• Akhi

Pemicu Depresi

Updated: Oct 1


Beberapa waktu yang lalu, di Pengajian Hari Ahad, saya bercerita tentang sekelompok anak di Romania yang dibuang oleh orang tuanya. Mereka dikumpulkan di panti asuhan, diberi makan apa adanya dan yang paling mengerikan, mereka tidak mendapatkan perhatian. Anak-anak itu tidak pernah diajak bicara, tidak pernah dipeluk, tidak pernah diajak tersenyum. Tidak pernah ada waktu untuk melakukannya, karena yang mengurus sekitar 500 anak itu hanya tiga orang perawat di siang hari dan dua perawat di malam hari.


Seorang wartawan Amerika menemukan panti asuhan itu. Dia mendapati bahwa yang disebut sebagai panti asuhan itu lebih mirip dengan kandang binatang.


Di seluruh Romania, ada sekitar 100.000 orang anak yang dibuang oleh orang tuanya. Tragedi ini berawal sekira tahun 1966. Pemimpin Romania, Nicolai Ceausescu menetapkan larangan keluarga berencana. Akibatnya, banyak orang tua yang tidak sanggup membiayai keluarga mereka dan membuang anak-anak mereka di pinggir jalan. Kemudian pemerintah menampung anak-anak itu di panti asuhan yang sangat mengenaskan itu. Setelah panti asuhan itu ditemukan, anak-anak itu disebar ke berbagai negara untuk diadopsi. Yang terjadi pada anak-anak itu ketika dibawa ke tempat yang baru sungguh mengerikan.


Ada sebuah buku yang bercerita tentang sosiopat dan psikopat. Mereka adalah manusia yang bisa mencuri, membunuh, menyiksa, atau berkhianat tanpa punya perasaan bersalah sedikit pun. Jika tertangkap, mereka juga tidak memperlihatkan penyesalan dan tidak punya rasa malu. Buku tersebut memuat kisah tentang anak-anak Romania tersebut.


Orangtua asuh di Paris tidak bisa menghentikan tangis bayinya yang cantik. Jika dipeluk atau diusap, tangis mereka kian menjadi. Bayi itu seperti tidak tahan menerima sentuhan.


Menurut ilmu psikologi, setiap bayi menangis dan merengek untuk menarik kasih sayang orangtua. Tangisan mereka adalah alat untuk memanggil orangtua, yang akan memeluk, memberikan kehangatan, memberikan pujian, dan tentu saja yang akan membesarkan mereka. Tangisan adalah alat yang paling ampuh untuk mengundang orang yang menyayanginya.


Jalaluddin Rumi berkata, “Menangislah kamu, agar Sang Perawat Agung datang memberikan air susu keabadian kepadamu.”


Memang dalam hidup ini kita harus menangis, supaya kasih sayang Allah turun kepada kita. Ketika anak-anak lain menangis demi mencari kasih sayang, anak-anak Romania tidak mendapatkannya. Sejak bayi, mereka biasa menangis berjam-jam tanpa ada yang sempat mendiamkan mereka—hingga mereka diam sendiri karena kelelahan.


Ada seorang anak yang dipeluk oleh seorang pengunjung. Setelah itu, tentu si pengunjung pulang dan anak itu ditinggalkan. Anak itu begitu kecewa dan membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Sejak itu, anak itu tidak pernah mau dipeluk siapa pun. Dia beranggapan bahwa pelukan hanya berlaku dalam sekejap dan sesudah itu hanya ada penderitaan.


Sepasang orangtua di Vancouver, Canada, masuk kamar anak asuhnya itu. Dia menyaksikan anak itu memegang seekor anak kucing, memutar-mutarnya sejenak kemudian melemparkannya ke luar jendela.


Orangtua yang di Texas tidak sanggup mengasuh anak laki-lakinya yang usia 5 tahun. Bocah itu sepanjang siang hanya bengong, menatap sudut rumah. Tapi begitu malam tiba, ia menyelinap ke kamar anak-anak lain dan menyerang anak-anak yang sedang tidur.


Buku ini menyebutkan bahwa Eropa Barat dan Amerika Utara telah mengimpor mimpi buruk berupa anak-anak yang kehilangan kasih sayang. Mereka ini diciptakan oleh sosiopat Romania yang sadis, Ceausescu, yang sekarang sudah tiada.


Anak-anak dari panti asuhan itu tidak mengenal cinta sejak kecil. Mereka tidak bisa menyayangi dan tidak bisa disayangi. Itu yang kita sebut psikopat, orang yang sudah kehilangan rasa kasih. Melalui brain scanning, ditemukan bahwa ternyata anak-anak yang ketika kecil kekurangan kasih sayang orang tua, mengalami kerusakan otak. Anak-anak yang disia-siakan orang tuanya pada waktu kecil otaknya mengerut, dan tidak berkembang lagi. Salah satu fungsi yang rusak adalah di bagian depan, di wilayah dahi memanjang ke telinga—disebut orbital cortex. Bagian dari otak itulah yang menjadi rem hawa nafsu, agresitivitas, dan tindak kekerasan. Anak-anak yang disia-siakan akan tumbuh tanpa kendali, remnya blong.


Artinya, bagian orbital cortex ini rusak. Akibatnya, ketika marah, mereka tidak bisa mengendalikan kemarahannya. Jika ada peraturan, setiap saat mereka bisa melanggar peraturan itu tanpa perasaan bersalah sedikit pun.


Ketika tawuran antar sekolah di Jakarta bisa berlangsung sampai tiga hari, muncul pertanyaan seperti “Mengapa anak-anak itu ikut tawuran? Apa yang mendorong mereka melakukannya?”


Pertanyaan itu sangat sering diajukan kepada para psikolog dan kita bisa menduga, bahwa agresivitas remaja yang gemar tawuran itu bermula dari masa kanak-kanak mereka yang miskin kasih sayang.


Jadi, tanda-tanda psikopat adalah dia tidak bisa berempati, dingin, tidak peduli, kejam, sukar disayangi, sekaligus sukar menyayangi. Dia juga manipulatif, licik, senang menipu, memperdaya, berkhianat, dan memanfaatkan orang untuk kepentingan dirinya. Dia punya kebiasaan berbohong, dan kemana-mana kebohongan menjadi sekehariannya. Perkataannya menyesatkan, menutup-nutupi kebenaran, tidak ada perasaan bersalah, tidak pernah punya malu, tidak punya perhatian pada apa pun, tidak punya hati nurani, tidak sabaran, mudah tersinggung, pemarah, bertindak gegabah, dan agresif—baik verbal maupun fisik.


Secara verbal, dia senang menggunakan kata-kata kasar. Tindakanya juga kasar, tidak berani bertanggung jawab, tidak bisa memenuhi komitmen, perjanjian, atau kewajiban. Dia juga egosentris, dan menggunakan segala cara untuk mencapai kesenangan sendiri. Biasanya, anak-anak seperti itu terlibat dalam pencurian. Untuk mengenal apakah anak itu psikopat atau bukan, perhatikan apakah dia banyak berbohong. Biasanya, itu adalah awal dari kejahatan yang lebih lanjut. Para psikopat yang berpengalaman biasanya terlibat dalam berbagai kenakalan remaja.


Jika Anda menyimak, pernah ada berita khusus laporan Tempo yang membuat gempar. Ada pengakuan dari para algojo yang membunuh orang-orang yang dianggap PKI. Romo Magniz menyebutnya sebagai pembunuhan yang paling menyeramkan dalam sejarah umat manusia, dan itu dilakukan oleh bangsa Indonesia. Perkiraan yang paling moderat, sekitar dua juta orang Indonesia dibunuh dalam beberapa tahun itu.


Sementara itu, sekian juta lagi dibuang dari tanah airnya, diculik, dan diasingkan ke Pulau Buru. Ratusan perempuan ditangkap, dipindahkan dari penjara satu ke penjara lainnya, dan mendapatkan perlakuan tidak manusiawi. Yang melakukan semua itu adalah orang-orang Indonesia juga. Pada waktu yang sama juga, mereka melakukan pembantaian sesama manusia. Mereka melakukannya dengan cold hearted--berhati dingin.


Membunuh dengan hati dingin itu biasa dilakukan oleh pembunuh tanpa motif apa-apa. Dalam kasus PKI, ada motif utama, yaitu motif agama. Agama bisa berubah menjadi sesuatu yang menakutkan, apabila orang-orang yang beragama itu digiring untuk sebuah ideologi yang tidak berdasarkan kasih sayang, apabila yang menggerakkan agama itu adalah ideologi kebencian. Kita bertanya-tanya, mengapa orang-orang sampai bisa seperti itu.


Harian Umum Kompas juga pernah mewawancarai saya mengenai kasus bunuh diri dan depresi di Indonesia. Kita ketahui, kasus depresi di Indonesia semakin lama semakin tinggi, bersamaan dengan kenaikan pendapatan dan kepemilikan barang-barang mewah. Depresi terjadi karena rasa kesepian. Sedihnya, kesepian itu pun kini melanda anak-anak kita, karena orang tua mereka sibuk. Yang mengejar karir biasanya berangkat pagi dan pulang malam. Di saat yang sama, anak-anak harus menghadapi sekolah yang menimbulkan stress berkepanjangan.


***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

93 views0 comments

Recent Posts

See All