top of page
  • Akhi

Sabar Dengan Doa

Updated: Jan 16




Setiap saat kita mengalami penderitaan atau memerlukan sesuatu pada Allah. Doa adalah sarana utama untuk mencapai dan mengangkat keinginan kita itu. Jika kita menyelidiki doa-doa dalam wacana kehidupan manusia, ada keterkaitan yang erat antara doa dengan penderitaan.


Doa juga memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri ini menjadikan doa memiliki jenis atau tingkatan tertentu. Di sisi lain jenis doa menunjukkan tingkat perkembangan ruhani seseorang. Jenis doa itu adalah: Pertama, doa yang paling rendah tingkatannya yaitu doa yang berisi tentang sesuatu yang berhubungan dengan diri manusia yang sifatnya khusus. Seperti doa: Ya Allah kayakan aku, sehatkan badanku, dan bukakan pintu keberuntungan untukku. Isi doa itu berkenaan dengan kepentingan pribadi. Biasanya doa jenis ini bercirikan adanya kalimat perintah kepada Allah agar Dia berkhidmat kepadanya. Kebanyakan di antara kita menerapkan jenis doa seperti ini. Doa ini secara langsung mengidentifikasi tingkat ruhani kita yang masih rendah. Kita letakkan kepentingan kita di atas segalanya di hadapan Allah. Kita lupa bahwa mengagungkan Allah jauh lebih penting didahulukan daripada kepentingan pribadi.


Jenis doa yang kedua, adalah jenis doa yang menunjukan adanya pengakuan kehinaan diri dan mengagungkan Allah. Jenis ini seperti doa Nabi Yunus: Tiada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim. (QS. Al-Anbiya 87) dan doa Nabi Adam: Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Al-Araf 23)


Doa jenis ketiga, adalah doa yang menunjukkan adanya cinta kasih hamba kepada Allah. Doa ini dipenuhi oleh jeritan rindu hamba kepada kekasihnya. Doanya berisi penyerahan total segala curahan jiwa yang ia khususkan untuk Allah saja. Jenis doa ini, seperti yang kita ketahui, banyak dilantunkan oleh bibir-bibir suci Ahli Bait Nabi. Simaklah doa Imam Zainal Abidin dalam Shahifah Sajjadiyyah, pada Doa Penempuh Jalan Tarikat: Ya Allah, untuk-Mu saja segala tercurah himmah-ku. Kepada-Mu jua terpusat hasratku. Engkaulah hanya tempat kedambaanku, tidak yang lain. Karena-Mu saja aku tegak terjaga, tidak karena yang lain. Perjumpaan dengan-Mu kesejukan hatiku. Pertemuan dengan-Mu kecintaan diriku. Kepada-Mu kedambaanku. Pada cinta-Mu tumpuanku. Pada kasih-Mu seluruh rinduku.


Isi doa di atas menunjukkan betapa kepentingan pribadi ia letakkan pada tempat yang paling bawah dari kerinduan cinta dan keagungan kekasihnya, Allah swt. Jelaslah bahwa orang seperti dia maqam ruhaninya sangat dekat dengan Allah.


Jenis doa kedua dan ketiga terkadang menyatu dalam satu doa. Di dalamnya menunjukkan adanya pengakuan kelemahan dan kehinaan diri, pengagungan kepada kekasihnya, dan cinta kasih seorang hamba yang ia khususkan tidak kepada selain Allah. Hal ini dapat dilihat lagi dalam doa Imam As-Sajjad dalam Shahifah Sajjadiyyah: Ya Allah, kepada-Mu terpaut hati yang dipenuhi cinta. Untuk mengenal-Mu dihimpunkan semua akal yang berbeda. Tidak tenang kalbu kecuali dengan mengingat-Mu. Tidak tenteram jiwa kecuali dengan memandang-Mu. Engkaulah yang ditasbihkan di semua tempat, yang disembah di setiap zaman, yang maujud di seluruh waktu, yang diseru oleh setiap lidah, yang dibesarkan dalam setiap hati.


Ada orang di antara kita yang tidak pernah merasa menderita. Ia malu mengakui penderitaannya di hadapan Allah. Ia merasa cukup akan keadaan dirinya. Bahkan ia tidak menyeru Allah dalam kondisi yang meng-khawatirkannya. Biasanya orang seperti ini hatinya keras membatu. Orang seperti ini kalau berdoa tidak akan pernah khusyuk karena dirinya selalu merasa cukup. Sikap yang paling baik adalah membiasakan diri kita untuk mengakui kelemahan kita di hadapan-Nya dan belajar untuk lebih dekat merasakan penderita-an orang-orang yang lapar, tertindas, yatim piatu, dan orang yang terpenjara karena menegakkan amar makruf nahi munkar.



Melalui proses belajar inilah kita akan diantar ke arah lembutnya hati, yang ketika berdoa Allah akan membuka pintu ijabah-Nya. Kita raih cinta Allah lewat belajar berempati agar ketika kita berdoa, kita dapat mengucapkan: Ya Allah, jadikanlah aku pecinta sejati kepada-Mu. Bukalah tabir penutup cintaku pada-Mu dengan ampunan-Mu.


Kita berucap seperti ucapan yang ditulis dalam syair Ibnu Farid:

Bila aku mati karena cintanya, aku hidup

karena dia.

Lewat penyangkalan diri dan

melimpahnya kemiskinanku.

Inilah cinta, nafsuku bukan benda nyata.

Dan ia yang fana mesti memilih-nya jika

sedang tergila-gila.

Hidup adalah lamunan bebas, bagi cinta

adalah duka.

Mula-mula terasa sakit, lalu mati,

namun maut adalah milik nafsu cinta.

Ia hidup dimana kekasihku melimpahkan

berkah sebagai rahmat.

Jika perpisahan adalah upah yang

kuperoleh darimu.

Dan tiada jarak lagi antara kita,

kau sebut perpisahan sebagai persatuan.

Tiada penolakan selain cinta,

selama kau tak membencinya.

Dan rasa enggan, kesukaran apa pun

akan mudah dipikul.


Derita yang menyiksa kita terasa nikmat.

Ketakadilan yang diperbuat cinta adalah keadilan dan kesabaranku,

tanpa kau dan denganmu akan

menjadikan yang pahit terasa manis

bagiku.


Melihat tingkatan jenis doa di atas kita akan tahu dimana posisi kita. Karena dengan indikasi doa di atas, kita akan mengenal di mana tingkatan ruhani kita yang sedang kita pijak. Doa menunjukkan tingkat seseorang dalam mengembangkan potensi ruhani mendekati Allah. Jika seseorang sudah dapat mengembangkan potensi ruhaniahnya dengan baik, dengan menempatkan doa kita sebagai curahan kerendahan diri serta pengakuan akan keagungan Allah, maka cinta Allah akan mudah kita capai karena tingkat ruhani kita mengarah kepada-Nya lebih dekat. Dengan kata lain perlakukanlah Allah dengan doa-doa yang akan menebarkan cinta-Nya kepada kita.


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

43 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page