top of page
  • Akhi

SIKAP KEBERAGAMAAN: INTRINSIK DAN EKSTRINSIK


Banyak tokoh psikologi bersikap kurang simpatik terhadap tokoh-tokoh agama. William James, misalnya, menganggap tokoh agama sebagai creatures of exalted emotional sensibility, suatu gelar yang panjang dan tidak enak. Menurutnya, para nabi dan orang-orang suci dihinggapi perasaan yang berlebih-lebihan: melankoli, halusinasi, mendengar suara, atau melihat visi dan berbagai karakteristik patologikal lainnya. Sigmund Freud menganggap agama sebagai universal obsessional neurosis. Boisen (Anton T. Boisen) bahkan berteori bahwa sebelum orang menghayati agama lebih baik, ia harus menderita sakit jiwa terlebih dahulu--orang-orang beragama harus melewati tahap skizofrenia lebih dahulu. (Tetapi belakangan saya mendengar bahwa banyak tokoh psikologi, yang memandang tokoh agama sebagai psikopat itu, ternyata menderita gangguan jiwa juga. Menurut Zilboorg, sepanjang hidupnya Freud dihantui oleh death anxiety. Pesimisme dan sikap penyedihnya mencerminkan depressive neurosis. Dan William James, menurut penulis biografinya, ditandai oleh emosi yang tidak stabil. "Oscillation is profoundly characteristic of James' nature." Lalu, Boisen pun mengemukakan hipotesisnya justru setelah sembuh dari skizofrenia.)


Dua Macam Cara Beragama


Namun, terdapat pula psikolog yang bersifat simpatik terhadap agama. Psikolog itu ialah Gordon W. Allport. Sebelumnya, dianggap tidak ada bukti kuat bahwa orang-orang beragama lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak beragama. Tapi, menurut Allport, untuk bisa menyatakan demikian, kita harus mendefinisikan lebih dahulu apa arti beragama.


Ada dua macam cara beragama: ekstrinsik dan intrinsik. Yang ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan untuk kehidupan, something to use but not to live. Orang berpaling kepada Tuhan, tetapi tidak berpaling dari dirinya sendiri. Agama digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status, rasa aman, atau harga diri. Orang yang beragama dengan cara ini melaksanakan bentuk-bentuk luar dari agama; ia puasa, shalat, naik haji, dan sebagainya-tetapi tidak di dalamnya. Kata Allport, cara beragama seperti ini memang erat kaitannya dengan penyakit mental. Saya ingin menyatakan bahwa cara beragama semacam ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang. Sebaliknya, kebencian, iri hati, dan fitnah masih akan tetap berlangsung.


Pada cara kedua, yang intrinsik, yang dianggap menunjang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai comprehensive commitment dan driving integrating motive, yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu (unifying factor). Cara beragama seperti ini terhunjam ke dalam diri penganutnya. Hanya dengan cara itu kita mampu menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang.


Dimensi Mahapenting Ajaran Allah Swt.


Bila Kristen memandang kasih sebagai tonggak agamanya, Islam memandang silaturahim sebagai dimensi mahapenting ajaran Allah. Silaturahim merupakan perintah Allah yang kedua setelah takwa (QS 4: 1). Nabi Muhammad diutus tidak lain untuk menyebarkan rahmat (kasih sayang) kepada seluruh alam (QS 21: 107). Ketika Allah menciptakan kasih sayang. Dia berfirman, "Aku Ar-Rahman, Aku berikan kepadamu (kepada kasih sayang) Nama-Ku. Barang siapa menyambungkan engkau, Aku pun akan menyambungkan Diri-Ku denganmu. Barang siapa memutuskan engkau, Aku pun akan memutuskan Diri-Ku denganmu." Ketika suatu hari disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw. perihal seseorang yang shalat di malam hari dan puasa di siang hari, tetapi menyakiti tetangganya dengan lidahnya, Nabi Muhammad Saw. menjawab singkat, "Ia di neraka." Secara ekstrinsik ia beragama, tetapi secara intrinsik ia tidak beragama. Silaturahim memang tidak bisa dijalin dengan sekian kali Lebaran, sekian kali halalbihalal, apalagi sekian menit khutbah.


Thomas Merton dalam artikel berjudul "Mysticism in the Nuclear Age" berkata, "Anda tidak dapat mendatangkan kedamaian tanpa disertai amal saleh. Anda tidak dapat memperoleh tatanan sosial tanpa kehadiran kaum mistik, orang-orang suci, dan nabi-nabi." Di dalam Islam, tidak akan ada nabi lagi, tetapi tidak demikian halnya dengan orang-orang suci. Orang suci adalah manusia takwa yang (tanda-tandanya), menurut QS 3: 134-135, ialah "menafkahkan hartanya dalam suka dan duka, menahan marahnya, memaafkan orang lain, senang berbuat baik, apabila berbuat salah, cepat-cepat ingat Allah dan bertobat atas segala dosanya. Siapa lagi yang mengampuni dosa selain Allah, kemudian tidak mengulangi lagi perbuatan salahnya. Berdasarkan itu, silaturahim menuntut seseorang agar memperhatikan orang lain dengan infak, mengendalikan emosi, memaafkan yang berbuat salah, dan sebanyak mungkin mengisi hidup ini dengan kebaikan.[]


KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Yayasan Muthahhari (Untuk Pencerahan Pemikiran Islam) dan Sekolah Para Juara (SD Cerdas Muthahhari www.scmbandung.sch.id, SMP Plus Muthahhari www.smpplusmuthahhari.sch.id, SMP Bahtera www.smpbahtera.sch.id, dan SMA Plus Muthahhari www.smaplusmuthahhari.sch.id).

111 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page