• Akhi

Perkhidmatan: Jalan Cepat Menuju Tuhan

Updated: Apr 10


Pada suatu hari, seorang kiai muda dari Pesantren Lirboyo datang menemui saya dengan membawa sebuah buku tebal yang berisi renungan-renungan sufistik. Kiai itu tak pernah menempuh pendidikan formal, ia hanya masuk pesantren. Buku yang dibawanya diketik sendiri melalui mesin tik yang tampaknya dibuat di Jerman sebelum Perang Dunia II. Setelah berbincang dengannya, saya menyadari bahwa kiai ini luar biasa. Ia banyak menggunakan istilah-istilah, bukan saja dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam bahasa Inggris modern.


Saya tertarik untuk mengetahui di mana dan bagaimana ia belajar. Ia bercerita bahwa ia pernah belajar kepada salah seorang ulama, yang di kalangan Nahdlatul Ulama (NU) dianggap sebagai seorang sufi. Ketika ia berguru pada ulama itu, ia selalu diberi tugas untuk memandikan kuda Pak Kiai. Ia melakukannya dengan penuh gembira karena ia pernah mendengar cerita tentang seorang santri yang juga diperintahkan untuk mencuci kuda Syaikh Khalil di Bangkalan. Santri yang suka memandikan kuda itu lalu menjadi ulama besar dan mendirikan Nahdlatul Ulama. Namanya KH Hasyim Asyari. Cerita-cerita itu menunjukkan kepada kita bahwa mereka yang lebih banyak berkhidmat kepada kiainya daripada belajar, ternyata memperoleh ilmu yang luar biasa dan pengetahuan yang sangat tinggi. Hal ini juga mengingatkan saya kepada salah seorang kiai di Purwakarta yang mengaku bahwa ketika ia nyantri di pesantrennya, ia jarang menghapal kitab. Dalam program-program hapalan dan imtihan, ia lebih sering tidak hadir karena selalu dipanggil untuk memijat kiainya. Setelah ia keluar dari pesantren, ia malah berhasil mendirikan pesantrennya sendiri. Para santri di atas mendapatkan pelajaran pertama mereka dalam Islam, yaitu khidmat. Perkhidmatan tidak bisa diajarkan melalui lisan tapi harus dengan praktik. Bila kita belajar tasawuf kepada para sufi zaman dahulu, pelajaran pertama yang kita dapatkan bukanlah dengan duduk di kursi dan memegang kertas, tetapi membersihkan lantai dan toilet. Kita terbiasa untuk menggerakkan telunjuk kita pada setiap orang dengan sejumlah perintah-perintah tertentu. Kita sering menggunakan telunjuk kita untuk menyuruh orang berkhidmat kepada kita, bukan untuk berkhidmat kepada mereka. Kita terbiasa dikhidmati. Oleh karena itu, semestinya kita belajar tentang khidmat langsung di dalam praktiknya. Berikut ini adalah beberapa ayat Al-Quran dan hadis Rasulullah saw yang menunjukkan pentingnya berkhidmat dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Perkhidmatan dalam Al-Quran Di dalam Al-Quran, khidmat seringkali disebut dengan istilah jihad dan dilakukan dengan dua hal: bi amwalikum wa anfusikum, dengan harta dan jiwa kita. Di dalam konteks ini, Al-Quran selalu menyebutkan kata amwalikum (hartamu) sebelum anfusikum (jiwamu). Al-Quran mengajarkan kita untuk berkhidmat dengan harta sebelum dengan jiwa. Banyak di antara kita yang sering rela mengorbankan nyawa, tetapi tidak rela mengorbankan hartanya. Manusia sering mengorbankan kesehatannya, tubuhnya, bahkan jiwanya demi harta. Oleh karena itu, perkhidmatan dengan harta di dalam Islam lebih didahulukan daripada perkhidmatan dengan jiwa. Contoh perkhidmatan dengan harta yang merupakan salah satu rukun Islam adalah mengeluarkan zakat. Ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan karakteristik orang takwa selalu menyebut perihal zakat atau infak di jalan Allah sebagai salah satu cirinya. Surat Al-Baqarah ayat 2-4 menyebutkan ciri-ciri orang takwa sebagai orang yang mengimani yang gaib, menegakkan salat, mengeluarkan infak, dan mengimani kitab-kitab terdahulu. Kemudian dalam surat Ali Imran ayat 133-135, Allah berfirman: Bersegeralah kamu kepada ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang takwa, yaitu mereka yang menginfakkan hartanya, baik dalam suka dan duka; yang menahan amarahnya dan memaafkan orang lain. Sesungguhnya Tuhan mencintai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila berbuat keji dan menganiaya diri sendiri, mereka cepat ingat kepada Allah dan memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Kemudian mereka tidak mengulangi perbuatan dosanya itu padahal mereka mengetahuinya. Tanda-tanda orang takwa juga disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 177: Bukanlah kebajikan itu kamu menghadap ke Timur dan ke Barat, tetapi yang disebut kebajikan itu ialah kamu beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada karib kerabat yang dekat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, ibnu sabil, peminta-minta, dan yang memerdekakan hamba sahaya dan mengerjakan salat, mengeluarkan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila mereka berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan dan penderitaan, dan orang-orang yang tabah di dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang takwa. Surat Ali Imran ayat 92 menyebutkan infak akan sesuatu yang dicintai sebagai syarat untuk mencapai kebajikan. Ayat tersebut berbunyi: Kamu belum berbuat kebajikan sebelum kamu menginfakkan apa yang kamu cintai. Kemudian dalam surat Al-Dzariyat ayat 15-19, Tuhan berfirman: Sesungguhnya orang-orang takwa itu akan ditempatkan di surga yang mempunyai mata air-mata air. Mereka mengambil apa yang mereka kehendaki yang telah Allah anugerahkan kepada mereka. Inilah orang-orang yang dahulunya suka berbuat baik; pada malam hari mereka sedikit mempergunakan waktunya untuk berbaring dan kalau telah sampai waktu sahur mereka merintih membaca istighfar; dan yang dalam hartanya ada hak bagi orang miskin yang berkekurangan. Dari ayat-ayat di atas, kita lihat bahwa menginfakkan harta selalu disebut sebagai ciri orang takwa. Sementara mengerjakan salat sebagai karakteristik orang takwa tidak selalu disebutkan dalam ayat-ayat itu. Ketika turun ayat: Kamu belum berbuat baik sebelum kamu menginfakkan apa yang kamu cintai (QS. Ali Imran: 92), seorang sahabat Nabi bernama Thalhah menjadi amat gelisah. Ia sibuk memikirkan hartanya yang paling ia cintai. Ia ingat bahwa ia amat menyukai kebun miliknya yang terletak di samping masjid Nabi. Ia sering melihat Nabi berbaring di kebun itu sebelum pergi ke masjid. Ia kemudian dating menemui Nabi dan berkata, “Ya Rasulallah, tak ada harga yang paling saya cintai selain kebun di samping masjid ini. Sekarang saya infakkan kebun ini di jalan Allah setelah saya mendengar ayat 92 surat Ali Imran.” Setelah mendengar ayat itu, sebaiknya kita juga sudah dapat memikirkan harta apa yang paling kita cintai. Setelah itu, kita harus menginfakkan harta yang paling kita cintai itu. Karena bila kita tidak melakukannya, kita belum mencapai kebajikan. Surat Muhammad ayat 36-37 berbunyi: “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Jika kamu beriman serta bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika Dia meminta harta kepadamu lalu mendesak kamu supaya memberikan semuanya, niscaya kamu akan kikir dan Dia akan mengeluarkan kedengkianmu.” Dalam Tafsir Ibnu Katsir, berkenaan dengan ayat ini disebutkan: “Sesungguhnya Allah Swt tahu bahwa kalau kau mengeluarkan rezekimu, pada saat yang sama kau mengeluarkan penyakit-penyakit batinmu, di antaranya kedengkian, iri hati, egoisme, dan mementingkan diri sendiri. Dengan kebiasaan mengeluarkan harta, akan keluar juga kedengkianmu.” Para psikoterapis mengetahui ada banyak sekali gangguan jiwa, seperti kegelisahan, keresahan, dan stres yang berkepanjangan, yang bermula dari perbuatan kita yang selalu mementingkan diri kita sendiri; menghendaki orang lain berperilaku seperti yang kita kehendaki dan menginginkan dunia berjalan seperti yang kita atur. Kita menjadi sangat menderita bila sesuatu yang kita inginkan itu tidak terjadi. Yang selalu kita pikirkan adalah keinginan-keinginan ego kita. Untuk menghilangkan ego, kita harus melakukan latihan-latihan. Di antara latihan itu adalah mengeluarkan harta. Harta adalah sesuatu yang selalu kita inginkan. Kita hanya bisa belajar untuk menaklukkan keinginan-keinginan kita dengan mengeluarkan harta yang kita cintai. Dalam surat Al-Taubah ayat 102, Tuhan memerintahkan Nabi saw: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Rasulullah saw pernah bercerita tentang orang-orang yang telah mencapai derajat yang tinggi. Sekiranya salah seorang di antara mereka mati, Tuhan akan menggantikannya dengan orang yang sama seperti mereka. Menurut Rasulullah saw, karena orang-orang inilah Allah menurunkan hujan, menumbuhkan tanaman, menghidupkan dan mematikan, serta membuat sehat dan sakit. Kalau mereka datang di satu tempat, Allah akan selamatkan tempat itu dari tujuh puluh bencana. Setelah itu, Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian bagaimana mereka mencapai derajat yang setinggi itu? Mereka mencapainya bukan karena banyaknya salat dan haji; mereka mencapai derajat itu karena dua hal. Pertama, al-sakhâwah (kedermawanan) dan kedua, al-nasîhatul lil muslimîn (hatinya bersih dan tulus terhadap sesama muslim).” Dua hal inilah yang mengantarkan orang Kepada tingkat yang lebih tinggi. Kedermawanan dan kebersihan hati memang memiliki keterkaitan. Kalau orang sudah dermawan, insya Allah, hatinya pun bersih. Seperti disebutkan dalam surat Muhammad ayat 36-37 di atas, bila kita mengeluarkan harta kita, Tuhan juga akan menghilangkan penyakit-penyakit hati kita. Kebakhilan merupakan ungkapan egoisme. Orang yang bakhil adalah orang yang tidak mau berbagi dengan orang lain dan ingin memiliki sesuatu hal hanya untuk dirinya sendiri. Sebuah cerita klasik dari Cina mengisahkan tentang delapan manusia biasa yang kemudian diangkat menjadi dewa. Mereka menjadi dewa karena perkhidmatan mereka yang luar biasa kepada sesama manusia. Salah seorang di antaranya menjadi dewa karena ia berkhidmat kepada orang lain meskipun hatinya terus menerus disakiti. Sementara seorang yang lain diangkat menjadi dewa karena perkhidmatannya kepada orang tua dengan melwati berbagai macam ujian dan halangan.[] (Sumber: Al-Tanwir, No. 162 - Edisi: 16 April 2000 M./ 11 Muharram 1420 H.)


5 views0 comments