anak diserahkan kepada seorang peneliti selama satu hari. Peneliti bertugas mencatat berapa banyak komentar negatif dan positif yang diterima anak selama satu hari. Canfield menemukan bahwa rata-rata setiap anak menerima 460 komentar negatif atau kritik dan hanya 75 komentar positif atau suportif. Itu berarti enam kali lebih banyak komentar negatif daripada positif.


Umpan balik negatif yang terus-menerus ini sangat mematikan. Setelah beberapa tahun di sekolah, terjadilah learning shutdoum (kebuntuan belajar). Anak menghambat pengalaman belajarnya secara terpaksa. Pada akhir sekolah dasar kata belajar dapat membuat banyak siswa tegang dan takut." (Quantum Learning, 1992).


Ilustrasi itu ditulis Bobbi DePorter ketika ia mengajarkan metode pengembangan intelektual anak yang disebut belajar kuantum. Belajar kuantum ditegakkan di atas asumsi bahwa anak yang memiliki harga diri (self-esteem) positif belajar sangat cepat dan efektif. Harga diri positif harus ditumbuhkan karena lingkungan yang suportif, yang memberikan dorongan. Kecaman, kritik atau komentar yang negatif akan menghambat proses belajar efektif.


Awal dari partisipasi orangtua untuk anak adalah dengan menanamkan self-esteem yang positif. Mazhab psikologi yang dijadikan rujukan adalah mazhab humanistik. Saya tidak akan membahas latar belakang teoretis tentang self-esteem. Untuk membatasi ruang lingkup, saya akan merujuk Stanley Coopersmith (Antecedents of Self us. Authoritative Parental Control, 1963). Tentu saja, saya juga hanya mengambil hal-hal praktis yang dapat dilakukan orangtua.


Peran Orangtua dalam Mengubah Self-Esteem


Bila salah satu konsep kunci psikoanalisis adalah mekanisme pertahanan ego; bila kaum behavioris banyak bercerita tentang conditioning; kaum humanistik banyak membahas konsep-diri. Konsep-diri terdiri dari dua unsur: citra-diri (self-image) cdan harga diri (self-esteem). Citra-diri adalah persepsi Anda sebenarnya, "Saya suka membaca. Self-esteem adalah penilaian apakah Anda suka atau tidak suka terhadap diri Anda, "Saya rajin dan pintar."


Semua psikolog humanistis sepakat bahwa dorongan berpengaruh pada pembentukan self-esteem. Sullivan (Schu zophrenia as a Human Process, 1962) adalah orang pertama yang menyatakan secara tegas bahwa konsep diri kebanyakan mencerminkan penilaian significant others. Mereka itu adalah orang-orang yang secara emosional dekar dengan kita: guru, kawan, saudara, dan terutama sekali orangtua.


Dari penelitiannya tentang anak-anak yang mempunyai self-esteem yang tinggi, Coopersmith menemukan tiga ciri penting perilaku orangtua mereka. Pertama, orangtua mengomunikasikan dengan jelas penerimaan (acceptance) mereka kepada anak-anaknya. Anak-anak tahu bahwa mereka bagian dari keluarga; bahwa mereka diterima sebagai anggota keluarga yang dihargai dan diperhatikan.


Usai ujian nasional di SMA Plus Muthahhari, saya mengumpulkan para orangtua dari beberapa orang yang tidak lulus. Salah seorang dari orangtua menceritakan perilaku anaknya yang mengagumkan. Ia langsung menemui ayahnya dan dengan tenang melaporkan ketidaklulusannya. Ia mengaku, "Saya memang tidak belajar dengan baik. Saya berjanji untuk memperbaiki belajar saya. Saya akan mengikuti bimbingan belajar dan tahun depan saya ikut ujian. Insya Allah, tahun depan saya akan berhasil." Bapaknya menerima kegagalannya dan mengapresiasi tekadnya. Ia memberikan hadiah telepon genggam kepadanya. "Kamu tidak lulus dalam ujian nasional. Tapi kamu lulus dalam ujian ke hidupan," ujar orangtua yang baik ini.


Kedua, orangtua mengomunikasikan well defined limals can high expectations for performance. Orangtua memberikan kebebasan, tetapi menunjukkan dengan jelas batas-batas kebebasan itu. Seorang ibu membiarkan anaknya untuk bermain playstation di sela-sela kegiatannya di sekolah. Tetapi ketika pada suatu hari ia menemukan anaknya bermain pada saat kawan-kawannya yang lain berada di ruangan kelas, ibu itu melaporkan kenakalan anaknya langsung ke sekolah. Ia ingin anaknya tahu sampai mana ia berhak bermain. Ibu itu juga menuntut anak untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Ia menetapkan standar bahwa kebebasannya bermain harus dipertahankan dengan prestasi yang baik di sekolah. Ia telah menetapkan batas yang jelas dan ekspektasi kinerja yang tinggi.


Ketiga, orangtua menghormati individualitas anak. Mereka menerima perbedaan keunikan anak-anaknya dalam batas-batas struktur yang jelas. Tidak ada contoh yang lebh jelas dari penghargaan akan keunikan anak-anak kita seperti penghargaan akan anugerah kecerdasan yang istimewa bagi setiap anak. Anda menghargai bukan saja anak yang punya kecerdasan matematis, tetapi juga anak yang punya kecerdasan visual atau musikal.


Anda memuji "pintar" bukan hanya kepada Iqbal yang mendapat nilai matematika sembilan, tetapi juga kepada Ami yang menulis puisi yang indah.


Orangtua anak-anak yang memiliki self-esteem positif juga cenderung menunjukkan harga-diri yang tinggi juga. Anak-anak belajar dari mereka cara menghadapi kesulitan dan tantangan. Mereka membuka diri terhadap penilaian anak-anaknya, menjelaskan kelebihan dan kekurangan mereka secara rasional. Pada gilirannya, anak-anak mereka juga diberi peluang untuk "membela diri" dan mengemukakan pendiriannya. Coopersmith menemukan bahwa anak yang self-esteem-nya tinggi mampu untuk "berbeda dengan lingkungannya", dan karena itu cenderung lebih kreatif.


Baumrind membedakan tiga macam orangtua: authoritative, authoritarian, dan permissive, anak yang berhasil (kompeten). Orangtua jenis ini mempunyai hubungan akrab dengan anak-anaknya, memerhatikan kebutuhan anak-anaknya, tetapi pada saat yang sama mempunyai ekspektasi yang tinggi terhadap anak-anaknya. Menurut Baumrind, "Orangtua seperti ini menyeimbangkan kehangatan dengan kendali tinggi, dengan tuntutan yang tinggi dengan komunikasi yang jelas tentang apa yang diperlukan dari anak."


Orangtua anak yang paling rendah self esteem-nya adalah orangtua permisif. Mereka relative akrab (tetapi kurang akrab dibandingkan dengan orangtua otoritatif). Hanya saja mereka kurang disiplin. Mereka mempunyai tuntutan dan ekspektasi yang lemah. Anak-anak mereka tidak dibiasakan mandiri. Keinginan mereka hampir selalu dipenuhi. Akibatnya, anak-anak cenderung greedy (rakus), demanding (penuntut), dan inconsiderate (tidak memikirkan orang lain).


Secara singkat, hanya orangtua otoritatif yang mampu menanamkan self-esteem yang tinggi pada anak-anaknya. Anak-anak pada gilirannya memiliki perasaan mampu untuk menghadapi berbagai kesulitan. Mereka lebih berhasil belajar ketimbang rata-rata anak-anak dari orangtua otoritarian dan permisif.


Petunjuk-petunjuk praktis


Dari Coopersmith dan Baumrind, kita dapat menyimpulkan beberapa petunjuk praktis.

  1. Kembangkan komunikasi dengan anak yang bersifat suportif. Komunikasi ini ditandai lima kualitas: keterbukaan, empati, supportiveness, positiveness, dan persamaan.

  2. Tunjukkanlah penghargaan secara terbuka. Hindari kritik. Kalau terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan harus ditunjang dengan argumentasi yang rasional.

  3. Latihlah anak-anak untuk mengekspresikan dirinya. Orangtua harus membiasakan “bernegosiasi" dengan anak-anaknya tentang ekspektasi perilaku dari kedua belah pihak.

  4. Ketahuilah, walaupun saran-saran di sini berkenaan dengan pengembangan self-esteem, semuanya mempunyai kaitan erat dengan pengembangan intelektual. Proses belajar bisa efektif dalam lingkungan yang mengembangkan self-esteem. Hanya apabila harga diri anak-anak dihargai, potensi intelektual dan kemandirian mereka dapat dikembangkan.


Salah satu zikir para malaikat di langit yang tinggi adalah: "Subhama man azhharal jamil wa sataral qabih. Maha suci Dia yang menampakkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk." Inilah akhlak Tuhan dan ini juga sepatutnya menjadi akhlak orangtua.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari)

172 views0 comments

Recent Posts

See All