• Akhi

Pecinta Keluarga Nabi Selalu Diuji


“Kita berada di sini untuk mengungkapkan rasa cita kita kepada keluarga Nabi, ahli bait Nabi. Sebab hal itu diperintahkan Rasulullah,” kata Ketua Dewan Syuro PP Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, pada acara Tabligh Akbar Asyura, di Stadion Persib, Jumat (23/10/2015) malam.


Dalam sejarah Islam, para pecinta keluarga Nabi selalu mendapat cobaan. Bahkan sekian banyak jiwa menjadi tebusan untuk rasa cinta tersebut. Maka jika saat ini banyak tentangan terhadap para pecinta Nabi, hal itu tidak seberapa jika dibanding para pecinta terdahulu. Hendaknya cobaan ini semakin mengokohkan rasa cinta tersebut dan menyebarkannya di tengah kaum Muslimin.

“Kita berada di sini untuk mengungkapkan rasa cita kita kepada keluarga Nabi, ahli bait Nabi. Sebab hal itu diperintahkan Rasulullah,” kata Ketua Dewan Syuro PP Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, pada acara Tabligh Akbar Asyura, di Stadion Persib, Jumat (23/10/2015) malam. Dalam acara itu dilantunkan pula syair-syair bernada duka dan penghormatan pada keluarga Nabi.

Jamaah yang memadati lapang bola duduk lesehan di atas pasir stadion tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah di Jabar, Jateng, Jatim dan dari luar Jawa. Ada tiga layar lebar dan panggung kecil di bagian depan jamaah yang mayoritas berbusana hitam. Peringatan Asyura adalah tradisi mengenang kesyahidan Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib ra dan keluarganya, yang dibantai Yazid bin Muawiyah di Karbala, Irak, pada 10 Muharam tahun 61 Hijriyah.

Pertempuran yang tidak seimbang terjadi. Pihak Imam Husain terdiri dari anggota-anggota terhormat keluarga dekat Nabi Muhammad yang berjumlah sekitar 128 orang. Sedangkan pasukan bersenjata Yazid yang dipimpin Umar bin Sa’ad berjumlah lebih dari 4.000 orang. Kepala Husein, cucu kesayangan Nabi, dipenggal lalu diarak bersama keluarga Nabi yang masih tersisa.

Kaum Muslimin mengenang peristiwa tersebut sebagai momen penting, simbol pertarungan antara keadilan dan kezaliman. Pria yang akrab disapa Kang Jalal ini, mengajak hadirin untuk bersabar dalam menghadapi cobaan. Tunjukkanlah akhlak yang baik sebagaimana dicontohkan Nabi dan keluarganya yang mulia.

“Pertarungan antara nilai-nilai keadilan dan kezaliman akan terus berlangsung sepanjang masa. Kita akan terus diuji untuk tetap setia kepada kebenaran atau tidak. Semoga kita diberi kesabaran dalam menghadapi semua ini. Namun tetap menunjukkan ketegasan dalam menegakkan kebenaran,” katanya.

Bukan baru Menyinggung sikap penolakan atau pelarangan dari sejumlah pihak atas peringatan Asyura, Kang Jalal menyebutnya bukan sesuatu yang baru. Pada masa kekuasaan Bani Umayah, Bani Abbasiyah dan era Saddam Husein pun pernah terjadi pelarangan serupa. Area makam Imam Husein di Karbala pernah ditutup di atasnya ditanami tumbuh-tumbuhan untuk menghilangkan jejak. Namun upaya itu tidak pernah berhasil, para peziarah tetap berdatangan hingga sekarang. Menurut pengamatan di beberapa sudut kota memang terpasang spanduk yang menentang perayaan Asyura. Penentangan yang dilakukan sejumlah pihak itu memang kerap terjadi tiap tahun menjelang peringatan Asyura. Bahkan sejumah yang tidak setuju seringkali mendatangi lokasi kegiatan untuk membubarkan acara. Namun di Kota Bandung situasinya terbilang masih kondusif, tidak terjadi perselisihan tajam yang menyebabkan bentrokan fisik.

Acara yang mendapat pengawalan ketat dari aparat keamana tersebut, berlangsung lancar hingga akhir. Walaupun setelah acara selesai sekitar pukul 21.00 WIB, di depan stadion puluhan pengendara motor berteriak-teriak menunjukkan ketidaksetujuannya pada acara tersebut sambil mengacung-acungkan spanduk bernada provokasi. Dengan sigap pihak keamanan menguasai keadaan, sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Bandung Juara Sementara itu sejumlah jamaah yang hadir dalam acara tersebut berharap slogan “Bandung Juara” didukung warganya dengan baik. Slogan tersebut bermakna luas dan memberi semangat yang positif. “Bandung Juara akan sempurna, jika warganya juga juara dalam sikap toleransi terhadap perbedaan di tengah masyarakat,” ujar Nugraha.

Perbedaan pemahaman dalam beragama di tengah masyarakat, merupakan kenyataan yang harus dihotmati. Karena itu, janganlah sesuatu yang berbeda itu dihukumi sewenang-sewenang dengan memberi label yang justru akan merusak silaturahmi sesama Muslim. “Mari kita jaga kebersamaan ini, walaupun ada sedikit perbedaan,” kata warga lainnya, Syaikhu. (ES)


4 views0 comments

Recent Posts

See All