top of page
  • Akhi

PERAN AGAMA DALAM MASYARAKAT


"Religion, in welcher Form sie auftritt, bleibt das ideale Bedürfnis der Menschheit."

--Anselm von Feuerbach



Anselm von Feuerbach, yang ucapannya saya kutip di atas, adalah ahli hukum terkenal. "Agama, dalam bentuk apa pun dia muncul," begitu katanya, tetap merupakan kebutuhan ideal umat manusia." Buat Feuerbach, peran agama menentukan dalam setiap bidang kehidupan. Manusia, tanpa agama, tidak dapat hidup sempurna. Anselm mempunyai anak yang cerdas-Ludwig von Feuerbach. Seperti memperkukuh kesenjangan antar generasi, Ludwig von Feuerbach tersohor sebagai filsuf materialis yang mempersetankan agama. "Der Mensch ist was er iszst" adalah ucapannya yang sering dikutip. Manusia adalah apa yang ia makan. Makanan menentukan kehidupan manusia; termasuk kehidupan beragamanya.


Dua Feuerbach yang saya ceritakan di atas melukiskan dua perspektif tentang agama. Feuerbach tua berkata bahwa agama berperan dan menentukan dinamika pembangunan. Sebagian orang mungkin keberatan dengan hal ini: agama sama sekali tidak punya peran apa-apa dalam pembangunan. Kalaupun ada, perannya kecil dibandingkan dengan kenaikan GNP dan pendapatan perkapita. Pendapat ini sejalan dengan Feuerbach junior. Saya sendiri mendukung keduanya: Agama bisa berperan dan tidak berperan, bergantung pada Anda; bergantung pada peran yang Anda berikan bagi agama; bergantung pada bagaimana Anda memandang agama.


Saya akan menyampaikan dua perspektif ini - perspektif idealistik dan perspektif materialistik. Kemudian, dengan pengetahuan saya yang awam, saya akan mencoba menampilkan perspektif Islam. Tetapi sebelum sampai ke situ, saya terlebih dahulu akan menjelaskan apa yang terkandung dalam pengertian agama.


Dimensi-Dimensi Agama


Kita sering berbincang tentang agama, dan berakhir dengan perbedaan yang meruncing hanya karena masing-masing memandang agama dari dimensi-dimensi yang berbeda. Satu pihak memandang bahwa kesadaran sedang bangkit, karena melihat pengunjung masjid yang melimpah dan peringatan keagamaan yang meriah. Pihak yang lain menunjukkan mundurnya perasaan beragama dengan meningkatnya tindakan kriminal, perilaku antisosial, dan kemerosotan moral. Kedua pihak tidak akan bertemu, sebelum ditunjukkan kepada mereka bahwa agama yang mereka bicarakan tidaklah sama. Pihak pertama membicarakan agama dalam dimensi ritual, pihak kedua dalam dimensi sosial.


Peneliti sosial pun sering bertengkar ketika mengukur gejala agama, karena masing-masing menggunakan indikator yang berlainan. Ada penelitian yang mencoba meneliti pengaruh agama terhadap kesehatan mental. Ditemukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara orang yang beragama dan orang yang tak beragama dalam hal kesehatan mental. Jumlah penderita penyakit mental kedua kelompok itu hampir sama. Pokoknya, bohonglah orang yang mengatakan bahwa agama menyebabkan orang lebih tabah, lebih tenteram, dan lebih tahan dalam menghadapi guncangan hidup. Gordon W. Allport, seorang psikolog sosial terkenal, keberatan dengan kesimpulan ini. Mereka salah mengukur, kata Allport. Perasaan keagamaan tidak dapat diukur dengan menanyakan berapa kali mereka datang ke gereja. Keagamaan (religiosity) harus diukur dengan a comprehensive commitment (keterlibatan yang menyeluruh) dalam seluruh ajaran agama. Peneliti pertama menggunakan dimensi ritual. Allport melihat agama dalam dimensi sosial.


Setiap agama, paling tidak, terdiri atas lima dimensi: ritual, mistikal, ideologikal, intelektual, dan sosial.' Dimensi ritual berkenaan dengan upacara-upacara keagamaan, ritus-ritus religius, seperti shalat, misa, atau kebaktian. Dimensi mistikal menunjukkan pengalaman keagamaan yang meliputi paling sedikit empat aspek: concern, cognition, trust, dan fear. Keinginan untuk mencari makna hidup, kesadaran akan kehadiran Yang Mahakuasa, tawakal, dan takwa adalah dimensi mistikal. Dimensi ideologikal mengacu pada serangkaian kepercayaan yang menjelaskan eksistensi manusia vis-a-vis Tuhan dan makhluk Tuhan yang lain. Pada dimensi inilah, misalnya, orang Islam memandang manusia sebagai khalifatullah fi al-ardh, dan orang Islam dipandang mengemban tugas luhur untuk mewujudkan amar Allah di bumi. Dimensi intelektual menunjukkan tingkat pemahaman orang terhadap doktrin-doktrin agamanya -- kedalamannya tentang ajaran-ajaran agama yang dipeluknya. Dimensi sosial -- disebut Glock dan Stark sebagai consequential dimensions - adalah manifestasi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat. Ini meliputi seluruh perilaku yang didefinisikan oleh agama.


Semua agama mempunyai dimensi-dimensi di atas, walaupun titik beratnya berlainan. Pada satu agama saja terdapat penonjolan yang berbeda untuk dimensi-dimensi tertentu. Di kalangan Islam, misalnya, ada yang menonjolkan dimensi ritual. Orang-orang ini umumnya sibuk membicarakan Sunnah dan bid'ah pada gerakan-gerakan shalat, tetapi tidak peka terhadap masalah-masalah sosial. Kalau saya tidak salah lihat, Katolik mempunyai titik berat dimensi ritual yang lebih banyak daripada Protestan. Secara keseluruhan, menurut Edward Mortimer dalam Islam and Power, Islam lebih banyak menekankan dimensi sosial ketimbang dimensi ritual, sehingga Mortimer melihat Islam sebagai a political culture. Kita akan membicarakan lebih lanjut dimensi-sosial agama Islam ini pada akhir tulisan ini. Marilah kita lihat bagaimana peran agama dalam masyarakat yang membangun, menurut dua perspektif. Tanpa berlarut- larut dalam uraian semantik, saya akan membatasi pengertian masyarakat yang membangun sebagai masyarakat yang meningkatkan kualitas hidupnya sesuai dengan kerangka nilai (value judgement) tertentu.



Peran Agama menurut Perspektif Idealistik dan Materialistik


Membagi pandangan tentang agama menjadi dua perspektif saja sebenarnya menyederhanakan persoalan. Berbagai aliran pemikiran, sebenarnya, terletak di antara dua ekstrem ini. Beberapa di antaranya bahkan merupakan gabungan keduanya. Marxisme, misalnya, dekat dengan perspektif materialistik, walaupun ia tidak mengabaikan peran gagasan dalam menimbulkan perubahan sosial. Gagasan adalah penting, tetapi pada akhirnya, faktor penentu sejarah umat manusia adalah materi. Alfred North Whitehead (1933), sebaliknya, memandang bahwa gagasanlah yang paling menentukan walaupun praktik-praktik kehidupan juga penting. Roger T. Bell, yang meneliti masyarakat Jamaika, boleh dibilang sebagai pengikut paham campuran. Di Jamaika, perubahan gagasan dan materi saling berinteraksi dan menimbulkan perubahan sosial.


Membicarakan berbagai aliran itu tidaklah mungkin di sini. Terpaksa dipilih "wakil-wakilnya" untuk setiap perspektif. Tesis Weber dipilih untuk perspektif idealistik dan teori Smelser untuk perspektif materialistik.


1. Perspektif Idealistik


Menurut perspektif ini, gagasan menentukan perilaku manusia. Dengan mengikuti pendapat Lerner, gagasan merasuki manusia seperti ruh halus memasuki tukang-tukang sihir dan menggerakkan seluruh perilaku mereka. Menurut Hegel, sejarah umat manusia adalah perkembangan ruh (spirit) dalam waktu. Agama termasuk wilayah gagasan. Agama adalah semacam ideologi. Agama adalah ideologi yang menimbulkan perubahan --begitu tesis Max Weber ketika ia membicarakan etika Protestan dan ruh kapitalisme. Kapitalisme didasarkan pada perilaku rasional yang dilahirkan oleh kesalehan (asceticism). Menurut paham Protestan, iman adalah karunia Tuhan, dan manusia mampu membuktikan karunia Tuhan ini dengan amal yang nyata. Kerja memang tidak menjamin keselamatan, tetapi kerja mutlak diperlukan untuk membuktikan bahwa kita memiliki keselamatan itu. Dengan pemikiran itu, orang Kristen menata hidupnya secara rasional. Penghamburan waktu dipandang sebagai dosa. Begitu pula kemewahan. Kerja adalah panggilan Tuhan. "Bila pembatasan konsumsi dikombinasikan dengan pengeluaran kegiatan yang menghasilkan, hasil yang tak terhindarkan sudah jelas: akumulasi modal lewat dorongan kesalehan untuk menabung," kata Weber.


Mengikuti tesis Weber ini, banyak penelitian telah dilakukan untuk membuktikan peran agama dalam pembangunan. Pieris (1969) menunjukkan bagaimana Sikhisme, yang memberontak kepada sistem kasta Hindu, telah melahirkan sikap positif terhadap kerja dan kehidupan yang sederhana. Kelompok Sikh, akhirnya, menjadi pengusaha-pengusaha yang hidupnya relatif lebih maju daripada kelompok-kelompok Hindu. Geertz, dalam penelitian terkenal atas Mojokuto, menunjukkan bahwa kelompok Muslim pembaru memiliki kesalehan yang mirip dengan etika Protestan. Kelompok pembaru ini hidup berhemat (gemi), bekerja keras, makan dan berpakaian sederhana, menghindari upacara-upacara yang meriah, dan menekankan usaha individual. Dari kelompok inilah lahir- pengusaha-pengusaha pribumi-petty manufacturers. Walaupun tesis Weber ini banyak dikritik, karena kelemahan metodologis (begitu pula Geertz), saya melihat satu hal yang penting. Agama akan bisa berperan apabila agama itu melahirkan dimensi ideologis yang mendorong perubahan sosial, dan bila dimensi sosial agama membersit cukup kuat dalam kehidupan sehari-hari. Protestantisme adalah reaksi terhadap Katolikisme, seperti reformisme Islam juga merupakan reaksi terhadap konservatisme. Keduanya tampaknya mengecilkan dimensi ritual dan mistikal, dan menonjolkan dimensi sosial dan ideologikal.


2. Perspektif Materialistik


Dalam perspektif ini, agama sama sekali dianggap tidak penting. Yang penting adalah perubahan modus produksi (kata Marx), atau teknologi (kata Veblen dan Ogburn), atau institusi sosial (kata Smelser). Agama tidak menimbulkan perubahan. Agama malah berubah karena terjadinya perubahan pada aspek kehidupan material. Sering kali, agama bahkan menjadi anakronisme yang jauh "tertinggal" dalam persaingan dengan perkembangan kebudayaan material (kata Ogburn). Menurut Smelser, pembangunan terjadi lewat (a) modernisasi teknologi yang mendorong penggunaan pengetahuan ilmiah, (b) komersialisasi agrikultural yang mendorong timbulnya spesialisasi dan sistem upah, (c) proses industrialisasi yang mengalihkan penggunaan tenaga manusia ke tenaga mesin, dan (d) urbanisasi yang menyebabkan perubahan dimensi ekologis (Smelser, 1971).


Yang mirip dengan tesis Smelser adalah teori pertumbuhan ekonominya Rostow (amat populer di Indonesia). Menurut Rostow, pertumbuhan ekonomi melewati lima tahap: masyarakat tradisional, prakondisi lepas landas, lepas landas, dorongan ke arah kedewasaan, dan masa konsumsi massa yang tinggi. Semua tahapan itu sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Yang penting di sini ialah karakteristik ekonomis yang kuantitatif (misalnya, infrastruktur, pembangunan pabrik, dan sebagainya). Yang mirip teori ini adalah teori Daniel Lerner (juga populer di kalangan ilmuwan sosial) yang melihat tahapan pembangunan lewat urbanisasi, pendidikan, terpaan media, dan partisipasi. Ubahlah dahulu penduduk menjadi masyarakat kota, nanti ia akan menjadi berpendidikan. Mereka akan membaca koran, dan akan terjadilah partisipasi politik. Baik Rostow, Smelser, maupun Lerner telah dikritik, karena pandangan mereka yang simplistik dan berorientasi pada evolusi masyarakat Barat. Walaupun demikian, gagasan mereka masih banyak melandasi kebijakan- kebijakan pembangunan di banyak negara berkembang. Di dalam kenyataan, teori-teori ini tampak pada kecenderungan untuk memprioritaskan pembangunan material (untuk memenuhi indeks kondisi lepas landas) dan mengabaikan segi-segi ruhaniah.


Sembari menyimpulkan dua perspektif di atas, sekali lagi kita tekankan bahwa peran agama dalam masyarakat membangun amat bergantung pada bagaimana kita memandang agama; dari sini, kita memberikan peran apa kepada agama? Agama tidak otomatis berperan. Kita yang memberikan peran kepada agama. Lalu, bagaimana pandangan Islam terhadap peran agama dalam membangun masyarakat?



Peran Agama menurut Perspektif Islam


Tidak mungkin di sini saya menguraikan prinsip-prinsip Islam dalam mengubah masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik. Saya akan menyebutkan butir-butir yang saya anggap prinsipiel dan mencerminkan (mudah-mudahan) pandangan Islam tentang peran agama:


  1. Islam memandang bahwa kehadiran agama di dunia ini dimaksudkan untuk mengubah masyarakat (an-nas) dari berbagai kegelapan kepada cahaya; dari zhulumat kepada an-nûr (QS 14: 1, 5: 15, 57: 9, 65: 10-11, 33: 41-43, 2: 257). "Al-Islamu minhâju at-taghyiri," kata Fathi Yakan (1980). Islam adalah agama yang menghendaki perubahan. la datang bukan untuk membenarkan status quo. la datang untuk memperbaiki status quo Zhulumat adalah bentuk jamak dari zhulm (kegelapan atau kezaliman). Ada tiga macam zhulm: ketidaktahuan tentang syariat, pelanggaran atas syariat Allah, dan penindasan. Islam datang untuk membebaskan mereka dari hidup yang berdasarkan kemaksiatan menuju ketaatan, dari kebodohan tentang syariat menuju pengertian tentang halal dan haram, dari kehidupan yang penuh beban dan belenggu ke arah kebebasan. Inilah misi Islam; inilah juga misi para nabi a.s. serta pelanjut Nabi. Orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapatkan termaktub dalam Taurat dan Injil, memerintah ke ma'ruf, melarang mereka dari yang mungkar, menghalalkan yang baik bagi mereka, mengharamkan atas mereka yang jelek, dan melepaskan dari mereka beban berat mereka dan belenggu- belenggu (yang memasung kebebasan) mereka... (QS 7: 157).

  2. Istilah Islam untuk pembangunan ialah taghyir. Prinsip taghyir ditegaskan dengan firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah satu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS 13: 11). Islam memandang perubahan sosial harus dimulai dari perubahan individual. Secara berangsur-angsur, perubahan individual ini harus disusul dengan perubahan institusional. Setelah mengajarkan kewajiban Muslim terhadap sesamanya, Islam menetapkan institusi zakat. Setelah menganjurkan persaudaraan, Islam menetapkan institusi muakhkhat...

  3. Islam memandang bahwa perubahan individual harus bermula dari peningkatan dimensi intelektual (pengenalan akan syariat Islam). kemudian dimensi ideologikal (berpegang pada kalimat tauhid). Dimensi ritual harus tecermin pada dimensi sosial. Dalam Islam, shalat selalu dihubungkan dengan kehidupan bermasyarakat; shalat harus mencegah fahsya dan mungkar (QS 29: 45); shalat selalu dikaitkan dengan zakat dalam banyak ayat Al-Quran; shalat diperintahkan bersamaan dengan perintah-perintah dalam kehidupan sosial (QS 70: 22-28; QS 107; QS 2: 83; dan sebagainya). Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa ibadah yang tidak disertai dengan amal saleh dalam kehidupan sosial tidak diterima Allah. Mereka yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan, mereka yang shalat malam dan shaum tetapi menyakiti tetangganya, mereka yang beribadah tetapi merampas hak orang lain, dan sebagainya dinyatakan tidak melaksanakan agamanya. Kekurangan dalam ibadah ditebus (kifarat-nya) dengan menunjukkan amal saleh, seperti memberi makan orang miskin, tetapi cacat dalam kehidupan sosial tidak dapat ditebus dengan ibadah ritual. Saya berani mengatakan bahwa dimensi sosial ajaran Islam memperoleh proporsi yang jauh lebih besar daripada dimensi ritual atau mistikal.

  4. Islam memandang kemunduran umat Islam tidak hanya terletak pada kejahilan tentang syariat Islam, tetapi juga pada ketimpangan struktur ekonomi dan sosial. Ini dilukiskan oleh Al-Quran ketika menjelaskan kemiskinan sebagai disebabkan oleh tidak adanya usaha bersama untuk membantu kelompok lemah, adanya kelompok yang memakan kekayaan alam dengan rakus, dan mencintai kekayaan dengan kecintaan yang berlebihan (QS 89: 18-20). Karena itu, Islam menghendaki agar kekayaan tidak berputar pada kalangan orang kaya saja (QS 59: 7).


Kesimpulan


Peran agama dalam masyarakat membangun amat ditentukan oleh pandangan masyarakat itu tentang agama. Pandangan inilah yang akan menentukan peran agama di dalam masyarakat. Dalam pandangan Islam, agama seharusnya memegang peran penting. Islam datang untuk mengubah masyarakat menuju kualitas hidup yang lebih baik, seperti dicerminkan dengan tingkat ketaatan yang tinggi kepada Allah, pengetahuan tentang syariat, dan terlepasnya umat dari beban kemiskinan, kebodohan, serta berbagai macam belenggu yang memasung kebebasan mereka. Islam memandang bahwa pembangunan harus dimulai dengan perubahan individual yang disusul dengan perubahan institusional. Tugas membangun dalam Islam adalah tugas yang mulia, yang tidak jarang melebihi tugas-tugas keagamaan yang bersifat ritual.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

28 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page