• @miftahrakhmat

(8) Pengantar Shalat Malam


Bismillahirrahmanirrahim

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad


Shalat malam itu al-Miftah.


Alkisah, pada kecamuk perang delapan tahun Iran dan Irak, seorang ulama sepuh melepas para relawan ke garis depan. Ulama ini, Allamah Dastghaib namanya, dikenal sebagai ulama khos, ulama sufi, seorang arif yang diketahui keluhuran ilmu dan ibadahnya. Konon, beliau mengulang seluruh shalatnya dua kali. Mengulang shalat ini artinya kembali menunaikan seluruh shalat sejak usia baligh hingga sekarang. Untuk menyempurnakan, untuk memberikan yang terbaik pada Tuhan. Sebagian dengan shalat sunnah, beliau dengan mengulangi shalat fardunya. Beliau juga menulis puluhan buku. Tema beragam sejak akhlak, tafsir quran hingga filsafat. Murid-muridnya banyak. Pendek kata, kriteria ulama besar ada pada dirinya.


Satu saat, beliau melepas para relawan. Memberikan bagi mereka dorongan moral, semangat dan doa. Dalam usia yang sepuh, suara beliau masih membara. Ratusan mata memandang haru dan penuh harap. Bersiap menunggu petuah-petuahnya. Dan setelah salam dan iftitah, beliau kemudian berkata, “Siapakah di antara kalian yang rela menukarkan pahala dua rakaat shalat malam di medan perang dengan seluruh amalan hidupku?” Hadirin bergemuruh. Siapa yang tak mengetahui karya hidup beliau. Siapa yang tak mendengar amal ibadah beliau. Dan toh, di hadapan para relawan itu beliau berkata, dua rakaat shalat malam di medan juang lebih baik dari semua karya yang beliau hasilkan.


Entah, mungkin orang mengira begitulah cara para ulama memberikan motivasi. Tapi saya kira, beliau sungguh-sungguh. Beliau benar-benar mengetahui kadar berdiri dan berserah diri pada Tuhan di malam-malam itu. Saat orang-orang pilihan itu jauh dari keluarga mereka, membela tanah air mereka, dan berada di tengah desingan peluru dan dentum meriam. Sungguh, ats-tsawab ‘ala qadril masyaqqah pahala ditentukan oleh kadar usaha menemukan maknanya. Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menyampaikan riwayat lainnya, “…dengan kelelahan yang berat, ditinggikan derajat dan diperoleh keberlangsungan rehat.” Kitab Ghurar al-Hikam memuat kedua riwayat di atas dan yang semisalnya. Sebagian ulama mengkritisi riwayat ini dan lebih menekankan kebermanfaatan, bukan kelelahan satu amalan. Saya kira, shalat malam di medan juang itu, menggabungkan keduanya.


Ya, telah banyak buku ditulis tentang shalat malam. Begitu banyak hadits yang menceritakan keutamaannya, tapi tetap…sebagian waktu kita kehilangan keberkahannya. Favorit saya adalah hadits yang dikisahkan ulang oleh Allah yarham Ayahanda tercinta. Hadits qudsi Allah Swt kepada Nabi Musa as, “Berdustalah orang yang mengatakan ia mencintaiku, tetapi ketika malam datang, ia terbaring dalam kehangatan selimutnya.” Atau hadits Baginda Nabi Saw yang sangat sering juga Allah yarham kutip sebagai dasar pergaulan, “Ya ayyuhan naas, afsyus salaam, wa ath’imut th’am, wa shilul arham, wa shallu bil laili wan naasu niyaam. Tudkhilul jannata bis salam.” Wahai manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, sambungkan persaudaraan, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur terpejam. Niscaya kalian masuk surga keselamatan (HR. Ibnu Majah 2648).


Mengapa hadits itu jadi dasar pergaulan? Karena semuanya mendatangkan keberkahan bagi orang lain, bagi sesama, bagi semesta. Menyebarkan salam artinya mendatangkan keselamatan, menjaga dan memelihara perdamaian. Memberikan makanan artinya menjaga agar jangan sampai di tengah kita ada yang kelaparan, mendidik kita untuk berbagi dan berempati. Menyambungkan silaturahmi artinya saling berbagi kebahagiaan. Semua untuk orang lain. Lalu bagaimana dengan shalat malam? Bagaimana ia menjadi amal untuk orang lain? Saudara akan menemukannya pada buku ini. Terima kasih pada setiap tangan yang telah menghadirkannya untuk kita. Dalam shalat malam yang diajarkan oleh keluarga Nabi Saw, pada shalat malam itu kita memohonkan ampunan Tuhan. Sebelum memohon ampun untuk diri, kita memohonkan ampunan Tuhan bagi orang lain, bagi orang-orang yang kita cintai, bahkan bagi mereka yang mungkin sedang bermasalah dengan kita. Shalat malam mengajarkan kita untuk menyerahkan diri kita dan perlakuan orang terhadap kita hanya kepada Allah Swt. Shalat malam juga mengajarkan kita untuk mensyukuri nikmat Tuhan dengan berterima kasih pada mereka yang melalui tangan mereka Allah Swt alirkan nikmat itu sampai pada kita. Pada shalat malam ada syukur dan istighfar. Kita tersungkur dalam puja dan ampunan.


Al-Qur’an mengisahkan shalat malam sebagai kewajiban para nabi, kewajiban Baginda Nabi Saw. Bila Baginda Nabi Saw adalah sang maha terpuji (Muhammad), maka derajat yang dipuji (Mahmud) hanya dapat dicapai seorang hamba dalam shalat malam. Allah Swt menggunakan kata Rabb ‘sang pemelihara’ karena bangun malam itu memang mesti dijaga. Dialah al-Hamid yang akan mengangkat hamba ke tempat yang terpuji itu.


Dan mampu tidak mampunya kita untuk shalat malam memang terkait dengan pemeliharaan diri kita. Dalam riwayat lainnya, seorang bertanya tentang kesulitan bangun di malam hari. Seorang teladan agung menjawabnya: itu karena dosa-dosa yang kamu lakukan. Ada juga ulama yang memberikan nasihat, agar bisa shalat malam, peliharalah mata, telinga dan lisanmu. Shalat malam adalah anugerah keterpeliharaan.


Allamah Bahjah, seorang ulama sufi lainnya dari kota Allamah Dastghaib, pernah berkata: “Kalau kau terbangun di malam hari, setidaknya ucapakan tasbih. Bersyukur dan berterima kasihlah. Karena ada malaikat yang telah membangunkanmu untuk itu.” Bangun di tengah malam adalah karunia. Ada juga ulama yang mendawamkan ayat terakhir Surat al-Kahfi sebelum tidur, lalu bermohon kepada Allah Swt untuk dibangunkan pada waktu-waktu tertentu. Insya Allah, ia akan terbangun pada waktunya. Shalat malam adalah undangan khusus dari Tuhan.


Tengah Malam


Ada perbedaan pendapat tentang kapan boleh dilakukannya shalat malam itu, dan bagaimana kedudukannya dalam syariat. Apakah wajib atau sunnah yang dianjurkan. Ada mazhab yang mewajibkannya berdasarkan Al-Qur’an Surat al-Isra ayat 79. Ada juga yang memahami kewajiban itu hanya pada Baginda Nabi Saw sebagaimana disiratkan pada ayat-ayat pertama Surat al-Muzammil. Lalu ada pertanyaan tentang kapan waktu terbaik untuk shalat malam itu. Jawaban yang umum adalah setelah tengah malam, secara khusus pada sepertiga malam terakhir. Jawaban-jawaban ini berdasarkan pada beberapa keterangan. Kata nisfahu (setengah daripadanya) disebut di awal dan di akhir Surat al-Muzammil. Dengan Tuhan mengasihi kekurangan kita dalam menunaikannya: “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau setengah daripadanya atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu…” (QS. Al-Muzammil [73]: 20). Nabi Ya’qub as menunggu waktu untuk memohonkan ampunan bagi putra-putranya pada sepertiga malam terakhir, dini hari Jumat. Itulah mengapa Al-Qur’an menggunakan kata ‘saufa’ yang menunjukkan pada waktu akan datang yang tidak segera. “Ya’qub berkata: aku akan (saufa) memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf [12]: 98).


Tetapi agama juga mengingatkan kita pada sejarah ketika Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib ‘alaihimas salam menemui ayahnya. Ia mengabarkan perilaku orang yang shalat di masjid dan tidak dicontohkan Baginda Nabi Saw. Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw menjawab, “Aku tidak ingin termasuk ke dalam ayat “Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang. Seorang hamba ketika dia mengerjakan shalat.” (QS. Al-Alaq [96]: 9-10) Sayyidina Ali tidak menghentikan mereka. Karenanya, shalat sunnah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah Swt dapat dilakukan kapan saja. Selama syarat-syaratnya terpenuhi: tempat dan perangkat yang diperoleh dengan cara yang halal. Dalam fikih, bahkan dibahas sekiranya semua sekitar kita najis, kita tetap dapat shalat dengan menempatkan dahi kita di atas tempat yang bersih. Sekiranya tak tersisa tempat yang bersih itu, kita dapat menggunakan bagian dalam telapak tangan kita. Tidak ada alasan untuk tidak shalat pada Dia. Tak mampu berdiri, duduk. Tak mampu duduk, berbaring. Bahkan gerakan shalat dapat diwakili oleh kedipan mata kita.


Karena itu, pada shalat malam di bulan suci, ada yang menunaikannya bakda shalat Isya. Mereka menamainya shalat tarawih. Ada juga yang menunda witirnya hingga waktu dini hari. Dalam mazhab para pengikut keluarga Nabi Saw, shalat malam dapat dilakukan setelah lewat tengah malam. Di sini bagian yang menariknya. Umumnya kita memaknai tengah malam itu tepat jam 00.00. Kita mengikuti peredaran 24 jam yang umum berlaku. Dalam fikih, tengah malam itu dihitung sebagai pertengahan dari waktu terbit dan tenggelamnya matahari. Dan ini berbeda setiap malamnya. Dalam Urwatul Wutsqa, 1/517/perkara pertama, “Dan diketahui tengah malam itu dari bintang yang bersinar di awal tenggelam matahari setelah ia berpendar dari perputaran tengah hari menuju waktu tenggelam matahari. Dan berdasarkan ini, maka ukuran untuk tengah malam adalah apa yang ada di antara waktu terbit dan tenggelam matahari. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan juga bahwa waktu tengah malam itu adalah waktu antara tenggelam matahari dan waktu fajar. Demikian pendapat kehati-hatian dari sebagian ulama. Dan agar kita berhati-hati, hendaknya kita menunaikan shalat malam pada awal waktunya setelah masuk pertengahan malam itu.” Jadi, sekiranya waktu terbit matahari adalah jam 04.00 dan waktu tenggelamnya jam 18.00, maka tengah malam sudah berlaku pada jam 23.00. Kita sudah bisa menunaikan shalat malam.


Karunia yang disia-siakan


Masih dalam pertimbangan fikih keluarga Nabi Saw, yang sebagiannya akan Saudara temukan pada buku ini, shalat malam dapat dilakukan berapa saja. Benar, riwayat menyebutkan angka 11 rakaat. Delapan rakaat dengan setiap dua rakaat salam dan dua rakaat shalat syafa’ dan satu witir. Tetapi, kita dapat pula menunaikannya hanya dua rakaat. Seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit… bahkan kita bisa menggantinya di waktu siangnya. Misalnya pada waktu dhuha. Atau sekiranya kita menunaikan shalat malam delapan rakaat, dan waktu fajar telah tiba sebelum kita sempat shalat witirnya. Kita bisa mengqadhanya pada waktu siangnya. Kurang pengasih apa lagi Tuhan kita? Demi mengangkat kita pada tempat yang terpuji itu. Kiranya kita benar-benar menyia-siakan karunia teramat mulia ini. Kita benar-benar hamba yang tak bersyukur. Berdasarkan banyak hadits, para ulama menyimpulkan bahwa shalat malam adalah kunci segala persoalan. Shalat malam adalah al-Miftah. Pembuka pintu permasalahan. Karena kita pasrah berserah menerima segala ketentuan. Karena kita mendekatkan diri kita pada waktu yang dirindukan Tuhan.


Baginda Nabi Saw bersabda, “Ketahuilah, tidak ada satu pun yang mendekatkan seorang mukmin pada Tuhannya kecuali (lima hal): shalat malam, tasbih dan tahlil, memohon ampunan dan rintih tangisan di pertengahan malam, membaca Al-Qur’an hingga terbit waktu fajar, dan menyambungkan shalat malam pada shalat Subuh. Siapa yang melakukannya, aku janjikan padanya kabar bahagia. (Yaitu) Hari keberlimpahan yang tidak ada kesulitan dan penderitaan…” (Irsyad al-Qulub, 2: 17-18) Semua yang Baginda Nabi Saw sampaikan berkenaan dengan shalat malam.


Ya Allah, ampunilah kami yang tidak mengikuti teladan para kekasihMu. Ampunilah kami yang tidak terbangun memenuhi panggilanMu. Ampunilah kami yang tidak menyebarkan kedamaian, tidak mengenyangkan yang kelaparan, tidak menjaga dan menyambungkan persaudaraan. Ampunilah kami yang tidak bergabung bersama para pecintaMu. Berdiri di keheningan malam, pada saat mata-mata terpejam. Ampunilah kami yang terlelap dalam kehangatan tempat tidur kami. Berikan kami waktu. Karuniakan pada kami manisnya dini hari itu. Anugerahkan kesempatan untuk mengisi malam dengan doa. Karena sungguh, doa adalah intisari ibadah, dan shalat malam adalah pembukanya. Adalah kuncinya.


Ampunilah kami.


@miftahrakhmat

jalanrahmat.id





image source:

https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTwTjjXUDaRC3DcL0nmGnqj0qFm2-3QJq4uJw&usqp=CAU

160 views0 comments

Recent Posts

See All