top of page
  • Akhi

Rekayasa Riya (3) : Riya dan Hubbul Jah


Kalau kita merekayasa perilaku kita dengan maksud agar orang lain menganggap kita orang terhormat, pintar, atau kaya, hal itu tidak disebut dengan riya. Perilaku seperti itu, jika sedikit dilakukan, tidak apa-apa. Tetapi jika dilakukan berlebihan, maka hal itu disebut hubbul jah, kecintaan kepada penghormatan. Itu merupakan dosa.


Orang yang jatuh pada hubbul jah selalu ingin agar dirinya diperlakukan istimewa. Berikut salah satu contoh di antaranya: Apabila seseorang berusaha menampilkan dirinya begitu rupa sehingga orang menilainya sebagai eksekutif yang berkelas (misalnya dengan memakai pakaian mahal yang didesain khusus dan parfum dari luar negeri, yang ia beli bukan atas alasan praktis, melainkan alasan gengsi), maka ia tidak memiliki penyakit riya, tetapi penyakit hubbul jah, kecintaan akan penghormatan.


Seorang Muslim terlarang untuk berusaha mencari penghormatan dari manusia. Dia harus berusaha mencari penghormatan dari Allah Swt. Kalau perlu, dia rela menanggung kemarahan dari makhluk, asalkan mendapat ridha dari Khalik. Orang yang menderita hubbul jah malah bersedia menanggung risiko dibenci Tuhan asal disukai orang banyak.


Seorang riya mengatur perilakunya dalam ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. dengan maksud agar orang menilai dirinya sebagai orang saleh yang taat beragama dan berpegang teguh pada Al-Quran dan hadis Nabi. Orang seperti ini tidak ingin disebut sebagai orang yang hebat, berkedudukan tinggi, berpangkat atau orang yang kaya. Dia hanya ingin dinilai orang sebagai orang yang saleh. Untuk itu dia merekayasa perilakunya.


Perbedaan riya dengan yang bukan riya amatlah tipis. Semua itu terpulang pada hati nurani masing-masing. Ada orang yang berusaha memakai busana Muslim, misalnya peci, untuk menunjukkan bahwa dia orang alim, tapi ada juga orang yang memakai peci untuk menutupi rambutnya yang menipis.


Meskipun hal itu masalah hati nurani, kita dapat dengan mudah mengidentifikasi orang yang riya. Ciri orang riya adalah ia punya dua wajah: wajah publik dan wajah privat. Wajah publik adalah penampilan yang ia tampakkan di hadapan umum, sedangkan wajah privat adalah penampilan yang ia tampakkan di lingkungan yang terbatas. Jika ia shalat di depan orang banyak (di hadapan publik), shalatnya amat rajin, sedangkan ketika ia shalat sendirian (dilingkungan privat), shalatnya menjadi malas. Contoh lain adalah seseorang yang selalu melakukan shalat sunat di masjid, tetapi selalu meninggalkannya ketika ia di rumah. Orang tersebut akan menambah amalnya jika di hadapan orang banyak dan mengurangi amalnya jika ia sendirian. Ketika di hadapan orang banyak, ia akan sangat memerhatikan waktu shalat, sementara di rumahnya, ia jarang shalat tepat waktu. []


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

76 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page