• Akhi

Perwujudan Amal (1)


Pada suatu hari, Muadz bin Jabal duduk di dekat Nabi Saw. di rumah Abu Ayyub Al-Anshari. Muadz bertanya: "Ya Rasul Allah, apa yang dimaksud dengan ayat: Pada hari ditiupkan sangkakala dan kalian datang dalam bergolong-golongan?" (QS Al-Naba' [78): 18) Beliau menjawab: "Hai Muadz, kamu telah bertanya tentang sesuatu yang sangat berat." Beliau memandang jauh seraya berkata: "Umatku akan dibangkitkan menjadi sepuluh golongan. Tuhan memilahkan mereka dari kaum Muslim dan mengubah bentuk mereka. Sebagian mereka berbentuk monyet, sebagian lagi berbentuk babi, sebagian lagi berjalan terbalik dengan kaki di atas dan muka di bawah lalu diseret-seret, sebagian lagi buta merayap merayap, sebagian lagi tuli-bisu tidak berpikir, sebagian lagi menjulurkan lidahnya yang mengeluarkan cairan yang menjijikkan semua orang, sebagian lagi mempunyai kaki dan tangan yang terpotong, sebagian lagi disalibkan pada tonggak-tonggak api, sebagian lagi punya bau yang lebih menyengat dari bangkai, sebagian lagi memakai jubah ketat yang mengoyak-ngoyakkan kulitnya.


"Adapun orang yang berbentuk monyet adalah para penyebar fitnah yang memecah belah masyarakat. Yang berbentuk babi adalah pemakan harta haram (seperti korupsi). Yang kepalanya terbalik adalah pemakan riba. Yang buta adalah penguasa yang zalim. Yang tuli dan bisu adalah orang yang takjub dengan amalnya sendiri. Yang menjulurkan lidahnya dengan sangat menjijikkan adalah para ulama atau hakim yang perbuatannya bertentangan dengan perkataannya. Yang dipotong kaki dan tangannya adalah orang yang menyakiti tetangga. Yang disalibkan pada tiang api adalah para pembisik penguasa yang menjelekkan manusia yang lain. Yang baunya lebih menyengat dari bangkai adalah orang yang pekerjaannya hanya mengejar kesenangan jasmaniah dan tidak membayarkan hak Allah dalam hartanya. Yang dicekik oleh pakaiannya sendiri adalah orang yang sombong dan takabur."


Hadis di atas yang kita kutip dari Kitab Tafsir Majma' Al-Bayân, 10: 423 mengisahkan wujud manusia pada hari kiamat nanti. Menurut Syaikh Al-Akbar Ibn Arabi, semua makhluk berasal dari Tuhan dan akan kembali lagi kepada Tuhan. Dari Tuhan datang buah apel, kambing, dan manusia. Ketika kembali lagi kepada Tuhan, apel kembali sebagai apel, kambing sebagai kambing, dan manusia ... belum tentu sebagai manusia lagi. Anda datang dari Tuhan sebagai manusia, tetapi boleh jadi kembali kepada-Nya sebagai babi, monyet, harimau, anjing, atau manusia dalam berbagai penampilannya.


Apa yang menentukan bentuk manusia ketika ia kembali kepada Tuhan? Menurut hadis tadi, seperti yang diperkuat oleh banyak ayat Al-Quran, yang menentukan bentuk kita sekarang dan juga nanti adalah amal-amal kita. Siapa kita sebenarnya akan kita ketahui ketika kita mengembuskan napas terakhir. Tuhan berfirman: Maka kami singkapkan tirai yang menutup matamu dan tiba-tiba matamu hari ini men jadi sangat tajam (QS Qảf [50]:22). Pada pandangan orangorang saleh, bentuk sejati kita itu mungkin sekarang pun sudah tampak. Imam Ja'far memperlihatkan kepada Abul Bashir betapa banyaknya binatang berputar sekitar Ka'bah. Manusia sedikit sekali dan tampak sebagai kilatan cahaya.


Saya mendengar kisah seseorang yang sempat melakukan khalwat selama empat puluh hari. Ia mengasingkan diri di suatu tempat. Ia melakukan puasa syariat, tarekat, dan hakikat. Ia tidak saja mengurangi makan, tetapi bahkan tidak berbicara dengan manusia sedikit pun. Ia juga tidak pernah keluar dari kamar ibadahnya, sehingga matanya juga tidak melihat apa pun yang diharamkan Tuhan. Hatinya disibukkan hanya dengan mengenang asma Allah, sehingga seluruh daya khayalnya dipusatkan ke alam malakut. Ketika khalwatnya selesai, ia keluar rumah. Ia balik lagi dengan ketakutan. Banyak binatang berseliweran di jalan di depan rumahnya. Ia akhirnya bermohon kepada Allah agar matanya dikembalikan pada posisi mata manusia biasa.


Menurut Al-Ghazali, kita punya dua macam mata: mata lahir (bashar) dan mata batin (bashirah). Dengan mata lahir, ketika melihat bentuk lahir kita, yang sebetulnya terlihat hanyalah penampakan dari bentuk kita sebenarnya, penampilan dari bentuk batiniah kita. Ia bukan jati diri kita. la hanyalah bayang-bayang dari diri kita. Dengan mata batin, kita dapat melihat jati diri kita. Dengan bashirah, kita melihat diri kita yang sebenarnya. Dengan menggunakan istilah Al-Ghazali, bashar hanya melihat khala (fisik), sedangkan bashirah melihat khuluq (wujud ruhani). Dari kata khuluq, dibentuk kata plural akhlaq. Inilah yang kemudian masuk ke dalam kamus bahasa Indonesia sebagai akhlak. Sekarang setelah akhlak, ditambahkan kata karimah (mulia), padahal tidak semua akhlak itu mulia.


Jadi, akhlak adalah wujud ruhaniah kita. Dengan wujud itulah kita kembali kepada Tuhan. Dengan wujud itu juga kita akan dibangkitkan. Yang menentukan akhlak tentu saja adalah amal-amal kita. Dengan amal saleh, kita memperindah wujud ruhaniah kita. Dengan amal-amal buruk, kita memperjelek wujud ruhaniah kita. Jika Al-Ghazali menyebut wujud ruhaniah kita itu sebagai akhlak, Al-Quran menyebut wujud ruhaniah kita itu sebagai hati. Wujud ruhaniah yang buruk disebut sebagai hati yang sakit atau bahkan hati yang mati. Simaklah ayat-ayat berikut ini: Kemudian keraslah hati mereka sesudah itu, seperti bebatuan bahkan lebih keras lagi dari itu (QS Al-Baqarah [2]: 74); Adapun orang yang dalam hatinya ada penyakit, lalu kotoran ditambahkan di atas kotoran mereka lagi dan mereka mati dalam keadaan kafir (QS Al-Nisa' [4]: 155); Tidakkah kamu perhatikan orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai Tuhan, dan Allah menyesatkannya dengan pengetahuan dan menutup pendengaran dan hatinya dan menjadikan penutup pada pandangannya. Siapa lagi yang memberikan petunjuk setelah Allah. Tidakkah kamu mengambil peringatan? (QS Al-Jâtsiyah [45]: 23).


Simak juga hadis-hadis berikut ini: "Ada empat hal yang mematikan hati-berbuat dosa setelah berbuat dosa, banyak berkencan dengan lawan jenis, berdebat dengan orang bodoh, kamu berkata dan ia berkata, tetapi tidak kembali kepada kebaikan, dan bergaul dengan mayat." Ditanyakan kepada beliau: "Ya Rasul Allah, apakah itu bergaul dengan mayat." Beliau bersabda: "Bergaul dengan orang kaya yang hidup mewah." (Bihar Al-Anwar 73: 137); Tidak akan tegak iman sebelum tegak hati. Dan tidak tegak hati sebelum tegak lidahnya. (Bihår Al-Anwar 71:78); Tidak ada yang lebih merusakkan hati selain kemaksiatan. Jika hati terus-menerus melakukan kesalahan, kesalahan itu akan menguasai hatinya dan terbaliklah hati itu, yang atas menjadi yang bawah (Diråsat Al-Akhlaq).


Secara singkat, wujud batiniah kita, akhlak kita, hati kita dibentuk oleh amal-amal yang kita lakukan. Manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk menjadi apa saja, sejak binatang yang paling rendah hingga malaikat yang didekatkan kepada Allah. Tidak henti-hentinya jati diri kita ini berubah sesuai dengan perubahan amal-amal kita. Sambil mengutip kaum eksistensialis, kita terlempar ke dunia ini tanpa kita rencanakan. Tiba-tiba kita sudah berada di sini. Heidegger menyebutnya Dasein (sambil dipecah menjadi Da Sein, ada di sana). Setelah berada di sana, kita diberikan kebebasan untuk menentukan wujud kita dengan pecahan baru, Das Sein). Dalam literatur tasawuf, mewujudkan jati diri kita dengan amal itu disebut sebagai tajassum 'amal. Marilah kita bentuk diri kita dengan amal-amal saleh.



Saya teringat doa seorang anggota jamaah umrah saya di depan Ka'bah dengan air mata yang berlinang: Tuhan, kembalikan aku kepada-Mu sebagaimana Engkau dahulu menurunkan aku ke dunia. Jika dahulu aku turun sebagai manusia, kembalikanlah aku sebagai manusia lagi!


****


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

63 views0 comments

Recent Posts

See All