• Akhi

Pilih Bahagia Supaya Hidup Sehat!


Berusia panjang sekaligus menunjukkan tingkat kesehatan yang baik. Karena kebahagiaan memperpanjang usia, dan karena usia yang panjang menunjukkan kesehatan, maka secara tidak langsung kita dapat menyimpulkan bahwa kebahagiaan memengaruhi kesehatan.


Tetapi karena paradigma kesehatan yang dominan berpusat pada asal-usul penyakit (pathogenetis), kita menemukan banyak sekali penelitian tentang pengaruh penderitaan (misalnya stres, kecemasan, kemarahan, rasa takut) pada berbagai penyakit, mulai flu sampai kanker. Sedikit sekali tetapi mulai tumbuh belakangan ini penelitian tentang pengaruh kebahagiaan pada kesehatan fisik maupun mental. Di antara yang sedikit itu pun, hubungan di antara kebahagiaan dan kesehatan diperoleh secara tidak langsung.


Di antara ciri orang bahagia ialah adanya emosi positif. Fredrickson yang akan kita bahas sebentar lagi menyebutkan empat emosi positif: joy (keceriaan), interest (ketertarikan), contentment (kepuasan), dan cinta. Telah lama peneliti menemukan betapa besarnya pengaruh. cinta pada kesehatan; dan sebaliknya, betapa parahnya pengaruh putus cinta pada kesakitan (Masih ingatkan Anda cerita Marguerite dan Armand di muka?).


Tanpa sengaja Harry Balkwin menemukan hal yang menakjubkan di Rumah Sakit Bellevue tahun 1931. Semula, sebagaimana kebiasaan rumah sakit waktu itu, bayi dilarang disentuh karena alasan higienis. Balkwin menghapuskan larangan itu dan menyuruh para perawat menyentuh dan menggendong bayi. Ajaib, tingkat infeksi menurun dengan drastis. Sebetulnya bukan sentuhan itu sendiri yang menyembuhkan tetapi rasa bahagia (dalam pengertian emosi positif) yang dinikmati bayi-bayi kecil itu.


Lima puluhan tahun yang lalu, Harriet Harlow melakukan eksperimen pada monyet Rhesus (tampaknya dari Indonesia). Anak-anak monyet dipisahkan dari ibunya sejak kecil. Seekor anak monyet ditempatkan pada sangkar yang di dalamnya ada boneka berlapis bulu dan boneka yang menyimpan tempat menyusu. Beberapa ekor monyet dimasukkan ke dalam sangkar tanpa boneka apa pun. Seekor lagi menyendiri pada sangkar juga tanpa apa pun. Setelah melewati periode tertentu semua monyet itu sangat rentan dengan penyakit. Monyet yang hidup sendiri tanpa ibu sebenarnya dan tanpa "ibu" boneka menjadi paling rentan. Sebetulnya bukan kesepian itu yang membuat mereka sakit, tetapi penderitaan karena berpisah dari ibu yang merawat dan mengasihinya.


Pada tahun-tahun yang sama 126 orang mahasiswa Harvard ditanya tentang hubungannya dengan orangtua mereka, apakah mereka mempunyai hubungan yang bahagia atau tidak. Tiga puluh lima tahun kemudian kesehatan mereka diteliti. Mereka yang happy dengan orangtuanya setengah kali lebih sedikit kemungkinannya (45 persen) untuk menderita penyakit yang parah ketimbang mereka yang kurang happy (91 persen).


Mereka yang pada waktu mahasiswanya menyebut hubungan dengan orangtuanya dingin atau jauh mempunyai resiko empat kali lipat untuk menderita penyakit kronis, bukan saja depresi dan alkoholisme, tetapi juga penyakit jantung dan diabetes tipe II. Dengan kata lain, orang yang punya hubungan hangat dengan orangtuanya, yang happy dilindungi dari penyakit sampai 75 persen.


Dalam penelitian lainnya, yang waktunya berlangsung selama lima puluh tahun, hubungan buruk dengan orangtua menjadi satu-satunya prediktor paling tepat untuk kemungkinan mengidap kanker. Jadi kalau saya melihat Anda tidak punya hubungan yang hangat dengan orangtua Anda, saya dapat meramalkan bahwa besar kemungkinan Anda menderita kanker kemudian hari. Jelas hubungan yang kurang baik dengan orangtua membuat orang tidak bahagia. Ketidakbahagiaan menyebabkan orang sakit. Tetapi adakah bukti-bukti yang lebih konkret bahwa kebahagiaan mempercepat penyembuhan atau membuat orang lebih sehat?


Pertama, kita harus mengidentifikasi dahulu kebahagiaan. Sebelumnya kita telah mengambil cinta sebagai salah satu ukuran kebahagiaan. Sekarang kita mengambil joy (keriangan, keceriaan, kegembiraan) supaya bisa kita teliti, kita harus membatasi keriangan ini lebih khusus lagi. Ambillah, humor atau tertawa. Judul penelitian kita sekarang ialah apakah tertawa menyehatkan? Dengan bahasa Reader's Digest, betulkah Laughter is the best Medicine? Atau dalam kata-kata Jeffrey Goldstein - A Laugh a Day: Can Mirth Keep Disease at Bay? Satu ketawa satu hari: Bisakah keriangan bikin penyakit lari?


Goldstein (1982) mengumpulkan pendapat pada dokter dan ilmuwan sejak abad 13 sampai abad 19 tentang pengaruh humor terhadap kesehatan. Ia mengutip pendapat seorang dokter bedah abad ke-13, Henri de Mondeville, yang mengatakan bahwa tertawa dapat digunakan untuk membantu mempercepat penyembuhan setelah pembedahan: "Dokter bedah harus melarang marah, benci, dan sedih pada pasiennya, dan mengingatkan dia bahwa tubuh tumbuh subur karena keriangan dan mengurus karena kesedihan"


Pada abad 16 Jubert menyatakan bahwa tertawa menghasilkan kelebihan aliran darah yang membentuk air muka yang tampak sehat dan menumbuhkan vitalitas pada wajah. Karena itu tertawa dihubungkan dengan daya penyembuh yang sangat penting untuk kesehatan pasien.


Kesaksian lainnya diberikan oleh seorang dokter abad ke 16, Richard Mulcaster, yang percaya bahwa tertawa adalah latihan fisik untuk meningkatkan kesehatan. Ia menulis bahwa tertawa dapat membantu menyembuhkan tangan dingin, dada dingin, dan melancholia. Karena tertawa memasukkan banyak udara ke dalam dada dan mengeluarkan spirit yang lebih hangat.


Pada permulaan abad ke-20 seorang profesor kedokteran di Fordhem University yang bernama Walsh menulis buku Laughter and Health (1928). Disitu ia menulis:


"Rumus terbaik bagi kesehatan individu diungkapkan secara matematis: kesehatan bervariasi sesuai dengan jumlah tertawa... efek yang baik pada pikiran ini memengaruhi berbagai fungsi tubuh dan membuatnya lebih sehat ketimbang hal-hal lainnya."


Tampaknya walaupun banyak filusuf dan teolog, yang bergulat dengan moralitas dan agama dari abad-abad terdahulu, mengecam humor dan tertawa sebagai kesenangan yang jahat di atas penderitaan orang lain, para dokter lebih melihat manfaat tertawa dan humor bagi kesehatan. Pandangan demikian ini telah mendapat dukungan pada tahun-tahun terakhir ini, pada tulisan Norman Cousins. Dalam Anatomy of an Illness, Cousins (1979) menggambarkan peranan humor yang sangat penting dalam proses penyembuhan ketika ia sendiri berjuang melawan penyakit yang mengancam nyawanya. Dalam kasus Cousins, penggunaan humor. mungkin telah membantunya untuk mengubah arah penyakit; sebuah pendapat yang ia tegaskan dalam dua buku berikutnya berkaitan dengan proses penyembuhan selama persentuhan dengan berbagai penyakit.


Norman Cousins terkenal sebagai pendiri psikoneuroimunologi sebuah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari pengaruh gejala-gejala mental terhadap sistem imun. Dan Norman Cousins juga yang membawa healing power of humor kepada perhatian masyarakat luas. Pada 1964, ketika ia menjadi redaktur majalah Saturday Review, ia jatuh sakit. Para dokter menyebut penyakitnya ankylosing spondylitis, sejenis arthritis yang melumpuhkan dan menimbulkan rasa sakit luar biasa. Menurut mereka, sangat kecil kemungkinan ia bisa sembuh lagi.


Mungkin di tengah-tengah sakitnya, ia membaca buku Hans Selye, The Stress of Life. Di situ ditunjukkan bahwa emosi negatif dapat menimbulkan senarai gejala penyakit. Bila emosi negatif membuat orang sakit, pikir Cousins, apakah emosi positif membantu proses penyembuhan. la tertarik untuk meneliti sejauh mana keriangan yang dirasakan karena tertawa menyembuhkan pasien. Sebagai objek (atau subjek) eksperimen adalah dirinya sendiri. Pada setiap kesempatan ia memburu dan "menangkap" tertawa. la mencatat apa yang dialaminya dengan cermat. Sekarang, misalnya, ia tahu bahwa menonton film lucu selama 30 menit di rumah sakit dapat memberikan kepadanya dua jam tidur lelap tanpa rasa sakit. la melakukannya setiap hari. Enam bulan setelah ia mengobati dirinya, dengan mencengangkan para dokternya, ia betul-betul sembuh. la menuliskan pengalamannya dalam Anatomy of an illness.


Dalam bukunya, ia memperkenalkan konsep ketahanan tubuh yang disebutnya hardiness. Salah satu unsur hardiness yang paling penting adalah emosi positif yang diartikan Cousins sebagai kemampuan mempertahankan sense of humor dan keceriaan. la menemukan bahwa beberapa saat tertawa dapat mengurangi tingkat sedimentasi, yang berarti mengurangi inflammasi. Tertawa membuat kita lebih sehat, sama seperti yang diakibatkan oleh olahraga. Ia menyebut tertawa sebagai internal jogging. Sepuluh menit tertawa, menurut laporan Cousins, dapat meredakan rasa sakit sama dengan paling sedikit dua jam tidur yang baik.


Bersambung pada pembahasan berikutnya, The Healing Power Of Humor


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

13 views0 comments

Recent Posts

See All