• Akhi

Saat Merebak Covid-19, Boleh Tidak Shalat Jumat



Apakah boleh tidak shalat Jumat karena merebaknya wabah covid-19 yang sangat membahayakan itu? Jawabannya bukan hanya boleh, tapi HARUS!

Berikut dalil-dalil dari pendapat ini.

​Dari Alquran وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَاَحْسِنُوْا ۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ ".....dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri..." (QS al-Baqarah:195). يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا "....Dan janganlah kamu membunuh dirimu...." (QS An-Nisa:29). يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ "....Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. ..." (QS al-Baqarah:185). هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ "....​Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama...." (QS al-Hajj:78). Dari As-Sunnah Berikut ini, diriwayatkan hadis beserta syarahnya. Karena hujan lebat kaum muslimin disarankan untuk salat di rumah masing-masing. Ada sahabat yang tidak setuju. Kata Ibnu Abbas: Aku tidak suka mereka berjalan di atas lumpur. Kalau takut berjalan di atas lumpur sudah mengugurkan salat berjamaah, apalagi virus corona yang membahayakan. - قالَ: ابنُ عبَّاسٍ لِمُؤَذِّنِهِ في يَومٍ مَطِيرٍ: إذا قُلْتَ أشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا رَسولُ اللَّهِ، فلا تَقُلْ حَيَّ علَى الصَّلاةِ، قُلْ: صَلُّوا في بُيُوتِكُمْ، فَكَأنَّ النَّاسَ اسْتَنْكَرُوا، قالَ: فَعَلَهُ مَن هو خَيْرٌ مِنِّي، إنَّ الجُمْعَةَ عَزْمَةٌ وإنِّي كَرِهْتُ أنْ أُحْرِجَكُمْ فَتَمْشُونَ في الطِّينِ والدَّحَضِ. الراوي : عبدالله بن عباس | المحدث : البخاري | المصدر : صحيح البخاري [الصفحة أو الرقم: 901 | خلاصة حكم المحدث : [صحيح] Ibnu Abbas berkata pada muazzinnya pada hari hujan: Jika kamu mengucapkan Asyhadu anna Muhammad Rasulullah, janganlah kamu katakan “hayya ‘alash shalaat tapi ucapkanlah Salatlah di rumah kamu. Orang-orang menolaknya. Kata Ibn Abbas: orang yang lebih baik dariku (yakni Nabi saw) telah melakukannya. Memang Jumat itu kewajiban, tetapi aku tidak suka mengeluarkan kalian dari rumah dan berjalan di atas lumpur dan tergelincir. (Periwayat adalah Abdullah Ibn 'Abbas; Muhaddits adalah Al-Bukhari dalam Shahihnya halaman atau nomor 901. Kesimpulan: Hadis Shahih). ​Berikut syarahnya: الصَّلاةُ عمادُ الدِّينِ، ولا يسَعُ المسلمَ تركُها في حضَرٍ ولا سفرٍ ولا سِلمٍ ولا حربٍ، ولكنَّ الشرعَ يُراعي أحوالَ الناسِ في الاضْطرارِ والشِّدَّةِ والخوفِ والأمنِ، ومن ذلِك ذلكَ أنه أباحَ للناسِ الصلاةَ في البيوتِ في اليومِ المطيرِ، وفي هذا الحديثِ أنَّ ابنَ عباسٍ قالَ لمؤَذِّنِهِ في يومٍ مَطِيرٍ، أيْ: في يومٍ شديدِ المطرِ: إذا قُلْتُ، أي: إذا انتهيتَ في أذانِكَ إلى: "أشهدُ أنَّ محمدًا رسولُ اللهِ، فلا تقُلْ: حيَّ على الصَّلاةِ، قلْ: صلُّوا في بُيوتِكُمْ". أي: أَبْدِلْ قولَ (حيَّ على الصلاةِ) وقُل مكانَها: (صلُّوا في بُيوتِكُمْ)؛ حتى يسمعَ الناسُ هذهِ الرُّخصةَ فلا يخرُجوا، "فكأَنَّ الناسَ استنكروا، أي: عَجِبوا وعابوا عليه فِعْلَه، فقال ابنُ عبَّاسٍ رضِي اللهُ عنه: فَعَلَهُ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنِّي" يَقصِد: النبيُّ صلَّى الله عليه وسلَّم، ثم أوضحَ ابنُ عباس الأسبابَ فقال: "إِنَّ الجُمُعَةَ عَزْمةٌ، أي: واجبةٌ على كلِّ مَن سَمِع النِّداءَ، وإنِّي كَرِهْتُ أَنْ أُحْرِجَكُمْ، أي: أَشقَّ عليكم وأجعلَكم في ضِيقٍ وهناك من الرُّخصةِ والسَّعة التي تيسَّر عليكم، فَتمْشونَ في الطِّينِ والدَّحْضِ"، أي: ستمْشُون في الطِّينِ الذي يؤدِّي إلى الانزِلاقِ والوقوعِ؛ لذلك أمَرْتُه أن يقولَ: صلُّوا في بُيوتِكُم، لِيعلَموا أن المطرَ من الأعذارِ التي تُصيِّرُ العزيمةَ رخصةً وفي الحديثِ: جانبٌ مِنَ التَّخفيفِ والتَّيسيرِ على النَّاسِ في مثلِ هذهِ الأحوالِ ​Salat itu tiang agama, tidak boleh muslim meninggalkannya dalam keadaan di tempat, atau perjalanan, atau dalam keadaan damai ataupun perang (perhatian: Jangan berhenti atau dikutip sampai di sini. Lanjut!). tetapi syariat menjaga keadaan manusia dalam situasi darurat, berbahaya atau menakutkan atau mengancam keselamatan. Di antaranya syariat membolehkan orang salat di rumah pada hari hujan. (Jika kamu sudah mengucapkan dalam azan kamu: Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah janganlah kamu ucapkan Hayya ‘alash Shalat, tapi gantilah ucapan kamu dengan Shalluu fi buyuutikum). Sehingga legalah orang karena rukhsah ini dan tidak keluar rumah. (Orang-orang menolaknya) artinya mereka heran dan menyalahkan perbuatan Ibn Abbas. Kata Ibnu Abbas: Ini pernah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya, Rasulullah saw). Kemudian Ibnu Abbas menjelaskan sebab-sebabnya. (Ia berkata): Memang Jumat itu kewajiban. Wajib bagi semua yang mendengar azan. Aku cuma tidak suka mengeluarkan kalian dari rumah, yakni aku tidak suka menyulitkan kalian dan merepotkan kalian. Ini termasuk rukhsah (keringanan) dan kemudahan untuk memudahkan kalian, supaya tidak berjalan di lumpur dan tergelincir. Yakni: kalian berjalan di atas lumpur yang menyebabkan kalian tergelincir atau jatuh. Karena itu aku perintahkan dia untuk mengucapkan: Shalluu fi buyuutikum, Salatlah di rumah-rumah kalian. Supaya orang-orang tahu bahwa hujan termasuk uzur syarak dan mengubah ‘AZIMAH menjadi RUKHSAH. Dan di dalam hadis: Termasuk meringankan dan memudahkan bagi manusia dalam hal ini. ***

Dr. Jalaluddin Rakhmat M.Sc adalah Dewan Pembina Yayasan Muthahhari Bandung Sumber rujukan: https://dorar.net/hadith/sharh/23112 Artikel diambil dari https://www.majulah-ijabi.org/beranda-ustadz-jalal/bolehkah-tidak-shalat-jumat-karena-wabah-covid-19

3 views0 comments