• Akhi

Rahasia Istighfar


"Tsakilatka ummuk," kata Ali ibn Abi Thalib ketika berjumpa seorang yang berkata astaghfirullah. Secara harfiah, ungkapan itu berarti ibumu pantas menangisimu atau alangkah baiknya bila ibumu dulu kehilangan kamu. Secara idiomatik, perkataan itu diucapkan kepada orang yang berbuat kekeliruan atau menderita kemalangan. Tentu amat mengherankan 'Ali mengucapkan kata itu untuk orang yang membaca istighfar. Bukankah kita harus menghargai orang yang bertobat, apalagi bila yang bertobat itu bekas perampok besar atau penjarah bangsa? Kita menghardik siapa saja yang menghujat pemimpin yang sudah bertobat. Kita menganggap tidak etis atau tidak sesuai dengan norma ketimuran untuk menuntut kekayaan koruptor yang sudah beristighfar.


Tetapi 'Ali menyesalkan orang yang mengucapkan istighfar. Apakah 'Ali, yang terkenal sebagai pemimpin yang bijak, tidak etis? Tunggu dulu. Mari dengarkan penjelasannya, "Kamu tidak tahu apa makna astaghfirullah. Astaghfirullah dimaksudkan bagi orang-orang yang berkedudukan tinggi. Kata itu berdiri di atas enam topangan. Yang pertama adalah penyesalan atas perbuatan salah yang sudah dilakukan; kedua, bertekad sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan yang salah; ketiga, mengembalikan hak-hak manusia yang sudah kamu rampas supaya kamu menghadap Allah dengan bersih tanpa ada satu pun kezaliman yang harus dipertanggungjawabkan; keempat, kamu ganti kewajiban yang sudah kamu abaikan sehingga kamu berlaku adil di atasnya; kelima, berkenaan dengan daging tubuhmu yang tumbuh dari rezeki haram, hilangkan daging itu dengan kesedihan sampai kulit menyentuh tulang. Setelah itu, tumbuhkan daging baru dengan rezeki yang halal; keenam, usahakan agar tubuhmu merasakan pedihnya ketaatan sebagaimana dahulu tubuh yang sama merasakan lezatnya kemaksiatan. Setelah itu, baru ucapkan astaghfirullah."


Istighfar berarti permohonan maaf kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah kita lakukan, baik berkenaan dengan kewajiban kita kepada manusia maupun kewajiban kita kepada Tuhan. Namun, secara serampangan kita mengasumsikan istighfar sebagai "pemutihan". Dengan istighfar, Tuhan mengampuni semuanya. Tsakilatka ummuk bila orang bisa lolos dari hukum hanya dengan sepatah kata. Tertipulah orang yang segera memberi penghargaan kepada penjahat yang sudah mengucapkan patahan kata itu.


Sebagaimana disebutkan 'Ali, pertama-tama istighfar harus dimulai dengan penyesalan. Penyesalan adalah pengakuan dosa dan permohonan maaf kepada pihak yang hak-haknya kita langgar. Kepada Tuhan, kita ungkapkan penyesalan dengan merebahkan diri kita di hadapan-Nya sambil menangis. Kepada hamba-hamba-Nya, kita harus mengaku terus terang segala kesalahan yang kita lakukan. Kita minta maaf dengan sungguh-sungguh. Untuk tahap ini saja sekilas kita bisa melihat, betapa sedikitnya di antara kita yang sanggup melakukannya.


Tahap yang paling berat untuk orang atau institusi yang melakukan kesalahan adalah penyesalan dengan meminta maaf. Pernahkah kita dengar permohonan maaf dari orang-orang yang berkuasa, betapapun banyak bukti dionggokkan tentang kesalahan mereka? Pernah, tetapi penguasa di luar negeri, menurut berita di media. Di Australia, seorang pejabat penting bunuh diri karena keliru menggunakan uang SPJ untuk kepentingan pribadinya. Di Jepang, seorang menteri perhubungan mengundurkan diri karena tidak berhasil menjaga keselamatan penerbangan. Di kota-kota kecil, di seberang Atlantik, walikota meminta maaf bila ada kerugian yang diderita warga akibat kebijakan yang salah.


Di negeri kita, ABRI segan meminta maaf bila oknum-oknumnya menculik atau melakukan kesalahan prosedur; petugas keamanan tak pernah minta maaf bila ia gagal menjaga keamanan penduduk; walikota cuek saja bila kebijakannya menyusahkan warganya; dan, presiden tak boleh kita tuntut meminta maaf bila pemerintahannya telah menyengsarakan kita.


Tahap kedua adalah tidak boleh mengulangi lagi kesalahan yang sama. Tuhan tidak akan memaafkan pemerintah Indonesia yang sesudah reformasi masih juga memberikan surat sakti untuk proyek-proyek pertimbangan atau menyalurkan dana IMF secara sembunyi-sembunyi.


Pada tahap berikutnya, orang yang sudah melanggar hak orang lain harus mengembalikan hak yang dilanggarnya. Yang sudah menjarah harta rakyat harus mengembalikan lagi semua hasil jarahannya; yang pernah menculik harus mengembalikan orang yang diculiknya; yang suka membodohi rakyat dengan manipulasi informasi harus memberikan informasi yang benar; yang pernah mengadu-domba harus mendamaikan lagi yang bertengkar; yang pernah memfitnah harus merehabilitasi kehormatan orang yang terfitnah; yang pernah merugikan orang lain harus mengganti kerugian itu. Tentu, daftarnya bisa panjang. Pendeknya, mengembalikan hak kepada pemiliknya.


Pada tahap keempat, pada pendosa harus memenuhi kewajiban yang pernah diabaikannya. Petugas keamanan harus melindungi rakyat setelah sekian lama mencengkeram mereka dengan ketakutan. Pemerintah harus menggunakan kekayaan negara untuk kemakmuran rakyat setelah sekian lama menggunakannya untuk memakmurkan pejabat dan keluarganya. Pengusaha harus membagikan keuntungan perusahaan kepada masyarakat dengan menyejahterakan mereka setelah sekian lama menindas mereka. Para perusak lingkungan harus memperbaiki lingkungan setelah lama menghancurkannya. Para pemerkosa harus mengganti segala kerugian material dan nonmaterial yang diderita korban.


Pada dua tahap terakhir, perut yang kembung dari barang haram harus dikempiskan, tubuh yang gemuk dengan hasil korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) harus dikuruskan. Mulailah hidup dengan rezeki yang halal. Rasakan susahnya menjalankan kewajiban kepada Tuhan dan kepada sesama manusia setelah kita merasakan kelezatan melanggar kewajiban itu. Payahkan diri kita untuk berkhidmat kepada rakyat karena jabatan setelah kita merasakan kesenangan memanfaatkan fasilitas jabatan itu. Setelah semua tahapan ini kita lalui, barulah kita layak mengucapkan astaghfirullah.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari, SMP Plus Muthahhari, SMP Bahtera, dan SMA Plus Muthahhari).

- www.scmbandung.sch.id

- www.smpbahtera.sch.id

- www.smpplusmuthahhari.sch.id

- www.smaplusmuthahhari.sch.id

18 views0 comments