top of page
  • Akhi

Pengaruh Lingkungan Neonatal: Jendela Peluang


Kalau tidak ada gangguan dalam lingkungan prenatal (sebelum kelahiran), bayi lahir dengan bekal sebanyak 100 miliar neuron dengan koneksikoneksi awal. Tetapi otak masih berupa produk mentah yang belum selesai. Otak neonatal hanyalah sebuah lukisan berbentuk sketsa, cetak biru yang sama sekali belum sempurna. “Tangantangan” lingkunganlah yang akan menyelesaikan atau membengkalaikannya. Berbeda dengan lukisan, yang bisa diselesaikan kapan saja, otak kita mempunyai batas waktu. Inilah yang disebut “windows of opportunity”, jendela peluang. Proses penyempurnaan koneksi-koneksi dendrit akan terhenti, begitu jendela peluang tertutup.


Alkisah, ada sebagian bayi yang lahir dengan katarak bawaan, congential cataract, penutupan lensa mata yang mengalangi masuknya cahaya. Jika katarak itu segera dihilangkan, mata bayi itu akan menjadi mata yang normal. Katakanlah, karena keterbatasan pelayanan medis, kataraknya baru dihilangkan setelah berumur tiga tahun. Apa yang akan terjadi? Mata bayi itu sama seperti mata yang normal dan sehat, tetapi mata itu tidak fungsional dan tidak bisa melihat. Bayi itu tetap buta, walaupun cahaya masuk ke dalam retinanya. “Ini terjadi karena pengkabelan sistem visual, pengkabelan koneksi-koneksi retina ke thalamus, dan thalamus ke korteks serebral, terbentuk karena penggunaan—karena penembakan neuron yang menyebabkan keluarnya neurotransmiter.”(Conlan, 2005)


Supaya koneksi-koneksi sinaptik dalam sistem visual bertahan lama, otak memerlukan masukan visual —cahaya yang mengenai retina dan mengaktifkan neurotransmiter yang disebut glutamat. Masukan visual yang datang dari lingkungan itu bukan saja membentuk gambaran dunia visual, tetapi juga memperkuat dan menghidupkan koneksi-koneksi pada daerah otak yang bertugas memproses penglihatan. Waktu tiga tahun adalah waktu peluang bagi mata untuk memperkuat koneksi itu. Jika waktu itu terlewati, “sketsa” sistem visual bayi akan tetap menjadi sketsa. Setelah tiga tahun, jendela peluang itu tertutup sudah. “Jendela peluang ialah periode ketika otak memerlukan jenis-jenis masukan tertentu untuk menciptakan atau menstabilkan struktur yang bertahan lama” (Sousa, 2001: 24) .


Jendela peluang itu bukan hanya ada pada proses penglihatan; juga kemampuan linguistik, gerakan, perasaan, musik, matematika, logika, dan sebagainya. Jendela peluang ini adalah periode kritis. Masa terbukanya jendela-jendela peluang itu berbeda-beda. Namun, betapa pun berbedanya, kerusakan yang terjadi pada masa ini mungkin sulit bahkan tidak bisa diperbaiki. Sebagai ilustrasi dan bukti paling jelas tentang penutupan jendela peluang adalah kisah “closet kids”, anak-anak malang yang ditemukan polisi setelah disekap orangtuanya di kamar kecil atau ruang bawah tanah. Telinganya jarang mendengar obrolan, matanya jarang melihat cahaya, dan tubuhnya kurang bergerak. Dua puluh tahun yang lalu, ketika saya menerbitkan Psikologi Komunikasi, cetakan pertama, saya menceritakan salah seorang di antara “closet kids” itu:

Pada tahun 1970, di California, seorang ibu berusia 50 tahun melarikan diri dari rumahnya setelah bertengkar dengan suaminya yang berusia 70 tahun. Ia membawa anaknya, gadis berusia 13 tahun. Mereka datang meminta bantuan pada petugas kesejahteraan sosial. Tetapi petugas melihat hal aneh pada anak gadis yang dibawanya. Perilakunya tidak menunjukkan anak yang normal. Tubuhnya bungkuk, kurus kering, kotor, dan menyedihkan. Sepanjang waktu, ia tidak henti-hentinya meludah. Tidak satu saat pun terdengar bicara. Petugas mengira gadis ini telah dianiaya ibunya. Polisi dipanggil, dan kedua orangtuanya harus berurusan dengan pengadilan. Pada hari sidang, ayah gadis itu membunuh dirinya dengan pistol. Ia meninggalkan catatan, “Dunia tidak akan pernah mengerti.”


Mungkin ia benar. Dunia tidak akan mengerti bagaimana mungkin seorang ayah dapat membenci anaknya begitu sangat. Penyelidikan kemudian mengungkapkan bahwa Genie, demikian nama samaran gadis tersebut, melewati masa kecilnya di neraka yang dibuat ayahnya sendiri. Sejak kecil ayahnya mengikat Genie dalam sebuah tempat duduk yang ketat. Sepanjang hari ia tidak dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Malam hari ia ditempatkan dalam semacam kurungan dari besi. Sering kali ia kelaparan. Tetapi kalau Genie menangis, ayahnya memukulinya. Si ayah tidak pernah bicara. Si ibu terlalu buta untuk mengurusnya. Kakak laki-laki Genielah akhirnya yang berusaha memberi makan dan minum. Itu pun sesuai dengan perintah ayahnya, harus dilakukan diam-diam, tanpa mengeluarkan suara. Genie tidak pernah mendengar orang bercakap-cakap. Kakaknya dan ibunya sering mengobrol dengan berbisik, karena takut pada ayahnya.


Ketika Genie masuk rumah sakit, ia tidak diketahui apakah dapat berbicara atau mengerti pembicaraan orang. Ia membisu. Kepandaiannya tidak berbeda dengan anak yang berusia satu tahun. Dunia mungkin tidak akan pernah mengerti. Tetapi ditemukannya Genie telah mengundang rasa ingin tahu para psikolog, linguis, neurolog, dan mereka yang mempelajari perkembangan otak manusia. Genie adalah contoh yang langka tentang seorang anak manusia yang sejak kecil hampir tidak pernah memperoleh kesempatan berkomunikasi. Penemuan Genie menarik perhatian. Genie tidak dibekali keterampilan mengungkapkan pikirannya dalam bentuk lambang-lambang yang dipahami orang lain. Apakah kurangnya keterampilan ini menghambat perkembangan mental lainnya? Apakah sel-sel otak mengalami kelambatan pertumbuhan? Apakah seluruh sistem kognitifnya menjadi lumpuh? Inilah di antara sekian banyak pertanyaan yang menyebabkan Susan Curtis, profesor linguistik di University of California, mencurahkan waktu tujuh tahun untuk meneliti Genie.


Dua puluh tahun kemudian, ketika menulis buku ini, saya menjawab pertanyaan itu dengan singkat: Genie sudah melewati jendela peluang untuk menguasai bahasa. Konon, ia sudah belajar bahasa isyarat dan sejumlah perbendaharaan kata; tetapi ia tidak mampu sama sekali untuk mempelajari tatabahasa. Apalagi kisah Genie tidak “happy ending” seperti yang kita harapkan. Karena dana terbatas, Genie pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan yang lain. Panti-panti asuhan itu sering kali menjadi pantipanti pelecehan dan penyiksaan. Dan Genie yang malang kembali lagi kepada perilakunya dalam sekapan.


Berbeda dengan Genie, Isabelle “ditemukan” pada usia enam tahun. Ia bersama ibunya yang bisu melarikan diri dari “penjara” rumah kakeknya. Dengan latihan yang intensif, satu tahun setengah setelah itu, ia menguasai 1.500 kata Inggris dan dapat menyusun kalimat majemuk seperti “What did Miss Mason say when you told her I cleaned my classroom?” Sebuah prestasi yang menakjubkan! Boleh jadi kemampuan bahasa Inggrisnya lebih baik daripada Anda setelah belajar bahasa Inggris tiga tahun di SMP. Isabelle belum melewati jendela peluang untuk belajar sintaksis.


Jendela peluang untuk belajar bahasa mulai terbuka pada usia dua bulan. Daerah otak yang berhubungan dengan bahasa menjadi sangat aktif pada usia 18 sampai 20 bulan. Bayi menguasai sekitar sepuluh kata per hari, sehingga ia menguasai sekitar 900 kata pada usia tiga tahun, dan terus menerus meningkat sampai 3.000 kata pada usia lima tahun. Kita berbicara secara rata-rata. Jika ortunya jarang berbicara, anak menguasai lebih sedikit perbendaharaan kata. Banyak penelitian menunjukkan bahwa bayi yang ibunya sering mengajaknya berbicara menguasai lebih banyak kata dan lebih cerdas.


Jendela peluang untuk berbahasa tetap terbuka sepanjang hidup kita. Tetapi beberapa komponen bahasa tertutup lebih awal. Jendela bahasa tutur (spoken language) tertutup pada usia sepuluh atau sebelas tahun. Sahabat saya, Ahmed, dibesarkan di Amerika. Anaknya, Kumayl, lahir di Amerika. Sekarang tentu saja Ahmed sangat fasih berbicara bahasa Inggris, tetapi dengan aksen asing. Kumayl berbicara dengan akses persis seperti native speaker. Mengapa? Mungkin Ahmed hijrah ke Amerika pada usia di atas sepuluh tahun.


Banyak mahasiswa Indonesia dikirim ke Jerman setelah dewasa. Di sana mereka berusaha melahirkan sebanyak-banyaknya anak (karena setiap pertambahan anak menambah tunjangan biaya dari pihak pemerintah). Ketika pulang lagi ke Tanah Air, anaknya berbicara bahasa Jerman lebih fasih daripada orangtuanya. Karena itu, sebetulnya, belajar bahasa asing harus dilakukan sejak dini. (Salah satu keajaiban sekolah-sekolah di Indonesia ialah memberikan pelajaran bahasa asing pada tingkat SMP dan selanjutnya, ketika beberapa jendela peluang komponen bahasa sudah tertutup).


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam)dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

11 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page