top of page
  • Akhi

Sabar Mencintai


Seseorang tidak bisa dicela karena mencintai isterinya atau anaknya atau bahkan harta kekayaannya. Cinta seperti itu adalah naluri yang lumrah dan wajar (lihat QS. Ali Imran 14). Binatang pun memiliki naluri kecintaan seperti ini yang terwujud dari sifat ke-Rahman-an Allah.


Karena itulah, orang yang mengorbankan keluarga dan anak-anak yang dicintainya dipandang sebagai kekasih Allah.


Nabi Ibrahim as bersedia mengorbankan anaknya, Ismail as betapa pun besar kecintaannya kepadanya. Sekiranya perasaannya terhadap anaknya sama dengan perasaannya terhadap seekor kambing, maka kesediaannya untuk mengorbankan anaknya tidaklah dinilai sebagai suatu keistimewaan; karena dalam pandangannya hal itu sama dengan mengorbankan seekor kambing.


Demikian pula tindakan Sayyidus Syuhada, Imam Husein yang mengorbankan anak-anak, saudara, dan kaum kerabatnya di jalan Allah swt. Imam Husein dikenal sangat mencintai keluarganya. Kakeknya bersabda: Demi Yang jiwaku berada di tangan-Nya, Allah tidak akan menaruh cinta kasihnya kecuali atas hati yang memiliki cinta kasih.


Cinta Yang Membelenggu

Jika kecintaan seseorang tumbuh dan menjadi berlebihan, maka kecintaan yang seperti inilah yang tercela. Kecintaan kepada yang nisbi dan fana secara berlebihan adalah bertentangan dengan fitrah manusia.


Plato mengatakan: Manusia pada mulanya akan mengejar setiap yang diinginkan dan dicintainya dengan dambaan dan harapan yang luar biasa. Namun ketika yang dicintainya itu sudah didapatkan, maka kecintaan dan kesukaannya akan segera berubah menjadi kebosanan dan kejenuhan.


Manusia tidak dapat selalu bersama dengan sesuatu yang fana. Karenanya, apabila manusia mencintai sesuatu yang nisbi secara berlebih-lebihan, maka cintanya ini tidak saja membutakannya, bahkan membelenggunya. Tak sadar ia telah menjadi budak dari kecintaannya itu.


Cinta Yang Membebaskan

Sebaliknya, cinta yang mengikuti fitrah manusia akan membebaskannya atau dengan kata lain telah menjadikannya merdeka dan terbebaskan. Imam Ali as mengatakan: Manusia di dunia ini terbagi menjadi dua. Yang pertama adalah mereka yang datang ke pasar dunia ini dan menjual dirinya hingga menjadi budak. Yang kedua adalah mereka yang membeli dirinya di pasar dunia dan menjadikannya merdeka. (Kitab Nahjul Balaghah).


Manusia yang menjatuhkan pilihan cintanya kepada Allah melebihi segala-galanya adalah manusia yang merdeka dan terbebaskan. Ia menjadi tercerahkan. Manusia pecinta Tuhan tidak bisa didikte apalagi dibeli oleh harta bahkan kekuasaan sekali pun. Cinta yang membebaskan bukanlah cinta yang muncul dari perasaan-perasaan sentimental.


Cinta seperti inilah yang juga dimiliki oleh Uwais Al-Qarny, salah seorang sufi yang mencintai keluarga Nabi saw. Banyak hadis Nabi yang menyebutkan keutamaannya. Uwais adalah seorang yang hidup di zaman Nabi saw tetapi tidak pernah berjumpa dengan Nabi saw. Di dalam hadis Shahih Muslim, Nabi saw memujinya. Nabi bahkan menyuruh sahabat Umar bin Khaththab untuk memintakan doa kepada Uwais agar dosanya diampunkan Allah. Dalam akhir hadis tersebut diriwayatkan ketika Uwais setelah mendoakannya, Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak ke mana?” Uwais menjawab, “Ke Kufah.” Umar menawarkan surat katebelece kepadanya, “Apa tidak lebih baik kalau saya tulis surat berkenaan dengan engkau kepada Gubernur Kufah?” Uwais menolaknya dan berkata, “Saya lebih menyukai keadaan saya tidak dikenal orang.”


Mengenai keutamaan Uwais ini, Nabi saw pernah mengatakan tentangnya, “Dia tidak dikenal di bumi tetapi terkenal di langit.” Uwais adalah contoh seorang pecinta yang memiliki jenis cinta yang membebaskan. Cinta yang membuatnya tidak terikat kepada hal-hal duniawi. Cinta yang melepaskannya ke arah tujuan tercinta, Allah swt.


Alkisah, ada seorang sufi berkunjung kepada temannya yang juga sufi. Temannya itu kebetulan sedang sakit dan ia mengeluh tentang sakit yang dideritanya. Sufi yang datang menengok itu berkata, “Bukan seorang pencinta sejati bila ia mengeluhkan penyakit yang diberikan oleh kekasihnya.” Lalu sufi yang sakit itu menjawab, “Bukan seorang pecinta sejati bila ia tidak menikmati pemberian kekasih sejati.”


Dari cerita di atas kita dapat menarik pelajaran berharga bahwa hendaknya kita harus merubah persepsi tentang sakit yang pernah kita alami. Persepsi kita selama ini adalah menganggap sakit itu sebagai suatu penderitaan yang diberikan Allah kepada kita. Dari anggapan ini kita berkesimpulan bahwa Allah tidak mencintai kita lagi. Sikap yang bijak adalah menikmati keindahan sakit seperti yang dialami sufi tadi. Menikmati bukan berarti berdiam, pasrah tanpa tindakan, tapi merenung lebih dalam akan hakikat sakit yang diberikan oleh Allah. Proses perenungan ini akan meng-hasilkan nilai atau pandangan yang akan mendatangkan kenikmatan bagi kita. Dan kita akan tahu betapa nikmatnya merasakan cinta Allah dalam bentuk sakit.


Sufi itu juga mengajarkan kepada kita hendaknya tabah dalam menerima cobaan Allah. Penderitaan akan mengantarkan kita kepada posisi mendekati Allah dan membuka pintu kasih sayang Allah. Bukankah Imam Ja’far As-Shadiq as pernah berkata, ”Kalau seseorang berada dalam kesedihan, bergegaslah berdoa. Karena pada saat itulah Allah akan mengijabah doa orang itu.”


Rahmat Allah datang dan mendekat ketika kita sedang didera derita. Timpaan derita perlahan-lahan akan membuat hati kita menjadi lebih lembut dan dekat dengan Allah. Jika pada kondisi seperti ini kita berdoa, insya Allah Tuhan membuka pintu ijabah-Nya.


Kadang kita tidak tahan dengan penderitaan yang menimpa. Kita tidak sabar sehingga kita menganggap Allah tidak adil. Kita mencerca Allah dan berkata Allah sedang menjauhkan kasih sayang-Nya dari kita. Dalam ilmu jiwa, kita ini disebut sebagai orang yang memiliki kecedasan emosional yang rendah. Kesabaran atau emosi kita lemah. Kita tuding Allah dengan emosi kekesalan. Kita tidak menilai Allah dengan kelembutan cinta dan hati yang bersih. Tidak tahukah kita bahwa kasih sayang dan keadilan Allah sungguh lebih besar dari kasih sayang seorang ibu kepada anaknya?


Pernah suatu hari Rasul bersama para sahabat dalam perjalanan kembali dari perang melihat seorang ibu lari menyeruak ke tengah-tengah bekas pertempuran. Ia gelisah, di wajahnya tersimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia sedang mencari putranya. Ia berlari dihadang debu yang beterbangan disapu angin. Akhirnya ia menemukan putranya itu. Ia dekap putranya dengan kerinduan dan kecemasan. Diberinya-lah air susu. Matahari menyengat panas mengenai kulit anak itu. Dengan perlahan ibu itu menggerakkan tubuhnya, ia hadang sengatan matahari itu dengan punggungnya. Rasul menyaksikan kejadian itu, lalu ia berkata pada sahabat yang lain, “Lihat betapa sayangnya ibu itu kepada anaknya. Mungkin-kah ibu itu melemparkan anaknya ke api neraka?” Para sahabat menjawab, “Tidak mungkin, Ya Rasulallah.” Lalu rasul berkata, ”Kasih sayang Allah jauh lebih besar dari kasih sayang ibu itu.”


Rasul pernah didatangi oleh seorang sahabat. Ia berkata,”Ya Rasulallah harta saya hilang dan tubuh saya sakit.” Lalu Nabi berkata, ”Tidak ada baiknya orang yang tidak pernah hilang hartanya dan sakit badannya. Sesung-guhnya jika Allah mencintai hambanya ia akan coba hambanya dengan berbagai penderitaan.” Orang yang pernah kehilangan dan kesakitan menurut Rasul ada nilai kebaikan di dalamnya. Kebaikan bisa berarti akan tambah lembutnya hati dan mengantarkan kita untuk terus berdoa. Allah berfirman, ”Rintihan seorang mukmin lebih disukai Allah daripada gemuruh suara tasbih.”


****

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

73 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page