• Akhi

Silaturahmi dan Halal bi Halal

Updated: May 8


Setiap kali kita mengakhiri Ramadhan dan merayakan ‘Idul Fitri, kita selalu mengadakan acara silaturahmi, yang lebih populer kita sebut Halal bi halal. Kedua istilah itu silaturrahmi dan halal bihalal, bukanlah kata-kata Arab yang tepat. Silaturahmi sebetulnya harus diucapkan silaturahim. Halal bihalal juga tidak bisa dipahami orang Arab manapun, kecuali yang pernah datang di Indonesia. Kata ini tidak ada dalam kamus bahasa Arab. Dalam kamus Indonesia – Arab, karangan Abdullah bin Nuh, halal bi halal diartikan Al-Haflah ba’da yawm ‘id fithri –perayaan sesudah hari raya Idul Fitri.


Salah satu hal yang paling menarik dalam ajaran Islam ialah bahwa Islam tidak pernah datang pada suatu kebudayaan yang kosong. Islam selalu diberi warna oleh berbagai celupan dan kebudayaan lokal. Ajaran Islam yang kita praktekkan di Indonesia seperti Halal bi halal adalah khazanah budaya lokal Indonesia. Tetapi, disamping itu ada juga hal-hal yang sama di seluruh dunia. Di negara-negara lain tidak ada acara seperti halal bihalal. Yang demikian adalah budaya lokal guna mewarnai ajaran, guna memberikan mozaik budaya Islam.

Idul fitri adalah nilai ajaran Islam yang universal. Lebaran adalah nilai lokal yang kita berikan kepada ‘Idul fitri. Karena itu jangan meminta dalil dari Al-Quran atau Sunah Nabi untuk lebaran ini. Warna-warna lokal yang diberikan oleh bangsa Indonesia seperti Halal bihalal, harus dipertahankan sebagai kontribusi kita untuk memperkaya khazanah budaya Islam. Dan bukan dibasmi atau di bid’ahkan. Dalam bidang pemikiran dan budaya Islam, kita hampir tidak memberikan sumbangan apa-apa. Orang-orang Persia misalnya, bisa membanggakan diri mereka sebagai penyumbang terbesar dalam pemikiran Islam. Kita mengenal Imam al-Ghazali, al-Zamakhsari. Dan lain-lainnya. Mereka –hampir semuanya− keturunan orang-orang Persia.

Kalau kita mau melanjutkan Sunnah Nabi, maka diantara yang harus kita lakukan ialah menyebarkan ajaran Islam dengan berpijak pada akar budaya yang ada, dan bukan dengan memisahkan diri agar kelihatan berbeda serta menganggap perbedaan sebagi amal saleh yang besar. Bagi penulis, mengajarkan dan menyebarkan ajaran Islam dengan cara membina hubungan batin dengan orang-orang disekitar kita, dengan berpijak pada akar budayanya adalah strategi yang paling baik. Menurut penulis, itulah silaturahim. Silaturahim diantara sesama kaum Muslimin hanya bisa terjalin apabila orang sampai pada kesimpulan bagaimana kita mencari persamaan dan hidup didalamnya.

Yang penting bukanlah label golongan. Yang penting, ialah apakah seseorang itu berjuang untuk Islam atau tidak. Hanya dengan itu sajalah kita bisa menjalin silaturahim dengan sesama kaum Muslimin. Ada beberapa hal yang menjadikan silaturahim diantara kita ini terputus, yakni: kesenangan untuk mencari perbedaan dan menisbahkan berbagai macam label kepada orang lain. Perbedaan pendapat dengan orang lain ini memang penting. Misalnya untuk menemukan teori baru. Berbagai penemuan baru dalam dunia pengetahuan hanya dihasilkan oleh mereka yang mau berbeda dengan orang lain.

Berikut, yang menjadikan silaturahim kita terputus adalah berbagai label dan nama yang kita nisbahkan kepada seseorang. Misalnya: Sunni-Syi’ah, dan sebagainya. Setiap kali kita memasuki suatu gerakan keagamaan, kita segera memperoleh gelar-gelar baru. Padahal, berbagai label dan nama itu akan menjauhkan kita dari Islam. Semestinya kita memberi gelar dengan “Islam”. Paling tidak catatlah bahwa mereka adalah manusia juga seperti kita. Cari persamaannya dan berilah label bahwa ia manusia juga. Kalau ada orang lain berjuang untuk Islam kita harus membantunya. Dengan demikian silaturahim diantara sesama Muslim akan berjalan dengan baik.

Silaturahmi Ruhani: pada bagian akhir surat Ar-Ra’du ayat 23, Allah Swt menceritakan hamba-hambanya yang beruntung pada hari kiamat nanti karena mereka diberi anugerah untuk masuk surga beserta orang tua, istri, keluarga, dan keturunannya. Al-Quran melukiskannya dengan indah ketika mereka datang dengan rombongan keluarganya menuju surga. Para malaikat memberikan sambutan khusus pada mereka seraya mengucapkan Salamun ‘alaikum bima shabartum fani’ma ‘uqbad dar.” Selamatlah bagi kalian semua lantaran kalian bersabar dahulu. Inilah tempat kembali yang paling indah bagi kalian.” (Qs. Ar Ra’du: 24).

Mereka masuk surga bersama-sama seluruh keluarganya, seperti melakukan suatu “Reuni” pada hari akhirat. Reuni yang mereka adakan melintasi ruang dan waktu. Reuni yang sering kita adakan di dunia adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita hanya dapat berkumpul dan bersilaturahim dengan orang-orang yang berada dalam satu tempat yang tidak berjauhan dan dalam satu zaman dengan kita. Kita tidak pernah bisa mengadakan silaturahim dengan orang tua kita yang sudah meninggal dunia atau keturunan kita yang belum lahir. Tetapi nanti pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan seluruh keluarganya, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudah mereka. Al-Quran menyebutkan, “aba-ihim wa azwajihim wa dzurriyyatihim.” Generasi terdahulu, generasi yang sezaman, dan generasi kemudian.” (Qs. Ar-Ra’du:23).

Siapa gerangan orang yang beruntung bisa mengadakan silaturahim pada hari akhirat beserta seluruh keluarganya? Dalam surat Ar-Ra’du disebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung nanti di hari akhirat ialah orang yang di dunianya senang menyambungkan silaturahim. Walladzina yashilu na ma amarallahu bihi an yu shala.” Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.” (QS.Ar Ra’du:21).

Karena di dunia mereka senang menghubungkan tali kekeluargaan dan Allah sambungkan tali kekeluargaan mereka nanti pada hari akhir. Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman, “Akulah Yang Maha Pengasih, Akulah yang menciptakan tali kekeluargaan dan Aku berikan nama kepada kekeluargaan dengan nama-Ku sendiri.” Allah berfirman, “Barangsiapa yang memutuskan hubugan-Ku dengan dia. Dan barang siapa yang menyambungkan tali kekeluargaan, Aku pun akan mengokohkan tali kekeluargaan nanti.”

Itulah salah satu akhlak orang yang beruntung dapat dipertemukan kembali dengan keluarga pada hari akhirat nanti. Orang ini pun melakukan silaturahim bukan di sembarang tempat, melainkan di tempat yang paling baik. Fani’ma ‘uqbad dar. Tempat yang paling baik itu adalah surga ‘Adn. Yang menyebabkan mereka dapat berkumpul kembali adalah karena mereka senang menyambungkan tali kekeluargaan. Lalu dengan siapa saja kita seharusnya menyambungkan tali silaturahim itu? Menurut Al-Quran, kita harus bersilaturahim dengan Al-Qurba, keluarga yang dekat. Keluarga yang dihubungkan dengan kita melalui pertalian rahim. Dalam bahasa Arab, rahim berarti Womb (bahasa Inggris yang berarti organ wanita yang menyimpan kita sebelum kita lahir).

Karena itu, keluarga di sebut Ar-Rahim dan bentuk jamaknya Al-Arham. Sebuah keluarga dipertalikan lewat hubungan darah dan melalui rahim yang sama. Al-Quran menyebutkan bahwa silaturahim merupakan perintah kedua setelah perintah taqwa. “Wattaqulla hal ladzi na tasa alu na bihi wal arham.” Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, yang dengan nama-Nya kamu saling memohon dan peliharalah silaturahim.” (QS.An-Nisa’: 1)

Di dalam ayat yang sering kita dengar, Allah berfirman, “ Innamal mu’minu na ikhwatun, fa ash lihu baina akhwaikum wat taqullah. Sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara. Maka damaikanlah pertentangan diantara kamu dan bertaqwalah kepada Allah.” (QS.Al-Hujurat:10). Perintah taqwa selalu digandengkan dengan perintah menyambungkan silaturahim. Surat Ar Ra’du ayat 21 pun menyebutkan bahwa orang yang beruntung bisa bergabung di akhirat bersama seluruh keluarganya itu juga adalah orang yang Yakhsyawna Rabbahum, yang bertaqwa kepada Tuhannya.

Taqwa dan silaturahim selalu digandengkan di dalam Al-Quran. Itu adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Artinya, kalau orang itu taqwa kepada Allah, tentu dia akan menyambungkan silaturahim dan kalau dia tidak taqwa kepada Allah, tentu dia akan memutuskan silaturahim. Surat Muhammad ayat 22 menyebutkan, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan kekeluargaan?” perintah silaturahim tidak hanya ditujukan kepada makhluk-makhluk di alam Nasut (fisik) tapi juga ditujukan kepada makhluk-makhluk di alam malakat (Ruh). Dan itulah silaturahim yang lebih hakiki. Silaturahim diantara ruh kita dengan ruh kaum mukminin. Di alam Nasut, secara fisik orang bisa saja bersilaturahim dengan orang lain, tapi ruhnya tidak.

Kita mengadakan halal bi halal diantara kita seraya mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.” Tetapi di dalam hati kita masih tersimpan dendam dan tidak mau memaafkan. Padahal dalam bahasa Arab, kata maaf itu berarti penghapusan. Orang sering bersilaturahim di alam nasut, tetapi di alam malakut, ruh mereka tidak ikut bersilaturahim, boleh jadi ada orang-orang yang tidak pernah berjumpa secara fisikal, tetapi di antara mereka telah ada jalinan silaturrahim yang sangat erat seperti sudah dipertalikan jauh sebelumnya.

Dikalangan para psikolog ada fenomena yang disebut De’ javu, yaitu suatu gejala peristiwa yang rasanya pernah dialami padahal tidak pernah dialami. Seperti ketika kita berjumpa dengan seseorang untuk pertama kali, tapi kita merasa telah akrab dengan orang itu. Berdasarkan teori De’javu, hal itu terjadi karena ruh-ruh mereka pernah melakukan silaturahim di alam malakut. Ketika kita shalat tahajjud, kita dianjurkan untuk memohonkan ampunan bagi diri sendiri, bagi orang tua serta bagi empat puluh orang yang dikenal. Nama mereka harus disebut satu persatu pada rakaat terakhir shalat witir setelah membaca qunut, dan istighfar.

Untuk apa kita qunut dan istighfar bagi orang-orang yang namanya kita sebut itu? Tiada lain untuk menyambungkan silaturahim ruhaniah antar kita dengan orang tua, dan orang-orang yang kita kenal. Kita pun dianjurkan untuk menggabungkan ruh kita dengan ruh kaum Muslim pada setiap shalat. Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 43 disebutkan, “Aqimush shalata wa atuz zakata warka’u ma’ar raki’in. Hendaknya kamu mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan rukuk bersama orang-orang yang rukuk.” Menurut Muqatil dalam tafsir Al-Durr Al-Mantsur, yang dimaksud dengan warka’u ma’ar raki’in itu bukan hanya berarti hendaknya kamu shalat berjamaah, tetapi juga berarti hendaknya kamu bergabung dengan orang-orang yang rukuk. Hubungan Ruh kamu bersama orang-orang yang rukuk, baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dalam surat At-Taubah ayat 119 Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan gabungkanlah dirimu beserta orang-orang yang benar,” di alam malakut ada dua jenis kafilah ruhani. Pertama, kafilah ruhani yang sedang bergerak menuju Allah. Yang kedua, kafilah rohani yang sedang bergerak menjauhi Allah. Pada kafilah pertama, mereka pergi meninggalkan tanah liat menuju Allah, sedangkan dalam kafilah yang kedua, mereka meninggalkan cahaya Allah menuju kegelapan.

Dalam kafilah yang menjauhi Allah, terdapat iblis, jin, dan orang-orang durhaka sepanjang sejarah. Mereka semua berkumpul bergabung dalam rombongan yang sama. Mereka pun masih membantu ruh-ruh yang sejenis dengan mereka yang masih hidup di dunia. Al-Quran memberikan contoh bahwa orang-orang munafik saling membantu satu sama lain, termasuk di alam malakut. Ruh-ruh mereka mendorong untuk berbuat maksiat kepada orang yang masih hidup. Adapun dalam kafilah yang bergerak menuju Allah disana terdapat para Nabi, orang-orang suci, para syuhada’, dan orang-orang saleh. Al-Quran menyinggung hal ini dalam surat An-Nisa’ ayat 69, “Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasulnya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shidiqin, para syuhada’, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” Ini semua merupakan rombongan yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka berada pada suatu alam yang disebut alam Barzakh. Di dalam kitab Nafasur Rahman diceritakan tentang beberapa hadits Nabi yang menunjukkan bahwa orang-orang saleh di alam Barzakh itu masih hidup.

Mereka masih membaca Al-Quran dan berdoa untuk saudara-saudaranya di alam nasat. Sebuah hadits dari Bukhari meriwayatkan bahwa suatu saat pernah ada beberapa sahabat datang pada suatu kuburan. Mereka menghamparkan jubahnya diatas tempat itu. Tiba-tiba mereka mendengar ada suatu orang yang sedang membaca Surat Al-Kahfi. Para sahabat terkejut, namun mereka tetap mendengarkan bacaan itu sampai selesai. Setelah itu mereka mendatangi Rasulullah dan menceritakan kejadian yang mereka alami.

Rasul mengatakan bahwa suara yang mereka dengar di kuburan itu adalah suara orang yang sedang membaca Al-Mani’ah, sesuatu yang bisa mencegah dia dari azab kubur. Nabi tidak mengatakan peristiwa itu sebagai takhayul atau musyrik. Bahkan Nabi membenarkan bahwa ruh orang suci itu masih beribadah di alam barzakh. Oleh karena itu, di dalam shalat kita diperintahkan untuk menyambungkan ruh kita dengan melakukan silaturrahim yang melintasi ruang dan waktu. Hubungkanlah silaturahim kita dengan kafilah ruhani orang-orang suci agar mereka membantu kita dengan doa mereka. Meminta doa kepada mereka disebut Tawassul. Rasulullah Saw bersabda: “Para Rasul di alam malakut itu seperti tentara yang digabungkan. Jika mereka saling mengenal mereka akan saling berpelukan. Dan jika mereka tidak saling mengenal, mereka akan saling bertengkar.”

Ruh kita dapat bergabung dengan ruh orang yang suci. Caranya adalah dengan mengucapkan salam kepada mereka secara khusus, dan langsung. Seperti ketika kita shalat, kita ucapkan salam kepada pemimpin, kafilah orang-orang yang suci itu, yaitu kepada Rasulullah Saw. “Assalamu’alaika ayyuha nabiyyu warah matullahi wabaraka tuh.” Sesudah itu kita mengucapkan salam kepada ruh kaum mukmin. “Assalamu’alaina wa ‘ala ibadillahi shalihin.” Dan pada akhir shalat, kita ucapkan salam kepada semua orang di sekitar kita. “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Kita ucapkan salam untuk menggabungkan ruh kita dengan para arwah yang suci. Ungkapan salam di akhir shalat, bukan ditujukan kepada orang yang hadir disekeliling kita, melainkan ditujukan untuk para arwah yang suci itu. Bukan saja arwah yang sudah meninggal, tetapi juga yang masih hidup. Kita memiliki ruh yang berada di alam Malakut. Ruh kita boleh jadi suatu saat bergabung dengan kelompok yang satu dan berpindah pada kelompok yang lain. Sayangnya, kita menggabungkan ruh kita, hanya pada saat kita shalat saja. Setelah shalat, kita asyik berwirid sendiri. Kita tidak mencoba untuk menggabungkan diri dengan para ruh yang suci. Pada hari akhirat nanti, rombongan yang kita pilih itu, juga yang akan di himpun dalam satu golongan bersama kita. “Pada hari itu, manusia keluar dari kuburannya dalam keadaan bergolong-golongan. Supaya diperhatikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka” (QS.Al-Zalzalah: 6).

Jalinlah silaturahim dengan menggabungkan ruh kita dengan ruh orang-orang suci setelah shalat. Kirimkan Al-Fatihah dan Istighfar pada orang tua, saudara, dan kaum Mukmin. ***

KH. Jalaluddin Rakhmat, Pendiri Sekolah Para Juara Bandung

25 views0 comments

Recent Posts

See All