• Akhi

Rekayasa Riya (2) : Kiat Melakukan Riya


Berikut ini akan ditunjukkan kiat-kiat untuk melakukan riya. Hal ini dilakukan untuk mendiagnosis diri kita apakah telah jatuh ke dalam riya atau tidak. Menurut Al-Ghazali, riya dilakukan dengan menggunakan lima hal. Pertama, dengan menggunakan tubuh kita. Kita bisa menampakkan kesalehan dengan merekayasa tubuh kita. Al-Ghazali mencontohkan tubuh orang yang dikuruskan untuk menunjukkan bahwa orang itu berpuasa setiap hari, atau orang yang menampakkan bekas sujud di dahinya (yang ia buat dengan menggosok-gosokkan dahinya ke tempat sujud) untuk menampakkan ketekunan dalam beribadah. Tentu saja, tidak semua orang yang kurus tubuhnya dan ada bekas di dahinya adalah orang yang riya. Contoh lain adalah orang yang sengaja menggetarkan tubuhnya ketika shalat untuk menunjukkan betapa khusyuknya orang itu dalam shalatnya.


Kedua, yang dipakai sebagai alat untuk riya adalah pakaian atau penampilan lahiriah. Misalnya, pada zaman dahulu orang memakai pakaian yang compang-camping untuk menunjukkan bahwa dia adalah seorang sufi. Pakaian yang ia pakai terbuat dari kain kasar untuk menunjukkan hidupnya yang sederhana. Bahkan ada orang yang dengan sengaja mengusutkan rambutnya dan menyimpan tanah di atasnya. la melakukan hal ini karena ia pernah mendengar sebuah hadis yang meriwayatkan Rasulullah Saw. ketika memasuki masjid dan menemukan orang yang rambutnya kusut dan tertutup debu. (Pada waktu itu, masjid Nabi tidak beratap sehingga orang yang banyak beribadah di masjid, rambutnya akan tertutupi debu yang terbawa angin padang pasir.) Melihat orang itu, Rasulullah Saw. bersabda, "Ada orang yang rambutnya kusut masai dan tertutup debu. Sekiranya dia berdoa, Tuhan akan mengijabah doanya." Tanda untuk menampakkan kesalehan yang lain adalah dengan memakai serban, membawa tasbih, dan memakai baju khusus. Sekali lagi, tidak semua orang yang memakai pakaian seperti itu adalah orang yang riya.


Ketiga, riya dilakukan dengan ucapan atau perkataan. Ada orang yang mengatur pembicaraannya supaya ia dikenal orang sebagai santri. la selalu mengutip ayat-ayat AlQuran dan hadis Nabi. la tampakkan kesalehan itu dengan mengeluarkan kata-kata suci dari bibirnya.


Keempat, orang melakukan riya dengan perbuatan atau perilaku. Misalnya, orang yang shalat dengan memanjangkan ruku dan sujudnya untuk menampakkan kekhusyukan. Ketika ia mengimami orang banyak, ia baca surah yang panjang sedangkan ketika ia shalat sendirian, ia baca surah yang pendek. Ia menghafalkan surah-surah yang panjang hanya untuk dipertunjukkan kepada orang lain. Amal itu ia pergunakan untuk menimbulkan kesan kesalehan. Menampakkan kesalehan melalui ibadah-ibadah ritual adalah hal yang mudah. Tapi jika riya itu ditampakkan melalui sedekah atau membantu orang lain adalah hal yang sulit, karena hal itu memerlukan pengorbanan.


Kelima, orang melakukan riya dengan menunjukkan kawan-kawannya atau orang-orang saleh yang ia kenal. Di dalam psikologi sosial, ada yang dinamakan dengan gilt by association, artinya "cemerlang" karena hubungan baik. Maksudnya, agar seseorang dikenal sebagai orang yang hebat atau orang yang mulia, ia ceritakan sahabat-sahabatnya. Ia suka menceritakan hubungannya dengan orang-orang yang terkenal.


Satu hal yang penting, tidak semua perbuatan kita untuk mengatur perilaku kita adalah riya. Jika kita atur penampakan lahiriah kita untuk, misalnya, memberikan contoh yang baik kepada orang lain supaya orang lain mengikuti teladan kita, maka hal itu bukanlah riya. Riya tidak diukur dari terlihat atau tidaknya sebuah amal, tapi diukur dari tujuan amal itu dilakukan.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

81 views0 comments